
Raga hanya memperhatikan adik dan kekasihnya yang tengah masak bersama, dua perempuan yang sangat penting di kehidupan Raga itu sepertinya sangat akrab sekali.
Apa aku bisa punya keluarga seperti manusia normal???Raga.
Tapi sepertinya hal itu akan sulit untuk Raga wujutkan, jika Aura tau dia adalah pembunuh berantai pasti Aura akan mencampakannya. Dan jika aliansi tau dia begitu sangat mencintai Aura, maka hidup gadis itu akan dalam bahaya. Tapi Raga juga tak punya kekuatan untuk pergi dari hidup Aura.
Untuk sementara Raga bisa mengunakan kematian ayah Aura untuk bisa selalu dekat dengan gadis itu, tapi dia juga tak tau akan sampai kapan alasan itu bisa berguna.
Apakah isi novel ini hanya memutar adegan ini selamanya, karena aku hanya ingin berada di suasana bahagia ini selamanya.Raga.
Sesekali Aura memandang ke arah Raga dengan senyuman manisnya, dan kadang-kadang Utari juga memandang Raga dengan ekspresi aneh karena bingung dengan kelakuan Aura yang sangat perhatian pada Raga.
Bagaimana pun Aura dan Utari telah bersahabat selama 3 tahun, dan Utari juga menyukai kepribadian Aura yang tak suka kepo dengan kehidupan pribadinya yang memang harus tertutup.
Saat semua orang menganggap Utari gadis murahan yang mau dengan sembarang pria, Aura sama sekali tak peduli dengan hal itu. Aura menganggap Utari sama sepertinya tidak lebih rendah atau pun lebih tinggi darinya. Hal itulah yang membuat Utari mau melindungi Aura untuk Raga.
Setelah hampir 2 jam dua perempuan yang bersahabat itu akhirnya berhasil menghidangkan masakan mereka.
"Sebaiknya kita pesan antar aja dech" desah Utari, dia sangat jijik dengan visual hasil masakannya sendiri.
"Kenapa, ini enak kok!" ujar Aura.
"Lumayan!" kata Raga yang baru saja melahap ikan pepes yang hancur.
"Ngomong-ngomong elu pernah makan, masakan sunda?" tanya Utari pada Raga.
"Belum" jawab Raga, tapi sepertinya lidahnya sangat cocok dengan rasa masakan yang dibuat oleh Aura dan Utari.
"Kasian banget sih elu!" desah Utari, kini wajahnya hanya melihat ke arah Raga dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Kedua orang tua Raga itu tinggal di luar negri, jadi dia jarang makan makanan rumahan!" jelas Aura.
"Begitu ya?" Utari menaggapi penjelasan Aura dengan wajah kaget yang dia buat-buat.
Ibu kedua kembaran itu meninggal saat melahirkan mereka, sedang ayah mereka mendekam di penjara karena khasus pembunuhan Bintang Perak. Utari dan Raga memang dipisah sejak kecil, Raga di asuh oleh keluarga Imanuel di Roma dan Utari diasuh oleh keluarga ibunya di bandung.
Di Usia 15 tahun saat mereka berdua menunjukkan gen psychopath mereka, Utari dan Raga dipertemukan dan menjalani banyak tes di Kemiliteran Negara.
Raga tidak lolos tes untuk masuk pasukan saat itu, sementara Utari bisa masuk. Alhasil Raga kembali ke masyarakat sampai dia membunuh Nawang Ratih dengan kedua tangannya sendiri.
"Gue akan sering-sering kesini buat masakin elu dech!" kata Utari tulus.
Semenjak dia dilahirkan baru sekarang dia bisa makan bersama dengan kakak kandungnya itu.
"Enggak perlu, gue bisa pesan di restoran sunda. Lagian pasti lebih enak!" kata Raga tanpa perasaan.
"Masakin buat gue aja!" Aura segera menyahut perkataan tak beradapnya Raga, Aura tak mau Utari sedih karena ucapan Raga yang kasar itu. Meski dia sempat cemburu saat Utari mau menunjukkan perhatiannya pada Raga.
"Ok!" jawab Utari, mereka bertiga pun melanjutkan acara makan bersama mereka.
Penjara kelas satu yang amat suram yang hanya dihuni oleh penjahat-penjahat dengan titel kejahatan yang mengerikan. Bangunan luas yang dijaga sangat ketat itu menjadi momok yang menakutkan untuk setiap tahanan yang baru saja masuk ke dalam bangunan itu.
Bangunan yang dihuni oleh sebagian besar pembunuh, Mafia kelas kakap, dan gembong-gembong narkoba yang memiliki list kejahatan tak bermoral. Semua monster-monster itu berkumpul di satu tempat ini dan bertahan untuk hidup menuju kematian mereka.
Vonis hukuman seumur hidup dan mati sudah disandang oleh para tahanan di sini, kematian bagi mereka adalah kepastian. Jadi kekerasan antara tahanan di penjara ini sama sekali tak dihiraukan oleh para Sipir, para Sipir juga takut terluka jika ikut campur dengan perkelahian para monster gila di penjara itu.
Sore itu para tahanan di penjara kelas satu itu sedang makan malam. Sebuah ruangan yang cukup besar itu semua tahanan berkumpul untuk mengambil jatah makan mereka.
Para tahanan akan bergerombol sesuai dengan rombongan yang mereka bentuk untuk bertahan hidup di lingkungan mengerikan itu. Tapi lain halnya dengan Dokter Abraham yang tampaknya sangat santai kemana pun tanpa dikawal oleh tahanan lain.
__ADS_1
Dia selalu sendiri, meski sekarang ada Imanuel yang baru di vonis mati di hari yang sama dengannya masuk ke penjara. Dokter Abraham tetap suka makan sendiri dengan tenang dan berkelas.
"Lihat jika kau masuk ke sini setelah membunuh banyak manusia kau akan tetap menjadi raja!" kata salah seorang Bos Mafia di ruangan itu.
Bos Mafia yang dikerumuni banyak anak buah itu pun berani berkoar begitu karena dia merasa bisa mengalahkan Dokter Abraham, dengan banyaknya anak buah yang mendukungnya di penjara ini.
"Harusnya dulu aku membunuh banyak manusia saja, paling tidak di akhir hidupku aku bisa dipuja di penjara ini!" lagi-lagi Bos Mafia itu berkoar, tanpa peduli sekitar.
Dokter Abraham tentu saja mendengar celotehan Bos Mafia itu, tapi dia sama sekali tak tergerak dengan ujaran yang pastinya mengarah padanya itu.
Tapi mata Dokter Abraham itu segera mengarah ke arah Imanuel yang baru saja masuk dan menuju antrian untuk mengambil jatah makanannya.
Tahanan lain tiba-tiba minggir dan memberi ruang untuk Imanuel supaya pria paruh baya itu cepat mendapat jatah makanannya.
Entah kenapa Dokter Abraham tersenyum menyeringai setelah melihat perlakuan istimewa tahanan lain yang biasa hanya di dapat oleh Dokter Abraham di penjara itu.
Setelah mendapat jatah makanannya Imanuel duduk sendiri tak jauh dari meja Dokter Abraham. Imanuel memang tak pernah mendekat pada Dokter Abraham selama dia di penjara itu, tapi Dokter Abraham yang selalu menghampirinya untuk sedikit mengobrol tentang kedua anak kembarnya.
Kali ini Dokter Abraham berdiri sambil membawa nampan makanannya, dia duduk di sebelah Imanuel. Semua mata beringas di ruangan itu pun tertuju pada dua pembunuh berantai itu.
"Kau akan mati juga nanti, bagaimana jika kau mati hari ini?" bisik Dokter Abraham di telinga Imanuel.
Imanuel tak sempat menjawab kata-kata bisikan yang membuatnya kaget itu. Dia sudah menahan sakit di ulu hatinya, karena sebuah garpu sudah bersarang di dadanya saat ini.
Dokter Abraham mencabut lagi garpu itu dan tusukan alat makan itu sekali lagi mendarat di leher Imanuel.
Tak berhenti di situ Dokter Abraham kembali meraih sendok lain di nampan Imanuel yang sudah berantakan. Berkali-kali garpu milik Imanuel dia tancapkan ke arah dada dan perut Imanuel.
"Ini adalah hukuman, karena kau mengusik anak-anak ku!" bisik Dokter Abraham lagi di telinga Imanuel yang sudah sekarat.
__ADS_1
Semua mata beringas yang suka kekerasan di ruangan itu pun hanya mendelik ngeri saat menyaksikan monster yang sebenarnya beraksi.
Seorang manusia yang bisa membedah tubuh manusia lain hanya dengan sebilah garpu makan.