Ghost Of Death

Ghost Of Death
Peti Kurungan


__ADS_3

Aura menghentikan laju sepeda motornya di trotoar pinggir jalan, dia tak dapat menahan tangisnya lagi.


Dia melepas helmnya, dia ingin menangis sepuas hatinya malam itu. Karena dia tak akan menangis lagi setelah hari itu. Dia akan melupakan Raga, itu tekatnya.


Dia akan menghapus Raga dari benak dan perasaannya. Sebesar apa pun cinta Aura pada Raga, itu tak akan merubah kenyataan. Kenyataan jika Raga adalah orang yang telah membunuh ayah Aura.


Aura tak bisa menanggung rasa bersalah seumur hidupnya dengan melupakan kenyataan itu dan tetap bersama dengan Raga.


Dia masih ingat betul bagaimana kondisi mayat ayahnya saat ditemukan. Meski Aura hanya melihat fotonya saat ikut menyelidiki pembunuh Bulan Biru di TV. Tapi Aura bisa merasakan rasa sakit yang diderita oleh ayahnya, saat dibunuh oleh calon mantu yang dia idam-idamkan selama ini.


.


.


Siangnya Aura menerima alamat yang Raga kirim melalui nomor tak dikenal. Gadis yang masih meringkuk diranjang tidurnya itu hanya terdiam saat melihat alamat itu.


Alamat itu tak asing  baginya. Sebuah rumah di perumahan Sinta yang sudah membunuh putri kandungnya sendiri.


"Jadi Raga disana bukan karena mengikutiku?


"Dia sangat pandai berbohong," desah Aura.


Matanya yang sembab kini berkaca-kaca lagi.


"Gue harus kuat, gue nggak boleh menangis lagi!" ucap Aura sambil mengelus perutnya yang mulai kram lagi.


"Gue tak boleh sedih, gue harus kuat.


"Demi keluarga gue!" Aura mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Sahabat dan juga kekasihnya yang selalu ada untuknya telah meninggalkannya. Satu-satunya cara agar dia bisa hidup adalah dengan menyibukkan diri.


Aura langsung bergegas ke kamar mandi untuk memebersihkan diri. Dia harus segera membebaskan arwah ayahnya.


Setelah selesai mandi dan bersiap Aura mencari tas ransel yang berisi benda-benda keramat milik leluhurnya. Karena dia akan menghadapi roh jahat yang dibunuh oleh Raga, roh-roh itu pasti sangat ganas dan sulit untuk dikalahkan.


"Kamu mau kemana?" tanya Detektif Senki pada Aura, yang sudah bersiap untuk pergi.


Detektif itu diberi perintah untuk menjaga Aura.


"Aku harus membebaskan roh ayahku, Raga bilang dia mengurung roh orang-orang yang dia bunuh di suatu tempat!" jelas Aura.


"Dimana?" tanya Detektif Senki.


"Ini sangat bahaya Pak bagi manusia biasa. Sebaiknya bapak nggak usah ikuti saya !" kata Aura.


"Aura kau sedang dalam bahaya, Raga mungkin bisa membunuhmu!


"Jika bukan Raga maka pamanya, yang mengincar nyawamu!" kata Detektif Senki


"Aku janji aku akan  baik-baik saja, Pak!" elak Aura.


"Jangan menghalangiku, aku ini aparatur Negara!


"Kau tak bisa melanggar dan menolak keamanan dariku!" ujar Detektif Senki.


Akhirnya gadis tomboy itu menundukkan kepalanya tanda ia setuju, Detektif Senki akan mendampingi Aura kemana pun Aura akan pergi.


.

__ADS_1


.


Aura dan Detektif Senki telah tiba di sebuah gudang yang amat suram dan terlihat sangat angker.


"Kenapa aku merinding?" tanya Detektif Senki.


"Karena ada banyak arwah yang berkumpul di sini!" kata Aura.


"Arwah korban Raga?" tanya Detektif Senki.


"Entahlah, jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang pernah kusangka!" kata Aura.


"Bukalah!" sebuah suara tiba-tiba mendengung di telinga Aura.


Dia langsung menoleh ke samping tubuhnya sendiri. Betul saja disampingnya sudah berdiri Hantu Ibu Mawar.


"Itu semua adalah korban-korban yang dibunuh oleh orang-orang yang dibunuh oleh pembunuh Bulan Biru!" kata Hantu Ibu Mawar.


Aura hanya bisa diam, karena fakta itu. Raga memang hanya membunuh orang-orang yang jahat, tapi kebenaran tentang Raga telah membunuh ayahnya. Tentu saja tak bisa dilupakan oleh Aura.


Gadis itu tak akan bisa hidup bersama dengan lelaki yang telah membunuh ayahnya.


"Pak Senki tunggu saya disini saja, saya akan masuk dan akan segera keluar!" ucap Aura


Gadis itu berjalan santai melewati para arwah-arwah yang dalam kondisi yang mengenaskan. Hati Aura seakan mau membenarkan tindakan suaminya itu, tapi dia masih mengingat bagaimana ke adaan ayahnya saat mengembuskan nafas terakhirnya.


Bagaimana Aura bisa memeluk orang yang membuatnya melihat hal yang mengerikan seperti itu. Tanpa kendala Aura sampai di bibir pintu tempat itu, dan dia berbalik ke arah arwah-arwah yang demo di tempat itu.


"Aku akan membebaskan arwah orang yang telah membunuh kalian!" kata Aura.


"Keluarkan Karis duluan, aku sudah tak sabar menginjak-injak kepalanya!" kata salah satu hantu korban Karis Paseha.


"Tau!" kata hantu itu.


"Elu benar-benar?!" ujar Aura tak percaya.


"Kami bahkan melihat bagaimana Karis disiksa dua orang itu!" kata hantu gadis lain.


"Wahhhhh kalian!!!" Aura tak habis pikir, hantu yang dia pikir tak bisa berbohong ternyata bisa berbohong juga.


Aura kembali berbalik dan membuka pintu gudang itu, Aura mengedarkan pandangannya dan melihat seorang arwah yang tampak dia kenal.


Pria gondrong dengan tubuh telanjang bulat tengah meringkuk ketakutan di salah satu pojokan bangunan itu.


"Siapa kamu?" tanya Aura, setelah mendekati sudut gudang tersebut.


"Jangggggannnn sakitiiiii aku Utariiii!


"Aku mohoooon!!!" kata hantu itu.


"Kak Arjuna!" ujar Aura.


"Kau siapa?" tanya hantu tanpa bola mata itu.


"Astaga, kemana matamu?" teriak Aura, karena kaget.


"Disini!" kata Arjuna, di mengenggam kedua bola matanya.


"Mereka keterlaluan sekali!" kata Aura.

__ADS_1


Dia mengambil kedua bola mata Arjuna dan memasangkan benda itu ke kelopak mata Arjuna yang bolong.


"Kau Aura-kan???


"Teman Utari, trimakasih Aura!" Hantu Arjuna bersujut ke arah Aura dengan sangat semangat.


"Jangan banyak gerak, matamu bisa lepas lagi nanti!" kata Aura.


"Baik!" kata Arjuna yang memegangi kelopak matanya dengan kedua tangannya.


Aura pun pergi meninggalkan hantu Arjuna, dia harus mencari tempat yang buat Raga untuk mengunci arwah-arwah itu.


Aura menemukan sebuah peti dari semen dan dia melihat beberapa tangan yang keluar dari sana. Peti itu di tunggu oleh sosok bayangan hitam yang berpenampilan seperti malaikat pencabut nyawa.


"Misi, Pak!!!" ucap Aura dengan nada yang sopan.


Aura masih memperhatikan rambut coklat kemerahan yang menyembul dari balik tudung bayangan merah itu.


Tapi pandangan manik Aura segera berpindah ke arah peti semen itu. Dia seperti pernah melihat hal ini.


"Bukannya ini gambar karya seni yang di berikan oleh mendiang Pak Imanuel pada gue!" ujar Aura.


"Ternyata, mendiang Pak Imanuel ngasih kode keras ke gue!" kata Aura.


Aura mengelus gembok dan akan dia buka kuncinya.


"Aura!" panggil sang bayangan hitam di depan Aura.


Dua mahluk beda alam itu saling berhadapan hanya peti semen itu yang membuat mereka terpisah.


Bayangan hitam itu membuka tudung hitamnya, tapi wajah yang ternyata wanita itu masih tertutup rambut coklat kemerahanya.


"Maafkan aku!" katanya.


"Siapa kamu??? Emang kamu salah apa ke gue?" tanya Aura pada bayangan hitam itu.


Wajah hantu bayangan hitam itu mendongak, dan Aura langsung mengenali hantu itu.


"Nawang Ratih!" kata Aura.


"Maaf, karena aku sudah punya keinginan untuk membunuhmu.


"Maaf mendorongmu ke sungai besar itu.


"Membuatmu terkurung di gudang sekolah...!" jelas Hantu Nawang Ratih dengan nada terisak.


"Jangan begitu, aku tak papa. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang!" ujar Aura.


Dia sudah berdiri di depan Hantu Nawang Ratih dan mengusap air mata hantu sahabatnya itu dengan kedua tangannya.


"Apa Raga baik-baik saja???" tanya Nawang Ratih.


"Kau bahkan masih menyukainya, setelah dia membunuhmu?" tanya Aura.


"Aku pantas menerimanya, aku jahat pada sahabatku sendiri!" kata Nawang Ratih.


_________BERSAMBUNG________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2