Ghost Of Death

Ghost Of Death
Seorang Ibu


__ADS_3

Pukul satu dini hari kemarin, seorang warga menemukan mayat laki-laki dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


Mayat yang diduga sebagai korban pembunuhan Bulan Biru itu ditemukan di area halaman sekolah dasar.


Identitas korban sementara ini masih simpang siur, tapi kemungkinan mayat pria yang ditemukan itu berusia sekitar 20-25 tahun dengan rambut gondrong dan dua tindikan ditelinga kirinya.


.


.


Malam ini Raga tidur di sebuah kursi sofa panjang diruang tunggu, belum ada yang mengijinkan dia untuk pulang. Baginya semua itu bukan masalah yang besar, meski dia tak keluar dari sini pun dia bisa membunuh dengan tangan Utari.


Tapi dia sebenarnya sudah tidak sabar untuk menjalankan rencana barunya. Dia yang sudah diabaikan oleh Aliansi dan Negara membuatnya cukup murka. Bagaimana pun selama ini Raga membunuh untuk kepentingan Negara, jika Negara membuangnya begitu saja itu sangatlah tidak adil.


Apa lagi Raga sudah mendengar sebuah ucapan yang janggal dari Detektif Morgan. Dia bilang ayahnya diserang oleh salah satu angota Tim Alpa. Itu benar, Hendra memang menyerang Tuan Harsono. Tapi Hendra datang ke vila itu bukan untuk menyerang tapi untuk bernegosiasi.


Raga yang cerdas, segera dapat menebak. Tuan Harsono pasti mengarang cerita agar semua aliansi di Negara ini memburu Bulan Biru.


Raga juga bisa menebak kalau tak ada satu orang pun yang tau, seperti apa wajah Bulan Biru.


Karena itu Raga sudah merancang rencana untuk memberi pelajaran pada keluarga Harsono yang munafik itu. dia ingin membunuh semua orang yang dekat dengan Tuan Harsono. Termasuk Morgan satu-satunya putra dari Martin Harsono.


Di tengah tidurnya yang nyaman dia terbangun karena Detektif Senki membangunkannya. Baru saja Detektif itu merasa curiga dengan pembunuhan Bulan Biru yang terjadi di malam. Kenapa kejadian mengerikan itu terjadi saat Raga ditahan olek pihak kepolisisan.


Detektif Senki jadi curiga jika kembaran satunya yang melakukan itu karena mendengar kabar, bahwa Raga ditahan. Jadi sebelum Detektif Morgan menyadari hal itu, Detektif Senki lebih dulu menangani Raga.


Detektif Senki membawa Raga ke suatu tempat. Pagi ini mereka berdua berkendara bersama dengan mobil Detektif Senki.


"Bagaimana kabar orang tuamu di Jepang?" tanya Detektif Senki pada Raga.


Di data pemerintah Raga mempunyai ayah berkebangsaan Jepang dan ibu orang indonesia.


"Baik, mereka baik-baik saja!" kata Raga. Dia berusaha sesantai mungkin.


"Apa lahir dan tumbuh di Jepang menyenangkan?" tanya Detektif Senki.


"Lebih menyenangkan di sini, nggak ada yang ngomel saat gue balik ke rumah!" kata Raga.

__ADS_1


Detektif Senki hanya tertawa, sekali lagi dia merasa mencurigai Raga itu salah. Tapi dia harus memuaskan rasa curiganya, agar dia merasa yakin jika Raga bukan salah satu kembaran Bulan Biru.


"Jika aku berhasil menangkap Bulan Biru, apa kau mau bertemu dengannya?" tanya Detektif Senki.


Raga terdiam sejenak, dia tau jika saat ini Detektif Senki masih curiga padanya. Jawabannya harus tepat, dia ingin Detektif Senki berhenti mengusiknya.


"Jika bapak bisa nangkep tuh keparat! Kabari gue dulu, biar gue hajar dia sampe nggak bisa bangun lagi!" kata Raga dengan semangat.


"Bener kamu berani, apa kamu enggak takut dibunuh duluan!" kata Detektif Senki.


"Kan ada bapak, masa bapak diem aja liat gue mau dibunuh?" Raga berusaha seekspresif mungkin.


"Kau sama bajingan juga kayak dia! Ngapain saya melindungi kamu?" Detektif Senki malah mengejek Raga.


"Itu-kan masa lalu! Tapi setelah ketemu sama Aura, gue ngerasa. Gue harus hidup lurus untuk dia!" ujar Raga, dia pura-pura tersenyum penuh cinta.


"Kamu secinta itu sama Aura?" tanya Detektif Senki.


"Waktu di Jepang, gue sampe depresi karena mikirin nggak bisa ketemu lagi sama Aura!


"Karena itu orang tua gue, nyuruh gue ke Indo lagi. Gue deng yang maksa mereka! Gue coba nggak ndeketin Aura lagi karena gue tau Aura masih benci sama gue Pak.


Mobil mereka masuk ke dalam area penjara, Raga mencoba untuk terperangah.


"Ini penjara Pak?" tanya Raga.


Iya ini penjara, tapi bukan penjara biasa. Penjara ini khusus dihuni oleh penjahat dengan kejahatan yang luar biasa. Penjara kelas satu yang hanya dihuni oleh penerima hukuman mati dan hukuman seumur hidup.


"Kau harus menemui seseorang untukku, karena orang itu tak mau menemuiku!" kata Detektif Senki.


"Siapa?" tanya Raga belagak bego.


"Dokter Abraham!" kata Detektif Senki.


Pada saat itu Raga sadar jika Detektif Senki sudah tau jika pembunuh berantai Bulan Biru tak hanya satu orang. Mentri Pertahanan pasti sudah membuka identitas Raga dan Utari yang adalah anak kembar dari Dokter Abraham.


Tuan Harsono, dia benar-benar cari mati. Tenang saja aku tak suka mengampuni siapa pun. Raga.

__ADS_1


Raga hanya diam membisu, dengan sorot mata yang tajam dia hanya memandang ke depan. Lagi-lagi dia harus berakting di depan ayah kandungnya. Karena pria tua yang rambutnya sudah berubah menjadi dua warna itu sedang berjalan masuk ke dalam ruang jenguk.


Ayah dan anak lelakinya itu duduk saling memandang dalam diam. Tiga tahun sudah mereka tak saling berjumpa, meski sebelum kejadian pembunuhan Nawang Ratih mereka tak begitu akrab. Mereka masih keluarga dengan darah yang sama, insting dan gelombang otak mereka masih terhubung dengan erat.


"Apa anda Dokter Abraham?" tanya Raga dengan sopan.


Lelaki muda itu masih ingat pesan Detektif Senki, untuk bicara sopan pada pembunuh berantai Bintang Perak itu.


"Benar," Dokter Abraham hanya berkata datar saja.


Raga membuka kertas yang diberikan oleh Detektif Senki padanya, kertas yang berisi beberapa pertanyaan untuk pembunuh Bintang Perak.


Dengan hati-hati Raga menghela nafasnya, dia terpaksa harus berakting di depan ayah kandungnya karena saat ini Detektif Senki pasti sedang mengawasinya.


"Apa anda punya anak kandung?" tanya Raga, persis seperti isi di kertas itu.


"Tidak," kata Dokter Abraham bohong.


"Apa anda pernah menikah?" tanya Raga.


"Aku tak pernah jatuh cinta wanita atau pun lelaki, sepanjang hidupku aku hanya mencintai diriku sendiri!" kata Dokter Abraham dengan penuh penekanan.


"Semua psychopath berhubungan dengan lawan jenisnya hanya untuk memperbanyak keturunan!


"Begitu pun aku, ada seorang wanita yang mengandung anakku. Tapi dia mati sebelum berhasil melahirkan anakku!


"Namanya Nada Salika Harsono" ujar Dokter Abraham.


Raga hanya bisa tertegun, ini pertama kalinya dia mendengar nama ibu kandungnya. Tapi kenapa ada nama Harsono di belakang nama ibu kandungnya itu.


"Dia meninggal secara tragis, saat dia ingin kabur dari kakaknya yang ingin membunuh janin yang dikandungnya.


"Karena kakaknya tau janin yang dikandung Nada mempunyai DNA psychopath. Seperti aku!" kata Dokter Abraham dengan senyuman di wajahnya.


Begitulah seorang ibu, dia akan mempertahankan kelangsungan hidup anak-anaknya.


Meski anaknya mungkin adalah monster, seorang ibu pasti akan menerima darah dagingnya tanpa ragu.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG__________


Jangan lupa Vote, Komen dan Like yaa teman-teman❤❤❤


__ADS_2