
Cengkeraman tangan Leo melemah, karena melihat wajah Utari yang kesakitan menahan desakan di paru-parunya. Utari menunduk dan menepuk-nepuk dadanya, dia hampir saja mati karena ulah Leo barusan.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Leo.
Lelaki itu tampak sangat bersalah, tapi dia tak habis pikir kenapa Utari hanya diam dan tak menyerangnya balik. Bukankah Utari lebih mampu untuk membunuhnya dari pada Leo.
"Karena orang sepertimu, tak akan bisa membunuh siapa pun!" kata Utari, sambil mengatur nafasnya kembali.
Gadis iblis itu kembali menegakkan tubuhnya dan mendorong tubuh Leo ke arah kap mobil depan yang diduduki Utari. Kini kedua insan itu sudah berbalik posisi.
Leo hanya bisa menahan nafas, dia sudah yakin jika Utari akan membalas semua perbuatannya tadi. Gadis yang tersenyum menyeringai itu mendekatkan wajahnya pada Leo.
Jemari tangan kanan Utari sudah merayap dari dada bidang Leo ke arah lehernya.
"Mau kuajari, bagaimana membunuh orang?" tanya Utari.
Di jarak sedekat itu kedua mata Leo dan Utari saling menelisik entah mencari apa. Tapi pandangan Utari turun ke arah bibir Leo, lalu naik lagi ke mata Leo.
"Pertama kau tak boleh punya perasaan apa pun," kata Utari.
Jemari Utari hanya mengelus leher Leo, membuat bulu kuduk lelaki itu berdiri.
"Ke dua kau harus memikirkan orang di depanmu bersimbah darah," kata Utari lagi.
Leo tak bisa lepas dari mata Utari. Dia hanya bisa menelan saliva dimulutnya, Saat mencoba membayangkan apa yang dikatakan oleh Utari.
"Dan setelah itu pikirkan bagaimana kau harus mulai dan mengakhiri, dengan mudah atau dengan mengerikan!" ujar Utari.
Leo hanya bisa terdiam kaku, dia tak tau harus berbuat apa. Dia bahkan tak bisa membaca apa yang dipikirkan Utari. Lelaki tampan itu hanya bisa melihat n.a.f.s.u membunuh di sorot mata Utari. Dan itu sudah membuatnya tak bisa bergerak sedikit pun.
"Kau sudah faham, apa perbedaan kita?" tanya Utari pada Leo.
Gadis itu akhirnya melepaskan Leo, dia menjauh dari Leo dan berjalan sendiri untuk pulang.
Kita memang sangat berbeda, tapi apa kita tak bisa bersama. Leo
.
.
.
.
Tuan Harsono baru saja keluar dari dalam gedung putih, wajahnya yang biasa terlihat tentram dan bijaksana. Kini menjadi tegang dan penuh dengan emosi.
Lelaki tua itu pasti sudah mendapat wejangan yang mengigit ginjalnya dari Pak presiden. Karena terlihat amarah yang menguasai hatinya sangat lah besar.
"Apa mereka masih belum menemukan apa pun?" tanya Tuan Harsono pada asistennya.
"Kurasa belum Tuan, mereka sangat teliti dan detail.
"Bahkan mereka bisa menghindari CCTV yang dipasang oleh warga sekitar," lapor asisten Tuan Harsono.
__ADS_1
Tuan Harsono mendekatkan wajahnya ke arah asistennya, dan dia mulai memberi perintah dengan nada kasar tapi tertahan. "Aku tak mau tau!!!
"Cepat cari mereka, tapi jangan bunuh mereka! Mengerti!!!"
"Baik Tuan!" asistennya segera memberi hormat ala militer dan segera pergi ke mobilnya.
Sementara Tuan Harsono berjalan ke mobilnya didampingi oleh asistennya yang lain.
"Bukankah mereka dua orang kenapa sekarang malah jadi tiga orang!" ucap Tuan Harsono kesal.
"Mungkin mereka mendapat bantuan dari mantan angota Tim Alpa!" kata sopir Tuan Harsono.
Sopir itu adalah asisten Tuan Harsono yang amat sangat setia pada keluarga Harsono.
"Menurutmu siapa?" tanya Tuan Harsono pada sopirnya.
"Tapi menurut data yang kita punya, tak ada yang cocok. Kemampuan bertarungnya juga tak sebaik para angota Tim Alpa.
"Tapi jika pun itu warga sipil biasa, pasti orang itu punya kedekatan dengan Dokter Abraham!" kata sopir Tuan Harsono.
"Kau cari tau tentang itu!" perintah Tuan Harsono pada sopirnya.
Mobil sedan mewah yang ditumpangi Taun Harsono segera melaju meninggalkan gedung putih. Tapi hati dan pikiran Mentri Pertahanan itu masih memikirkan apa yang tadi dia bicarakan dengan Pak Presiden.
.
"Kenapa anda membuat kekacauan di akhir masa jabatanku?
"Apa ini rencana anda agar dipemilihan tahun depan Rakyat tak memilihku lagi?" ujar Pak Presiden dengan nada menantang.
"Ini hanya kesalahan, dan tak akan berlarut-larut Pak Presiden!
"Saya akan segera membereskan masalah ini!" kata Tuan Harsono.
Meski lelaki tua yang amat kejam ini sedang tersinggung pada perkataan Pak Persiden, dia tetap berusaha tenang.
"Kudengar kau akan mencalonkan diri menjadi Presiden tahun depan?!" tanya pria jawa bertubuh tambun itu.
"Itu hanya isu, Pak! Itu tak akan terjadi!" Tuan Harsono berusaha untuk bohong.
"Jadilah wakilku saja! Aku berada di partai yang besar, tapi kau hanya direkrut partai kecil.
"Kau tak akan menang melawanku di pimilu tahun depan!" ujar Pak Presiden dengan nada mengejek.
.
Perkataan itu-lah yang membuat Tuan Harsono naik darah, dia merasa Presiden telah menginjak-injak harga dirinya.
"Dia pikir dia siapa?
"Berani sekali dia mendekteku!" ujar Tuan Harsono dengan senyuman yang licik.
"Kau tau anak perempuan Presiden yang kuliah di luar Negri?" tanya Tuan Harsono pada sopirnya.
__ADS_1
"Iya Tuan, dia sekolah di London!" jawab sopir itu.
"Habisi gadis itu, kita harus memberitahu pada Pak Presiden bahwa kita sedang marah!" perintah Tuan Harsono.
"Baik Tuan!" sopir itu setuju saja.
"Itu-lah kenapa aku benci dengan manusia biasa!
"Mereka harus diberitahu kalau kita sedang marah. Tapi aku malas menghabiskan tenaga untuk marah pada mereka .
"Keponakanku, kita tak seharusnya menjadi musuh. Harusnya kita berkerja sama untuk memiliki Negara ini!" kata Tuan Harsono.
Dia tau benar, jika isu tentang putra kembar Dokter Abraham itu benar. Maka kedua anak-anak itu adalah anak dari adik perempuannya yang sudah meninggal.
"Paman bangga mempunyai keponakan yang hebat seperti kalian!
"Kalian akan menjadi senjata utama di pemerintahanku nanti!" kata Tuan Harsono dengan penuh keyakinan.
.
.
.
.
Raga sedang duduk di meja belajarnya, sementara Aura sudah tertidur pulas. Gadis manis itu pasti sudah amat kelelahan dengan acara sore tadi.
Raga akhirnya sampai di sebuah data tentang Dokter Abraham ayahnya. Awalnya dia mau melewati saja, karena dia sudah pernah membaca itu. Tapi dia segera kembali ke file itu, karena dia melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat.
Dokumen tentang Istri Dokter Abraham, Nada Salika Harsono.
Raga pun membuka file itu dan membacanya dengan teliti.
"Dia meninggal pada bulan.
"Kenapa dia meninggal di saat aku dilahirkan!" tanya Raga lirih.
Dia tak mau berisik dan menggangu tidur nyenyak istrinya. Raga pun melihat ke samping dan melihat Aura masih terpejam menikmati mimpi-mimpi indahnya.
Karena sudah memastikan bahwa Aura tertidur dengan nyenyak, Raga kembali menengelamkan dirinya pada file yang berisi tentang data diri Nada Salika Harsono.
Nada Salika Harsono meninggal pada tanggal 27 Maret tahun 1998. Dia meninggal karena kecelakaan mobil dengan kakaknya Martin Harsono.
"Martin Harsono, ayah Detektif Morgan.
"Apa aku dan Utari adalah keponakan pria bangsat itu?" Raga hanya tersenyum nanar melihat layar komputernya.
"Apa yang elu pelajari, Ga?" tanya Aura.
Wajah istri Raga itu sudah mengelayut di bahu suaminya. Aura pasti sudah melihat file yang tengah dibaca oleh Raga.
__________BERSAMBUNG_________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤