Ghost Of Death

Ghost Of Death
Pesan Darurat


__ADS_3

Apa dia salah lihat???


Aura memandangi sekitarnya, tak ada yang aneh. Mungkin benar, Aura salah lihat. Dia baru saja mimpi buruk, dan keadaan tubuhnya kini belum benar-benar di kondisi yang bagus.


Gadis manis itu kembali kekamarnya, tapi Hantu Ibu Mawar sudah lenyap bahkan tanpa meminum teh yang sudah dia buatkan.


"Kenapa dia pergi buru-buru sekali?" desah Aura.


Gadis itu segera memungut gelas dengan teh yang masih penuh itu, dia meletakkan gelas itu ke dalam wastafel tempat cuci piring.


.


.


Ternyata apa yang dilihat Aura tentang Raga yang baru pulang ketika dini hari adalah benar.


Saat Raga baru sampai di halaman kosan dia mematikan mesin motornya lalu melepas helmnya. Pandangan matanya langsung melihat ke arah jendela kamar Aura, dia terkejut karena tirai jendela itu terbuka, itu artinya gadis yang dia cintai terbangun dari tidurnya.


Raga agak panik tapi dia yang selalu bisa mengendalikan diri segera berfikir.


Seember air menjadi solusi, Sebelum memasukkan motornya ke garasi Raga menyiram kenalpot motornya dengan seember air yang berada di depan garasi. Ember itu biasa berfungsi untuk mencuci kendaraan warga kosan.


Mungkin nasib baik masih berpihak padanya, entah kenapa ember yang biasanya tersimpan di dalam garasi itu bisa ada di luar dalam ke adaan terisi penuh air yang dingin.


Raga masuk kekamarnya tak lewat pintu depan dia memanjat dinding samping bangunan kosan dengan bantuan pagar skat pekarangan.


Dengan lincahnya tubuh ramping itu memanjat pagar sekat yang menjulang kurang lebih setinggi dua meter itu. Lalu Raga dengan mudah sudah bisa mengapai jendela di kamarnya tanpa membuat suara gaduh.


Setelah berhasil memasuki kamarnya, Raga segera melepas pakaian serba hitamnya dan berganti pakaian yang nyaman untuk tidur.


Tubuh yang terlihat kurus milik Raga ternyata penuh dengan otot dan bekas luka di mana-mana. Hal itu menandakan betapa beratnya misi yang dia emban selama menjadi angota Tim Alpa kelompok 4.


.


Malam tadi Raga tak punya rencana untuk pergi keluar, tapi sebuah pesan darurat di kirim oleh salah satu mantan angota Tim Alpa padanya. Orang itu memberi tahu Raga untuk bertemu di suatu tempat, dan orang itu juga mempunyai kabar penting untuk Raga.


Benar orang itu punya kabar penting, dan kabar mengejutkan itu membuat Raga bingung.


Karena jika kabar itu benar, dia dan Utari adiknya akan menjadi musuh Negara untuk selamanya.


.


.


.

__ADS_1


.


"Raaaa, udah siap belum?" tanya Raga, dia memasang wajah termanisnya untuk menyambut kekasihnya itu di depan pintu kamarnya.


Tak lama gadis itu muncul, tapi wajah manis itu segera berubah kaget.


"Apa yang elu pake?" tanya Raga pada Aura.


"Dress." kata Aura, gadis itu tampak tak nyaman dengan dress brukat ungu muda yang dia pakai.


"Bukankah itu terlalu pendek?" tanya Raga, panjang rok mengembang itu hanya sejengkal di atas dengkul mulus Aura.


"Ini normal kok!" kata Aura.


"Kayaknya gue harus beli mobil sekarang?" tanya Raga.


"Kenapa, emang kamu punya uang?" tanya Aura, mereka berjalan menyusuri lorong menuju tangga untuk turun ke bawah.


"Mana mungkin gue bonceng elu pake motor, saat elu pake rok sependek itu." kata Raga, dia berusaha tak menyingung perasaan Aura.


Bagaimana pun Aura adalah wanita, dia pasti juga ingin tampil feminim.


"Ya udah gue ganti!" kata Aura. Gadis itu segera berbalik haluan menuju kamarnya lagi.


"Lain kali kalau mau pake dress, setelah gue bisa beli mobil!" teriak Raga.


Sebenarnya Aura masih memikirkan kejadian pagi tadi, bagaimana jika apa yang dia lihat benar. Mingkin Raga menemui wanita lain karena dia kurang cantik dan selalu kasar pada Raga.


Aura sangat takut kehilangan Raga, dia tak mau jauh dari pelukan lelaki itu kini. Jika ingin jujur, sejak dari dulu Aura tak mau melepas Raga. Tapi dulu rasa bersalah yang Aura pendam untuk Nawang Ratih masih mampu menjadi benteng pembatas egonya.


Entah kenapa kini, perasaan Aura pada Raga menguat dengan cepat, sudah sedari dulu memang sudah kuat mungkin. Jadi Aura berniat untuk belajar dandan agar telihat lebih cantik di depan Raga.


.


.


.


.


Detektif Senki, Morgan dan Leo tampak tertidur di meja kerja masing-masing.


Malam tadi mereka hanya pulang sebentar dan kembali berkerja lagi. Tubuh tiga pria yang terkulai tak beraturan di kursi kerja mereka tersentak saat seseorang membuka pintu ruangan kerja mereka.


"Ada kabar baru dari penculik Karis Paseha!" kata orang itu, lalu pergi.

__ADS_1


Tiga lelaki yang masih berada di alam mimpi mereka segera mengeliat merenggangkan otot-otot mereka. Tapi Detektif Senki langsung berlari keluar dari ruangan, dia segera pergi ke meja kerja orang yang tadi membuka pintu ruangannya tanpa ijin.


"Kabar apaan?" tanya Detektif Senki di tepat di sebelah muka lelaki paruh baya yang sedang duduk di depan komputer yang menyala.


"Astaga, mulutmu bau sapiteng Pak!" kata pria itu.


"Cepet!" paksa Detektif Senki.


Dengan jari tengah dan telunjuk memencet hidung, pria paruh baya itu memutar vidio di dalam labtopnya.


Vidio dimulai dengan rekaman Tim Forensik di Vila Paseha. Vidio yang terlihat hanya di rekam dari satu arah itu mengeluarkan suara yang diubah lagi.


"Detektif Senki Kimoka, jika kau berhasil menjawab pertanyaanku. Akan kubebaskan Karis Paseha."


Detektif Senki hanya terdiam kaku saat mendengar perkataan tantangan tersebut, kenapa harus dia.


"Bukankah ibumu dulu juga dibunuh oleh pembunuh berantai.


"Aku adalah Bulan Biru, yang membunuh orang-orang yang jahat!


"Tapi apa kau tau, jika aku membunuh orang-orang jahat itu bukan karena aku cinta kebaikan.


"Aku terinspirasi dengan sesuatu, apa kau bisa menebak apa inspirasi yang mendasari pembunuhan yang kulakukan?!


"Jika kau bisa menebaknya akan kubebaskan Karis Paseha!"


Suara pria itu hilang dan vidio berubah kedalam kamar penyiksaan Karis, di sana Karis sedang menerima perawatan yang layak untuk luka-lukanya.


"Biadap, apa yang ingin coba dia lakukan....Keparat!" teriak Detektif Senki.


"Ada apa Detektif?" tanya Leo yang baru saja dari kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.


"Penculik Karis Paseha adalah Bulan Biru, dia menantangku!" kata Detektif Senki geram.


"Dia menantangku dengan mengunggah vidio, keparat itu tak mau aku menolaknya. Jika aku menolak tantangannya, itu artinya kepolisian mengabaikan nyawa manusia.


"Jika aku melakukannya, aku takut kejadian tiga tahun silam akan terulang!" kata Detektif Senki.


Semua orang diruangan itu terdiam, siapa yang tak tau tentang pembunuhan ibunda Detektif Senki.


"Bagaimana menurut kalian? Yang kita hadapai saat ini adalah monster yang lebih kejam dari Dokter Abraham!" kata Detektif Senki.


Para angota Tim yang berada di ruangan itu hanya bisa saling memandang. Resikonya cukup besar untuk ditanggung.


"Ayo kita lakukan!" kata Morgan tanpa keraguan.

__ADS_1


...Jangan lupa Vote, Komen, dan Like ya...


❤❤❤❤❤


__ADS_2