
"Ceritakan semua bagaimana kau membunuh ke 7 korbanmu." kata Raga dengan kamera yang menyala di tangan kirinya. Kamera itu hanya dia arahkan ke Karis tentunya.
Wajah pucat Karis masih bisa menyeringai ke arah Raga, dia masih belum jera dan menyerah.
Penjahat mempunyai daya tahan yang kuat, ketika mereka terjatuh mereka akan cepat bangkit dan saat bangkit mereka akan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Itu adalah ciri-ciri manusia dengan gen monster.
Jika penjahat tertangkap dan di penjara. Hanya sebagian kecil dari penjahat itu yang berubah menjadi baik setelah keluar dari penjara. Sebagian dari mereka bahkan cenderung melakukan kejahatan yang lebih keji.
Bagi monster penjara hanyalah tempat istirahat, saat keluar tabiat jahat mereka tak akan berubah.
Raga mengambil sebuah cambuk dari atas meja dorongnya. Tanpa pikir panjang cambuk itu segera melayang mengenai dada bidang Karis.
Plasssssssss
"Akkkssssssssss, keparat kau!" teriak Karis.
"Bagaimana kalau ku cambuk sampai kulitmu mengelupas seperti korban kelima mu?" tanya Raga.
Lelaki muda itu dengan tanpa ekspresi memyabetkan cambuk itu berkali-kali ke arah yang sama, yaitu dada bidang Karis.
Kulit dada Karis Paseha yang putih mulus kini sudah mulai mengeluarkan darah segar.
"Akan ku ceritakannnn!" kata Karis.
Wajah tampannya menegang-mengeras dan berkali-kali mendesis karena menahan sakit. Baru serkitar dua jam di diculik oleh Raga, tapi penampakannya kini sudah tak seperti manusia lagi.
Saat ini Raga hanya mengikat kedua tangan Karis kebelakang dan kedua kaki Karis masing-masing dia ikat di kaki kursi kayu itu.
Dengan kamera yang masih menyala Raga merekam semua yang dia lalukan pada Karis.
"Dari korban pertama mu, siapa namanya?" tanya Raga.
"Itu sekitar empat tahun yang lalu, dia adalah salah satu pengemarku. Namanya Farida Adelia." kata Karis, wajahnya yang dingin itu mulai sedikit sedih.
"Awalnya aku benar-benar jatuh cinta dengan gadis SMU itu. Dia gadis yang manis dan juga pintar, karena saat itu aku masih menjadi bagian dari Panamex aku tak bisa mengumumkan hubungan kami ke publik.
"Dia mulai mengancamku karena dia hamil benih dariku, dia ingin aku menikahinya secepatnya. Tapi aku tak bisa!
"Sampai pada suatu hari saat aku di Indonesia gadis itu datang padaku dan mengancamku lagi.
"Dia merekam persetubuhan kami malam itu, Dia mengancamku ingin menyebarkan vidio itu ke internet. Lalu kami berkelahi di kamarku, tanpa sengaja aku membunuhnya.
"Aku tak menyiksanya, Farida mati karena kepalanya terbentur meja saat aku tak sengaja mendorongnya!" ungkap Karis.
"Lalu kau kubur di mana mayat gadis itu?" tanya Raga dengan kamera masih menyorot wajah Karis yang memucat karena menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Di tanah kosong di belakang apartemen ku yang dulu!" jawabnya.
"Kita istirahat dulu!" kata Raga, dia sudah mematikan kameranya.
"Bunuh aku sekarang saja!" pinta Karis.
"Aku akan membunuhmu setelah kau cerita semua tentang korban-korbanmu!" kata Raga.
.
.
.
.
"Daebakkkk! Karis Paseha diculik!" kata Utari.
Gadis itu segera mengeraskan volume ponselnya yang menayangkan berita penculikan Karis Paseha di sebuah parkiran sebuah Hotel.
Semua mahasiswa di kelas itu pun menoleh ke arah meja Utari.
"Benarkah?!" tanya Megan salah satu penghuni kelas yang sama dengan Aura, dia cewek dengan tampang seperti pria dan juga sangat tomboy lebih tomboy dari Aura.
"Tidak mungkin!" sahut Sandi.
"Kok bisa ya, bukankah Karis selalu membawa bodyguard kemana pun dia pergi." kata Aura.
"Buktinya udah masuk berita." ujar Utari dengan senyuman yang indah.
Pasalnya rekaman CCTV tempat parkir, di mana penculikan Karis Paseha beraksi ditayangkan juga. Utari langsung tau itu Raga hanya dengan melihat gerakan beladiri yang dilakukan oleh saudara kembarnya itu.
Aura yang sangat penasaran langsung mencari siaran itu di ponselnya. Dengan cermat Aura memandangi rekaman vidio aksi penculik Karis yang disiarkan di TV.
"Gerakannya kayak gue kenal!" desah Aura.
"Hehhhhh, benarkah?!" tanya Utari.
Gadis Sunda itu langsung bangun dari tempat duduknya dan mendekat ke arah tempat duduknya Aura, karena dia khawatir bagaimana jika Aura langsung bisa mengenali Raga dari gerakan bela dirinya.
"Gerakannya mirip dengan Raga, tapi lebih pro!" kata Aura.
"Lagian buat apa Raga menculik Karis, gue yakin Raga nggak kenal tu Aktor!" kata Utari.
"Elu bener juga, lagian itu gerakan bela diri muay thai pasti banyak yang belajar jenis bela diri itu!" ujar Aura.
__ADS_1
Utari ternyata cemas tanpa alasan, dia lupa bahwa Raga adalah orang yang perfeksionis dalam hal membunuh. Kakaknya itu tak mungkin membuat kesalahan sekecil apa pun.
.
.
.
.
Semua petugas dari kepolisian sudah menempati posisi masing-masing, dari tempat yang paling terdekat dari Motel itu sampai ada yang menata arus lalu lintas. Karena jika pelaku kabur dari kejaran Polisi maka ada yang menghadang pelaku di tempat lain.
Titik-titik v.i.t.a.l di sudut-sudut bagian luar dari Motel itu sudah di isi oleh petugas dari Kepolisian bersenjata lengkap.
Pasukan dari Kepolisian dengan seragam dan senjata yang lengkap sudah tiba. Semua pria yang berseragam pasukan elit Kepolisian itu segera berhambur keluar dari dalam mobil khusus mereka.
Detektif Senki dan Detektif Morgan yang sudah mengunakan rompi anti peluru baru saja tiba. Mereka berdua juga mengunakan senjata berupa pistol di salah satu tangan mereka.
Kedua Detektif tampan itu segera bersiap di posisinya. Mobil pelaku penculikan Karis Paseha hanya terlihat masuk ke dalam Motel dan belum terlihat keluar sampai saat ini. Jadi sudah dipastikan jika pelaku penculikan Karis Paseha masih berada di dalam area Motel itu.
Ponsel Karis Paseha juga telah dilacak oleh tim hecker di Kepolisian. Lokasi ponsel itu masih di dalam area Motel itu.
Seorang lelaki dengan seragam tim elit maju kedepan, dia membawa sebuah labtop yang bisa melacak keberadaan ponsel Karis Paseha.
Detektif Senki dan salah seorang tim elit maju duluan ke arah pintu masuk motel itu. Detektif Senki dan kelompoknya bertugas berinteraksi langsung dengan pelaku.
Sementara Detektif Morgan dan kelompoknya bertugas mengamankan warga sipil yang berada di dalam Motel itu.
Setelah memasuki halaman Motel yang cukup luas, Detektif Senki dan timnya langsung masuk ke dalam gedung yang terdapat sinyal dari ponsel Karis.
Sementara Tim Detektif Morgan dibagi menjadi dua, sebagian bertugas mengamankan area luar gedung, dan yang lain masih ikut untuk masuk ke dalam bangunan Motel itu.
Detektif Morgan segera menuju parkiran Motel yang terletak di belakang gedung bertingkat tiga itu. Dia harus mencari keberadaan mobil yang dipakai oleh pelaku penculikan Karis.
.
.
Sementara Detektif Senki dan timnya sudah naik ke lantai dua bangunan itu. Para pengunjung Motel yang terganggu dengan suara berisik yang dihasilkan oleh Pasukan khusus itu segera keluar karena rasa ingin tau mereka.
Tapi saat melihat siapa yang berisik, mereka segera masuk lagi kedalam kamar mereka.
Para pasukan itu sudah mulai menaiki anak tangga menuju lantai tiga, sinyal ponsel Karis Paseha terlihat semakin dekat dari layar labtob yang dibawa heaker tim khusus itu.
Sinyal itu ternyata berada di sebuah kamar 145. Detektif Senki dan Pasukan yang lain saling memandang dan memberi kode untuk segera membobol pintu kayu di depan mereka.
__ADS_1
Bruakkkkkkkkkk