
Raga tersenyum manis ke arah pamanya, dia tak memyangka jika pria tua itu mau menemuinya secara langsung. Yaaa meski ada dua pengawal dan satu pasukan buatan yang dia beri nama Zack.
Bagi Raga keberanian sang paman saat ini adalah sebuah hal yang besar. Dia patut memberikan apresiasi dengan senyuman manisnya.
"Kenapa anda menembak adik saya?" tanya Raga dengan nada yang masih sopan.
"Aku sama sekali tak bermaksut menembak adikmu, tapi orang itu!
"Dia yang bernama Leo-kan???
"Harusnya dia yang tertembak!" kata Tuan Harsono.
Raga baru faham sekarang, Utari pasti melindungi Leo. Adiknya sudah menemukan pasangannya, sebuah kelemahan. Kalau kata mereka.
Tapi bagi Raga, pasangannya Aura adalah sebuah kekuatan baginya. Leo adalah orang yang berharga bagi adiknya. Leo adalah seseorang yang bisa merubah adiknya, menjadi manusia biasa.
"Aku berencana membuat Tim Alpa baru, kuharap kau dan adikmu bisa bergabung dengan kami!" kata Tuan Harsono lagi.
Pria tua itu memang menjaga jarak dari Raga, tentu saja Tuan Harsono masih ingat bagaimana cucu satu-satunya dibunuh oleh Raga dengan cara yang luar biasa kejam. Meski sudah tua, Tuan Harsono juga belum mau mati hari ini. Dia masih banyak cita-cita besar yang akan dia gapai.
Tawaran Tuan Harsono sebenarnya sangat mengiurkan bagi Raga, dia yang dulu berharap bisa berkarir di Tim Alpa dengan lancar dan membuat keluarga dengan Aura. Tapi semua harapan itu sudah pupus, Raga memang Monster Predator tapi dia tau siapa yang pantas dia bunuh dan tidak.
Raga bisa menebak apa yang akan dilakukan Tuan Harsono, jika lelaki tua itu berhasil membentuk Tim Alpa baru. Dia akan membunuh semua musuhnya, dan bertenger di puncak kekuasaan.
"Jika aku tak setuju!" ucap Raga.
"Aku tak punya pilihan, aku harus membunuhmu!" ujar Tuan Harsono.
Lelaki tua itu mengisyaratkan agar Zack maju untuk menghadapi Raga.
Raga tersenyum menyeringai melihat Zack yang bertubuh kekar dan berwajah melankolis. Raga tau benar mahluk ini sangat kuat, tapi otak mahluk ini belum sempurna. Zack tak lebih dari seekor bayi gorila bagi Raga.
"Zack bunuh dua orang lelaki itu!" perintah Tuan Harsono.
Bayi berotot itu segera berjalan ke arah Raga tanpa rasa takut.
"Apa yang kau harapkan dari mahluk yang tak punya otak ini, kau akan naik ke puncak hanya dengan mesin bobrok ini???
"Bahkan Jendral Husein tau, jika mahluk ini tak berguna.
"Kau bodoh sekali paman!" cemooh Raga.
"Jangan banyak bicara, keponakanku!
"Jika kau memang bisa. Kalahkan Zack!" tantang Tuan Harsono.
Jemari tanganTuan Harsono tampak gemetar karena kata-kata olokan Raga. Dia tak menyangka Raga juga tau jika apa yang dia buat, adalah sesuatu yang dibuang oleh Jendral Husein.
__ADS_1
Benar, Zack langsung memukul ke arah Raga tanpa pemikiran. Hal itu membuat Raga tersenyum dan cepat menghindar. Tapi pria muda itu cukup tercengang karena dinding beton rumah sakit itu retak hanya dengan satu pukulan dari Zack.
"Jangan biarkan dia memukul kita Leo!" kata Raga.
"Lalu bagaimana, kita akan menghindar sampai bangunan rumah sakit ini roboh?" tanya Leo.
"Aku akan memikirkan cara untuk membunuhnya, sementara kita harus menghindarinya sebisa mungkin!" ujar Raga.
Bukssssssss
Kali ini Leo yang berhasil menghindar dari pukulan Zack. Zack yang tak punya otak itu terus saja mengejar dan mengayunkan tinjunya ke arah-arah Leo dan Raga.
Bukan Raga namanya jika dia tak mau mengambil Resiko, Raga mencoba memukul tubuh berotot Zack sambil menghindari serangannya. Raga juga memukul kepala bayi besar itu dengan amat keras sampai tangannya sakit, tapi Zack masih bisa berdiri tegak meski tadi sempat mempoyongan.
"Kelemahannya ada di kepalanya!" kata Raga.
"Kita tak mungkin memukulnya dengan tangan kosong!" kata Leo.
"Kau benar!" ujar Raga.
Lelaki itu kembali mempunyai ide, dia berdiri di dekat pintu ruang oprasi Utari.
Raga tau Ruang Oprasi itu berlapis-lapis dan dia berharap Zack mendekatinya dan memukul kaca pintu itu hingga pecah. Semoga saja di dalam ruangan oprasi lapis pertama itu ada sesuatu yang dapat membantu Raga dan Leo.
"Hayyy bayi besar, sini. Cepat bunuh gue bego!" celoteh Raga, dia sedang memancing emosi monster besar itu.
Bruakkkkkkkk
Pyarrrrrrrrrrrrr
Pintu itu memang pecah Rag segera menyelinap ke dalam sementara Zack masih muter-muter karena pusing. Karena bayi besar itu menyeruduk pintu itu dengan kepalanya.
Di situ hanya ada alat-alat medis dan juga rak-rak yang masih tertata rapi.
Raga mengambil kursi di sana dan segera memukul kepala Zack, tapi karena pria muda itu cukup ber.n.afsu dia jadi tak memperhitungkan gerakan apa yang akan dilakukan oleh Zack jika terkena pukulan di kepanya.
Tubuh Raga sudah melayang di udara dan mendarat di pecahan beling. Zack yang masih pusing mendekat ke arah Raga dengan sempoyongan, bayi besar itu ingin menghantamkan tinjunya ke arah Raga yang masih tergeletak di lantai.
Tapi Leo segera maju dan menendang kelapa Zack, hingga tubuh besar yang sempoyongan itu tersungkur juga di lantai.
Raga yang melihat kondisi Zack yang sudah jatuh tengkurap di lantai segera berdiri. Dia meraih dua pisau bedah yang paing besar di salah satu meja di sana.
Raga naik ke dada Zack dan menghantamkan pisau bedah itu berkali-kali ke arah belakang kepala Zack.
Darah memercik ke wajah dan tubuh Raga, raut wajahnya semakin bahagia saat melihat tengkuk Zack makin hancur. Tusukan pisau bedah itu mungkin kecil tapi kalau dihujamkan berkali-kali ke area itu. Semua syaraf manusia pasti akan putus.
Raga tersenyum menyeringai dengan penuh kemenangan, dia baru saja mencapai titik kepuasan sebagi monster predator pembunuh.
__ADS_1
Semakin mengerikan kondisi korbanya maka makin bahagia pula si predator itu.
Seorang Dokter keluar dari pintu kamar oprasi dan tampak kaget dengan pemandangan di luar. Dokter itu segera masuk lagi karena takut, tapi langkahnya itu dihentikan oleh pertanyaan Raga.
"Bagaimana keadaan adikku?"
"Dia masih dalam kondisi kritis, untung peluru itu tak menembus jantungnya!
"Jadi dia masih bisa bertahan!" Dokter itu mencoba agar tak gemetar saat bicara.
"Tuan Harsono pasti akan menggangu penyembuhan Utari.
"Kita harus memindahkannya, ke tempat yang lebih aman!" ide Leo.
"Aku akan percayakan Utari padamu! Sembunyilah dengannya dulu!
"Biar aku sendiri yang membereskan Tuan Harsono dan keluarganya!" kata Raga.
.
.
.
.
Raga kembali ke kosannya, dia harus mengambil bebrapa barang yang amat penting. Tapi banyak polisi yang berjaga di area itu. Raga sudah menajadi tersangka pembunuhan dan kecelakan terhadap rombongan Asisiten Mentri Pertahanan.
Raga yang sanggup membunuh Zack tentu tak susah untuk melumpuhkan beberapa petugas polisi yang bertugas di samping Kosannya. Ada tiga petugas polisi di sisi itu, Raga juga bisa mengenali salah satu petugas itu.
Raga berjalan santai ke arah rombongan itu dengan tersenyum menyeringai, tapi dihentikan oleh para polisi itu.
"Mau kemana, Mas?" tanya salah satu petugas polisi yang ada di sana.
Petugas polisi itu tak akan menyangka jika yang dia tanyai itu adalah Raga, si pembunuh berantai Bulan Biru.
Tentu saja bukan jawaban yang di berikan oleh Raga pada petugas polisi itu.
____________________________
TELAH RILIS KARYA TERBARU ALEXZA KIM
___________BERSAMBUNG__________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤