Ghost Of Death

Ghost Of Death
Pembantaian


__ADS_3

Raga dengan santainya malah membenarkan posisi topi dan maskernya. Sementara kelima preman dihadapannya sudah bersiap untuk menyerangnya.


Petarung jarak dekat yang mengunakan kelemahan lawan, dan kekuatan gerakan lawan untuk melumpuhkan lawannya juga. Itu adalah trik yang sangat dikuasai oleh Raga, jadi seberapa kuat lawan yang dia hadapi dia tak pernah mundur atau pun takut.


Para preman-preman berwajah bringas itu sudah siap untuk menghancurkan setiap tulang yang ada di tubuh Raga. Tapi apakah mereka bisa melakukan niat mereka itu.


Preman pertama maju, dia mengayunkan pisau lebar yang biasa dipakai oleh tukang daging di pasar. Pisau yang khusus untuk memotong daging itu siap mencacah daging Raga juga, tapi dengan lincahnya Raga menghindar lalu memukul siku lawannya hingga pisau itu terjatuh ke lantai dengan diiringi suara yang nyaring.


Dengan cepat Raga mengambil pisau itu dan dia berakhir duduk berjongkok di depan preman bertama. Satu tarikan panjang di perut preman itu pisau daging itu kini telah berlumuran darah. Dan Raga cepat berdiri di ikuti tergeletaknya si preman pertama, isi perut preman pertama berhamburan kelantai dengan darah yang mengenang.


Tubuh besar itu gelojotan karena menahan sakit.


"Keparat!!!" pekik pria yang akan mati sebentar lagi itu.


Belum juga Raga sempat mengambil nafas preman ke dua sudah berhambur padanya dengan membawa pisau yang panjang. Raga masih saja lincah menghindari sabetan-demi sabetan preman ke dua, sebuah tendangan diayunkan Raga tepat di tangan preman kedua yang menggenggam pisau panjang itu.


"Brengsek kau!" teriak preman itu wajahnya penuh dengan kilatan kebencian.


Mungkin lelaki itu terlalu kuat, pisau yang harusnya terlempar ke udara itu masih erat digenggam oleh preman kedua. Tapi belom sempat preman itu sadar dari rasa sakit di tangannya. Dadanya sudah di tendang oleh Raga hingga dia tersungkur kelantai.


"Bajingan!!! Berani sekali kau menendangku!?" kini teriakan preman itu tertahan, karena dadanya pasti terasa sesak karena tendangan dari Raga.


Preman ke tiga maju dengan tubuh cungkringnya dia bergaya seperti Bruce Lee, tapi dia ambrul pingsan hanya dengan satu pukulan dari Raga yang tepat mengenai hidung preman cungkring itu.


"Hadehhhh siapa yang suruh ngajak sunduk sate ke mari???" preman kedua yang masih tersungkur itu kelihatannya adalah ketua geng preman ini. Karena dia terus ngoceh tak jelas dari tadi.


Preman ke dua mulai bangun, tapi preman ke empat yang mempunyai tubuh bulat lebih dulu maju. Dia membawa sepucuk kayu sebesar tongkat baseball, dia memukul ke arah Raga secara serampangan hingga jatuh tersungkur sendiri karena kehilangan keseimbangan.


Preman ke dua kembali maju, Raga yang tak mau kehabisan waktu segera berlari ke arah tubuh preman ke dua dan dia menyabetkan pisaunya ke arah bahu preman ke dua. Darah segar segera muncrat dari luka sabetan itu, karena tak ingin mengambil resiko Raga segera berpindah ke belakang tubuh preman kedua dan dia mengorokkan pisau dagingnya ke leher preman ke dua.


Tubuh kekar yang dipenuhi tato itu pun jatuh tersungkur tanpa perlawanan.

__ADS_1


Preman ke lima yang bertubuh paling besar dan tinggi itu segera menyongsong kawan-kawanya untuk menyerang Raga. Tubuh besarnya dia gunakan untuk menekan pergerakan Raga.


Jadi pria besar itu berusaha membuat Raga terpojok dan tak bisa bergerak lagi.


Tampaknya keputusan pria besar itu salah digenggaman Raga ada pisau daging meski saat ini sudah jatuh ke lantai. Karena serangan tangan besar nan kuat preman ke lima itu.


Akhirnya Raga hanya bisa mengayunkan tinjunya ke arah kepala si pria besar, puluhan pukulan maut sudah dilayangkan Raga sampai darah segar mengucur deras dari berbagai tempat di wajah pria besar itu.


Kedua telapak tangan besar itu masih mencengkeram leher Raga dengan kuat, Raga berusaha melepaskan cengkeraman itu tapi dia tidak bisa. Dengan susah payah Raga mengambil pistolnya di pinggangnya, meski tubuhnya kini sudah terangkat ke udara karena kuatnya si pria besar.


Duarrrrrrrrrrr


Tapi sebuah tembakan tepat di kepalanya membuat pria besar itu tak sadarkan diri. Tampaknya Raga juga hampir mati karena kehabisan nafas meski akhirnya dia masih selamat.


Preman nomor empat yang berbentuk bulat masih berusaha berdiri tapi sebuah tembakan segera membuat preman bulat itu jatuh tersungkur kembali ke lantai.


Tanpa banyak kata lagi Raga segera bangun tak lupa dia mengambil pisau panjang yang dibawa para preman tadi. Lelaki muda itu segera menuju tangga lantai dua yang melingkar di ruangan tengah. Di sana sudah berdiri beberapa pelayan pria untuk menghalangi Raga.


Raga langsung maju dan menyahut pelayan pertama lalu menusuk perutnya berkali-kali. Alhasil pelayan yang lain segera kabur ke lantai dua untuk berlindung dari Raga.


Tapi hari ini Raga tak ingin mengampuni siapa pun, termasuk para pelayan di rumah ini. Raga segera berlari naik mengikuti arah para pelayan itu pergi, dia menyahut salah satu pelayan dan membuatnya jatuh ke lantai satu setelah ditikam oleh Raga.


Tak peduli pria atau wanita semua mendapat jatah paling tidak satu tusukan pisau dari Raga. Akhirnya pria yang sudah basah kuyup karena darah puluhan orang itu pun menemukan ruangan kamar yang mengunakan pintu dengan keamanan berlapis.


Raga adalah ketua Tim Alpa, Tim yang disiapkan untuk segala macam situasi. Mereka diciptakan  bukan hanya untuk perang, tapi juga sebagai pelindung negara yang sangat kuat. Latihan yang mereka terima bukan hanya latihan fisik semata tapi juga latihan kecerdasan dan juga teknologi tinggi


Raga mengeluarkan sebuah alat berbentuk persegi pnajang dengan lebar 7cm dan lebar 15cm dan mendekatkan. Alat yang mirip dengan ponsel itu segera membidik handel pintu dan munculah sebuah nomor sandi.


Raga segera memencet momor-nomor yang tertera di sana. Pintu pun terbuka tanpa memicu berbunyinya alaram keamanan rumah itu.


Tapi hal itu tak membuat Raga lengah, pasti ada pelayan yang berhasil menghubungi para tuannya yang sedang berkerja di luar sana.

__ADS_1


Raga segera masuk tapi...


Duarrrrrrrrrr


Duarrrrrrrrrr


Duarrrrrrrrrr


Suara tembakan terdengar mengarah ke arah pintu itu. Raga masih terdiam di depan pintu itu, dia memancing sang penembak untuk keluar.


Raga membiarkan pintu itu terbuka sedikit dan Raga bersembunyi di dinding sebelah pintu yang terbuka.


Perlahan tapi pasti orang itu keluar juga, saat gagang pistolnya di tongolkan oleh Nyonya Daniel Harsono ke luar. Raga sudah bersiap dengan pistol di tangannya.


Moncong senjata Raga sudah menempel di kepela Nyonya Daniel Harsono yang baru saja ingin keluar, dia mengira penjahatnya sudah kalah. Dan salah satu pelayannya membuka pintu keamanan kamarnya.


Wajah cantik jelita itu berkeringat dingin karena ketakutan. Dia tau dia akan mati segera karena saat dia menghubungi ponsel suaminya, tak menjawab panggilannya.


"Jatuhkan pistolmu!" perintah Raga.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Nyonya Daniel.


"Semua orang yang ada di rumah ini!" kata Raga jujur.


"Tolong biarkan anak saya hidup!" pinta Nyonya Daniel.


"Jika kau ingin menyalahkan, salahkan mertuamu!" kata Raga.


Dengan paksa Raga segera membawa tubuh Nyonya Daniel ke dalam kamar itu lagi. Dia ingin menunjukkan rasa sakit yang sebenarnya pada wanita malang itu.


___________BERSAMBUNG__________

__ADS_1


Jangan lupa Vote , Komen, dan Like ya teman-teman ❤❤❤


__ADS_2