Ghost Of Death

Ghost Of Death
Ketidakadilan


__ADS_3

"Saya sebagai Kepala Departemen Kejahatan Kriminal tak memberimu ijin untuk menghadiri acara itu!" kata ayah Detektif Senki dengan sangat tegas.


Detektif Senki yang awalnya duduk manis di sofa langsung berdiri tegak, apa yang baru saja dikatakan oleh ayahnya itu pasti membuatnya tersulut emosi.


Kedua anak dan ayah itu kini sudah berdiri saling berhadapan, kedua pria yang mempunyai beda usia 25 tahun itu saling mengencangkan rahang mereka.


"Saya tak perlu ijin dari anda, atau dari siapa pun!


"Acara ini, aku tetap akan hadir!" ujar Detektif Senki dengan nada yang penuh dengan penekanan.


"Apa kau tak belajar dari masa lalu?! Apa kau ingin membuat keributan lagi?" bentak ayah Detektif Senki.


"Apa ayah takut?" Detektif Senki sepertinya tak punya rasa takut pada apa pun dan siapa pun.


"Jika sampai ada korban lagi, apa kau bisa bertanggung jawab?!" pria tua yang akan segera pengsiun itu masih saja mengunakan nada tinggi.


"Jika sampai ada korban lagi. Itu artinya apa yang kucurigai selama ini adalah benar!


"Ada sekelompok monster gila yang dilindungi oleh pemerintah!" kata Detektif Senki.


Jendral Suetomo Dhirejo ayah Detektif Senki tampak terdiam saat putranya mengatakan hal itu, dia juga menaruh rasa curiga dengan hal itu sejak lama. Tapi sebagai Jendral di kepolisian dia tak bisa ikut campur dengan urusan aliansi lain itu.


Meski keduanya dibentuk untuk sama-sama melindungi Negara, tapi secara struktur dan kepemimpinan kedua aliansi ini mempunyai tugas dan kelompok yang berbeda.


"Jika pun ada, apa kita bisa mslakukan sesuatu?" akhirnya suara Jendral itu melunak.


"Mereka membunuh ibuku dengan sangat keji, apa aku harus diam saja?


"Aku bukan ayah.


"Aku tak bisa diam, dengan ketidakadilan ini. Aku akan mengungkap semua ke masyarakat.


"Nyawa mereka mungkin terancam. Aku tak bisa menipu mereka semua ayah!" ujar Detektif Senki dengan mantab.


Sutomo Dhirejo seorang Jendral Polisi yang sangat disegani. Dikenal karena kesuksesannya yang telah meredam pemberontakan Etnis Komulis di masa mudanya. Tak hanya itu Sutomo Dhirejo juga adalah salah satu pelopor Reformasi pada saat Orde Baru.


Pemimpin dengan segudang pencapaian dan menjadi lambang kehormatan keutuhan sebuah negri ini hanya takut jika putra semata wayangnya akan bernasib sama dengan istrinya.


Satu-satunya kecerobohan yang dia lakukan telah tercatat ke dalam sejarah. Istri seorang Jendral Polisi berbintang tiga menjadi korban pembunuhan berantai Bintang Perak. Dan hal yang paling mengenaskannya adalah, Sulastri Angraini istri tercinta Jendral Suetomo dibunuh oleh Dokter Abraham secara live di sebuah setasiun TV swasta tiga tahun yang lalu.


"Semoga kau akan baik-baik saja sampai akhir!" pria tua itu akhirnya menepuk lembut bahu Detektif Senki.

__ADS_1


Bagaimana pun putranya kini sudah dewasa dan dia tak seharusnya menjadi penghalang untuk kemajuan anak semata wayangnya itu.


"Ayah akan mencoba selalu mendukungmu!" Jendral itu segera keluar dari ruangan Detektif Senki.


Keadilan itu milik semua orang. Keadilan bukan diciptakan hanya untuk segelintir orang yang mampu membelinya.


Maka dari itu aku tak bisa bertahan, saat ada orang yang sengsara karena ketidakadilan.


Dan rasa itu yang telah mendorongku sampai ketempat ini, menjadi perwira Polisi. Senki Kimoka.


.


.


Gubrakkkkkkkkk


Pintu ruangan Detektif Senki yang tak punya harga dirinya itu kembali dibuka paksa oleh seseorang tanpa permisi terlebih dahulu.


"Detektif Senki!" teriak orang itu, tapi pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruangam Detektif Senki itu langsung menunduk takut.


Siapa yang tak takut ada sesosok Jendral di dalam ruangan itu, dan dia baru saja mendobrak pintu ruangan itu tanpa sopan santun.


"Karis Paseha diculik!" kata pria paruh baya itu.


Pria paruh baya ini adalah salah satu bawahan Detektif Senki di timnya.


"Siapa Karis Paseha?" tanya Detektif Senki.


"Kamu nggak tau?" tanya Detektif Morgan. "Keterlaluan!" Detektif Morgan hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu benar-benar tak tau Karis Paseha?!" ayah Detektif Senki pun sampai ikut bertanya.


"Apa aku harus kenal orang itu! Ayoooo....Kenapa masih duduk?!" tegur Detektif Senki pada Leo dan Morgan.


"Kupikir karena bapak tak kenal jadi tak perlu buru-buru!" kata Leo.


"Kenal apa tidak, kita harus cepat memberi pertolongan manusia yang diculik!" kata Detektif Senki.


Mereka pun keluar satu-persatu dari ruangan itu dan berlari ke meja tugas mereka masing-masing.


.

__ADS_1


.


.


.


Tubuh tegap Karis Paseha sudah terduduk di sebuah kursi kayu di dalam ruangan yang cukup terang tapi tertutup.


Plastik bening sudah menyelimuti seluruh sisi sudut ruangan itu. Ruangan ini disiapkan oleh Raga bukan untuk Isoman tapi untuk menjadi tempat pembantaian Karis Paseha.


Pria tampan itu masih terduduk dengan tubuh lemas karena pingsan. Raga segera mengikat tubuh Karis Paseha hingga menjadi satu dengan kursi kayu itu. Tentu saja agar Karis Paseha tak kabur, dan agar Raga bisa dengan mudah menyiksa Karis Paseha secara perlahan-lahan.


Raga mengambil sebotol minuman dari meja dan membuka tutupnya, dia mencipratkan air mineral itu ke wajah Karis Paseha.


Pria itu langsung terbangun dari pingsannya. Setelah menyadari tubuhnya duduk dalam kondisi terikat, dia segera mengarahkan pandangannya pada wajah Raga yang masih tertutupi oleh topi dan masker.


"Siapa kamu?" tanya Karis kepada Raga.


"Akhir-akhir ini orang menyebutku. Pembunuh berantai Bulan Biru!" kata Raga santai.


Raga mundur dan kembali ke meja di pojok ruangan yang terbungkus plastik itu, untuk meletakkan botol air mineral di tangannya. Tanpa rasa takut Raga membuka topi dan juga maskernya.


Karis yang masih gemetar ketakutan menjadi semakin takut saat tau kalau pembunuh berantai Bulan Biru di depannya telah melepas penutup wajahnya. Karena Karis pasti sadar jika dia sampai melihat wajah pembunuh itu, nyawanya pasti tak akan selamat.


Karis adalah pembunuh juga, dia pasti tau akan hal semacam itu. Karena dia juga tak akan melepaskan korbannya yang sudah melihat wajah dan kelakuannya. Karena jika korbanya kabur maka, karir dan reputasinya sebagai Aktor pasti akan hancur.


"Malammu kelihatannya sangat menyenangkan?" tanya Raga.


"Apa kau tak sadar siapa aku?" bukannya menjawab, Karis malah kembali bertanya pada Raga.


Raga segera berbalik dan menghadap ke arah Karis. Kedua wajah tampan itu saling memandang dalam diam.


"Bukankah kau masih terlalu muda untuk menjadi pembunuh?" tanya Karis, dia merasa mendapatkan angin segar saat melihat betapa mudanya sosok Raga.


"Apa kau pacar dari salah satu gadis yang kukencani?


"Pembunuh Bulan Biru apanya?! Dia sudah mati di penjara, bodoh!!!


"Apa kau tak sadar, jika kau mengakui itu ke orang lain. Kau akan dieksekusi mati!


"Kau ini hanya pecundang, cepat lepaskan aku! Atau kau akan mati di tanganku!" celoteh Karis, dia sangat yakin jika lelaki muda di depannya itu hanya menyamar untuk menakutinya.

__ADS_1


__ADS_2