Ghost Of Death

Ghost Of Death
Alasan klise


__ADS_3

"Kenapa anda membunuh Imanuel?"


Itu adalah pertanyaan pertama yang Detektif Senki tanyakan pada Dokter Abraham. Kedua pria berbeda usia dan tabiat itu kini berada di dalam ruang introgasi penjara.


"Bagiku aku tak perlu alasan untuk membunuh seseorang!" kata Dokter Abraham.


"Apakah pernyataanmu itu masuk akal?!" Detektif Senki mulai kehilangan kesabaranya.


"Tidak, tapi anggap saja itu masuk akal." pria paruh baya yang kini duduk dengan borgol yang membelenggu kedua tangannya itu hanya tersenyum bahagia saat mengatakan kalimat paksaan itu.


"Apakah nyawa manusia hanya sebuah mainan untukmu?!" bentak Detektif Senki.


"Bukan begitu, mereka yang datang ke padaku sendiri untuk kubunuh!" senyum menyeringai yang mengesalkan masih saja ditunjukkan oleh Dokter Abraham.


Tak ada rasa takut di diri pria paruh baya yang terlihat masih sehat itu. Baginya siapa pun yang berani menyentuh anak-anaknya maka orang itu akan mati. Seperti kedua orang tua Leo 3 tahun yang lalu dan juga Imanuel kini yang mencoba membeberkan rahasia Raga pada Aura. Meski dia berada di tempat yang dijaga ketat ini, nalurinya sebagai seorang ayah tak akan pernah padam.


Dokter Abraham tak akan susah untuk memaksa salah satu Sipir penjara itu agar dia bisa mendengar pembicaraan yang dilakukan oleh Imanuel dan Aura di ruang jenguk tahanan. Dokter Abraham memang tak mempercayai siapa pun, termasuk Imanuel yang adalah salah satu petinggi aliansi rahasia milik negara itu


"Kurasa Imanuel bukan pembunuh berantai Bulan Biru!" kata Detektif Senki.


"Apa anda tau siapa orang itu?


"Apa anda membunuh Imanuel karena anda tau siapa sebenarnya pembunuh berantai Bulan Biru.


"Anda berusaha menutup mulut Imanuel dengan cara membunuhnya, agar Imanuel tak mengatakan siapa sebenarnya pembunuh Bulan Biru itu kepada kami!" Detektif Senki mencoba mendesak Dokter Abraham, tapi semua itu tentu tak ada gunanya.


"Jika Imanuel bukan pembunuh berantai Bulan Biru, kenapa pria itu masih bungkam sampai sekarang?


"Aku membunuh pria bernama Imanuel itu karena aku tak suka padanya.


"Aku tak suka jika ada seseorang yang membunuh lebih baik dari pada diriku!" tentu saja pernyataan Dokter Abraham adalah kebohongan.


Tapi Detektif Senki sekilas terlihat percaya akan pengakuan palsu Dokter Abraham itu.


Detektif Senki pun keluar dari dalam ruang introgasi dengan wajah marah, dia sama sekali tak dapat menemukan apa pun saat menyelidiki tentang pembunuh berantai Bulan Biru.

__ADS_1


Jika memang Imanuel bukan pembunuh berantai Bulan Biru, lalu siapa. Detektif Senki.


Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, lembaran puzzle yang dia dapat tak ada yang bisa digabungkan. Semua masih tampak buram dan tak jelas, tapi kenapa Detektif Senki masih tak mau percaya bahwa Imanuel adalah pembunuh berantai Bulan Biru.


Pertama, karena semua bukti pembunuhan ayah Aura seperti dibuat untuk menjatuhkan Imanuel. Seluruh bukti yang berhasil ditemukan seakan memgarah pada satu orang yaitu Imanuel, bukankah seharusnya pembunuh seahli Bulan Biru tak akan meninggalkan bukti yang sedetai itu.


Kedua, Imanuel bisa tetap diam selama proses hukumnya. Pembunuh berantai yang asli pasti akan sengsara jika di hadapkan dengan hal semacam itu. Contohnya Dokter Abraham, dia begitu angkuh dan merasa paling benar saat mengakui semua kejahatannya.


Ketiga, Imanuel bilang pada Aura, bahwa dia bukan pembunuh ayahnya. Entah kenapa Detektif Senki percaya akan perkataan itu.


Keempat, Imanuel dibunuh oleh Dokter Abraham tak lama setelah masuk ke dalam penjara.


Pembunuh berantai Bulan Biru pasti sudah merencanakan pembunuhan Ayah Aura untuk memasukkan Imanuel ke dalam penjara dan membuat Dokter Abraham menghabisi mantan Dosen itu.


Lalu apa tujuan pembunuh berantai Bulan Biru untuk menghabisi Imanuel serumit itu. Bukankah jika pembunuh berantai Bulan Biru menginginkan kematian Imanuel dia tinggal membunuh pria bule itu seperti korban-korbannya yang lainnya.


Apa kejadian ini benar-benar tak ada kaitannya dengan pembunuh berantai Bulan Biru. Lalu kalung yang berada di leher mayat Mbah Sodik itu apa???


Siapa orang itu sebenarnya?


Kenapa dia begitu Rumit?


Tok...Tok...Tok...Tok


Aura segera mencari arah suara kaca yang ketuk sesuatu itu, arah suara ketukan itu terdengar dari arah jendela samping kamarnya. Dengan langkah cepat Aura segera menghampiri jendela yang terletak tak jauh dari letak ranjang tidurnya.


Saat Aura menyingkap hordeng jendela itu, manik mata gadis tomboy itu tak melihat apa pun. Akhirnya dia berbalik dan betapa kagetnya Aura saat melihat sosok hantu yang tanpa ijin telah memasuki kamarnya.


"Sudah lama kamu tak masuk kuliah!" kata hantu itu.


Aura terdiam sejenak, dan memperhatikan siapa hantu yang telah berada di dekatnya itu.


"Bukankah anda hantu ibu-ibu yang di apartemen?" tanya Aura keget, dia tak bisa mengatupkan rahangnya saking terkejutnya.


"Saya bukan hantu!" kata ibu-ibu itu.

__ADS_1


Aura sebenarnya juga heran dengan hantu ibu-ibu ini kenapa hantu wanita paruh baya ini tampak sangat berbeda dengan hantu lain. Meski hantu, ibu-ibu di depannya kini mempunyai perawakan yang segar dan seperti masih hidup.


Jika para hantu lain tak pernah berganti pakaian, lain halnya dengan hantu ibu-ibu ini yang selalu tampak modis dan bergaya dengan pakaian yang berbeda di setiap pertemuan mereka.


Tanpa sadar Aura pun mengendus-enduskan hidungnya ke arah hantu ibu-ibu itu, dia ingin mencium dan merasakan bau kematian yang dimiliki sosok ajaib itu.


"Di mana hantu lelaki yang sering bersamamu?" tanya hantu ibu-ibu itu.


"Lelaki itu belum mati, apa Ibu juga belum mati?" tanya Aura, dia bisa mencium bau kematian dari tubuh ibu itu tapi tak begitu tajam. Jadi dia bersepekulasi bahwa ibu ini hanya koma, seperti Leo kemarin.


Wanita keibuan yang cantik itu pun hanya tertawa kecil ke arah Aura.


"Mati atau hidup, yang penting saya bisa melakukan apa yang saya inginkan. Kematian bukan akhir dari diri saya, tapi bagi saya kematian adalah awal." kata ibu itu.


"Apa ibu tak mau ke akhirat?" tanya Aura.


"Jika roh manusia belum ihklas akan kehidupannya, roh itu juga belum bisa terbang ke sana. Saya tak bisa ke sana karena ada hal yang mengikat saya di sini!" tambah hantu ibu-ibu itu.


Aura sebenarnya tau istilah hukum roh semacam itu, dia belajar tentang hantu semenjak kecil. Jadi dia tau banyak akan sistem yang mengikat roh-roh manusia di dunia ini.


"Bagaimana ibu tau aku ada di sini?" tanya Aura, dia sebenarnya tau jika seorang hantu sudah mengenalimu maka hantu itu akan dengan mudah mencari keberadaanmu.


"Saya menyusuri baumu, seperti kau mengendus bau.saga baru saja! Jangan seperti itu pada setiap hantu yang kamu temui, kau bukan anjing pelacak!" kata ibu itu.


"Aku tau, Bu!" gumam Aura kesal, ibu-ibu ini sama cerewetnya dengan mbah kakungnya. "Siapa nama ibu?"


"Panggil saja saya Mawar!" kata hantu ibu-ibu itu.


"Kok kedengarannya kayak pelaku bakso boraks yakkkkk?" gumam Aura lirih.


"Ohhhh iya, apa ibu kenal sama Mutia?" tanya Aura dia baru ingat harus menanyakan hal itu.


"Tak begitu, tapi dia adalah gadis yang baik hati. Sayang nasibnya terlalu naas!" ujar Hantu Ibu Mawar.


"Benar, tapi dia sudah pergi ke akhirat kok!" kata Aura, entah kenapa dia merasa sangat bahagia saat mengatakan itu.

__ADS_1


"Ternyata kau juga punya hati yang mulia, kau suka membantu hantu-hantu itu?"


__ADS_2