
"Emang elu tega ngebunuh anak elu sendiri?" tanya Raga pada Aura.
Gadis manis didepan Raga itu masih terbengong tak percaya dengan perubahan sikap Raga barusan. Meski hanya beberapa detik tapi itu membuat hati Aura bergetar ketakutan. Pandangan mata Raga seketika berubah jahat dan ancaman yang keluar dari mulut Raga tadi terasa begitu nyata bagi Aura.
"Gue nggak mungkin ngebunuh anak gue sendiri!" kata Aura lembut.
Hatinya masih terguncang karena merasa ketakutan saat melihat ekspresi Raga barusan.
Tapi Raga segera memeluk tubuh Aura dari belakang, dia mendekap erat tubuh mungil yang duduk di sampingnya itu. Raga tau Aura pasti curiga pada perkataannya barusan, karena tanpa dia sadari jiwa pasychopathnya muncul begitu saja. Apa benar apa yang selama ini ia rasakan pada Aura bukanlah cinta, tapi hanya hasrat untuk berkembang biak.
Raga juga tampak cemas saat ini, dia takut jika jiwa psychopathnya semakin dominan. Karena semakin hari, dia semakin banyak membunuh orang dan rasa belas kasih dalam dirinya pasti sudah banyak terkikis
"Gue bisa nyakitin siapa pun di dunia ini, kecuali kamu Ra! Jadi jangan takut sama gue, karena gue agak kasar." kata Raga.
"Siapa yang takut sama elu!" ujar Aura yang sudah kembali supel lagi.
"Malam ini tidur bareng lagi yuk!" ajak Raga.
"Gue lagi datang bulan!" Aura mencari alasan.
"Kan hanya tidur bareng, nggak gue apa-apa in," rayu Raga.
"Kalau gue bilang nggak, ya enggak!" ujar Aura dengan nada sedikit marah.
Saat ini Raga memeluk tubuh Aura dari belakang tapi saat dia mendengar penolakan dari Aura. Tangan Raga segera bergerak ke arah leher Aura, Raga ingin mencekik Aura saat itu juga.
Tapi Raga sadar yang didepannya adalah Aura, dia segera merubah posisi tangannya dan mengelus leher jenjang Aura.
"Geli Gaaaa!" keluh Aura.
"Elu yakin malam ini nggak mau tidur sama gue." Raga tersenyum manis dan bibirnya sudah menyentuh telingga sebelah kanan Aura saat ini.
Ciuman lembut dari Raga di area itu membuat Aura bergetar hebat. Gadis itu menghela nafas panjang untuk menahan gejolaknya yang cepat sekali naik. Tapi ekspresi galak yang tak biasa dari diri Raga tadi kembali terbayang di otak Aura.
Aura segera berdiri dari sofa abu-abu itu. "Gue harus ngerjain tugas yang numpuk!" kata Aura yang langsung berjalan cepat ke arah pintu keluar.
"Mau gue bantu?" tanya Raga.
"Elu bisanya ngerecokin doang! Ingat jangan ganggu gue, jangan ketuk-ketuk pintu kamar gue!" ujar Aura.
"Kenapa?" Raga yang ikut berdiri dan mengejar langkah Aura pun heran dengan sikap Aura.
"Gue harus fokus, biar cepat selesai!" kilah Aura.
"Biasanya kalau datang bulan kau lima hari-kan?" tebak Raga.
__ADS_1
"Sok tau!" kata Aura.
"Tau, sebulan penuh aku njagain kamu. Mbeliin pembalut buat kamu!" kata Raga.
"Bukannya ibu gue yang beli?" tanya Aura.
"Gue!, Ibu mertua kan harus jagain elu di rumah! Takut elu gantung diri!" goda Raga.
"Nggak lucu Gaaa!" kata Aura kesal.
"Sampai jumpa lima hari lagi, popo!" sapa Raga, lelaki muda itu menunduk dan mencium gundukan di dada Aura.
Tanpa banyak cingcong lagi, Aura sudah memiting kepala Raga di ketiaknya. Tiga pukulan berkekuatan tinggi di tinjukan oleh kepalan tangan Aura ke kepala Raga.
"Sakiiii Raaaa, Sakitttt. Raaaaa!" teriak Raga.
Aura pun melepas kepala Raga dan segera keluar dari sarang cowok somplak itu.
"Raaaaa!" panggil Raga setelah Aura keluar dari pintunya, gadis tomboy itu pun menoleh ke arah pacarnya yang wajahnya masih nongol di daun pintu.
"Tapi lama-lama enak-kan!" goda Raga.
Aura segera naik pitam dan melepas sendal jepitnya.
Jedarrrrrrrrrrrr
Untuk memukul Raga, tapi Raga sudah raib dan sandal jepit itu mendarat kasar di permukaan pintu kayu.
"Tokecang, tokecang, bala gendir tosblong.
"Angeun kacang, sapependil kosong.
"Aya listrik di masigit meuni caang katinggalna.
"Tokecang, tokecang bala gendir tosblong.
"Angeun kacang, angeun kacang sapependil kosong," senadung Utari di dalam ruangan gudang yang cukup lebar.
Suara feminim itu menggema di seluruh sisi bangunan besar itu.
Arjuna yang mendengar senandung merdu tapi terdengar mengerikan itu pun bangun. Perlahan tapi pasti pelupuk matanya mulai terbuka, dia sadar saat ini posisi tubuhnya tidak dalam ke adaan baik.
Tubuh pria gondrong itu sudah terikat kuat dengan posisi kakinya di atas dan kepalanya di bawah, bergelantung di salah satu pilar bangunan tersebut.
"Dimana gue!" gumam Arjuna lirih.
__ADS_1
Arjuna mengedarkan pandangannya dan hanya plastik bening yang bisa dia lihat di sekitarnya. Bahkan di atas kepalanya yang berupa lantai itu juga sudah di selimuti oleh plastik bening.
Dimana pun dia, dia pasti bukan di tempat yang aman. Arjuna yang kepalanya masih pusing mencoba berfikir, kenapa dia bisa berada di tempat ini dan kenapa kondisinya begini. Tapi Arjuna hanya ingat permainan panas Utari di dalam mobilnya.
"Dimana Utari, apa dia ikut diculik?" tanya Arjuna, dia yakin dia diculik saat ini.
Jika bukan diculik, kenapa dia bisa berada di tempat dan posisi tak normal ini.
Kini senandung lagu anak sunda yang dinyanyikan oleh wanita, secara berulang-ulang itu terdengar semakin jelas di telingga Arjuna.
Sepasang kaki jenjang melangkah masuk ke dalam ruangan berselimut plastik itu. Kaki putih mulus itu segera di kenali oleh Arjuna.
"Utari!" Arjuna kaget, saat mendapati gadis yang masih memakai gaun merah yang sama berjalan ke arahnya.
"Bagaimana? Kau baik-baik saja?" tanya Utari.
"Utari lepaskan aku sayang, cepat sebelum penculikya tiba!" pinta Arjuna.
Pria itu tak pernah berfikir jika Utari yang telah menculiknya, gadis lemah lembut itu tak akan bisa melakukan hal yang keji. Apa lagi sampai menculik orang.
"Gue yang nyulik elu, masa gue lepasin?!" kata Utari.
"Ini cumak prank kan yanggg?!" Arjuna ketakutan tapi dia masih ingin berpikir positif.
"Elu kan udah janji buat ngasih kedua mata elu sama gue!" kata Utari.
"Maksutmu?" Arjuna tak bisa lagi berfikir sehat.
"Yaaa mau gue ambil sekarang!" kata Utari santai.
"Gila lu, mau ambil mata gue beneran!" pekik Arjuna.
"Elu nggak perlu takut, gue cuma mau ambil dua mata elu aja!" kata Utari.
"Utttttt, semua bisa dibicarain. Nggak gini juga kali Utttt!!!" teriak Arjuna.
Tapi gadis manis itu tak mau mendengar apa pun dari Arjuna. Gadis itu keluar dari ruangan plastik itu. Tak lama terdengar suara meja beroda berjalan mendekat ke arah Arjuna di iringi dentuman heels Utari.
"Gila kamu Uttt!!!" teriak Arjuna, Karena dia dapat melihat apa yang ada di atas meja beroda yang dibawa masuk kedalam ruangan plastik itu oleh Utari.
Meja itu berisi alat-alat operasi, semua orang tau. Gunting berbagai ukuran, pisau-pisau kecil dari stainless steel dan lainnya.
"Elu pasti baca tentang Karis Paseha kan?" tanya Utari.
"Itu adalah perbuatanku!" kata Utari.
__ADS_1
"Kau pembunuh berantai Bulan Biru?" tanya Arjuna.