
"Genkssss... Utari tertembak!" teriak Sandi.
Lelaki itu dari tadi memang di dalam kelas, tapi dia menutup telinganya dengan headset. Lelaki itu sejak kemarin tidak pulang karena harus menyelesaikan tugasnya membuat karya.
"Dimana?" sahut Raga langsung.
Aura pun juga kaget dengan berita aneh tersebut.
"Anak Ekonomi yang ngebagiin vidio ini di grup kampus!" ujar Sandi dengan nada bergetar.
Raga segera bangun dari duduknya dan menghampiri Sandi yang memandang layar ponselnya dengan rasa takut dan kaget.
Vidio Utari yang bersimbah darah di tepi jalan dekat zebra croos, sudah terputar di layar ponsel lelaki itu.
Wajah Raga masih terlihat tenang, tapi di dalam otaknya dia sedang menerka apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat posisi tubuh Utari dan melihat bagian mana yang terluka. Serta lukanya seperti apa.
Raga langsung bisa menebak dari mana penembak itu menembak adik kembarnya. Kakak kandung Utari itu segera bergegas ke tempat yang ia curigai, Raga berlari secepat yang ia bisa.
Meski jarak kampus seni pahat dan kampus ekonomi, dua blok. Dengan kecepatan lari yang Raga miliki, Raga bisa sampai ke sana dengan cepat.
Raga memperhatikan sekitar tempat itu, nafasnya yang sudah hampir habis dia atur kembali.
Di dalam otak pembunuh genius itu sudah tergambar apa yang dilakukan oleh penembak jitu yang menembak Utari.
"Penembak jitu itu pasti dari Agensi resmi Pemerintah, jadi dia tak akan meninggalkan senjatanya di tempat umum seperti ini.
"Penembak jitu itu juga pasti berjalan santai untuk keluar dari gedung kampus, dia tak boleh mencolok dan membuat keributan.
"Dia pasti lewat pintu utama!" ujar Raga.
Dan benar sekali tebakan Raga, seorang pria dengan pakaian serba hitam serta sebuah koper panjang yang terlihat aneh bagi orang awam. Koper wadah senjata khusus yang dipakai sang penembak jitu memang seperti itu. Jadi Raga langsung bisa menebaknya.
Raga berjalan santai menghampiri pria yang dia curigai itu. Raga harus memastikan tak ada Agen lain di tempat ini. Meski pun ada para agen lain juga tak akan membunuhnya di tempat ini, jika Raga menyerang penembak itu.
Tapi Raga masih mempunyai batasan, dia akan menanyai pria itu baik-baik. Karena di sini banyak sekali mahasiswa yang berlalu lalang. Dia juga tak mau mebuat keributan yang nantinya akan merugikan dirinya dan Utari.
Raga berjalan santai di sebelah pria aneh itu, Raga menghentikan pria itu dengan tangannya yang mencengkeram erat bahu sang penembak jitu.
"Kenapa kau menembak, mahasiswi di sini?" tanya Raga lirih.
Penembak yang wajahnya tertutup rapat dengan masker dan topi hitam itu malah menyerang Raga. Entah apa yang dipikirkan penembak jitu itu hingga dia menyerang mahasiswa lain di kampus bergengsi ini.
__ADS_1
Penembak jitu itu mencengkeram tangan Raga yang berada di bahunya, sebuah teknik peluntiran di baca oleh Raga. Dengan cekatan Raga sudah berada di belakang pria itu dan merubah serangan pria itu menjadi sebuah perlindungan baginya.
Raga menggenggam pergelangan tangan lelaki itu dan membuatnya tercekik tangannya sendiri. Tangan lain dari penembak Jitu itu mengeluarkan pistolnya dari balik jaketnya.
Dia hendak menembak Raga yang berada tepat di belakangnya. Dengan sangat tangkas Raga yang bisa membaca gerakan penembak jitu itu akan membalik ke arahnya dan menembaknya.
Sebuah tendangan dia layangkan ke siku tangan penembak jitu yang telah dia kunci. Penembak jitu itu sudah bersimpuh di depan Raga, tapi tangan satunya masih mengancam Raga dengan sebuah pistol.
Kedua tangan Raga segera menyerang tangan kiri sang penembak jitu itu. Pistol sudah tergeletak di tanah, Raga melepas topi dan masker penembak jitu itu. Lalu mengambil pistol milik pemenbak itu untuk mengancam balik.
"Kau pikir kamu bisa lolos, kau akan mendapat hukuman yang setimpal!" kata pria itu.
Raga segera berjongkok di depan pria itu, dia tak mau pria itu bicara terlalu lantang dan didengar oleh semua orang yang sudah berkumpul membentuk lingkaran yang besar.
Penonton dadakan khas Negara kita. Apa mereka tak takut ada peluru yang bersarang di dalam pistol yang kini di pegang oleh Raga.
"Kau berisik sekali Pakkk, sebentar lagi polisi akan datang. Jadi nggak usah banyak bacot yaaa!" ujar Raga.
Raga mengacungkan moncong pistol itu ke arah kepala penembak jitu yang tangannya sudah patah dua-duanya itu.
"Kau pikir, tak ada yang tau. Jika kau dan mahasiswi yang ku tembak itu adalah pembunuh berantai Bulan Biru?" tanya pria itu dengan senyum menyeringai.
Wajahnya kini sangat menantang, dan ingin mendiskriminasi Raga.
"Kalian hanya sembunyi di balik paman kalian, kau yang harusnya diam. Keparat!" bentak pria itu.
"Pamanku???" tanya Raga, dia sudah bisa menebak siapa yang dimaksut pria di depannya.
"Yaaaa Jendral Harsono!!!
"BIN pasti akan membuat kalian keluarga Harsono mati dalam api neraka yang tak pernah padam!" ujar pria itu masih dengan nada percaya diri.
Raga hanya diam, dia tak menyangka jika dia malah dicurigai bersekutu dengan musuhnya sendiri. Menyakitkan tapi ini adalah hal yang lucu.
"Target kami berikutnya adalah, istrimu!
"Yang baru kau nikahi dua kemarin malam!" pria itu tersenyum menyeringai ke arah Raga.
Ancaman pria itu sukses menyulut api emosi di diri Raga. Jemari Raga sudah dia siapkan di pelatuk pacu pelontar timah panas itu.
"Meski kau membunuhku, tak ada yang berubah. BIN akan membunuh kalian berdua.
"Sekuat apa pun Jendral Harsono, dia tak akan bisa menghentikan BIN.
__ADS_1
"Kau tau!!!
" Bajingan kecil. Kau pikir kau bisa mengalahkan Agensi kami," lelaki itu sebenarnya juga takut.
Karena sorot mata Raga yang tengah memandangnya kini. Adalah sorot mata Singa yang siap menerkam mangsanya.
"Aku pastikan, jika sampai ada yang melukai orang terdekatku.
"Aku adalah tipe orang yang tak suka menyisakan apa pun.
"Anak-cucu, kerabat kalian.
"Aku jamin akan merasakan pembalasan yang menyakitkan dariku," ancam Raga balik.
Pebembak jitu itu, sudah hampir mengompol di celananya.
"Jadi jangan mencoba bermain dengan kami, targetku adalah pamanku.
"Suruh BIN tak usah ikut campur!"dekte Raga.
Penembak jitu itu hanya bisa menelan salivanya, dia tertegun dengan apa yang Raga ucapkan.
Dan Raga tau benar, jika lelaki di depannya mengunakan alat komunikasi dengan rekannya. Raga mengatakan itu agar BIN mundur dari perang berdarah yang akan segera dia mulai.
"Karena aku akan membalas lebih parah dari apa yang kalian perbuat!" ujar Raga.
Raga memukulkan gagang pstol itu ke arah tengkuk penembak jitu itu. Dan pria itu pun pingsan di tempat tersebut.
Raga berdiri dan melihat sekeliling. Pandangan matanya menagkap wajah takut Aura yang berdiri tepat di depannya di dalam lingkaran penonton dadakan itu.
Aku tak akan menyangkal lagi, Aura.
Kau bisa membenciku sepuasmu.
Kau pun bisa membunuhku dengan cara apa pun.
Tapi biarkan aku membalas dendamku terlebih dahulu.
Aku tak mau kau terluka lagi karena aku. Raga.
_________BERSAMBUNG__________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1