Ghost Of Death

Ghost Of Death
Raga yang imut


__ADS_3

"Gimana kalau kita tunggu sampai besok, jika bapak gue belom sampai di desa kita lapor polisi!" kata Aura.


"Elu yakin nggak mau lapor sekarang?!" kata Raga, dia terlihat sangat cemas. Bahkan kecemasan yang terlukis di wajah tampannya mengalahkan ekspresi Aura yang terlihat biasa saja. "Perasaan gue nggak enak banget!" lanjut Raga yang makin cemas saja.


"Buat laporan orang hilang juga ada aturannya, Ga! Setelah hilang 2×24 jam, baru laporan bisa ditindak lanjuti sama kepolisian!" desah Aura.


"Terserah elu deh." kata Raga, akhirnya pria muda ini menyerah pada pendirian Aura.


Tanpa perkataan apa pun, Aura berjalan ke arah keluar dari setasiun itu.


"Mau kemana?" tanya Raga.


"Pulang!"


Kedua motor berbeda warna dan merek itu berjalan saling beriringan membelah keramaian jalan raya yang tampak padat. Suara deru kedua mesin yang lantang itu, mengaum bergantian sepanjang perjalanan kedua sejoli itu.


Jalanan yang ramai tak menjadi hambatan bagi kedua pembalap kelas RT itu, kemampuan salip menyalip yang tak diragukan lagi. Tikungan perempatan yang harusnya dilewati kendaraan dengan kecepatan yang dikurangi. Lain halnya dengan kedua motor hitam dan putih itu, pengemudinya malah menambah kecepatan laju kuda besi mereka. Alhasil terjadilah tontonan di salah satu perempatan sibuk di tengah kota itu, dua motor yang melaju sangat cepat itu melakukan atraksi bak pembalap motoGP di area sirkuit.


15 menit sudah dan rem dipijakan kaki kanan masing-masing sudah mereka ditekan dengan sekuat tenaga mereka.


"Masih hebat aja, Lu!" celetuk Raga, ternyata dia sudah membuka helm dari kepalanya.


Aura hanya melihat kearah Raga yang sedang mengibas-ngibaskan poni Koreanya. Aura terpaku sejenak dengan pesona yang dipancarkan dari diri Raga, sekali lagi hatinya bergetar saat melihat pria itu.


"Elu juga." jawab Aura tanpa sadar, karena perhatiannya masih terpaku dengan ketampanan Raga yang sama sekali tak berubah sejak SMA.


"Jelas lah, gue sering balapan!" kata Raga, mata sipit itu memicing ke arah Aura. Lirikan mautnya itu dia bidikkan ke arah mata bulat Aura.


Usaha Raga berhasil, jantung gadis tomboy itu berdetak semakin keras karena ulah Raga. Tak sampai di situ, Raga turun dari motornya dengan gaya macho yang mempesona. Langkah kakinya yang panjang segera menuju ke arah Aura yang masih terpaku di atas motor putihnya.


Wajah tampannya, dia dekatkan ke arah wajah Aura yang masih ditutupi oleh helm full face putih.


"Lepas helm, Lu!" kata Raga lirih dengan suara seraknya yang maskulin itu.


Tak hanya berkata, Raga juga melakukan aksi. Kedua tangan Raga sudah mencengkeram helm Aura, dan dia hendak menariknya. Aura yang sudah sadar akan lamunannya pun berinisiatif untuk membuka helmnya sendiri.


"Gue bisa sendiri...." kata Aura.


Bruakkkkkkk


Helm itu membentur sesuatu, apa lagi kalau bukan wajah Raga yang tampan.


"Maaf!" pekik Aura, wajah oriental yang amat sangat tampan itu kini terdiam sambil memejamkan matanya menahan sakit. Perlahan-lahan cairan merah kental keluar dari salah satu lubang hidung Raga.

__ADS_1


"Elu mimisan, Ga!" kata Aura, gadis itu segera mengambil tisu di tasnya dan mengelap cairan merah kental yang kini sudah meluber sampai ke bibir Raga.


"Gue bener-bener nggak sengaja, Ga! Maaf yaaa!" Aura masih sibuk mengelap cairan di hidung Raga.


Tapi manik mata Raga tengah terbelalak, bukan karena menahan sakit tapi dia sedang terpesona dengan kecantikan Aura.


"Kepala gue pusing, Ra!" desah Raga, wajah tampannya masih memandang ke arah wajah Aura yang khawatir.


"Ke kamar gue, biar gue obatin! Gue juga sering mimisan kok!" kata Aura. Dia segera memapah tubuh Raga sampai ke lantai dua.


Mereka masuk ke kamar Aura, kini mereka duduk berhadapan. Aura sedang sibuk memberi cairan anti septik ke subuah kasa, sedangkan Raga tengah sibuk memandangi kecantikan palipurna milik Aura.


"Tak salah aku bertahan padamu," kata Raga lirih.


"Elu bilang apa?" tanya Aura.


"Sakit!" kata Raga, tiba-tiba Raga meringis kesakitan. Sakitnya hanya dibuat-buat.


"Apa kita ke Dokter saja?" tanya Aura dia masih sangat khawatir pada Raga.


"Nggak perlu,!" kata Raga. "Gue hanya pusing-pusing doank kok, jika tidur sebentar pasti ilang pusingnya!" lanjutnya, dia tak mau kepura-puraannya diketahui oleh Aura.


Mereka berdua terdiam di sana, Aura menyumpalkan kasa yang sudah dia basahi dengan cairan anti septik itu masuk ke dalam lubang hidung Raga yang berdarah tadi.


"Bolehkan malam ini, gue tidur di sini?" tanya Raga.


"Elu mau mati?" kata Aura, dia kesal tapi tak sepenuhnya kesal.


"Semalam saja, gue takut nanti malam gue kesakitan dan nggak bisa bangun!....Gimana?" Raga membuat alasan.


Aura tak bisa membuat alasan, dia harus membiarkan pria muda ini untuk tidur di kamarnya. Dia tak mau sesuatu yang buruk menimpa Raga lagi. Luka karena serangan tempo hari pasti juga belum pulih sepenuhnya, ditambah pukulan helm Aura tadi. Masih mending Raga tak mengalami gagar otak karena dua peristiwa tersebut.


"Gue laper!" kata Raga dengan manjanya, tak lupa dia memasang ekspresi wajah yang imut di depan Aura.


Aura segera menghembuskan nafas panjang untuk menahan kekesalan di hatinya. Kelakuan absrut Raga yang tak pernah dia dapati sebelumnya, membuatnya kesal bercampur heran.


"Sejak kapan elu jadi pria imut?" tanya Aura.


"Sejak kenal, elu!" tiba-tiba Raga kembali ke mode swagnya.


Aura tersenyum sebentar karena kelakuan Raga tak bisa dia toleransi hatinya. "Ternyata elu bisa imut juga!" desah Aura.


"Jadi Elu lebih suka cowok yang imut?" tanya Raga.

__ADS_1


"Apaan sih Lu?" Aura masih salah tingkah.


"Sayang!" Raga memangil Aura dengan nada suara yang imut.


"Cukup, Ga!"


"Aura, Sayang!" Raga memangil Aura lagi.


"Gue bilang berhenti, geli gue!" pekik Aura.


"Emmmmm Sayang!" Raga tak hanya berbicara dengan nada imut sekarang, dia mulai berani menyandarkan kepalanya di bahu Aura.


"Mau gue tabok lagi, Lu?" tanya Aura.


"Enggak,!" Raga segera duduk ke posisi laki kembali. Dan Aura kembali mendengus tak percaya kepada Raga.


"Gue laper, cepet pesen makanannya!" kata Raga dengan nada maconya.


"Semoga elu nggak kesurupan!" desah Aura, dia pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


"Mau makan apa, Lu?" tanya Aura pada Raga.


"Apa aja."


"Ayam."


Raga hanya mengangguk setuju.


"Gue kekamar gue sebentar, gue mau mandi!" kata Raga.


"Sono!" kata Aura setengah mengusir.


"Kalau gue kemari lagi, dibukain pintu kan?!" tanya Raga memastikan.


"Iya!"


"Janji!"


"Janji" kata Aura dengan nada mulai tinggi karena kesal.


Raga pun segera menghilang dari balik pintu kosan Aura, tapi Aura masih saja tersenyum mengingat tingkah laku Raga barusan.


"Bocah sinting!" desah Aura sambil tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2