Ghost Of Death

Ghost Of Death
Enam Hantu


__ADS_3

"Sebaiknya kita makan dulu!" kata Raga.


Dia sudah membawa sepanci opor yang masih panas ke atas meja ruang tamu itu. Karena meja itu adalah adalah satu-satunya meja dengan fungsi itu di kamar ini.


"Berandal! Kamu bisa masak?" Detektif Senki sangat terkejut dengan kemampuan Raga yang satu ini.


"Cuma masak doank. Masa nggak bisa." kata Raga remeh.


Aura yang tau Raga sibuk, dia segera berdiri dan membantu pacarnya itu menyajikan semua masakan yang telah Raga masak ke atas meja tamu itu.


"Wahhhh ternyata Raga pintar masak juga." puji Leo.


Lelaki tinggi dengan wajah tegas tapi imut itu memandang ke arah Raga yang melepas celemeknya.


"Raga sering masak buat gue setelah bapak gue meninggal Om!" kata Aura.


"Om, aku tak setua itu." ujar Leo.


"Om aja, cocok kok!" timpal Raga.


Entah kenapa Raga selalu saja over protektif saat Aura berdekatan dengan Detektif Senki dan Leo.


"Kakak, panggil saja dia begitu. Om itu terlalu norak." kata Detektif Senki yang sudah mulai makan duluan.


Piring di depan Kepala Detektif itu sudah terisi penuh nasi dan bermacam-macam lauk yang ada.


"Kelaperan Pak?" tanya Raga dengan nada menyindir.


Pria paruh baya itu tampak tak suka dengan sindiran Raga, tapi dia matanya malah berbinar saat suapan-demi suapan dia jejalkan ke mulutnya.


"Enak Ga, masakanmu!" puji Detektif Senki, yang sudah lupa akan sakitnya disindir bocah kuliahan.


"Raga!" pria muda itu mulai sombong.


Dalam sekejap semua wadah di atas meja yang tadinya penuh dengan makanan, kini sudah kosong melompong.


Setelah wadah-wadah itu berpindah tempat, mereka kembali membicarakan hal yang tadi sempat tertunda.


"Jadi bapak mau saya ikut ke vila Paseha?" tanya Aura.


"Persis seperti kata Karis Paseha di dalam vidio yang diunggah penculik itu. Ada 7 mayat di halaman belakang dan hutan di dekat vila itu.


"Tapi apakah semua mayat itu dibunuh oleh Karis Paseha atau orang lain kita belum bisa mengindentigikasi!" jelas Leo.


"Jadi Om mau saya bertanya langsung kepada hantu-hantu di sana!" tanya Aura.


"Benar! Siapa tau kita juga bisa dapat petunjuk siapa penculik yang menculik Karis!" jawab Detektif Senki.

__ADS_1


"Iya, kita harus menangkap penculik Karis Paseha secepatnya.


"Seperti yang kamu tahu, kondisi Karis saat ini sudah sangat memprihatinkan.


"Kita harus cepat!" kata Leo.


Aura memandang ke arah Raga, rupanya gadis tomboy itu sudah menganggap Raga sebagai walinya sekarang. Pandangan mesra Aura pada Raga seolah mengatakan 'tanpa ijin dari bocah ini aku tak bisa pergi'.


"Ga!" Detektif Senki dia mengelengkan kepalanya ke arah Aura yang masih memandang Raga. Detektif itu mengingatkan Raga, bahwa Aura tengah meminta ijin padanya.


Raga segera saja memutar kepalanya dan manik matanya kini tertuju ke wajah Aura.


"Terserah elu!" kata Raga.


"Boleh-enggak?" Aura tau, Raga sedikit telmi untuk urusan asmara seperti ini.


"Kalau kamu mau sih gue ijinin!" kata Raga tergagap.


Dia pasti masih syok dengan kelakuan Aura barusan, Raga jadi merasa menjadi orang penting untuk Aura.


"Boleh gue ikut?" tanya Raga, dia ingin memastikan juga korban-korban yang menjadi korban Karis.


"Nanti kamu nggak kuat, kita mau lihat mayat! Bukan ngemol." kata Detektif Senki dia kini bisa membalas ejekan Raga yang tadi dilontarkan oleh lelaki muda itu.


"Ya gue di pinggir aja!" kata Raga.


"Baiklah ayo kita berangkat sekarang!" kata Leo.


Vila dengan desain minimalis tapi mewah sudah berdiri tegak di depan wajah mereka berempat.


Aura terdiam sejenak karena benar saja dia telah disambut oleh beberapa mahluk tak kasat mata dengan penampilan yang sangat mengerikan.


Hantu pertama adalah seorang gadis berseragam SMU dengan wajahnya yang hancur serta berlumuran darah.


Gadis yang kedua botak, wajahnya masih indah meski pucat. Tapi dia tak bisa bediri dengan tegak, gadis itu berjalan dengan kaki yang pincang.


Yang lain tampak sama mengenaskannya, tapi hanya ada 6 hantu wanita yang dijumpai oleh Aura di tempat itu.


"Mereka berjumlah enam orang!" kata Aura.


"Hanya enam?" tanya Leo.


Akhirnya keempat manusia yang baru datang itu pergi ke arah teras vila yang mewah tersebut. Para hantu yang yang sadar akan kelebihan Aura juga mengikuti mereka.


"Mereka semua dibunuh oleh Karis, kecuali Farida!" kata Aura setelah berbincang-bincang dengan semua hantu-hantu itu.


"Mereka disiksa dulu sebelum meninggal, kebanyakan dari mereka dikurung di vila ini untuk menjadi budak s.e.x oleh Karis.

__ADS_1


"Ana seorang mahasiswi, dia mati setelah satu minggu disiksa oleh Karis.


"Melinda di sini selama dua minggu dan dibunuh karena mencoba kabur.


"Alia, Naraya, Hera. Masing-masing dari mereka menjadi budak n.a.f.s.u Karis di bawah enam bulan dan usia mereka masih di bawah umur semua saat mereka meninggal!" jelas Aura.


"Dia benar-benar biadap!" kata Detektif Senki.


"Apa para hantu bisa menonton vidio?" tanya Leo pada Aura.


"Bisa."


"Perlihatkan vidio penyiksaan Karis Paseha pada mereka. Siapa tau mereka kenal dengan pelaku penculikan Karis!" usul Leo.


Raga tampak memandang tak suka kearah Leo, tapi pandangannya langsung berubah begitu saja.


"Iya Ra." imbuh Raga.


Di batin Raga, sebenarnya dia ingin menertawakan apa yang tengah dilakukan oleh Detektif Senki. Karena Raga tau benar, para korban Karis pasti tak ada yang kenal dengannya. Cara ini benar-benar tak akan membantu mereka sama sekali.


Hibur aku dengan semua hal bodoh ini, ini menyenangkan. Raga.


Aura segera memutar vidio penyiksaan Karis dan memperlihatkannya pada para hantu.


Semua hantu di sana tertawa girang, mereka bahagia akhirnya ada orang yang mampu membalaskan dendam mereka.


"Apa kalian mengenal orang yang menyiksa Karis itu?" tanya Aura kepada para hantu.


"Jika pun kenal, kami pasti tak akan bilang!" celoteh Hera si hantu yang tubuhnya terlihat masih utuh.


"Kenapa?" tanya Aura pada Hera.


"Karena Karis memang pantas mendapatkan kematian yang mengerikan!" kata Hera.


Aura pun setuju dengan pendapat Hera, jika Aura yang berada di posisi mereka pasti Aura akan mendukung penculik itu.


Aura pun hanya mengeleng pelan ke arah Detektif Senki. Entah kenapa di dalam hati Aura, dia ingin mendukung penculik itu. Gadis itu merasa penculik Karis bukanlah orang yang jahat.


Apa salahnya jika pembunuh dibunuh oleh pembunuh lain, hal itu malah terdengar adil bagi Aura.


Rasa lega para hantu-hantu korban Karis pasti sama dengan rasa lega yang pernah Aura rasakan. Rasa lega saat Aura mendengar bahwa Imanuel dibunuh oleh Dokter Abraham di penjara dengan cara yang cukup keji.


Di benak Aura saat ini sedang terjadi pergulatan sengit, apa dia harus membela dan melindungi penculik Karis atau mencoba sekuat tenaga untuk mencari fakta penculik itu.


Bagi Aura menolak permintaan Detektif Senki itu tidak mungkin. Tapi jika dia sampai bisa menemukan petunjuk tentang pencuri itu Aura pasti bimbang untuk menceritakan hal itu pada Detektif Senki.


"Pak, apa menurut bapak saat ini Karis Paseha sudah mati?" tanya Aura.

__ADS_1


Detektif Senki hanya diam, dia juga penasaran dengan fakta itu. Tapi Kepala Detektif sehebat Senki Kimoka tak bisa memastikan hal itu saat ini.


__ADS_2