Ghost Of Death

Ghost Of Death
Istri Raga


__ADS_3

Pagi ini. Mayat Karis Paseha ditemukan di tepi sungai pinggiran kota dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Saat ini para petugas Polisi sedang melakukan identifikasi pada mayat tersebut.


Di lokasi itu Detektif Senki hanya memandang tajam ke arah mayat Karis Paseha yang belum disentuh oleh siapa pun.


Mayat dengan ke adaan tengkurap itu terlihat seperti kepiting. Karena kedua kaki Karis Paseha yang dipotong disambung lagi tapi bukan di tempatnya. Tapi di bagian perut kanan dan kirinya.


"Apa ini Yuyu Kangkang? Dalam cerita Ande-ande lumut?!" tanya Detektif Senki pada angin.


"Bajingan itu!" Detektif Senki kembali berteriak kesal.


Dia gagal lagi, dia gagal dalam tugasnya. Mungkin tak akan ada yang menyalahkannya tapi dia benar-benar merasa bersalah saat ini.


Khasus ini akan menjadi tragedi Bangsa yang tak akan terlupakan. Nama Kepala Bagian Tindak Kriminal, Detektif Senki akan dicatat di sela-sela kalimat-kalimat kegagalan misinya.


Baginya nama baiknya bukan segalanya, tapi keamanan para warga Negara ini yang masih dia khawatirkan. Pembunuh berantai Bulan Biru yang dikira telah mati ternyata masih hidup. Dan kini tindakannya akan lebih kejam lagi.


Dia sudah bertekat agar tak ada orang yang kehilangan angota keluarganya karena pembunuh. Tapi kenyataannya, untuk menangkap Bulan Biru saja dia tak sanggup.


.


.


.


.


Alarm di ponsel Aura berbunyi, gadis itu masih tertidur nyenyak di dalam dekapan kekasihnya yaitu Raga. Kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu baru saja melewati malam yang indah bersama.


Tak mau diganggu, Aura segera meraih ponselnya yang berada di meja dekat ranjangnya. Alarm itu telah mati sekarang, dan tubuh Aura yang polos itu kembali meringkuk kedalam dekapan Raga.


"Sudah pagi?" tanya Raga, matanya masih terpejam. Tapi gerakan Aura tadi berhasil membangunkan kesadarannya.


"Belum masih malam!" ujar Aura bohong.


Raga membuka matanya dan hendak menoleh ke arah jendela yang berada di belakang tubuhnya. Tapi seketika Aura meraih wajah Raga dan mencium bibir manis itu.


Kecupan dengan rasa dan bau khas bangun tidur itu diterima oleh Raga dengan lapang dada. Kecupan balasan juga Raga layangkan ke bibir Aura yang sudah basah. Tubuh yang sudah sama-sama polos itu saling mencengkeram untuk meraih kenikmatan yang mereka inginkan.


Tapi belum juga gairah itu naik Aura melepas kecupannya pada Raga dan gadis manis itu membalikkan tubuhnya ke arah lain.


"Yaaaaa, ngapain Lu!" ujar Raga, nafasnya masih memburu pelan karena ciuman barusan.


"Nggak papa, cuma masih ngantuk aja." kata Aura, setelah puas menciumi bibir Raga.

__ADS_1


"Tanggung jawab! Sini kamu!" tanpa basa-basi lagi Raga sudah menarik tubuh Aura yang masih di bawah selimut yang sama dengannya.


Kini tengkuk Aura menjadi bulan-bulanan Raga, bibir dan lidah lelaki itu menari ria di atas kulit putih mulus Aura. Gadis manis itu pun tak bisa diam tubuhnya yang diberi rangsangan sedemikian rupa langsung mengelinjar tak tantu arah.


Jemari Raga juga tak mau diam untuk menorehkan kenikmatan di diri Aura yang sudah di ambang kepuasan.


"Stoppppp Ga!" lenguh Aura.


"Kenapa?" tanya Raga, dia berhenti menyapukan bibirnya di pungung Aura.


Tapi jemarinya masih menari cepat di area sensitif Aura di bagian bawah.


"Gueeeee....Nggggggakkkkkk....Kuattttt!" kata Aura. Tubuh ramping itu terguncang berkali-kali.


Raga dengan cepat menelentangkan tubuh Aura dan dia sudah berada di atas tubuh pacarnya itu.


"Sekali lagi ya!" pinta Raga.


Wajah Aura yang saat ini sedang dipenuhi oleh kepuasan itu akhirnya mengangguk pelan. Aura setuju Raga memberikannya kenikmatan surgawi di pagi hari ini.


.


"Mandi sana!" suruh Aura, ruangan yang tadinya dingin berubah jadi panas karena dipanaskan oleh api cinta yang membara.


Keringat masih terlihat membasahi tubuh keduanya di atas kasur empuk kamar Aura.


"Malu gue." kata Aura yang masih sembunyi di dalam selimutnya.


Karena Raga sudah tak sabar lagi, lelaki itu bangun dan membopong tubuh Aura ke kamar mandi. Akhirnya mereka mandi bersama dan pastinya begituan lagi di tempat kotak yang sempit itu.


.


"Jawaban Detektif Senki salah!" Kata Aura, kedua sejoli itu kini baru saja keluar dari kamar masing untuk pergi kuliah.


Raga tak punya pakaian ganti di kamar Aura, terpaksa setelah mandi wajib Raga kembali ke kamarnya untuk ganti baju dan bersiap pergi.


"Benarkah, jadi gimana?" Raga pura-pura antusias dengan layar ponsel Aura.


"Mayat Karis Paseha sudah ditemukan di sungai pingir kota." kata Aura.


Ternyata Utari mempunyai jiwa seni juga, pikir Raga setelah melihat TKP dan mendengar keadaan mayat Karis Paseha.


"Yuyu Kangkang! Saat memikirkan tentang gadis muda, gue hanya kepikiran Timun Emas yang dikejar-kejar oleh Raksasa!" ujar Aura.


"Elu yang menjawab teka-teki itu?" tanya Raga.

__ADS_1


"Sama-sama sih bareng yang lain juga! Tapi aku berhasil menebak yang pertama Si Kancil Anak Nakal karena hantu yang kutemui di rumah korban pertama!" jelas Aura.


"Ternyata Istri gue pintar juga!" puji Raga.


"Istri??? Kapan kita nikah?" tanya Aura, dia masih enggan dipanggil Istri oleh Raga.


"Semalam!" Raga mengoda Aura, sehingga wajah mungil didepannya pun memerah.


.


.


.


.


Sebuah taman yang indah, puluhan jenis bunga berjajar menghiasi setiap sudut kebun belakang rumah keluarga Harsono. Pot-pot yang ditumbuhi tanaman mahal yang berharga berjajar rapi di rak-rak besi yang kokoh.


Taman yang cukup luas dengan hamparan tanah berumput di tengahnya. Serta beberapa jenis burung eksotis tampak menghuni kandang-kandang di pinggiran taman.


Seorang pria tua yang berbadan tegap Martin Harsono ayah kandung dari Morgan sedang berdiri berhadapan dengan sebuah pot bunga yang lebih mirip ilalang.


Di salah satu telapak tangan lelaki tua itu terdapat handuk putih, handuk bersih itu dia gunakan untuk mengelap daun-daun yang tubuh di dalam pot itu.


Gerakannya cukup halus dan luwes, tapi ketentramannya pagi ini diusik oleh seorang pria setinggi Morgan. Pria berbadan tegap yang mengunakan setelan jas hitam dengan rambut klimis yang rapi itu, mendekat cepat ke arah berdirinya Mentri Pertahanan Negara tersebut.


Pria itu tampak membisikkan sesuatu di telinga tuannya, wajah Martin Harsono yang semula santai pun sudah berubah ekspresi. Kemarahan seperti berkobar di hatinya setelah mendengar apa yang dia dengar dari pengawal pribadinya tersebut.


"Dimana dia sekarang?" tanya Tuan Harsono pada pengawalnya.


Pengawal itu berbisik lagi di telinga pria tua di hadapannya.


"Kita harus temui dia sebelum terjadi masalah yang lebih besar!" kata Tuan Harsono.


Kedua pria beda usia itu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kebun belakang itu menuju rumah utama yang paling besar. Tetapi langkah tergesa mereka dihadang oleh sebuah suara femimin yang berkuasa di rumah ini.


"Kau mau pergi kemana sepagi ini?" tanya Nyonya Harsono.


"Ada rapat mendandak! Tentang pembunuh berantai Bulan Biru " kata Tuan Harsono.


"Kurasa bukan itu!" kata Nyonya Harsono.


____________BERSAMBUNG__________


...Jangan lupa Vote, Komen, Like yaaaa teman-teman❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2