Ghost Of Death

Ghost Of Death
Yuyu Kangkang


__ADS_3

"Kita sudah dapat melacak lokasinya!" kata Detektif Morgan dengan nada suara yang gembira


Dia mengabari Detektif Senki melalui earpiece yang mereka gunakan. Detektif Senki yang semula tegang pun mengepalkan kedua tangannya ke udara. "Yes!" kata pria paruh baya itu dengan lantang.


Nadia yang berada tak jauh dari tempat Detektif Senki berdiri pun bertanya pada pria itu. "Ada apa?"


Suara bernada cemas itu segera merasuk ketelinga Detektif Senki.


"Tim kami berhasil melacak keberadaan pelaku." kata Detektif Senki.


"Apa kita akan menyiarkannya?" tanya Nadia.


"Terserah kau. Aku harus pergi!" Detektif Senkin mengambil beberapa barangnya di atas meja siaran itu. Lalu bergegas pergi.


"Nona Nadia, trimakasih untuk semuanya!" kata Detektif Senki.


Lelaki itu mengatakannya dengan hati yang sumringah penuh harapan dan kelegaan.


"Sama-sama, aku juga tak banyak membantu kalian." kata Nadia Selia.


.


.


Semua pasukan yang ada di Kepolisian segera dikerahkan menuju lokasi yang berhasil mereka lacak melalui ponsel yang digunakan oleh Bulan Biru.


Puluhan mobil polisi dan mobil khusus melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang di maksut. Semua wajah para Abdi Negara itu begitu penuh harapan, mereka begitu yakin bisa menangkap Bulan Biru malam ini. Agar malam besok mereka bisa tidur dengan tenang.


Tapi seperti yang kita tau, ponsel itu dibuang oleh Raga.


Lelaki yang kini dikejar oleh seluruh pihak berwajib di seluruh penjuru Negri ini malah sedang mengendarai motornya menuju suatu tempat.


Laju kuda besi berwarna hitam itu medekat ke arah pusat kota dan berhenti di sebuah parkiran. Parkiran itu adalah parkiran setasiun TV yang digunakan Detektif Senki untuk siaran langsung.


Di parkiran itu juga Raga bertemu dengan Detektif Senki yang berlari ke arah keluar dari gedung.


"Ada apa?" tanya Raga pura-pura tak tau.


"Kamu mau menjemput Aura?" tanya Detektif Senki terburu-buru.


"Iya, apa acaranya sudah selesai?" tanya Raga.


"Sudah! Cepat masuk saja. Aku harus cepat untuk menangkap pelakunya!" kata Detektif Senki.


"Akhirnya..... Hati-hati Pak!" celetuk Raga dengan wajah yang lega dan bahagia.


Lelaki gagah itu meneruskan larinya dan mengabaikan Raga yang tersenyum ke arah Detektif Senki.


Tapi setelah Detektif Senki menghilang ke dalam mobilnya, ekspresi Raga segera berubah meremehkan.

__ADS_1


"Gue di sini, elu mau menangkap gue di mana Detektif?"


.


Menjadi pemburu itu harus jeli, tentukan hewan apa yang ingin kau buru sebelum berangkat. Pastikan dulu bentuknya seperti apa, bagaimana dia makan, bagaimana dia hidup. Perdiksi dulu seberapa cepat dia berlari, pahami dulu habitat yang dia tinggali.


Setelah itu siapkan senjata apa saja yang kau butuhkan, kau ingin langsung membunuhnya atau membawanya pulang hidup-hidup. Kau harus putuskan itu dulu.


Jika aku ingin dia mati seketika, senjata yang sangat tajam adalah solusinya. Tapi jika kau ingin dia hidup maka perangkap yang paling tepat.


Dokter Abraham.


.


Raga mengambil ponselnya ilegal lainnya untuk berkomunikasi dengan Utari.


Gadis itu sudah siap dengan berbagai macam senjata tajam yang tampak mengerikan di atas mejanya, dia sudah tidak sabar menunggu Raga mengabarinya.


Akhinya ponselnya berdering juga.


"Hallo, gimana Kak?" tanya Utari.


"Detektif Senki salah, Karis untukmu malam ini." kata Raga di balik panggilan telepon itu.


"Siap, akan kubuat tak ada orang yang bisa lupa dengan kematian Karis Paseha." tekat Utari.


"Terserah kau saja!" kata Raga.


Lelaki yang di kata amat gagah perkasa itu langsung tak bisa berbicara apa-apa. keringat dingin sudah mulai membasahi tubuhnya yang masih terluka.


"Mari kita mulai!" kata Utari.


Gadis itu melihat tubuh Karis dengan seksama, lelaki itu tampak sudah tak berdaya di ranjangnya. Tapi sorot mata mengenaskan masih saja terpancar dari mata Karis.


"Tolong bunuh aku tanpa rasa sakit!" pinta Karis pada Utari.


"Tidak bisa, kau harus amat sangat kesakitan sampai mati!" gumam Utari dengan nada manja.


"Aku mohon!" Karis Paseha mulai merintih sedih.


"Dongeng yang mewakilimu adalah Ande-ande lumut, tokoh itu bernama Yuyu Kangkang.


"Kau adalah seorang yang menyukai wanita cantik dan muda, jika dia mau menuruti keinginanmu maka kau akan lembut padanya. Tapi jika para wanita itu tak menurutimu maka kau akan menyiksa mereka sampai habis-habisan!" jelas Utari.


Karis tertegun sejenak, jadi dia di setarakan dengan seekor hewan penunggu kali.


"Bagaimana penampakan Yuyu Kangkang itu yaaaaaa? Coba kita cari di internet!" gumam Utari.


"Apa yang akan kau lakukan???" Karis Paseha bertambah panik, rintihanya sudah menjadi tangisan.

__ADS_1


"Ohhh ternyata dia kepiting raksasa!" kata Utari.


Akhirnya gadis manis bernama lengkap Kencana Utari Dewi itu punya ide, dia segera berbalik ke belakang dan menuju meja yang dipenuhi senjata.


"Cicak-cicak di dinding diam-diam merayap.


"Datang seekor nyamuk. Happpppp.


"Lalu ditangkap!!!" senandung Utari saat memilih senjata.


"Supaya cicak tak merayap harus di apakan?" tanya Utari.


Karis Paseha yang mendengar itu pun hanya bisa terdiam dan tubuhnya tanpa dia sadari terus bergetar karena ketakutan.


Gadis Sunda itu tersenyum menyeringai dengan sebuah alat sudah di tentengnya. Sebuah kacamata penyelam berwarna bening sudah dipakainya untuk pelindung. Jika darah Karis menyembur, maka tak akan masuk ke dalam matanya.


Graji kayu mesin yang ia tenteng sudah dia nyalakan, arah mata pisau bergerigi yang sedang berputar itu menuju kaki kanan Karis Paseha.


Kali ini Karis, baru menghadapi Predator yang sebenarnya.


.


.


Polisi sudah sampai dilokasi yang di dapat oleh mereka, sebuah bangunan dua lantai usang menjadi lokasi terakhir yang kini masih bisa mereka lacak. Semua angota sudah siapa di posisi masing-masing, tanpa banyak bercanda lagi serbuan serdadu dari berbagai Tim di Kepolisian pun masuk ke dalam area gedung itu.


Kali ini Deyektif Morgan yang memimpin penyergapan, rompi anti peluru sudah mengelayut mesra di tubuh atletisnya. Lelaki berbadan tegap itu juga membawa pistol kaliber berwarna hitam legam di genggamannya.


Dengan sigap dan penuh waspada, langkah Detektif Morgan segera melaju intens menyusuri setiap jengkal ruangan di sana.


Di tempat kumuh itu ada banyak anak kecil dan beberapa orang dewasa yang berprofesi sebagai gelandangan. Wajah yang antusias dan tegas Detektif Morgan segera berubah menjadi cemas.


Bulan Biru mempermainkan mereka lagi.


Dia memerintahkan pasukan untuk menyisir lantai dua dan benar saja ponsel itu memang ada dan masih berfungsi. Seorang gelandangan memungut ponsel yang dibuang Raga di tepi jalan.


Semua orang yang dibawa oleh Detektif Morgan pun tampak memasang wajah kecewa. Lagi-lagi mereka tak bisa menangkap pembunuh berantai Bulan Biru.


.


Detektif Senki yang baru saja sampai langsung memarkir kendaraannya secara serabutan. Dia sudah tak sabar melihat bagaimana rupa pembunuh berantai Bulan Biru itu.


Sebelum langkah kaki jenjang Detektif Senki masuk ke dalam bangunan, Detektif Morgan sudah lebih dulu keluar.


"Dimana bajingan itu!!!" teriak Detektif Senki.


Detektif Morgan pun hanya menjawab pertanyaan Detektif Senki dengan gelengan kepala yang pelan.


"Apa??? Dia lolos lagi?!" Detektif Senki semakin berteriak.

__ADS_1


"Keparat!!!" umpatnya. Tapi Detektif Senki juga tak bisa melakukan apa-apa lagi.


__ADS_2