Ghost Of Death

Ghost Of Death
Pasukan???


__ADS_3

"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Mbah Sodik pada Raga, yang berdiri tak jauh dari tubuhnya yang sudah terasa sakit.


"Gue nggak pernah bilang maaf ke semua korban yang gue bunuh, tapi gue harus minta maaf ke anda Mbah. Karena anda bukanlah orang yang ingin gue bunuh!" kata Raga dengan santainya.


"Kalau begitu, biarkan saya hidup!" kata Mbah Sodik.


"Mbah tau kan, seberapa pentingnya anak perempuan Mbah bagi gue?" tanya Raga, pada pria tua yang masih duduk di kursi penyiksaan meski tali yang membelengunya sudah dia lepas.


"Jangan sakiti Aura!" kata Mbah Sodik dengan wajah yang sangat menyedihkan.


"Gue bisa membunuh semua manusia di bumi ini, tapi gue nggak akan sanggup membunuh Aura!" kata Raga jujur.


Dia membuka tudung di kepalnya dan memperlihatkan wajah tampannya yang tulus ke arah Mbah Sodik. Pria muda itu juga berjongkok di depan Mbah Sodik.


"Biarkan Aura bersanding bersama saya, Mbah!" kata Raga dengan sangat sopan.


"Tidak, meski kau membunuhku aku tak akan membiarkan Aura bersanding dengan lelaki jahat sepertimu!" kata Mbah Sodik.


Raga tak mengatakan apa pun, tapi entah dari mana tangan kananya sudah menggenggam sebilah pisau yang mengkilap tajam.


Tanpa aba-aba dan rasa takut, Raga meraih salah satu kaki Mbah Sodik. Dengan cepat dia menyayat betis lelaki tua itu.


Jeritan mengelegar Mbah Sodik di samarkan oleh kilat dan gemuruh yang datang secara bergantian.


"Bunuh saja aku!" kata Mbah Sodik, dia merintih kesakitan.


Belum juga lelaki tua itu merasa sakitnya reda, kaki satunya sudah diraih oleh Raga lagi. Kali ini Raga menyayat betis Mbah Sodik dengan sangat lembut dan penuh penekanan.


Lelaki tua itu pun menjetit sangat kuat, tapi tak ada satu orang pun yang dapat mendengar jeritan-jeritan memilukan itu.


Wajah tua yang sudah banyak garis penuaan itu sudah mulai pucat, tubuh renta itu pasti sudah kehilangan banyak darah. Rasa sakit hasil sayatan Raga juga masih menjalar di sekujur tubuh tambun itu.


"Jika kau ingin selamat, teruslah berjalan. Jangan berhenti." gumam Raga dengan nada dingin.


Tanpa pikir panjang Mbah Sodik segera bangkit dari tempat duduknya, tak peduli darahnya yang sudah menggenang di lantai kumuh tepat di bawah kursi yang baru saja dia duduki.


Dengan semua kekuatan yang dia punya, Mbah Sodik berjalan dengan bantuan dinding-dinding kusam di sekitarnya. Lama sekali agat tubuh renta yang terluka itu sampai di luar bangunan pabrik terbengkalai itu. Tapi semangatnya tak surut sama sekali untuk menyusuti jalan sempit dan menerobos hujan.


.


.

__ADS_1


.


.


Seperti kata Utari, Raga tak harus membunuh Mbah Sodik. Tapi Pria muda itu tak mau Mbah Sodik menjadi batu sandungannya untuk mendapatkan Aura dan juga posisi yang dia incar di pasukan yang akan dibentuk oleh pemerintah sebentar lagi.


Hanya Aura yang bisa membuat Raga terkendali. Saat bersama Aura, lelaki tampan itu selalu tak bisa menyakiti Aura meski dia ingin.


Hal itu juga masih menjadi misteri, kenapa monster tanpa perasaan seperti Raga dapat menekan rasa ingin membunuhnya pada seseorang


Psychopath tak bisa jatuh cinta pada orang lain, Psychopath hanya akan mencintai dirinya sendiri seumur hidupnya. Membunuh dan menyakiti manusia lain adalah sebuah kesenangan bagi mereka.


Tak akan ada rasa bersalah yang akan mereka rasakan meski pun mereka membunuh keluarga mereka sendiri.


Seseorang yang dilahirkan oleh darah Sychopath dan tumbuh di lingkungan Sychopath akan menjadi Sychopath ungul yang tak akan bisa dikalahkan oleh apa pun.


Karena manusia akan lemah jika dia punya perasaan, sementara Raga mempunyai perasaan hanya pada Aura. Mahluk yang dinyatakan sempurna itu akhirnya punya kelemahan.


.


.


Imanuel terduduk diam di depan Aura, keduanya hanya di batasi oleh kaca tebal dengan beberapa lubang kecil agar suara yang mereka keluarkan bisa di dengar oleh orang di hadapan mereka.


Imanuel masih diam membisu, sambil menatap tajam ke arah wajah Aura.


"Apa anda mengincar ayah saya sejak awal?" tanya Aura.


"Tidak" akhirnya Imanuel mengatakan sepatah kata kepada Aura.


Aura tak dapat menahan lagi gejolak di dalam dirinya, air matanya segera menyembur keluar dari pelupuk matanya yang indah.


"Lalu kenapa anda membunuh ayah saya?" tanya Aura, nadanya mulai gemetar diselingi dengan isakan.


"Karena aku ceroboh!" kata Imanuel.


Entah apa yang dipikirkan mantan pengajar di kampus seni Aura itu, apakah lelaki bule itu akan mengungkap siapa Raga sebenarnya pada Aura.


"Ceroboh?" tanya Aura lirih.


"Maafkan aku!" kata Imanuel.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah memaafkanmu pembunuh!!!" kata Aura.


Tapi Imanuel malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar kata-kata yang Aura keluarkan.


"Jangan memaafkan orang yang membunuh ayahmu, ayahmu tak pantas mati seperti itu!" kata Imanuel.


Aura terdiam sambil memandangi wajah Imanuel yang menyeringai songong. Penjahat itu sepertinya sangat bahagia karena kedatangan Aura kepadanya.


"Bukan anda yang membunuh ayahku kan?!" bentak Aura.


"Mau bagaimana lagi, semua orang sudah menuduhku begitu. Apa pun yang aku katakan, tak akan ada yang percaya!" kata Imanuel masih dengan nada songong yang mengejek Aura.


"Maaf waktu anda sudah habis!" kata sipir penjara yang baru saja masuk ke dalam ruangan Imanuel.


Tanpa berkata lagi kedua sipir itu segera menarik kedua lengan Imanuel untuk pergi dari dalam ruang jenguk itu.


"Bukan aku yang membunuh semua orang itu" kata Imanuel pada Aura dengan nada lirih.


Aura terdiam sejenak di tempat duduknya, tanpa disadari oleh siapa pun Aura telah merekam pembicarannya dengan Imanuel dengan ponselnya.


.


.


"Apa yang dikatakan oleh penjahat itu?" tanya Detektif Senki pada Aura.


Aura hanya terdiam di kursi belakang mobil Detektif Senki, dia tak mau memikirkan perkataan Imanuel karena entah kenapa Aura merasa Imanuel hanya ingin memanfaatkan emosinya.


Imanuel pasti pembunuhnya, dia berakting begitu supaya Aura berusaha mencari orang yang tak bersalah. Tapi kenapa perasaannya langsung berubah secepat itu saat memikirkan siapa pembunuh ayahnya.


"Penjahat itu bilang dia bukan pembunuh Bulan Biru!


"Tapi aku yakin, Pak Imanuel hanya mau mengunakan diriku agar dia dibebaskan!" kata Aura dengan penuh percaya diri.


"Apa kau yakin, penjahat itu hanya ingin memanfaatkanmu?" tanya Leo.


"Apa lagi, jika dia tak membunuh siapa pun kenapa dia hanya diam saja selama ini?


"Harusnya dia menyangkal semua meski tak didengar!" kata Aura dengan nada marah.


"Tenangkan dirimu saja dulu, bagaimana kalau kita makan sesuatu yang lezat?" kata Detektif Senki.

__ADS_1


Dia tau saat ini kondisi Aura sedang terguncang, gadis muda itu harus dia tenangkan agar tak jadi gila nantinya.


__ADS_2