Ghost Of Death

Ghost Of Death
Menangkap pelaku


__ADS_3

Utari melepas helmnya dan dia turun dari sepeda motornya, tak lupa pintu depan kembali dia tutup. Suasana rumah yang kelam tanpa sinar lampu itu sama sekali tak membuat Utari takut.


Dia pernah memgalami situasi yang lebih mengerikan saat menjalani pelatihan di kemiliteran. Gadis itu segera berjalan ke arah kamar dimana Laura dulu dibunuh oleh ibunya.


Saat Utari masuk ke dalam ruangan itu wajah gadis cantik itu segera tersenyum senang.


"Kakak memang hebat dalam hal membuat maha karya!" gumam Utari.


Tubuh Karis yang sekarat dengan luka yang memenuhi bagian-bagian tubuh lelaki tampan itu terlihat seperti maha karya dimata Utari.


Tubuh lemah Karis masih terduduk dengan ikatan yang kencang, tapi Utari tau lelaki itu masih hidup. Meski penampilannya jauh dari kata manusia tampan tapi Karis yang dalam ke adaan pingsan itu sedang bermimpi membuat vidio iklan untuk iklan sampo.


Utari menarik sebuah kursi di pojok ruangan, dia duduk di depan tubuh Karis Paseha yang sudah mirip korban perang itu.


Setelah menurunkan ransel besarnya gadis sunda itu melihat dengan bahagia setiap luka yang dibentuk kakaknya di tubuh pria tampan itu.


"Kakak memang harus naik pangkat, semua tugasnya diselesaikan dengan indah!" kata Utari.


Karis sadar jika ada manusia lain yang berada di ruangan terkutuk itu, matanya segera terbuka dan rasa bahagia serta bingung menyeruak di dadanya yang sudah terkelupas hingga hampir terlihat tulang iganya.


"Kamu?" tanya Karis, ternyata pandangan lelaki itu masih jernih meski darah didalam tubuh lelaki itu hampir habis.


"Apa kabar?" tanya Utari pada Karis yang baru sadar.


"Apa kau komplotan pemuda Bulan Biru itu?" tanya Karis lemah.


"Dia kakakku, kakak kembarku!" Utari mengakui tanpa ragu.


"Jadi kalian mengincarku sejak awal?" meski sudah tak punya banyak tenaga Karis terus saja bertanya.


"Tentu saja, kami tak membunuh sembarang orang!" kata Utari.


"Kenapa?"


"Karena level kita berbeda, kami pernah menjadi sepertimu. Asal membunuh hanya untuk kepuasan, tapi kami dapat mengendalikan diri sekarang.


"Kami hanya membunuh orang-orang dengan kesalahan sepertimu!" jelas Utari.


"Kalian pikir kalian Tuhan?"


"Tentu saja, kau juga merasa dirimu Tuhan kan saat membunuh.


"Kita terlahir dengan gen yang berbeda, ada banyak yang seperti kita. Tapi hanya beberapa saja yang berubah menjadi monster seperti kamu!" kata Utari.


Gadis itu mengeluarkan botol infus beserta selangnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Karis, dia ingin membentak gadis sunda yang hampit tidur dengannya itu tapi rasa sakit di semua lukanya membuatnya hanya mengeram lirih.

__ADS_1


"Membuatmu bertahan sampai besok malam!


"Kau beruntung, waktu hukumanmu cukup pendek. Biasanya kami akan menyiksa pendosa seperti kalian paling lambat 3 hari!" ujar Utari.


Gadis itu terlihat sangat lihai memasang jarum infus di tangan Karis. Setelah meletakkan botol infus di tiang yang sudah dia siapkan di samping Karis.


"Kau belum makan sejak tadi siang kan?" tanya Utari.


Dari ranselnya, Utari mengambil sebuah kotak yang berisi makanan. Ternyata itu adalah kimbab buatanya sendiri.


"Akkkkkkk!" kata Utari dengan mulut menganga, itu adalah sinyal agar Karis membuka mulutnya.


Tapi dengan angkuhnya Karis tak mau membuka mulutnya.


"Jangan membuatku kesal, kau pikir aku tak sekejam kakakku?" tanya Utari.


Manik Netra Karis tampak membeku saat mendengar ungkapan Utari yang dia kenal dengan nama Sari itu. Utari memalsukan namanya saat mengikuti acara jumpa pengemar yang diadakan oleh agensi Karis.


Karis segera membuka mulutnya, meski saat ini dia sudah ingin mati. Tapi jika disiksa lagi tubuhnya pasti tak akan kuat menahan sakit lebih dari ini.


"Uhhhhhh pria manis." puji Utari.


Perlahan-lahan Karis mengunyah kimbab buatan Utari yang lumayan enak itu.


Mereka berdua seperti sepasang kekasih saja. Utari dengan setia menyuapi Karis dengan makanan dan minuman. Gadis sunda itu juga tampak makan dengan lahap di depan tubuh Karis yang hampir hancur itu.


Darah yang meratai bagian tubuh Karis yang telanjang itu bukanlah hal yang menjijikan atau menakutkan bagi Utari. Sebaliknya pemandangan yang kini dilihatnya adalah sebuah maha karya kakaknya yang indah.


Setelah berbelanja bersama Raga dan Aura kembali ke kosan, mereka berdua memasak bersama. Tapi Raga lah yang berperan penting di dapur yang sempit itu.


Aura yang dari kecil tak pernah belajar memasak tampak terkagum-kagum dengan kemampuan pacarnya itu. Memasak adalah hal yang sulit bagi Aura tapi kenapa bagi Raga semua hal itu mudah.


"Belajar masak dimana elu?" tanya Aura, gadis itu masih setia berdiri di tepi dapur.


Rasanya rugi jika dia memalingkan pandangannya dari Raga yang terlihat lebih tampan saat mengunakan celemek pink bunga-bunga.


"Otodidak aja, Gue kan dari dulu tinggal sendiri." jawab Raga.


"Emmmmm" Aura mendekati Raga yang sedang asik memutar-mutar sepatula di dalam panci.


Aura memeluk tubuh Raga dari belakang. Pria itu tampak tersentak dengan perlakuan manis dari Aura.


"Jangan tinggalin gue yaaa!" kata Aura.


"Kenapa, apa elu udah cinta mati ama gue?"


"Gue nggak akan sanggup kehilangan elu!" gumam Aura.

__ADS_1


Raga memutar tubuhnya, kini kedua kekasih itu saling berhadapan. Sebenarnya di hati Raga saat ini sedang bergemuruh. Bagaimana tidak, ungkapan itu harusnya keluar dari mulut Raga tapi malah Aura yang duluan meminta hal itu.


"Gue nggak bakal ninggalin elu, tenang aja!" kata Raga. "Tapi entah elu, elu pasti gampang buat ninggalin gue!"


Aura menatap wajah pacarnya itu lekat-lekat, dia kembali memeluk tubuh Raga dengan penuh perasaan.


"Maaf!" gumam Aura.


Aura kembali mengingat, bagaimana dia dulu menolak Raga setelah kejadian pembunuhan Nawang Ratih. Dengan tanpa perasaan Aura meninggalkan Raga tanpa mau mendengar penjelasan lelaki tampan itu.


Raga mempererat pelukannya pada Aura. Apa iya dia akan bisa bersama Aura selamanya.


Tok...Tok...Tok


"Kenapa selalu ada tamu di saat-saat seperti ini!" keluh Raga.


Aura melepas pelukannya dari Raga dan tersenyum manis ke arah pacarnya itu.


"Entahlah." Aura mengangkat kedua bahunya.


Gadis tomboy dengan pakaian kasual rumahan itu segera berlari kecil ke arah pintu.


"Pak Senki!" kata Aura.


"Kau sedang apa?" tanya Detektif Senki.


Raga yang masih mengenakan celemek pink bunga-bunga serta sepatula di tangannya segera menghampiri orang-orang di depan pintu kamar Aura.


"Kan kalo ke sini bawa rombongan, mana nggak ngomong dulu!" gerutu Raga, gelagatnya sudah seperti emak-emak.


"Kamu bisa masak Ga?" tanya Pak Senki.


Lelaki paruh baya itu langsung masuk begitu saja, Leo yang bersamanya pun juga ikut masuk.


"Bisa lah, emang bapak. Bisanya cumak marah-marah!" Raga masih saja mengerutu.


"Aku ke sini mau bicara sama Aura, bukan kamu!"


Tanpa banyak basa-basi lagi Detektif Senki segera duduk di kursi tamu di tengah ruangan itu. Leo dan Aura juga ikut duduk, sementara Raga pergi lagi ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Ada apa Pak?" tanya Aura.


"Kamu pasti nonton vidio penyikasaan Karis Paseha!" kata Detektif Senki.


"Iya Pak, ada apa?"


"Bisakah kau membantuku menangkap pelakunya?" tanya Detektif Senki

__ADS_1


__ADS_2