
BACK
"Apa kau sudah gila, Keponakannku?
"Karena terlalu sering membunuh orang?!" ujar Tuan Harsono.
Dia masih berusaha berjalan dengan dua butir timah panas bersarang di kaki dan bahunya.
Raga tak menjawab pertanyaan Tuan Harsono, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Dan Raga merasakan ada sesuatu yang aneh, dia tak mau gagal lagi kali ini. Dia harus membunuh Tuan Harsono secepatnya, meski Raga belum puas menyiksa pria tua biadap itu.
Duarrrrrrrrrrr
Peluru dari pistol Raga bersarang di tengkorak Tuan Harsono, tubuh reot penuh luka itu segera ambruk. Dan Raga mengarahkan moncong pistolnya ke arah kepalanya sendiri.
Kedua bola mata Raga mengerjap pelan, dia memikirkan lagi wajah Aura yang amat manis itu.
Maafkan aku Aura, aku tak bisa hidup tanpamu...
Raga
Duarrrrrrrrrrrr
.
.
.
.
5 Tahun kemudian.
"Ampun-ampun...ok aku akan pergi!" teriak seekor kuntilanak bergaun putih usang.
Wajah pucat kebiruannya meringis lesakitan, karena rambut panjangnya sedang ditarik dengan kuat oleh seorang manusia. Siapa lagi kalau bukan Aura.
Gadis tomboy itu masih saja tomboy, tapi setelan jas dan sepatu hitam hak tingginya tampak sedikit memyamarkan aura sangar di diri gadis itu.
"Kemarin kau juga bilang begitu, apa kau tak takut padaku?!" ujar Aura.
Dia meraih Kapak Wiro Sablengnya yang tergeletak di lantai gudang kotor itu.
"Kau masih mengganggu anak-anak yang bersekolah di tempat ini, kau mau mati dua kali!!!" Aura makin geram.
Dia tak bisa lagi menahan amarahnya untuk memusnahkan hantu Wewe Gombel itu. Hanya dengan satu kali sabetan Kapak Wiro Sableng , Wewe Gombel itu langsung berubah menjadi serbuk abu transparan dan menghilang seketika.
Aura pun segera berdiri dari duduk jongkoknya meletakkan kapaknya di salah satu pundaknya. Dengan wajah sumringah dan penuh senyuman gadis itu keluar dari gudang dan disambut antusias oleh para guru dan murit di sekolah itu.
"Trimakasih, Mbak Aura!" kata seorang lelaki tua yang botak.
Dan lelaki itu adalah kepala sekolah di sekolah itu.
__ADS_1
"Bayar Pak, jangan makasih doank!" ujar Aura dengan nada selengekannya.
"Tentu saja!" pria botak itu segera menyerahkan amplop coklat berisi segepok uang pada Aura.
Aura membuka amplop itu di sana, dan mengintip jumlahnya, gadis tomboy itu langsung mengacungkan jempolnya ke arah Kepala Sekolah itu. Dan Si Botak hanya tersenyum getir, karena harus kehilangan uang lebih banyak.
.
.
Aura berjalan keluar dari bangunan sekolah itu dengan menenteng tasnya.
"Sampai kapan aku akan jadi lawliet sang pemburu hantu!" desah Aura.
Dia ingin kesal tapi tidak bisa, karena kemampuan yang dia punya hanyalah mengusir hantu tidak lebih. Sebab gadis itu tak mau mempelajari ilmu hitam seperti mendiang ayahnya.
Langkah kaki jenjang Aura terhenti saat sebuah panggilan telpon dari seseorang membuat ponselnya bergetar. Aura segera mengambil benda bergetar itu dari saku jas hitamnya.
"Kenapa dia menelfon siang-siang begini, apa dia nggak sibuk?" tanya Aura pada sinar matahari yang amat sangat terik siang ini.
"Hallo," sapa Aura.
"Kamu dimana?" tanya suara pria dibalik panggilan ponsel Aura.
"Kerja--lah Pak Jendral!" ujar Aura.
Yang menghubungi Aura adalah Detektif Senki yang kini sudah medapat gelar Jendral berbintang tiga.
"Kau meninggalkan anak-anak dirumah hanya dengan ibumu saja?" tanya Jendral Senki, sedikit marah.
"Dan hantu itu menggangu anak-anak yang belajar terlalu sering!" jelas Aura.
"Kau harus segera pulang, jangan tinggalkan anak-anak lagi!" ancam Jendral Senki.
"Siap Jendral!" kata Aura dengan gaya hormat bak perwira Negara.
.
.
Aura segera mengendarai mobilnya dan memacu mesin berderu itu dengan kecepatan sedang, dia tak lagi buru-buru. Ada ibu dan juga salah satu keponakannya dari desa yang menjaga kedua buah hati Aura.
Alaska dan Antartika itu nama anak Aura, tapi pangilannya Aska dan Anta. Aska lelaki dan Anta perempuan.
Foto keduanya juga tampak menghiasi dasbor mobil Aura.
Alaska dan Antartika.
Mobil Aura sudah terparkir di sebuah parkiran apartemen, gadis itu tinggal di sana bersama dua anaknya dan juga ibunya.
__ADS_1
Dengan langkah santai Aura masuk ke dalam gedung dan segera masuk ke dalam lift. Dia tak sabar untuk bertemu kedua buah hatinya itu.
Saat Aura keluar dari lift, hati Aura merasa ada yang aneh. Dia tiba-tiba merasa jantungnya berdebar-debar, hingga terasa sakit.
Pintu lift terbuka Aura segera keluar dan dia berlari ke arah unit apartemennya.
Pintu apartemen itu tak terkunci, jantung Aura yang berdegup kencang memjadi semakin kencang kini. Dia cemas hingga tangannya gemetar.
Dengan cepat Aura membuka pintu apartemennya, dia mendapati seluruh penjuru ruang tamunya sudah berantakan dan noda darah ada di mana-mana.
"Aska!!! Anta!!! teriak Aura.
"Mama! Mama, mama," suara imut kedua bocah itu membuat Aura merasa sedikit lega.
Aura segera ke ruang tengahnya yang tak kalah berantakan dari ruang tamunya. Di sana ada tiga tubuh manusia yang sudah tak berdaya dengan kondisi terluka parah.
Aura tak mau menunda lagi dia segera masuk ke kamar kedua anaknya yang pintunya sudah terbuka.
Ada jejak sepatu lelaki dengan darah di lantai kamar itu. Dan di kedua pipi temben kedua anaknya terdapat noda darah segar.
"Papa!" kata Anta.
"Suttttttt, papa menyuruh kita diam. Jangan kasih tau Mama!" ucap Aska, mengingatkan adik perempuannya.
Aura segera sadar siapa yang datang, dia langsung berbalik dan memandang kesemua area ruangan rumahnya yang sudah mirip tempat jagal itu.
"Keluarlah, aku tau kau masih di sini!" teriak Aura.
"Ragaaaaaa! Keluarrrrrr!!!" teriak Aura, dia tak tahan dan menangis.
"Kau tau betapa beratnya mengurus kedua anakmu itu!" Aura masih berteriak.
"Ragaaaa aku mohon, jangan pergi lagi!" ujat Aura di tengah isakannya.
Tubuh rampingnya kini berada di ruang tengah yang berlumuran darah manusia. Bukan rasa mual atau takut yang menyergap Aura kini, tapi rasa hampa dan kesepian tanpa Raga di sisinya.
Tapi dia merasakan sebuah pelukan yang hangat dari belakang tubuhnya. Pelukan yang sangat Aura rindukan selama ini.
"Trimakasih, sudah merawat mereka!" kata Raga
Noda darah masih memercik di wajah Raga, tapi dia tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa hidup bersama orang-orang yang dia cintai.
____________TAMAT___________
Akhirnya Tamat juga genkssssa...
Kita rehat dulu yaaapppp
Kalau ada yang mau dibuatin Season 2 komen aja...
Tapi mungkin bukan kisah Raga sama Aura lagi.
__ADS_1
Tapi kisah Psychopath angota Tim Alpa yang lain. Bisa jadi kita akan bahas kisah Utari dan Leo di season 2😁😁😁
trimakasih sudah membaca karya saya❤❤❤