
Darah segar menetes di jalanan beraspal, kaki bersepatu putih yang sudah berubah memerah karena darah itu melangkah sempoyongan menuju pusat keramaian.
Wajah cantik seorang gadis tampak mendapatkan banyak luka yang parah. Bekas luka pukul itu sudah membiru kehitaman dan merusak estetika rasa manis di wajah gadis belia itu.
Rambut lembab yang terurai berantakan, tubuh kecil yang belum selesai menamatkan masa tumbuh kembang itu berjalan terhuyung.
Manik mata yang sudah pucat itu hanya memandang menuju ke arah dimana lampu-lampu kota yang gemerlap.
"Tolong saya." gumamnya lirih.
Seragam SMU Harapan yang dikenakan oleh gadis itu sudah tak bisa dikenali lagi, karena darah segar masih terus merembes keluar dari luka-luka sayatan benda tajam yang melukai sebagian besar kulit di tubuhnya.
Langkah kaki yang lemah itu akhirnya terhenti di tengah keramaian. Wajah yang sudah tak cantik lagi itu memandang bingung ke segala arah.
Kenapa tak ada seorang pun yang peduli padanya.
Dia kini sudah berada di tengah-tengah perempatan lampu merah yang sangat ramai dengan lalu-lalang pengendara mesin beroda atau pejalan kaki. Tapi tak satu orang pun yang mau melihat sosoknya yang kini tengah menderita rasa sakit yang teramat sangat.
Apakah rasa kemanusian di dunia ini telah hilang,
Atau
Tak ada yang bisa melihat sosoknya.
Gadis SMU itu terdiam sejenak saat sorot lampu truk besar mengarah ke tubuhnya yang kini berdiri di tengah jalanan yang ramai.
Seakan berguna dia menyilangkan lengan kecilnya yang sudah hampir terlihat hancur karena luka-luka yang menganga untuk menutupi wajahnya.
Dia hanya bisa memejamkan matanya, berharap kematian itu tak terlalu menyakitkan. Deru mesin besar itu semakin mengaum mendekat ke arah berdirinya gadis SMU itu.
Saat truk besar itu melintasi tubuh gadis muda itu, Si Gadis SMU itu tak merasakan apa pun. Tubuh yang hampir hancur dan penuh luka milik gadis itu masih berdiri tegak di tengah jalan itu. Akhirnya gadis itu pun sadar dengan apa yang sudah dia alami.
"Aku sudah mati!" gumamnya lirih.
.
.
Sayup-sayup suara burung hantu mengiringi hembusan angin malam yang dingin mengigit. Suara hewan-hewan malam bernyanyi secara bergantian, suara nyanyian yang terdengar sangat menyeramkan.
Suasana kelam dan seram, sebuah hutan di pingiran kota. Hutan belantara yang jarang dijamah manusia.
__ADS_1
Sebuah mayat gadis berseragam SMU tergeletak di atas tanah. Gadis dengan tubuh penuh luka dan noda darah. Tubuh gadis belia itu telah kaku pertanda raganya sudah melepas rohnya.
Tak jauh dari tempat itu seorang pria dengan jaket hitam sedang berusaha keras membuat liang lahat untuk mayat gadis itu. Dia terus berkutat dengan pacul dan tanah merah tanpa menghiraukan suasana kelam yang kini menyelimutinya.
Pria dengan wajah tampan dan tubuh tinggi atletis itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi ngeri atau takut. Padahal saat ini sudah menunjukkan waktu dini hari, dia sendirian bersama seorang mayat di hutan belantara yang sangat menyeramkan ini.
Tampaknya ini bukan kali pertama lelaki itu mengubur jasat manusia di tempat itu. Karena dia terlihat santai dan tanpa beban padahal kondisi dan posisinya kini jauh dari kata normal.
Lelaki itu memasang ekspresi kecewa saat melihat mayat gadis yang tergeletak tak jauh darinya.
"Kenapa kau melawan, harusnya kau pasrah saja. Jadi aku tak akan membunuhmu!" ujar pria tampan itu.
.
.
"Aura!!!" teriak Utari, gadis yang kini memakai gaun merah selutut itu segera berhambur ke arah Aura yang sedang memarkirkan motor putihnya di area parkir kampus.
Senyuman manis kini sudah mulai bisa merekah di wajah ayu Aura. Ingatannya tentang kematian ayahnya sama sekali tak memudar, tapi dengan terbunuhnya Imanuel yang kabarnya di bunuh juga oleh Dokter Abraham secara keji di penjara membuat Aura sedikit lega.
Akhirnya pembunuh yang telah membunuh ayahnya mati dengan cara yang mengerikan juga.
"Gue kangen banget Ra sama elu!" kata Utari, gadis yang mengunakan logat sunda itu segera menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Aura.
"Akhhhh elu, gue lagi bahagia banget tau!" akhirnya Utari melepaskan pelukannya.
"Kenapa?"
"Maaf ya gue bahagia, padahal elu masih sedih." Utari tiba-tiba merubah raut sumringahnya.
"Kayak lagi pertama kali aja, elu kan emang gitu. Suka berbahagia di atas penderitaan gue!" ujar Aura. Meski perkataannya itu adalah gurauan tapi Utari langsung menunduk lesu saat mendengar ocehan sahabatnya itu.
"Nggak lahhh....Ada apa, ada apa?! Elu dapat pacar baru lagi?" Aura yang merasa bersalah telah merusak mood Utari pun akhirnya menebak.
Kenapa tebakan Aura 'pacar baru' karena hanya itu yang membuat Utari selalu bersemangat.
"Kok elu tau?" bisa kalian tebak, wajah mbesengut Utari pun langsung berubah bahagia lagi.
"Emang ada hal lain yang bisa bikin elu bahagia berlebihan begini?" tanya Aura.
"Elu tau penyanyi Karis yang dulu pernah di rekrut sama agensi besar Korea?" tanya Utari.
__ADS_1
"Karis Paseha mantan angota boyband Panamex?"
"Iya!"
"Elu pacaran sama dia?" tanya Aura heran.
Apa iya sahabatnya itu bisa pacaran dengan penyanyi sekaligus aktor sehebat Karis Paseha.
"Enggak sih, tapi gue di undang ke pertemuan pengemarnya!" jelas Utari.
"Pertemuan pengemar?!" Aura tambah bingung dengan apa yang Utari katakan saat ini.
"Benar. Rumornya jika elu terpilih saat pertemuan pengemar itu, elu bisa saja dijadiin pacar sama Karis!"
"Apa itu boleh?"
"Yaaa asal suka sama suka, kenapa enggak boleh?!"
"Bener juga sih. Emang kapan pertemuan pengemar Karis itu?" Aura tampaknya juga kepo dengan berita yang baru saja dia dengar dari sahabatnya itu.
"Nanti malam!" kata Utari dengan penuh semangat.
"Kayaknya elu nggak usah mimpi dijadiin pacar sama Karis, selera cowok sehebat Karis itu pasti tinggi!" nasehat Aura pada Utari.
Bukannya mau melecehkan atau merendahkan sahabatnya itu. Aura hanya mau Utari jangan terlalu berharap banyak dengan omongan yang mungkin hanya hoak itu.
"Ok bos siap!" jawab Utari.
.
.
"Malam ini ada pertemuan pengemar, kamu harus bisa profesional!" nasehat manager Karis pada aktor tampan itu.
Karis yang baru saja sampai di kantor agensi itu tampak duduk bersantai di sofa mewah di salah satu ruangan di gedung itu. Aktor tampan sama sekali tak peduli dengan nasehat managernya, tapi wajah dingin yang tampan itu tampak tersenyum tipis.
"Coba gue lihat dulu data para tamunya, gue harus punya persiapan untuk ketemu mereka-kan?!" kata Karis tanpa rasa sopan santun. Padahal managernya itu adalah pria yang jauh lebih tua darinya.
Manager itu hanya memberikan segepok kertas putih yang berisi informasi para pengemar yang akan datang dalam acara malam nanti pada Karis.
"Berhentilah berkencan dengan pengemarmu, agensi sudah cukup kualahan untuk membungkam para gadis-gadis itu!" tegur manager Karis.
__ADS_1
Tapi lelaki muda itu tak bergeming sama sekali dengan teguran managernya. Karena pandangan dan kesadaran Karis kini telah fokus ke lembaran kertas di tangannya.
Pemuda yang bernama Karis itu adalah pemuda yang mengubur gadis SMU di hutan pingir kota.