
Jegrekkkkkkkkk
Pintu ruang tunggu khusus yang berisi Aura dan Leo terbuka karena Detektif Senki membuka pintu itu.
"Kau disini, Leo?" tanya Detektif Senki, tanpa rasa curiga.
"Iya, apa introgasinya sudah selesai?" tanya Leo pada Detektif Senki.
"Belum...," Detektif Senki tak mau mengatakan alasannya, karena takut Aura akan marah dan ngamuk.
"Aura, sebaiknya kau pulang dulu! Biar Leo yang mengantarmu!" lanjut Detektif Senki.
"Kenapa, apa yang sebenarnya terjadi pada Raga?" tanya Aura, dia tampak sangat cemas.
"Seperti yang kamu tau Imanuel bukan pembunuh berantai Bulan Biru, jadi kami meminta Raga membuat pernyataan tentang kesaksiannya!
"Raga tak papa, jangan khawatir. Dia tak melakukan kesalahan apa pun! Aku jamin itu!" Detektif Senki tampak sangat yakin akan perkataannya.
"Leo antar Aura pulang!" perintah Detektif Senki.
"Tapi Pak, Raga...," Aura masih saja mencari alasan, dia tak mau pulang sebelum Raga dibebaskan.
"Pulanglah, apa kau tak dengar tadi aku bicara!!!" Detektif Senki meninggikan nada suaranya. "Nyawaku taruhanya, jika Raga sampai terluka segores saja. Kau boleh menusukku sampai mati!" janji Detektif Senki.
Akhirnya Aura mau diantar oleh Leo ke kosannya, tapi saat Aura keluar dari pintu mobil Leo. Perut Aura kembali sakit, Leo yang merasa khawatir pun segera keluar dari pintu kemudinya dan menghampiri Aura yang tengah kesakitan.
"Biar kugendong!" kata Leo.
"Tidakkk pa...pa, akuu!" sambil menahan sakit di perutnya Aura mencoba menolak pertolongan yang ditawarkan oleh Leo.
Tanpa mendengar penolakan Aura lagi, Leo segera membopong tubuh Aura sampai ke depan kamar kos Aura.
"Aku akan menjagamu malam ini!" kata Leo.
"Tidak perlu aku bisa sendiri!" kata Aura.
"Kalau begitu ayo kita kerumah sakit!" paksa Leo, jemari Leo sudah menarik pergelangan tangan Aura.
"Aku baik-baik saja Pak! Bapak bisa kembali ke kantor Polisi lagi!" kata Aura.
"Trimakasih sudah menggendongku sampai ke sini!" lanjut Aura.
Gadis tomboy itu segera berbalik dan membuka kunci pintu kamarnya, tapi tanpa sopan santun Leo ikut nyelonong masuk ke dalam.
"Aku sedang menjaga keluarga saksi, ini tugasku!" kata Leo.
Sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan Aura, tapi dia tak bisa membuat alasan lain selain itu.
Aura pun hanya bisa diam, dia tak bisa menolak jika itu alasan Leo.
__ADS_1
.
.
.
.
Raga memicingkan matanya sesaat, dan menelan sebagian darah yang bercampur dengan saliva di mulutnya. Hantaman kepalan tangan Detektif Morgan baru saja menghujani kedua belah pipi Raga.
"Katakan, kenapa kamu masih hidup? Sementara Mbah Sodik sudah mati?! Padahal kalian berdua sama-sama masuk ke dalam ruang bawah tanah Imanuel!!!" teriak Morgan dengan emosi.
"Saaaayaaa tidak tauuuu Pak!" kata Raga dengan nada kesakitan.
Detektif Morgan sudah siap dengan tinjunya lagi, tapi sebelum kepalan tangannya melayang menghantam wajah Raga. Detektif Senki sudah menghentikan pukulan itu dengan genggaman tangannya.
"Kamu gila, kenapa kau memukuli saksi?" tanya Detektif Senki dengan nada marah.
Detektif Morgan hanya bisa diam, atasannya itu bisa memecatnya. Tapi yang lebih ditakutkan Morgan bukan dipecat tapi dipenjara karena tuntutan Raga nanti.
Kalau sampai Detektif Morgan di penjara, siapa yang akan menangkap Bulan Biru yang telah berani menyerang ayahnya. Hingga ayahnya harus terbaring lama di ranjang rawat Rumah Sakit.
"Kita harus ke Rumah Sakit lagi!" kata Detektif Senki. Karena Raga hanya menunduk lemah.
Pria muda itu saat ini tak hanya menunduk lemah saja, dia sedang menyembunyikan senyum menyeringai penuh dendamnya.
"Tidak usah Pak, gue emang pantes dipukuli!" kata Raga, dia mendongakkan wajahnya yang sudah dipenuhi dengan luka memar. Darah juga mengucur dari pelipis dan juga bibirnya.
Emosi yang memuncak Detektif Morgan pun langsung turun, dia sadar apa yang dia lakukan itu bodoh.
"Setiap malam gue nggak bisa tidur, Gue selalu membayangkan jika pembunuh itu datang. Gue takut mati!
"Tapi gue juga nggak bisa hidup menahan sakit karena kematian Mbah Sodik, Bisa saja Mbah Sodik mati karena dia ngelindungi gue!" ujar Raga, air mata sudah membasahi kedua pipinya.
Benar-benar akting yang sempurna Mas Raga.(autor, tolong diam)
🤐🤐🤐
Jegrekkkkkk
Tanpa mengetuk, pria paruh baya yang biasa membuka pintu ruangan Detektif Senki tanpa sopan santun itu, sekarang membuka pintu ruang introgasi tanpa sopan santun juga.
"Pak, Bulan Biru membunuh lagi!" kata pria paruh baya itu.
Raga masih saja terisak, dan air mata masih mengalir deras dari pelupuk matanya.
Kedua Detektif itu pun sama-sama melempar pandangan ke arah Raga yang hanya peduli dengan kesedihannya tentang Mbah Sodik. Hati mereka berdua tampak merasa sangat bersalah dan ingin minta maaf.
"Gimana mau diurus tidak mayat itu?!" kata pria paruh baya itu bak atasan pada bawahannya. Padahal dia bawahan Detektif Senki dan Morgan.
__ADS_1
Detektif Senki dan Detektif Morgan pun segera berlari keluar tanpa peduli pada Raga yang menunduk menahan senyum kemenangan.
Dia mengingat lagi kejadian sebelum dia dibawa ke ruang introgasi ini.
Masih di Rumah Sakit.
Setelah Detektif Morgan melepas borgol Raga, Raga meminta ijin ke toilet. Tapi Detektif Morgan mengikuti Raga ke toilet, Detektif itu bahkan menunggu di depan pintu toilet yang digunakan oleh Raga.
Detektif Morgan takut Raga kabur, bagaimana kalau Raga benar-benar pembunuh berantai Bulan Biru. Dia tak mau kehilangan kesempatan apa pun lagi kali ini.
Di dalam toilet Raga hanya tersenyum menyeringai dan bergumam dalam hati. 'Kau pikir siapa yang kau hadapi, bodoh'
Raga mengirim pesan pada Utari.
Tunjukkan karyamu
Waktu menerima pesan itu Utari belum sempat mengayunkan kapak saktinya ke arah Arjuna. Pria gondrong tanpa bola mata itu masih terlentang di atas lembaran plastik bening. Arjuna juga terlihat masih bernafas meski sekujur tubuhnya gemetar karena rasa takut.
Ok, Apa terserah aku?
Balas Utari.
Terserah kau, tunjukkan karya terbaikmu atas nama Bulan Biru.
RUMAH SAKIT SETIA T32
Raga kembali mengirim pesan.
"Asikkkkkkk!" pekik Utari di dalam gudang kumuh itu.
"Arjuna, mari kita bermain!" kata Utari dengan wajah sumringah dan bahagia.
Sementara Raga mematikan ponselnya dan memasukkan ponsel ilegalnya ke dalam kotak di belakang toilet yang terisi air.
Dan di waktu dini hari ini Utari yang sudah memakai pakaian santai laki-laki, dengan masker dan topi yang menutupi wajah cantiknya. Ia datang ke rumah sakit untuk mengambil ponsel ilegal milik Raga, sebelum Polisi menemukannya.
Tanpa banyak kata dia masuk ke dalam toilet pria yang dipenuhi oleh pria yang berdiri tegak dengan suara percikan air seni yang khas. Utari segera masuk ke toilet nomer dua dan membuka penutup kotak toilet itu. Segera dia ambil ponsel ilegal Raga yang pasti sudah tak berfungsi itu.
.
Raga memandang wajahnya di cermin wastafel toilet, dia saat ini masih berada di dalam Kantor Polisi. Wajah sedihnya seketika tersenyum sumringah.
"Berani sekali kau menyentuh wajah tampanku!" kata Raga dengan sorot mata pembunuhnya.
"Apa kau ingin bermain denganku, berapa nyawa yang kau miliki Detektif Morgan!" kata Raga, senyum menyeringainya menjadi ekspresi kemarahan penuh dendam.
Seseorang sedang membangunkan Singa yang tertidur.
____________BERSAMBUNG__________
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Komen dan Like ya teman-teman❤❤❤