Ghost Of Death

Ghost Of Death
Perang telah dimulai


__ADS_3

"Apa kita bisa bertemu sebentar?" tanya Leo dari balik panggilan ponselnya.


Lelaki itu bicara pada Utari yang sedang duduk dengan kepala bersandar di meja kelasnya. Wanita iblis itu memang selalu seperti itu, dia adalah mahasiswa termalas di jurusan Seni.


"Kapan?" tanya Utari yang sudah gabut abis.


Dia bingung mau melakukan apa, kampus seni benar-benar tak cocok dengan gayanya. Kenapa dia mau masuk ke sini, yaaaa karena permintaan kakaknya untuk dekat dengan Aura. Jika tidak Utari mana mau kuliah.


Gadis yang berlagak manis itu lebih suka berburu dari pada berdandan. Tapi dia harus berdandan setiap saat, untuk mendalami karakternya sebagai gadis manis yang feminim.


"Sekarang, aku akan ke kampusmu!" kata Leo.


Pria itu terlihat sudah tak sabar untuk bertemu dengan Utari. Dia benar-benar merasa menyesal telah menyerang Utari semalam, Leo ingin minta maaf pada Utari secara baik-baik.


Mentraktir Utari makanan enak dan ngobrol lebih banyak. Bukan tentang pekerjaan tapi tentang diri masing-masing. Leo merasa dia cocok dengan Utari, karena Utari adalah gadis yang langsung membuatnya tertarik sejak pertemuan mereka di gerobak bubur ayam.


"Ok, aku lagi santai kok!" kata Utari.


"Baiklah!" Leo menutup panggilan ponselnya pada Utari.


.


"Kenapa Lu, Ra???" tanya Utari pada Aura yang dari tadi pagi hanya melamun tak jelas.


"Gue bingung!" ujar Aura lemas.


"Kesambet Luuu, ada apa cerita donk. Siapa tau gue bisa ngasih elu solusi!" Utari berbalik ke arah meja Utari.


"Apa yang elu lakuin jika ketemu pembunuh bapak gue?" tanya Aura ke Utari.


Utari terdiam, dia merasa Aura sedikit aneh. Kenapa gadis itu tiba-tiba tanya soal pembunuh ayahnya.


"Gue...kalau ketemu, kayaknya gue harus lari. Gue masih pengen hidup!" kata Utari.


Dia mencoba mencari jawaban semanusiawi mungkin.


"Gimana kalau elu udah cinta banget sama tuh penjahat?!" kata Aura, wajahnya langsung memerah.


Gadis ini benar-benar sudah tau kalau Kak Raga adalah pembunuh Bulan Biru. Tapi kenapa Aura diam saja, apa yang dia rencanakan untuk kakakku???. Utari.


"Jadi Raga, pembunuh Bulan Biru???" Utari mencoba untuk kaget. "Tapi apa mungkin, gue rasa nggak mungkin sih!"


"Gue juga nggak mau percaya, tapi dia punya data Kementrian Pertahanan. Dia juga sering ngilang, dia....!" Aura mulai menangis sesegukan.


Gadis itu menunduk dan merapatkan wajahnya di atas mejanya. Dia terus menangis kencang. Aura tak bisa menahan rasa yang amat berfariasi di dalam hatinya itu.


Dia ingin menyangkal semua itu, dia ingin berfikir bahwa suaminya bukanlah pembunuh ayahnya. Tapi kenapa Aura tak bisa berhenti curiga pada Raga.


Kenapa rasa curiganya punya dukungan, dengan bukti-bukti yang selalu dia temukan.


"Kenapa Aura?! Sayang...Aura!" Raga yang baru saja sampai di ruangan itu langsung menghampiri istrinya itu.

__ADS_1


Utari segera memberi tahu Raga dengan bahasa bibir. 'Dia tau tentang data Kementrian Pertahanan'.


Raga yang langsung faham dengan apa yang ingin Utari sampaikan pun hanya diam. Meski Raga saat ini merasa dunia akan runtuh menimpanya, dia harus bisa bertahan.


Dia harus meyakinkan Aura untuk tetap bersamanya, karena Raga tak bisa hidup tanpa Aura lagi. Gadis tomboy itu sudah merengut hati dan seluruh perasaannya.


"Kagak tau Gue, gue pergi dulu!" ujar Utari.


Gadis iblis itu juga tak bisa melakukan apa pun jika tetap berdiri di sana. Baginya dengan Utari yang membela Raga, Aura akan semakin curiga pada Raga.


"Kenapa manusia begitu rumit. Jika kau tak suka, bunuh saja! Jika suka...!" Utari terdiam.


Dia sadar sebagai Monster dia tak punya rasa semacam itu. Tapi malam kemarin, saat Leo menyerangnya. Kenapa dia tak bisa menghindar atau menyerang balik.


Tak seperti biasanya gadis iblis itu akan dengan senang hati gelut jika di tantang. Tapi kenapa dia tak bisa menyerang Leo.


"Apa aku suka Leo? Apa ini yang dibilang Cinta. Menyebalkan!" gerutu Utari sambil berjalan keluar dari bangunan kampusnya.


Utari merasa bersemangat saat ini, karena baru saja dia menerima sebuah pesan dari Leo. Lelaki itu bilang di pesannya kalau dia sudah sampai di kampus.


Saking bersemangatnya Utari sampai berlari menuju parkiran, dia tampaknya sudah tek peduli dengan citranya sebagai gadis yang feminim.


"Lama nunggu?" tanya Leo yang melihat Utari yang berlari ke arahnya.


"Enggak!" Utari mengatur nafasnya dan segera menarik lengan Leo untuk pergi ke kantin.


"Kita makan diluar saja!" kata Leo.


"Aku ingin mentraktir makanan yang enak untukmu. Untuk minta maaf soal malam kemarin!" kata Leo


"Gue udah lupa tuhhhh! Ok kalau elu maksa makan di luar!" kata Utari.


Sebuah rumah makan khas sunda sederhana, di dekat kampus dipilih oleh Utari. Gadis iblis itu tampak santai saja, padahal hari ini Utari mengenakan rok yang cukup pendek. Alhasil paha mulusnya menjadi incaran mata-mata jelalatan yang memenuhi ruangan besar itu.


Leo yang melihat aksi tak senonoh para pria-pria di dalam ruangan itu pun  segera berdiri. Dia melepas jas yang dipakainya dan menaruh di pangkuan Utari.


Utari yang melihat betapa perhatiannya Leo padanya pun tersenyum manis ke arah pria itu.


"Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Leo.


"Gue ada kelas setelah makan siang, gue harus hadir di kelas itu! Meski cuma masuk lalu tidur!" ujar Utari.


Leo yang mendengar kata-kata Utari pun tertawa.


"Apa ada yang lucu?" tanya Utari.


"Kau hanya tidur di kelas?" tanya Leo yang masih menahan  tertawa.


"Kenapa, jika aku mendengarkan. Aku pasti akan bingung dan sakit kepala. Jadi aku tidur saja!" jelas Utari.


Ungkapan gadis iblis itu sukses membuat Leo kembali tertawa.

__ADS_1


"Yaaaa kau benar, lebih baik tidur. Dari pada melakukan sesuatu yang menyakitkan !" ujar Leo.


Dia mendukung bukan karena setuju dengan ide Utari. Tapi dia merasa apa pun yang dilakukkan gadis di depannya itu pasti benar.


Apa aku sedang meletakkaan hatiku, pada seorang pembunuh berdarah dingin???. Leo.


Pesanan mereka telah terhidang di meja mereka. Dengan lahapnya Utari makan tanpa jaim sama sekali, dia yang bisanya harus berakting feminim kini bisa bebas karena di depannya hanya ada Leo.


Entah kapan terakhir kali Utari merasakan semua hal yang indah baginya ini. Bisa menjadi dirinya sendiri di depan manusia.


Bolehkan dia menjadi sandaranku???


Bolehkah kujadikan dia milikku satu-satunya???. Utari.


.


.


"Kenapa tadi kau hanya makan sedikit sekali?" tanya Utari.


"Aku tak terlalu lapar!" jawab Leo.


Padahal dia tak makan karena sibuk memperhatikan Utari makan.


Mereka berjalan kaki berdua menuju kampus Utari lagi. Mereka melewati trotoal untuk kampus, dan menyebarang sekali.


"Bolehkah aku mengajakmu makan lagi?" tanya Leo, dengan senyuman yang mengembang.


"Boleh, tapi kau juga harus makan yang banyak lain kali!" jawab Aura.


Mereka menunggu di lampu merah untuk menyebrang.


"Bukankah kau memarkirkan mobilmu di kampus sebelah sana, kenapa ikut menyebrang?" tanya Utari.


Lampu sudah menghijau, Utari berjalan ke depan. Tapi dia berbalik karena Leo memanggilnya.


"Utari, mari kita pacaran!" teriak Leo.


Utari hanya diam, dia memandang tajam ke arah Leo. Tapi sesuatu menyita perhatiannya.


Utari melihat sebuah moncong senjata penembak jitu dari gedung kampus di belakang Leo. Karena Utari ahli dalam menembak dia tau betul arah bidikan penembak jitu itu.


Utari berlari ke arah Leo, gadis itu memeluk Leo. Dan benar saja tubuhnya tersentak karena sebuah tekanan yang amat kuat.


Kenapa aku menghalangi peluru itu untuknya.


Kenapa aku bisa berkorban untuk orang asing ini???


Apa perasaan ini yang dinamakan Cinta. Utari.


__________BERSAMBUNG_________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2