Ghost Of Death

Ghost Of Death
Penyesalan dan rasa rindu


__ADS_3

"Makan yang banyak!" perintah Raga pada Aura dengan nada yang mesra.


"Lu beneran kesurupan ya?" tanya Aura, mata bulatnya kini memicing dan mencoba menelisik setan apa yang tengah merasuki diri Raga.


Mereka kini duduk berhadapan di meja setinggi 40 cm, yang dipenuhi dengan berbagai macam bagian ayam yang digoreng dengan tepung hingga krispi.


"Apa ada hantu di sekitar gue?" kini Raga yang kebingungan. Dia melihat kekiri dan kekanan tubuhnya lalu memutar pandangannya mengitari ruangan kamar Aura.


Raga yang berada di posisi duduk lesehan ternyamannya pun akhirnya merasa parno dan mulai duduk tak tenang.


"Nggak kok, emang ada hantu yang mau ngikutin cowok macam elu?" desah Aura, tatapannya masih mengada-ada. Ternyata dia punya hobi baru sekarang, mengoda Raga dengan hal-hal horor.


"Syukur deh!" Raga menghela nafas panjang, mulut mungilnya kini sudah penuh sesak dengan potongan ayam dan nasi bermerek B.F.C.


(sejak kapan nama toko itu ganti jadi nama klub bola???)


Malam ini Raga dan Aura tidur dalam satu ruangan yang sama, Aura tidur di atas ranjang dan Raga tidur di sofa yang panjang.


"Elu udah tidur?" tanya Raga pada Aura.


"Belum!" jawab Aura, hari ini masih terlalu sore untuk pergi tidur. Karena waktu masih menujukkan pukul 8 malam.


"Kata Utari, elu belum tau mau buat apa di pameran tahun ini?" Raga merubah posisi tubuhnya yang mulanya terlentang kini menghadap ke arah ranjang Aura.


"Entah, gue akan ikut apa enggak. Gue masih mikir-mikir." Aura masih setia dengan pandangannya ke arah langit-langit kamarnya.


"Terus nilai semester elu gimana?" Raga bangun dan duduk di sofa panjang itu.


"Gue bisa jadi asisten mahasiswa lain!" kata Aura.


"Tapi nilai elu nggak akan penuh!" nasehat Raga.


"Sejak kapan sih elu jadi cerewet banget?" tanya Aura dengan nada kesal.


"Bukankah elu kuliah di sini untuk Ratih?!" kata Raga lirih.


"Sok tau, Lu!" Aura memutar tubuhnya hingga membelakangi keberadaan Raga.


Lelaki muda itu tampak bangun dari sofa dan berbaring di belakang Aura. Kelihatannya Raga tak mau memberikan kesempatan pada Aura, karena tangan kanannya kini sudah memeluk perut ramping Aura dengan sangat erat.


"Apaan sih, Lu!" kata Aura, kedua tangannya berusaha mencoba melepas cengkeraman erat Raga.


"Gue rindu banget sama Aura Magisna." bisik Raga, wajah tampannya kini tepat di belakang kepala Aura.


Aura terdiam sejenak, dia mencoba meredakan rasa yang mulai menjalar di dadanya.

__ADS_1


"Gue harap elu segera menjadi Aura Magisna lagi, Aura magisna yang pernah gue kenal dulu!" ucap Raga lagi.


"Diem, gue mau tidur!" bentak Aura.


Tubuh Raga semakin mendekat ke arah tubuh Aura yang ditutupi selimut, hingga tak ada lagi jarak yang tercipta di antara mereka.


Kedua insan yang saling mencintai tapi harus terpisah karena maut yang merengut orang terkasih mereka. Rasa benci dan salah faham memicu jarak yang tak bisa diukur. Entah apa yang bisa membuat jarak yang sudah lama tercipta itu bisa dihapus.


Jarak itu apa bisa dihapus dengan mudah???


.


.


.


.


Wajah paruh baya yang masih tampan milik Detektif Senki terlihat lesu. Garis wajahnya yang tegas itu seketika luntur digempur oleh sebuah pemandangan yang dia tonton di depan matanya kini.


Dadanya semakin sesak tak kala melihat mayat yang baru saja di temukan oleh pemungut rosokan di area industri yang terbengkalai itu. Area ini tak jauh dari area pembunuhan sebelumnya.


Tubuh tegap yang kekar itu hanya duduk di depan mayat denga luka tusukan yang parah. Matanya yang dari tadi sudah sembab itu, sekarang sudah berwarna semburat merah.


"Bukankah ini Ayah Aura?" tanya Morgan yang baru saja sampai di TKP.


Mayat pria berusia 55 tahun itu tergeletak di atas jalanan semen yang sempit, pembunuh tak memindahkan mayat Mbah Sodik dari lokasi pembunuhannya.


"Ini aneh!" kata Morgan lagi.


"Apa?" air matanya tak lagi bisa dibendung oleh Detektif Senki.


"Kalung Bulan Biru!" kata Morgan.


"Keparat!!!


"Darimana dia tau tentang Mbah Sodik!!!" teriak Detektif Senki.


"Mungkin dari khasus Nawang Ratih?!" desah Morgan.


Senki dan Morgan saling berpandangan di depan mayat Mbah Sodik yang sudah berlumuran darah basah yang bercampur air hujan. Tubuh tambun Mbah Sodik terlihat sangat pucat karena terpaan air hujan yang cukup deras tadi malam.


"Kita harus segera mengabari keluarga korban!" kata Morgan.


"Morgan cepat kau kabari Aura!.

__ADS_1


"Dan tim forensik segera bawa mayat Mbah Sodik untuk aoutopsi!!!


"Perintahkan difisi 1 untuk memeriksa CCTV di kosan yang ditempati Mbah Sodik. Lacak setiap tempat yang dia kunjungi, dan selidiki siapa saja yang dia temui Mbah Sodik di kota ini!!!" perintah Detektif Senki pada seluruh bawahannya.


Semua bawahan Detektif Senki segera bekerja sesuai perintah pemimpinya itu.


Kedua Detektif itu seperti sedang bermain petak umpet dengan pembunuh berantai itu, pembunuh yang sangat profesional. Pembunuh yang handal dengan ***** membunuh yang besar dan rapi.


Tak ada sedikit pun jejak pembunuh itu yang bisa ditemukan oleh Detektif Senki dan Morgan. Padahal korban sudah mencapai sembilan orang, tapi tak satu pun petunjuk yang bisa dikumpulkan oleh pihak kepolisian selain kalung Bulan Biru.


.


.


.


.


Kabar itu sampai juga ke telinga Aura. Dia yang baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kampus pun hanya bisa berdiri mematung mendengar kabar yang disampaikan oleh Detektif Morgan melalui panggilan telepon itu.


Wajah polos tanpa make up Aura segera berubah datar tak kala kabar duka itu selesai di utarakan oleh Detektif Morgan.


"Ada apa?" tanya Raga yang baru saja masuk ke dalam kamar Aura.


"Bapak gue, Ga." kata Aura lirih pandangan matanya kini sudah kosong.


"Kenapa Mbah Sodik?"


"Bapak gue......" nafas Aura semakin memburu, dia terduduk lemas di lantai dengan suara isakan yang mulai muncul dari bibir mungilnya.


"Kenapa?....katakan Mbah Sodik kenapa!!!" Raga ikut duduk di samping Aura dan dia dekap tubuh gadis pujaannya itu.


"Bapak, Gue......


"Diaaaaaaaa, meninggal!" suara tangisan Aura semakin menjadi.


Penyesalan selalu datang terlambat.


Aura belum sempat baikan dengan ayahnya, dia masih marah pada orang tuanya itu karena kontrak sukma Nawang Ratih. Kini gambaran-gambaran kenangan indahnya bersama ayahnya itu kembali bermunculan dan berputar ria di ingatan Aura.


Tubuh gadis tomboy itu seketika melemas dan mulai kehilangan kesadarannya.


"Aura.....!" panggil Raga.


Aura sudah tak dapat menjawab panggilan Raga, nyawanya sudah terbang ke alam bawah sadar.

__ADS_1


__ADS_2