
Imanuel masih terdiam di dalam ruangan introgasi kepolisian, kedua tangannya yang diborgol dia letakkan di atas kedua pahanya. Postur tubuh tegap, gagah perkasanya juga masih terduduk tegak di kursi.
Mata cekungnya tampak menelisik setiap detail tangkapan gambar yang sedang diputar di layar laptop kepolisian itu. Tapi wajah bule melankolisnya masih saja tampak tak mengeluarkan ekspresi yang berlebihan.
"Yang pasti tak akan ada Pengacara yang mau membela anda di pengadilan nanti. Pengacara mana yang mau membela seorang pembunuh berantai yang sangat kejam?!" kata Detektif Senki dengan nada biasa saja.
"Anda masih tetap mau diam?" Detektif Senki mulai menggunakan nada merayu pada perkataannya.
"Anda ingin mendekam di dalam jeruji besi sepanjang sisa hidup anda?" Detektif Senki mulai menaikkan suaranya yang sudah besar itu.
"Lelaki ini." Detektif Senki menghentikan pemutaran vidio di dalam laptop itu. "Bukanlah anda, kan?" tanya Detektif Senki.
Vidio yang kini ditonton oleh Detektif Senki dan Imanuel di dalam layar labtop kepolisian itu, berasal dari salah satu kamera dasbor mobil yang terparkir lama di area pabrik terbengkalai tempat terjadinya pembunuhan Mbah Sodik.
Rekaman itu berawal saat sebuah mobil sedan hitam dengan nomor plat kendaraan yang ditutup plastik hitam berhenti tepat di depan mobil berkamera itu. Seorang lelaki keluar dari dalam pintu kemudi dan segera berjalan ke bagian belakang mobil sedan hitam itu.
Lelaki misterius itu memakai setelan jas hujan hitam, wajahnya tertutup masker hitam dan topi yang juga hitam. Kamera yang terpasang di dalam mobil di belakangnya itu pun tak bisa menangkap gambar wajah lelaki misterius itu dengan baik.
Terlihat dengan jelas pria misterius itu mengeluarkan tubuh Mbah Sodik dari bagasi belakang mobinya di kamera itu, lalu membawa tubuh dukun sakti itu ke dalam gang sempit dengan mengunakan gerobak dorong.
"Pria ini tak setinggi anda, Pak Dosen!
"Apa dia kaki tangan anda?
"Atau anda adalah kaki tangannya?" desak Detektif Senki.
Imanuel masih diam, tapi otaknya sekarang sedang berfikir keras.
"Katakan pada kami, siapa lelaki ini!!!" bentak Detektif Senki.
"Yang anda incar adalah Aura Magisna, lalu kenapa target anda bisa berubah ke ayahnya?!" Detektif Senki mengatakan pertanyaannya itu dengan nada kencang yang penuh emosi.
Tapi Imanuel sama sekali tak merubah ekspresi sedikit pun, dia masih stay dengan gaya cool yang maskulin. Bahkan tak ada sedikit pun semburat rasa takut yang terpancar di wajah tampannya kini. Mungkin Dosen itu telah mendapatkan jawaban dari kegusarannya akan vidio yang tadi diputar oleh Detektif Senki.
"Kami akan menangkap orang ini, meski tanpa informasi dari anda!" kata Detektif Senki dengan percaya diri.
Detektif itu meletakkan sebuah foto tepat di depan Imanuel, dan foto itu adalah foto Aura yang terdapat tanda silang merah di tengahnya. Barang bukti yang di dapat Detektif Senki dari dalam ruangan bawah tanah di rumah megah Imanuel.
__ADS_1
"Anda tersangka pembunuhan berantai Bulan Biru sekarang, anda telah membunuh 9 orang! Ada yang ingin anda sampaikan pada saya?" tanya Detektif Senki.
Imanuel hanya mengelengkan kepalanya pelan, dia masih tak merubah ekspresi. Tapi sebuah fakta pasti tengah berkecamuk di dalam hati dan pikirannya saat ini.
.
.
"Dia sudah membuang semua, dan ini bukti palsu yang kubuat bersama Raga!" kata Detektif Senki pada Detektif Morgan.
"Anda gila?" Detektif Morgan segera merebut foto itu dari tangan Detektif Senki.
"Tapi, kurasa memang benar bahwa Aura adalah target mereka selanjutnya.
"Tapi yang tak kumengerti kenapa Imanuel seperti menjebak dirinya sendiri!" kata Detektif Senki.
"Menjebak diri sendiri?!" Detektif Morgan segera mendekat ke arah kursi yang diduduki oleh atasannya itu.
Saat ini mereka sudah berada di ruang analisis kejahatan kriminal, hanya para Detektif senior yang menjabat di kepolisian yang bisa masuk ke dalam ruangan tertutup yang dijaga ketat ini.
"Sebelumya, mereka tak pernah meninggalkan jejak apa pun.
"Lalu tiba-tiba, kita menemukan bukti secepat ini?! Aku merasa seseorang telah menyiapkan bukti-bukti ini sebelum membunuh Mbah Sodik!" jelas Detektif Senki.
"Apa menurut anda orang yang berada di rekaman vidio dasbor mobil itu yang merencanakan ini?" Detektif Morgan kini juga ikut berfikir tentang kecurigaan yang difikirkan oleh Detektif Senki.
"Siapa orang itu?" tanya Detektif Senki.
Wajahnya yang serius itu menatap kosong ke arah papan tulis yang dipenuhi oleh hasil seketsa pembunuhan yang dilakukan oleh pembunuh berantai korban-korban Bulan Biru.
.
.
.
.
__ADS_1
Hantu Tampan sekarang berada di depan pintu ruang perawatan Aura, ternyata tubuh gadis itu belum mau sadar. Di ruangan itu hanya ada Ibu Aura yang sedang mendampingi putrinya. Tak henti-hentinya air mata keluar dari pelupuk mata wanita paruh baya itu, kehilangan suaminya dan kini anaknya tak mau bangun dari pingsannya padahal sudah lebih dari 5 jam Aura tertidur di atas ranjang rawatnya.
Situasi mendadak ini sama sekali tak bisa dia pikul sendirian, tapi wanita jawa yang lemah lebut itu harus kuat demi anak semata wayangnya Aura Magisna.
Keadaan Hantu Tampan kini tampak tak kalah menyedihkan dari keadaan ibu Aura. Dia tak bisa melakukan apa pun, padahal dia tau apa yang sedang terjadi.
Wajah pucatnya hanya menatap ke arah ranjang Aura dengan tatapan penuh penyesalan. Seharusnya dia bicara jujur pada Aura saat gadis itu masih sehat.
"Mungkin jika saat itu aku mengatakan semuanya padamu. Ayahmu dan dirimu masih baik-baik saja sampai hari ini.
"Kupikir jika sampai kau tau kebenaran ini, kau akan bernasib sama sepertiku.
"Maafkan aku Aura, aku tak bisa melindungimu. Aku terlambat menggenalimu!
"Ratih maafkan aku juga aku memenuhi permintaan terakhirmu, untuk melindungi sahabat baikmu Aura." kata Si Hantu Tampan.
Deg
Deg
Deg
Hantu Tampan merasakan dadanya seperti tertusuk sesuatu, rasa nyeri itu menerjang berkali-kali ke tubuh transparannya. Tubuh kekarnya sampai terjatuh ke lantai karena rasa sakit itu tak bisa dia toleransi.
Perlahan tapi pasti jiwa gentayangan Hantu Tampan mulai melebur menjadi bayangan ke emasan dan larut dalam udara.
.
.
.
.
Seseorang baru saja melepas alat bantu pernafasan yang dikenakan oleh pasien koma Petugas kepolisian bernama Leo, Si Hantu Tampan. Dia sudah di rawat hampir sebulan karena kecelakaan, dan kini seseorang mungkin berusaha untuk membunuhnya.
Setelah orang yang mencoba membunuh Leo pergi dari kamar rawat Leo, monitor mulai berbunyi nyaring.
__ADS_1
Beberapa Dokter dan Perawat mulai berdatangan dan mencoba memeriksa monitor itu. Apakah bunyi yang menyayat hati itu akibat kerusakan pada monitor, atau pada pasiennya.
"Dia mengalami gagal pernafasan dan Aritmia, kita akan melakukan prosedur Defibrilasi segera!" kata Dokter.