
Pada sebuah jaman di pegunungan, hiduplah seorang anak pengembala kambing. Dia tak punya orang tua dan selalu tidur di kandang bersama kambing-kambingnya.
Suatu malam yang gelap, dia mendengar suara rintihan seekor anak anjing. Dia yang merasa kasian pun mencari anak anjing itu.
Seekor anak anjing yang lemah tanpa orang tua sepertinya. Dengan kasih sayang anak itu merawat anak anjing itu seperti saudaranya sendiri.
Anak anjing itu pun tumbuh besar seiring berjalannya waktu, dia tumbuh semakin besar dan kuat. Tapi anak anjing itu tak tumbuh menjadi seekor anjing yang patuh, karena yang dikira anak kecil itu adalah anak anjing ternyata adalah anak seekor srigala.
Lambat laun karena srigala itu semakin besar, satu persatu domba anak itu di makan oleh srigala. Semakin hari n.a.f.s.u makan si srigala semakin besar sampai domba-domba di kandang anak kecil itu habis.
Karena rasa sayangnya pada srigala anak itu memberikan tubuhnya untuk di makan srigala.
Manusia tak bisa hidup dengan monster. Karena seberapa tulusnya manusia, si monster tak akan pernah bisa merasakan ketulusan itu.
Manusia dan monster sama-sama punya emosi, hanya cara penyampaian mereka saja yang berbeda.
.
.
Tubuh Arjuna masih bergetar hebat. Masih dengan kondisi tergantung terbalik dengan tubuh terikat kuat. Darahnya memercik mengotori ruangan yang sudah dilapisi oleh pastik itu. Sementara Utari wajah dan tubuhnya yang di balut gaun merah indah itu, sudah belepotan dengan darah Arjuna.
Kedua mata lelaki gondrong itu saat ini sudah berpindah di kedua tangan Utari.
"Indah sekali!" gumam Utari dengan wajah sumringah ke arah bola mata Arjuna di tangannya.
Meski bola mata Arjuna yang sebesar telor bebek itu masih berlumuran darah segar, Utari masih bisa melihat keindahan yang dipancarkan oleh bola mata itu.
"Kau lebih indah saat sudah di lepas!" kata Utari kepada bola mata Arjuna.
.
.
.
.
Pagi yang cerah dengan langit biru yang sempurna, matahari pagi yang sudah mulai naik menghangatkan Bumi. Di dalam kamarnya Aura masih terdiam di atas kasurnya, entah kenapa ekspresi yang dikeluarkan Raga semalam masih saja terngiang di otaknya.
Kenapa Raga berubah secepat itu, kenapa pria yang sangat lembut pada Aura itu bisa kasar pada gadis tomboy itu sekarang. Apa karena sudah mendapatkan tubuh Aura, jadi Raga merasa bisa seenaknya pada Aura.
__ADS_1
Aura menghela nafas panjang dan dalam, dia ingin sekali mengusir pikiran jeleknya tentang Raga. Tapi gadis itu merasa sudah tak bisa lagi. Dia terus saja merasa curiga dengan gerak-gerik Raga.
"Kenapa gue se posesif ini sama Raga!" kata Aura, dia mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.
"Kenapa juga waktu itu gue kepancing, dan mau melakukan hubungan badan sama Raga?!" Aura semakin mendesak dirinya agar pikiran dan hatinya singkron kembali.
Raga itu tampan, berkharisma dan lembut serta sangat peduli pada gadis itu. Jika Aura tak terpancing atau tergoda pada Raga, pasti yang mempunyai kelainan adalah Aura.
.
.
.
.
Suasana kelas kampus yang ricuh menyambut Raga yang baru saja datang.
"Arjuna nggak masuk apa yaaaa?" tanya seorang mahasiswa yang mengenakan jaket kulit hitam.
Raga ikut duduk di rombongan itu, dia adalah salah satu angota di kelompok pria paling populer di jurusan Seni.
"Emang kemana dia?" tanya Raga, dia juga merasa aneh kemarin dia melihat Arjuna di atap bergabung dengan senior.
Seketika Raga bisa menebak, hal apa yang mungkin bisa terjadi pada pria gondrong itu.
"Lagian udah biasa juga Arjuna bolos begini, mereka pasti belom bangun dari tidur indah mereka karena bergulat semalaman!" kata pria lain yang memakai kaus putih polos doang.
Raga merasa ada yang terjadi pada Arjuna karena Utari. Dia tau benar sifat yang dimiliki kembarannya tersebut, Utari hanya akan berkencan dengan pria yang dia sukai. Dan gadis iblis itu akan membunuh semua lelaki yang dia sukai.
Karena saat ini suasana sedang tak kondusif, Raga mengubungi Utari melalui pesan teks dari ponsel ilegalnya. Raga meminta Utari menemuinya di suatu tempat yang pasti, tempat itu hanya mereka berdua yang tau.
.
.
.
.
"Dokter Abraham menikah sekitar 25 tahun yang lalu dengan seorang gadis bernama Nada Syakila. Mereka tinggal di pinggiran kota yang damai, tapi Nada Syakila tercatat meninggal dunia saat melahirkan kedua anak kembarnya.
__ADS_1
"Bahkan di data rumah sakit tempat Nada di rawat pun, tak ada imformasi apa pun tentang bayi kembar itu!" jelas Leo, dia membacakan apa yang bisa dia cari tentang Dokter Abraham.
"Rumah sakit itu?! Apa di tempat itu Dokter Abraham kerja?" tanya Detektif Senki.
"Tidak, saat itu Dokter Abraham masih menjadi Dokter di Rumah Sakit yang di bentuk Negara!" kata Leo.
"Di duga Dokter Abraham dan Nada Syakila bertemu di Amerika, seperti yang kita tau dia bekerja di rumah sakit di Kanada selama 10 tahun.
"Mereka kembali ke Indonesia untuk menikah, sementara Dokter Abraham sendiri mempunyai ayah berdarah Jepang dan Ibunya adalah putri seorang bangsawan Tanah Air!" kata Leo.
Ketiga abdi Negara ini sedang rapat di tempat lain, bukan di kantor kepolisian. Tapi di rumah Leo yang seorang Agen BIN yang diperintahkan langsung oleh atasannya untuk menangani kasus Bulan Biru.
"Kita bahkan tak bisa melacak keberadaan atau riwayat anak kembar itu!" kata Detektif Senki.
"Tapi ada sebuah fakta yang ku temukan saat menyelidiki tentang Imanuel!" kata Leo.
"Apa?" tanya Detektif Morgan yang biasanya ceria jadi murung.
Ayahnya baru saja mengaku di serang oleh Bulan Biru, hatinya tentu saja khawatir. Tapi dia bahkan tak bisa menemukan apa pun tentang kembaran sialan itu.
"Imanuel mempunyai seorang putra bernama Ardell Alessio kata Leo!" dia bicara dengan hati-hati sekali.
Leo yang tau sebenarnya siapa Ardell Alessio itu adalah Raga mencoba memberikan gambaran jelas pada kedua Detektif itu. Leo tau benar meski dia menyebut nama Ragata sekali pun, data diri tentang Raga pasti sudah dimanipulasi oleh Tim Alpa sejak dia masuk kedalam Aliansi itu.
Leo harus menggunakan taktik, supaya Raga merasa terpojok dan menjadi lengah. Dan saat Raga lengah Leo akan menangkapnya dahulu dan mencari informasi yang dia butuhkan.
Bagaimana pun Raga tak bisa dibilang penjahat, Raga hanyalah mesim pembunuh yang dibentuk oleh negara dan hanya menuruti kata pimpinannya.
"Tunggu Alessio. Sepertinya aku pernah dengar!" kata Detektif Senki.
Detektif Senki adalah polisi yang merampungkan khasus Nawang Ratih dan Bintang Perak dia pasti pernah mendengar nama panjang Raga.
"Tapi putra Imanuel itu dinyatakan meninggal dunia saat usianya 13 tahun, tak lama setelah Imanuel membawa putranya itu ke Indonesia!" Leo kembali mengungkap fakta dari dokumen yang pernah dilihatnya ketika dia masih menjadi hantu.
"Imanuel adalah salah satu kaki tangan yang dimiliki oleh Dokter Abraham!" kata Morgan, dia yang sudah membaca semua dokumen Tim Alpa lama pun tau.
"Menurutku Dokter Abraham menyembunyikan anak-anaknya agar tak di sentuh oleh aliansi itu!" kata Leo.
"Meski pun Dokter Itu monster, dia masih punya naluri seorang ayah. Tapi lihat kedua anaknya malah lebih buas dari dia!" keluah Morgan.
"Aku ingat, aku pernah dengar nama Alessio itu di mana!" kata Detektif Senki dengan nada serius. "Ragata Alessio!"
__ADS_1
____________BERSAMBUNG_________
Jangan lupa Vote, Komen dan Like ya teman-teman❤❤❤