Ghost Of Death

Ghost Of Death
Iblis yang menyiksa Ratih


__ADS_3

Tubuh kurus dengan gaun kuning yang sudah berlumuran darah terhuyun menyusuri jalan setapak di dalam hutan yang gelap. Kaki telanjang yang penuh luka gadis itu terus melangkah menerjang rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Wajah ayunya penuh dengan peluh, airmata dan darah yang mengalir dari keningnya. Nafasnya tersengal kasar, manik mata berbinarnya hanya memandang ke arah depan. Dia tak berani menoleh ke belakang.


"Jika kau ingin hidup, jangan berhenti melangkahkan kakimu!" kata pria bertudung jas hujan hitam yang berjalan di belakang gadis bergaun kuning yang sudah di keadaan sekarat itu.


Gadis itu hanya mencoba untuk tetap berjalan, dia melupakan semua rasa sakit yang sudah menguasai seluruh syaraf di tubuh mungilnya.


Terlihat senyum menyeringai dari pria itu, dia begitu bahagia memandang pemandangan mengerikan itu. 3 hari dia menyiksa Nawang Ratih di sebuah gudang kosong di dalam hutan, tapi dia masih dengan tega membuat tubuh kecil tak berdaya Nawang Ratih berjalan di dalam hutan saat tengah malam yang dingin.


Ini adalah kejadian 3 tahun lalu, kejadian yang dialamai gadis malang yang bernama Nawang Ratih.


Wajah pucat gadis itu masih tersirat penuh keyakinan, wajah itu tak menunjukkan rasa putus asa sedikit pun. Dia ingin pulang, dia ingin selamat, dia ingin hidup, dia ingin berjumpa lagi dengan sahabatnya Aura Magisna.


Pembunuh itu terlihat kesal saat melihat betapa nekatnya Nawang Ratih. Keyakinan bahwa mangsanya kali ini akan sekarat di tengah perjalanan pun hancur karena tekat tubuh sekarat Ratih.


"Kenapa kau ingin hidup?! Kau hanya akan hidup dengan menjadi orang cacat setelah ini?" tanya lelaki yang menyiksa Ratih itu.


Tenggorokan yang kering dan rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat Ratih tak mau menjawab pertanyaan pria iblis itu, meski dia ingin menjawab pertanyaan pria yang sudah bersenang-senang dengan menyiksa tubuh mungilnya selama 3 hari itu.


Aku ingin semua orang tau, siapa dirimu.


Aku akan memberi tahu semua orang tentang dirimu.


Kau pikir aku tak tau siapa dirimu kan?, tapi aku tau siapa kamu. Iblis psychopath.


Pancaran harapan dari manik mata Ratih yang sudah hampir padam itu akhirnya berbinar kembali ketika pandangannya melihat jalan aspal yang terletak tak jauh di depannya. Seketika dia mempercepat langkah kakinya yang sudah cacat karena penyiksaan pria itu yang tak manusiawi.


Dengan senyuman yang menyeringai lelaki bertudung itu menghentikan langkah kakinya, dia terdiam dengan senyum licik ketika melihat sosok Ratih yang berjalan terhuyun karena kakinya yang sudah cacat dan juga sudah sekarat karena gadis itu sudah kehilangan banyak darah.


Ratih berjalan tertatih di aspal jalan itu, matanya masih bisa melihat pria bertudung yang menyiksanya jauh di semak-semak di tepi hutan.


Apa dia membiarkan aku selamat?


Tapi pria bertudung itu tersenyum menyeringai dengan tatapan yang tajam.


"Kita pasti akan bertemu lagi Nawang Ratih!" kata lelaki bertudung itu.


Lelaki bertudung itu segera menghilang ke dalam hutan karena dia melihat ada sorot lampu, lampu mobil yang melintas di jalan raya itu di jam 02:20 dini hari ini.


Perasaan lega akhirnya menyeruak di hati Nawang Ratih, dia akhirnya menampakkan senyum manisnya di wajah ayunya yang pucat dan di penuhi noda-noda darah dan tanah.


.


.

__ADS_1


.


.


Aura terdiam di depan jendela kamarnya, dia masih memikirkan siapa yang telah membunuh Nawang Ratih.


"Psychopath!" desah Aura.


"Bapak akan ke rumah Pak Imanuel, elu nggak mau ikut?" tanya Mbah Sodik pada Aura.


"Buat apa gue ikut?" tanya Aura kesal.


Gadis tomboy itu masih tak menghiraukan ayahnya yang tengah sibuk dengan persiapan alat-alat yang akan dia gunakan diproses pengusiran mahluk kiriman di kediaman Pak Dosen Imanuel.


"Bantu-bantu bapak lah," kata Mbah Sodik.


"Asisten dukun...Wowwwww!!!" pekik Aura. "Ogah!" Cemooh Aura pada ayahnya.


"Anak ini!" desah Mbah Sodik, dia ingin mengumpat tapi seorang ayah pasti takut jika umpatannya pada anaknya akan menjadi kenyataan. Alhasil Mbah Sodik hanya bisa diam dan membaca beberapa mantra agar dirinya tenang.


Aura mengambil tas hitamnya dan hendak bergegas keluar.


"Oyyyy kemana lu?" tegur Mbah Sodik.


"Ketempat temen, gue harus nanya perkembangan di kelas! Gue pan bolos hari ini!" jawab Aura.


.


.


.


.


Aura segera melempar tubuhnya ke atas kasur di dalam kamar Utari.


"Suntuk banget lu?" tanya Utari pada Aura.


"Lagi banyak pikiran gue!" desah Aura.


"Gimana kalau malam ini kita dugem?" usul Utari.


"Nggak biasa gue!" kata Aura.


"Ya nyoba, sekali-kali nggak ada salahnya!"

__ADS_1


Aura segera bangkit ke posisi duduk, dia memandang Utari sejenak.


"Gila lu!" cecar Aura, tubuh rampingnya kembali dia banting di kasur empuk di atas ranjang Utari.


"Apa ini tentang Raga?" tanya Utari.


"Ngarang lu!"


"Gue udah temenan sama elu tuh hampir 3 tahun, tapi elu belum pernah segalau ini!" jelas Utari.


"Gue juga nggak tau secara pasti, gue sedang galau karena apaan?" desah Aura, pandangannya kini tersita dengan hiasan di atas tempat tidur Utari.


"Jelas-jelas elu galau karena Raga ndeketin elu!" desah Utari.


"Entah lah!" desah Aura lagi, dia berdiri dari tidurnya dan pergi ke arah kulkas Utari dia membuka kulkas itu.


"Elu ultah, kok ada kue tart?" tanya Aura.


"Cowok gue yang ultah!" jawabnya.


"Ohhhh, minta ya!" kata Aura, dia sudah mengotong kue berukuran sedang itu ke atas meja makan.


Utari hanya memandang wajah beringas Aura setelah melihat kue, padahal baru beberapa detik yang lalu wajah itu terlihat sedih tingkat dewa-dewi.


.


.


.


.


Mbah Sodik disambut oleh beberapa pelayan wanita di rumah megah Dosen Imanuel. Rumah dengan desain bak istana Buckingham di inggris, nuansa klasik eropa yang menghiasi setiap sudut rumah megah itu. Benar-benar sebuah rumah seniman terkenal, Pak Imanuel memang adalah seorang seniman terkenal yang memutuskan tinggal di Indonesia.


Lelaki dengan paras sempurna seperti tokoh utama pria di dongeng-dongeng eropa, sosok Pak Imanuel yang seperti pangeran tanpa kuda putih dan zirah perang. Lelaki dengan pakaian kasual itu kini mendekati Mbah Sodik yang masih terbengong-bengong dengan aura ketampanan Pak Imanuel yang nakal dan dingin itu.


"Mbah Sodik?! Ayah Aura?" tanya Pak Imanuel.


"Benar!" kata Mbah Sodik.


"Anda yakin bisa menyingkirkan mahluk itu?" tanya Pak Imanuel tanpa basa-basi lagi.


Entah karena dia sudah merasa terganggu dengan bayangan hitam itu apa dia tak mau melihat orang asing terlalu lama berada di rumah mewahnya.


"Tentu saja, perkerjaan seperti itu kecil!" Mbah Sodik mulai menyombongkan dirinya. "Saya akan melakukan ritualnya tepat di tengah-tengah bangunan ini!" kata Mbah Sodik.

__ADS_1


"Harus di tengah-tengah?" tanya Pak Imanuel.


"Benar!"


__ADS_2