Ghost Of Death

Ghost Of Death
Tim Alpa


__ADS_3

Di sebuah rumah yang mewah. Rumah berdesain klasik Eropa, dengan lampu-lampu kristal yang indah menghiasi setiap atap ruangan rumah mewah itu. Warna putih dan emas mendominasi di setiap sudutnya. Setiap ruangan mempunyai furnitur berharga mencekik leher rakyat jelata itu tampak lapang dan tenang.


Di tempat seluas itu, sebuah keluarga yang hanya terdiri dari suami dan istri sedang malangsungkan makan malam bersama. Mereka tampak menikmati makanan mereka di meja makan yang begitu panjang.


Mereka duduk berdampingan di meja makan panjang itu, di hadapan mereka sudah tersedia berbagai menu makanan.


Meski rumah mereka bergaya Eropa klasik, tapi makanan yang ada di hadapan mereka saat ini jauh dari kata klasik.


Rendang, opor, semur, sambal ati dan beberapa osengan sayuran hijau tak lupa sambal trasi dan segala ragam lalapannya.


"Karis Paseha, apa itu ulah Tim Alpa?" tanya sang istri tanpa melihat ke arah wajah suaminya.


Wanita paruh baya yang mempunyai tahi lalat mungil di dagunya itu masih melahap makanan didepannya dengan tenang. Seakan kini dia tengah membicarakan hal sepele bersama suaminya. Padahal topik penyiksaan Karis Paseha untuk hari-hari ini tak bisa dibuat lelucon keluarga.


"Kenapa kau langsung menuduh seperti itu?" tanya sang suami. Dia tampaknya juga malas melihat wajah istrinya yang sedang menemani makan malamnya.


"Siapa lagi yang berani melakukan itu, jika bukan Tim Alpa!" kata sang istri.


Kini wajah cantiknya memandang tajam kearah suaminya yang masih sibuk makan.


"Mentri Pertahanan, tolong bubarkan Tim Alpa!" kata sang istri dengan nada yang tegas.


"Sekertaris Presiden, apakah ini adalah perintah Presiden?" tanya sang suami.


"Apa menurut anda, anda masih bisa duduk santai di sini jika Presiden tau tentang Tim Alpa?" sang istri masih saja mengunakan nada formal untuk bicara pada suaminya.


"Kau cukup romantis istriku, kau pasti menyembunyikanya karena kau tak mau kehilangan suami sepertiku kan?" tanya sang suami, kini wajah kaku itu tersenyum jenaka.


"Tepatnya untuk putra-putra kita!


"Penculikan dan penyiksaan Karis Paseha sudah menjadi tragedi bangsa, banyak Negara yang sudah mulai mencemooh sistem hukum di Negara kita." ujar sang istri.


"Akan kumusnahkan mereka, aku tak mau mereka menjadi penghalangku untuk maju di pemilu mendatang!" sang suami kini mengelus pungung istrinya agar wanita yang duduk di sampingnya itu tenang.


Tok tok tok tok


Mereka langsung terdiam membisu, karena seorang pelayan pasti akan masuk ke dalam ruang makan yang megah itu.


"Tuan muda sudah pulang tuan-nyonya." kata pelayan yang baru saja masuk ruang makan itu


"Suruh dia makan dulu, Bu Nani!" kata nyonya rumah itu.

__ADS_1


Pelayan yang dipanggil Bu Nani itu pun kembali keluar dari dalam ruangan makan itu.


"Kau harus pastikan semua bersih, jangan ada yang tersisa. Jika semua orang tau Karis Paseha dibunuh oleh Aliansi yang dibentuk oleh Negara.


"Negara kita pasti akan dicap Negara berfaham Komunis!" ucap sang istri.


"Kau tak perlu takut, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tersisa. Kami akan membunuh mereka semua secepatnya!" kata sang suami dengan senyum manis pada sang istri.


Tok tok tok tok


Suara ketukan membuat mereka terdiam kembali, karena putra mereka akan segera bergabung dengan mereka.


Sang istri berdiri untuk menyambut kedatangan putra bungsunya itu, wajahnya kini berseri-seri karena melihat ketampanan wajah putranya.


"Morgan sayang, mama kangen banget sama kamu, Nak!" kata nyonya rumah itu.


Ini adalah kediaman Morgan Wiliam Harsono, dan kedua suami-istri yang sedang makan ini adalah kedua orang tua kandung Morgan.


"Tumben kalian ada di rumah, bisa barengan begini. Apa ini hari istimewa?" tanya Morgan dengan antusias.


Kedua orang tuanya adalah orang tua yang paling sibuk di dunia, melihat kedua suami istri itu makan bersama seperti memenangkan judi togel. Sangat sulit.


"Nggak Nak, masa sih mama sama papa kalau mau makan bersama harus nunggu hari sepesial dulu!" mama Morgan, berceletuk dengan nada melucu.


Pria berbadan tegap itu segera bergabung dengan kedua orang tuanya itu. Karena dia juga kelaparan, karena mengejar penculik Karis Paseha seharian sampai membuatnya lupa makan.


"Hari ini melelahkan sekali!" desah Morgan.


"Penculik itu teliti sekali, kami sama sekali tak bisa mendapat petunjuk apa pun!


"Seperti mencari jarum di tumpukan jerami." lanjut Morgan.


"Bagaimana keaslian vidio dan pernyataan Karis, apa susah di periksa?" tanya Ayah Morgan.


"Sudah Yah, semua asli. Kami bahkan membawa paranormal untuk berkomunikasi dengan hantu-hantu korban Karis!" jelas Morgan.


"Bukankah itu melangar hukum, dan percuma saja pengakuan mahluk astral tak bisa dijadikan bukti!" kata Mama Morgan.


"Tim kita sudah kehabisan cara, tak ada jejak apa pun yang ditinggalkan pelaku!" Morgan yang awalnya kelaparan jadi tak ***** makan karena bahasan itu. Jadi dia hanya makan sedikit.


"Kalau makan dihabiskan, mubazir!" gerutu Mama Morgan.

__ADS_1


Tiba-tiba ***** makan Morgan kembali saat mamanya bilang begitu.


"Sudah lama nggak diomelin mama, tapi masih berasa serem yaaakkkk Pa?" kata Morgan.


Keluarga itu tertawa bersama karena celotehan Morgan.


Morgan mempunyai satu kakak lelaki tapi karena kakak Morgan sudah menikah dan menjadi angota DPR, kakak beserta keluarga kecilnya pindah dari rumah mewah tersebut.


.


.


.


.


Dini hari itu Aura terbangun karena mimpi buruk, dia pasti akan mimpi buruk jika bertemu banyak hantu. Energi di tubuhnya seakan terhisap oleh mereka, kini tubuhnya lemas dan di dalam kosannya tak ada satu orang pun yang bisa dia mintai tolong.


Aura berusaha bangun dari ranjangnya, dia berjalan perlahan ke arah dapur dan dia tampak kaget dengan penampakan hantu Ibu Mawar yang sudah duduk santai di kursi ruang tamu.


"Kau terbangun?" tanya Hantu Ibu Mawar.


"Mimpi buruk!" gumam Aura.


"Mimpi apa?" tanya Hantu Ibu Mawar.


"Adaaaa." dijelaskan juga pasti Hantu Ibu Mawar tak akan faham.


Aura merebus air untuk membuat teh, tak lupa dia juga membuatkan untuk Hantu Ibu Mawar, hantu bisa memakan apa pun yang diberikan manusia untuknya.


Setelah memberikan secangkir teh untuk Hantu Ibu Mawar dan memutar channel berita sesuai permintaan Hantu ibu-ibu itu, Aura berjalan ke arah jendela.


Dia membuka tirainya, dari jendelanya dia bisa melihat Raga baru saja memasukkan motornya ke dalam kosan.


"Darimana anak itu jam segini?" tanya Aura curiga, karena hari ini belum subuh. Jarum jam paling panjang di dinding ruangan itu masih menunjuk angka 4.


Gadis yang sudah dikuasai rasa marah itu pun berjalan ke depan pintu, dia keluar dari kamarnya dan menunggui Raga di depan pintu kamarnya.


Lima menit telah berlalu, tapi Raga tak kunjung muncul. Langkah kaki Aura segera melangkah cepat menuju garasi di bawah.


Kini tubuh mungil Aura sudah berada di dekat montor Raga, dia dengan agak takut mencoba memerikasa temperatur kenalpot di motor Raga.

__ADS_1


Bukannya rasa panas yang membakar yang dirasakan telapak tangan Aura, kenalpot motor Raga dingin. Tapi dengan jelas Aura melihat Raga baru saja kembali entah dari mana dengan motornya.


__ADS_2