Ghost Of Death

Ghost Of Death
Tanda silang merah


__ADS_3

"Lancar-lancar saja kok Mbah!" jawab Pak Senki.


Kluntang


Terdengar suara ponsel ayah Aura berbunyi, pria bertubuh tambun itu segera meraih kantung di balik jaket kulitnya. Tangan berjari besar Sodik mengeluarkan ponselnya dari saku itu.


Wajah rentanya seketika berkerut bingung, dia mendapat pesan teks dari putrinya yang sedang duduk di depannya. Tanpa berbicara dan berpikir panjang Mbah Sodik segera membuka kunci layar ponselnya dengan sidik jari jempol tangannya.


Jangan bilang jika bapak ke sini untuk menjadi dukun dari dosenku, bilang saja kalau bapak ke kota untuk menjengukku.


Itu adalah isi pesan teks Aura pada ayahnya.


Mbah Sodik tampak memasang wajah kesalnya setelah membaca isi pesan teks dari Aura anaknya, dia tak habis fikir kenapa anaknya sangat membenci profesi yang tengah dia geluti itu.


Tak semua orang memiliki kemampuan yang dimiliki keluarganya itu, kemampuan yang secara turun temurun akan diwariskan pada penerus keluarga. Kemampuan yang tak bisa didapat oleh orang biasa dengan mudah.


Menurut Mbah Sodik, Aura harusnya bangga dengan kemampuan yang dia miliki, kemampuan yang bahkan melebihi diri Mbah Sodik sendiri. Mbah Sodik bisa melihat Aura mempunyai keistimewaan yang melebihi dirinya, tapi anak perempuan satu-satunya itu sama sekali tak mau berlatih untuk mengasah kemampuan yang dia miliki. Aura lebih memilih hidup normal seperti manusia biasa, dan berbaur dengan lingkungan.


Mbah Sodik juga tak bisa memaksakan kehendaknya pada Aura, baginya menjadi dukun bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang harus dia lakukan dan korbankan sampai di titik ini. Mbah Sodik tentu saja tak mau Aura mengalami penyesalan nantinya jika dia memaksakan Aura untuk belajar ilmu perdukunan.


"Pak saya harus kembali ke tempat Mutia untuk mengambil barang-barangku!" kata Aura memecah keheningan.


"Ok!" jawab Pak Senki.


Pak Senki dengan menurut segera mengantar Aura ke apartemen Mutia, kepala detektif itu juga membantu Aura membereskan dan mengangkut barang-barang Aura yang tak banyak dari dalam kamar Aura.


"Pak, boleh saya tau alamat kemana saya akan pindah?" tanya Aura pada Pak Senki.


"Kau mau apa?" tanya Pak Senki.


"Aku yakin hantu yang ku kenal itu pasti akan kembali lagi ke sini, dia pasti akan mencariku." jelas Aura.


"Bagaimana jika malah penjahat yang akan datang padamu nanti!? tak perlu meninggalkan alamat barumu di TKP!" nasehat Pak Senki.


Aura hanya terdiam mendengar perkataan Pak Senki, karena apa yang dikatakan detektif itu ada benarnya juga.


Apartemen yang masih dipasangi garis polisi itu ditinggalkan oleh Aura dan Pak Senki, keduanya masing-masing membawa barang bawaan yang tak sedikit.


Aura masih memegang teguh keyakinannya, dia yakin hantu tampan yang berkelahi di dalam apartemen Mutia. Kesaksian Raga di rumah sakit semakin membuat Aura bertambah yakin, hantu tampan pasti sedang mengikuti penjahat itu.


Tapi Aura tak bisa mengendus bau kematian di tubuh hantu tampan, jadi Aura tak bisa memperkirakan dimana keberadaan hantu tampan itu sekarang. Hanya dengan melihat wujutnya Aura bisa mengenali sosok itu.

__ADS_1


Semoga om baik-baik saja, dan om bisa kembali padaku.


.


.


Aura dan ayahnya telah sampai di sebuah bangunan yang mirip kos-kosan. Tapi terlihat cukup mewah umtuk ukuran pelajar seperti Aura.


"Kos-kosan ini memiliki pengamanan yang bagus, kau bisa tinggal di sini untuk sementara!" kata Pak Senki.


Kos-kosan ini berbentuk gedung tiga lantai yang cukup besar jika dilihat dari luar, hanya ada satu pintu masuk kedalam bangunan ini. Pintu itu juga hanya bisa dibuka dengan kartu akses yang tak bisa dimiliki oleh sembarang orang.


"Wihhhhh cangih!" desah ayah Aura, orang kampung yang pertama kali pergi ke kota.


Sayang tangga yang disediakan di tempat ini adalah tangga manual, dan kamar Aura terletak di lantai 2 bangunan ini.


Pak Senki tampak sangat cekatan membantu Aura membawa barang-barangnya, mereka akhirnya tiba di sebuah pintu kamar bertuliskan angka 12 dan Aura pun membuka pintu itu dengan kartu yang sama dengan kartu yang digunakannya untuk membuka pintu masuk di bawah.


"Trimakasih pak!" kata Aura dengan sangat sopan.


"Tak papa, Raga tinggal di sebelah kamarmu! Kau bisa minta tolong padanya jika kau butuh sesuatu!"


Penjelasan Pak Senki membuatnya Aura sangat kaget, dia terdiam sejenak.


"Apa kau kenal pria bernama Raga yang lain?" tanya Pak Senki.


"Tidak!"


"Dia lelaki yang baik! Kau sangat beruntung lelaki itu mencintaimu dengan tulus!" ujar Pak Senki.


Aura hanya membalas ujaran Pak Senki dengan senyuman kecut, meski Aura juga punya perasaan tertarik pada Raga. Tapi rasa bersalahnya pada Ratih sama sekali belum pudar, mana mungkin gadis tomboy itu enak-enakan pacaran dengan cowok yang disukai Ratih sahabatnya, sementara pembunuh Ratih masih belum diketahui. Itu egois sekali.


"Kalian sudah sampai!" suara maskulin itu mampu membuat Aura mambalikkan badannya ke arah pintu masuk kamar kosnya.


Suara itu berasal dari mulut Raga yang menyandarkan tubuh atletisnya di kusen pintu yang masih terbuka lebar.


"Aku serahkan Aura padamu, kau harus menjaganya!" kata Pak Senki pada Raga. Detektif itu segera pergi dari kamar kosan Aura, pria itu juga pasti sangat sibuk dengan perkerjaannya.


"Saya akan menjaga Aura kok, pak! Tenang saja!" janji Raga.


Kedua lelaki berbeda usia yang awalnya saling benci itu kini tersenyum satu sama lain di pintu.

__ADS_1


"Kalian ngerjain gue ya?!" kata Aura tapi dia hanya bisa pasrah, bagaimana pun tempat ini cukup nyaman meski jauh dari kampus tapi dia suka.


"Kalau iya kenapa?" tanya Raga, karena Pak Senki sudah pergi Raga masuk kedalam ruangan depan kosan yang cukup luas ini.


"Hoyyyy! Bro... Apa kabar?" sapa Raga ke Mbah Sodik ayah Aura.


"Baik bro, lha elu gimana kabar?" balas ayah Aura.


Kedua lelaki di hadapan Aura melakukan tos anak gaul dengan lincahnya, Aura tampak terkejut melihat keakrapan dua pria yang mempunyai kejayaan dibeda era itu.


"Ga, udah lama nggak mampir ke rumah?" tanya ayah Aura, mereka bicara selayaknya seumuran.


"Ini mampir!" kata Raga, dengan tanpa sopannya.


"Ohhh iya lupa, maklum Mbah udah tua!"


"Udah makan belum Mbah, biar gue pesenin makan ya?!"


"Boleh, pesenin yang banyak!"


Aura tau ayahnya dan Raga mempunyai hubungan yang cukup dekat, tapi dia tak mengira jika mereka sedekat ini.


.


.


.


.


Hantu tampan Leo masih berada di dalam ruangan bawah tanah Imanuel. Terlihat hantu Leo sibuk dengan semua artikel yang ditempel di papan kaca di tengah ruangan itu, karena semua artikel itu mengulas tentang kebaikan dirinya.


Petugas polisi yang teladan dan juga baik hati, tapi tak ada sedikit pun raut bahagia yang tergambar di wajah hantu Leo.


Tapi mata hantu Leo menyadari bahwa di sisi lain, di balik papan kaca itu masih ada kertas-kertas yang ditempel oleh Imanuel.


Perlahan tangan hantu Leo memutar papan kaca yang mempunyai tinggi 3 meter dan beroda di bawahnya.


Hantu Leo semakin kaget dengan apa yang dia pandang di depannya saat ini.


Imanuel ternyata juga mengumpulkan semua hal yang berhubungan dengan Aura, keluarga Aura, teman-teman Aura. Imanuel juga tampaknya sadar jika Aura punya keistimewaan, tapi foto Aura telah diberinya tanda silang merah.

__ADS_1


"Apa arti dari semua ini?" desah hantu Leo.


__ADS_2