
Aura terbangun di atas ranjang rawat Raga, gadis tomboy itu tampak masih belum menyadari dimana tubuhnya berbaring sekarang.
Dia masih menguap lebar, dengan jemari tangan yang dia garuk-garukkan ke wajahnya. Tubuhnya kini mengeliat pelan untuk merengangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena tertidur cukup lama.
Raga keluar dari dalam pintu kamar mandi, tubuh atletisnya tak lagi dibalut dengan seragam pasien. Dia kini sudah mengenakan pakaian kasual yang terlihat sangat pas di badan tegapnya.
Kaus oblong hitam dan celana jins hitam robek-robek, perpaduan busana sederhana ini saja sudah dapat memancarkan aura ketampanan pria keturunan Cina-Jawa yang sangat paripurna. Tak terbayang jika lelaki begajulan seperti Raga berpakaian rapi dan sedikit berwibawa, bisa dipastikan semua wanita pasti akan terpikat dengan ketampanan klasik pria yang mempunyai tinggi 180 cm itu.
Wajah Raga tersenyum saat melihat Aura yang masih saja tidur lelap meski sekarang sudah jam 08:00 pagi.
"Aura, elu ada kelas nggak hari ini?" tanya Raga dengan nada lembut.
"Akhhhhhhhhh" desah Aura pelan di alam bawah sadarnya.
Raga pun akhirnya duduk di kursi dekat ranjang rawatnya, dia menatap wajah ayu Aura dengan kedua mata yang berbinar. Bak seperti melihat harta karun, mata berbinar yang berkombinasi dengan senyum tipis Raga sudah dapat menjelaskan apa yang sedang difikirkan pria muda itu.
"Aura!" pangil Raga lirih.
"Emmmmm!" jawab Aura.
"Gue cium bibir elu ya?" tanya Raga, Raga tak dapat menahan keisengannya saat melihat wajah Aura yang sangat imut ketika tertidur.
"Mau mati lu!" gumam Aura.
Meski Raga sudah tau jawaban yang akan diberikan Aura akan pertanyaannya, Raga tetap saja merasa menganggu Aura adalah hal yang menyenangkan baginya.
"Sekali aja!" paksa Raga.
"Bau jigong mulut gue!" kata Aura, yang perlahan membuka matanya.
"Padahal gue mau nyium kening elu doank! Malah elu mau gue cium di bibir?!" kata Raga.
Kata-kata Raga seketika membuat Aura salah tingkah, tapi tak ada yang bisa dia jelaskan. Aura segera bangun dari ranjang rawat itu dan hendak turun tapi dihentikan oleh kedua tangan Raga.
Kini Aura duduk di sisi kanan ranjang dan Raga duduk di sisi kiri ranjang, tapi tubuh mereka saling berhadapan.
__ADS_1
Raga mempererat cengkraman kedua telapak tangannya dikedua bahu Aura, jantung Raga kini juga berpacu cepat. Posisi ini membuatnya juga sedikit cangung, tapi dia menginginkan kontak fisik yang mesra dengan Aura.
"Mau apa lu?!" tanya Aura, tersirat ekspresi takut di wajah ayunya tapi dia tak berusaha menghindari Raga kali ini.
"Nyium bibir elu!" kata Raga yakin.
Aura hanya terdiam, matanya melebar, dia berusaha untuk mencerna perkataan Raga barusan. Sementara Raga perlahan tapi pasti telah mendekatkan wajahnya ke arah wajah Aura.
Mata mereka sempat bertemu untuk memastikan tak ada penolakan di hati keduanya, Aura juga hanya diam. Entah karena memang ini yang dia bantikan atau dia hanya penasaran tapi Aura hanya diam, dia siap menerima apa pun yang akan Raga lakukan padanya pagi itu.
Jegrekkkkkkkk
"Udah belum, beres-beresnya!" kata Pak Senki, yang baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Raga.
Wajah tampan Pak Senki seketika berubah bingung saat melihat posisi Aura dan Raga yang tampak mencurigakan.
"Ekheeemm! Udah kok!" kata Raga, dia berdiri di dekat sofa panjang dengan nafas yang sedikit menggebu. Sementara Aura berdiri di dekat kamar mandi dengan nafas yang sama memburunya.
"Apa aku nganggu kalian?" tanya Pak Senki. Meski lelaki paruh baya ini tak pernah menjalin kisah asmara dengan siapa pun, pria dewasa sepertinya tentu saja bisa sangat faham apa yang mungkin baru saja terjadi pada kedua muda mudi ini.
"Jangan lama-lama! Ku tunggu di luar!" kata Pak Senki yang langsung keluar setelah melihat mimik wajah kedua remaja yang tengah dimabuk asmara itu.
"Sebaiknya gue juga keluar!" kata Raga yang masih salah tingkah, dia tak tau harus bagaimana. Usahanya untuk memikat Aura paling tidak sudah membuahkan hasil, meski dia tak sempat berciuman dengan Aura. Tapi rasa bahagia sudah menguasai hati Raga saat ini.
"Iya!" jawab Aura, yang sama salah tingkahnya.
.
.
.
.
Seseorang berdiri di ruangan yang hanya disinari oleh sebuah lampu yang tampak tak terang. Orang itu melepas jaket kulit yang ia kenakan, dia juga tampak meregangkan otot bagian leher dan bahunya yang tampak sangat lebar.
__ADS_1
Pria itu lanjut melepas topi hitamnya, tampak mata cekung yang tajam. Warna kornea yang tampak kebiru-biruan yang indah. Masker yang menutupi wajah pria itu pun juga ia buka.
Lengan kekarnya melempar kedua benda itu kesembarang arah, dia segera membuka sebuah koper yang berada di atas meja kerjanya.
Si hantu tampan tampak bersembunyi di balik tembok ruangan gelap itu, dia menahan nafasnya sejenak ketika pandangan matanya tertuju pada bayangan hitam mengerikan yang berjalan melayang ke arahnya.
Suara hantaman benda tumpul di dengar oleh pria yang berada di ruangan gelap itu, akhirnya pria itu segera keluar.
Di dalam ruangan gelap itu, tersebar banyak foto-foto korban pembunuhan yang ditempel di dinding dengan sangat rapi.
Foto mayat yang digantung di sebuah tiang di halaman sekolah dengan keadaan telanjang bulat, serta tubuh yang penuh dengan noda merah dan sayatan-sayatan di sekujur tubuh yang terlihat seperti tubuh perempuan. Sebuah liontin bulan biru tergantung di leher mayat mengerikan itu.
Mayat yang telah gosong, yang duduk di sebuah kursi di tengah ring tinju. Mayat itu juga mengenakan kalung bulan biru di lehernya.
Foto-foto mayat lain dengan keadaan yang hampir sama mengerikannnya juga terpajang di dinding ruangan gelap itu. Hanya satu kesamaan dari mayat-mayat itu, yaitu kalung bulan biru yang mengantung di setiap leher mayat itu.
Pria itu membuka pintu besi ruang bawah tanahnya, dan pria itu adalah Imanuel yang sedang melihat pertarungan kedua hantu yang tak bisa dia lihat dengab kedua matanya di ruangan rumahnya.
Barang-barang di dalam rumah itu telah banyak yang melayang di udara, rasa ketakutan membuat Imanuel berlari ke arah luar rumahnya.
.
.
Bayangan hitam terus mengejar dan menyerang hantu tampan dengan tanpa ampun, si hantu tampan yang mencoba menghindar pun tak bisa terus menghindari serangan bayangan hitam yang lebih cepat darinya itu.
Bentuknya yang mirip malaikat pencabut nyawa yang sering digambarkan di TV-TV membuat si hantu tampan sangat takut pada mahluk aneh itu.
Sebuah pukulan dari tangan trasparan hantu bayangn hitam mendarat di meja kayu, dan meja itu langsung terbelah dua. Hantu tampan hanya bernafas lega karena dia berhasil menghindari pukulan maut si bayangan hitam itu.
Tapi dengan cepat pula bayangan hitam itu segera beralih posisi di belakang hantu tampan dan mengunci leher hantu tampan dengan tangannya.
"Kau harus mati!" kata bayangan itu.
Mata hantu tampan tampak terbelalak kaget, saat mendengar kata-kata hantu bayangan malaikat pencabut nyawa itu.
__ADS_1