Ghost Of Death

Ghost Of Death
Rumah Daniel


__ADS_3

Aura dan Leo sarapan bersama di dekat kampus, mereka berdua duduk berhadapan sama-sama menghadap semangkuk bubur ayam yang baru disajikan oleh Mang Soleh.


"Apa kau masih sering melupakan sarapan, kau harus sarapan dengan baik!" kata Leo.


"Kok anda bisa tau saya sering nggak sarapan?" tanya Aura.


"Ohhhhh ituuu!" Leo mencoba memutar otaknya, jawaban apa yang harus ia berikan agar gadis di depannya tak curiga padanya.


"Detektif Senki selalu cerita tentang kamu, mau tak mau ya saya dengerin!" kata Leo sambil tersenyum manis karena sudah mendapatkan alasan yang tepat.


"Gitu ya,!" Aura hanya menjawab dengan nada lemas.


"Kamu masih mikirin Raga? Dia pasti baik-baik aja kok! Fokus ke sarapanmu, cepat habiskan!" ujar Leo, dia juga merasa tidak enak pada Aura.


Apa yang dilakukan Detektif Senki dan Detektif Morgan pada Raga. Kenapa sampai saat ini kedua Detektif itu belum juga mengantar Raga pulang.


Aura hanya mengangguk menangapi ucapan Leo, tapi dia terus makan. Karena perutnya terasa benar-benar sangat lapar.


"Siapa ini?" tanya Utari yang entah muncul dari mana, iblis wanita itu sudah duduk manis di dekat Aura.


"Aaaaa dia....!" kata Aura, dia bingung mau bilang Leo itu siapa. Karena tak mungkin bilang kalau Leo adalah agen BIN.


"Saya, teman Detektif Senki. Saya diperintahkan untuk menjaga Aura!" untung Leo langsung menyahut, menjawab.


"Perkenalkan namaku Utari, Kencana Utari Dewi! Kau tampan sekali!" kata Utari dengan nada genitnya.


"Akhhhhh trimakasih atas pujiannya!" kata Leo dia juga tersenyum manis.


"Jadi Mas Leo ini Polisi?" tanya Utari.


Gadia feminim bergaun kuning itu tampak sekali menunjukkan rasa tertariknya pada Leo. Dengan melihat pandangan berbinar Utari yang tak bisa lepas dari Leo.


"Benar," kata Leo datar, dia meneruskan sarapannya.


Sebenarnya Leo agak risih dipandangi wanita seintens itu. Tapi dia juga agak bingung kenapa Utari yang baru pertama kali dia temui itu langsung bisa tertarik padanya.


Alsannya adalah, Leo mungkin orang yang akan Utari siksa berikutnya. Karena berani-beraninya mendekati Aura dengan alasan pekerjaan, Utari yakin sekali Leo tak akan diampuni oleh Raga.


Utari tau Raga ditangkap semalam, dan sampai sekarang kakaknya itu belum kelihatan. Itu artinya Leo mungkin menginap di kosan Aura. Jika tebakan Utari benar, waktu Leo hidup sudah tak lama lagi.

__ADS_1


Lagi asik-asiknya membayangkan wajah Leo yang mengerang kesakitan dengan darah dan peluh yang membasahi tubuh indahnya, malah ponsel Utari berbunyi nyaring.


Lagu salah satu girl grup asal negri gingseng itu terus bersenandung sampai Utari mengangkatnya.


Itu panggilan dari nomor baru, jika panggilan ini dari Raga artinya kembaran Utari itu sudah pulang atau dia sudah terpisah dari Detektif Senki dan Detektif Morgan.


Tanpa basa-basi Utari mengangkat penggilan itu.


"Kita harus bertemu!" kata Raga. Ternyata benar panggilan itu dari Raga.


"Ohhhh ini gue sedang sama temen sarapan!" kata Utari.


Tapi panggilan dari itu sudah dimatikan oleh Raga, Utari yang mau ngadu pun merasa dikacangin.


"Kampret, kenapa mati! Batrenya habis. Gue-kan masih pengen ngomong!" gerutu Utari.


.


.


.


.


Padahal hari ini sang surya masih bertahta di garis katulistiwa. Tampaknya cahaya terang bukan sebuah alasan untuk orang itu berhenti melakukan keinginannya.


Rumah mewah itu bukan rumah orang biasa, rumah itu di huni oleh Daniel Harsono dan istrinya. Daniel adalah kakak Morgan yang sudah menikah dan memiliki anak berusia 2 tahun.


Rumah Daniel yang menjabat sebagai salah satu petinggi wakil rakyat itu, dijaga oleh puluhan bodyguard yang terlatih. Tapi orang yang menerobos masuk ke dalam rumah itu tampaknya tau, jika rumah mewah itu di jaga ketat.


Orang itu sama sekali tak membawa senjata apa pun, tapi terlihat tak ada rasa takut yang menghantui pria berbaju serba hitam itu.


Dengan berani orang itu yang pastinya adalah Raga mendekati dua orang bodyguard yang sudah mengacungkan pistolnya padanya.


Raga yang baru saja mendarat di halaman depan rumah mewah itu segera mengangkat tangannya, tanda dia menyerah. Tapi tentu saja itu hanya sebuah trik, agar peluru tak terburu-buru dilontarkan oleh kedua pria kekar dari pistolnya.


Saat salah satu pria itu mendekati Raga sampai di jarak Raga dapat meraih tangan pria kekar yang masih menodongkan senjatanya pada Raga.


Dengan secepat kilat Raga segera melakukan teknik pukulan agar senjata api pria itu terlepas dan dapat berpindah ke tangannya. Serangan kuncian juga Raga lakukan agar pria didepannya itu tak menyerangnya balik. kini pria itu sudah berada di dekapan Raga tapi menghadap ke arah temannya.

__ADS_1


Pria pertama itu tak mungkin bisa melawan karena moncong senjatanya kini sudah diarahkan Raga ke arah kepalanya.


Duarrrrrrrrr


Sebuah peluru telah bersarang di otak pria yang saat ini ada di dekapan Raga.


Duarrrrrrrrrr


Satu peluru juga tepat Raga bidikkan ke dalam kepala pria satunya.


Sontak, tanpa perintah dan aba-aba semua bodyguard di rumah itu segera berkumpul di tempat suara tembakan itu.


Tapi tiga orang yang baru datang itu hanya melihat dua tubuh temannya yang sudah tak bernyawa.


Raga melompat dari persembunyiannya setelah melihat situasi, dia melompat tepat di atas pria yang berada di tengah. Dua pistol bodyguard yang sudah wafat itu kini sudah berada di tangan Raga.


Duarrrrrrrrrrr, Duarrrrrrrrrr.


Dua pria lain segera terkapar setelah tertembak oleh pistol Raga.


Raga segera bangun dari atas tubuh pria terakhir yang dia buat sebagai landasan terjunnya. Mungkin pria yang kini masih tertindih itu merasa tubuhnya membeku karena melihat Raga yang begitu kejam pada lawannya.


Dengan tanpa rasa belas kasih sebuah tembakan kembali Raga muntahkan dari moncong senjata teman pria itu. Arahnya tepat ke kepala pria yang saat ini terkapar terlentang menghadapnya.


Duarrrrrrrrrrrrr


Wajah ke bapak-bapakan itu kembali menjadi sasaran Raga.


Hari ini Raga tak akan membiarkan siapa pun yang berada di rumah ini, bisa menghirup oksigen keesokan harinya dia sudah bertekat untuk menghabisi semua nyawa di keluarga ibu kandungnya itu.


Raga masuk ke dalam rumah, karena pintu didepannya sudah terbuka lebar. Raga tampak tak begitu waspada, karena langsung berjalan santai ke dalam ruangan tamu yang besar dan megah itu.


Karena dia tau di dalam rumah itu di jaga oleh preman, karena polisi biasanya akan mengawal orang yang meminta perlindungan dengan lima petugas dari kepolisian.


Lima orang dengan tubuh tegap dan berotot keluar dari persembunyian mereka. Kelima pria dengan wajah bengis itu tampak tak kelatutan dengan pistol di kedua gengaman tangan Raga. Karena Raga meletakkan pistolnya ke sarung khusus senjata api di pingangnya.


Kelima pria itu tersenyum bengis dan mengeluarkan senjata tajam mereka masing-masing. Tapi Raga hanya tersenyum bahagia di balik maskernya.


Majulah semua, jika kalian ingin mati. Raga.

__ADS_1


____________BERSAMBUNG__________


Jangan lupa Vote, Komen dan Like yaaa teman-teman ❤❤❤


__ADS_2