
Suara di layar monitor semakin melemah, tanda sebuah nyawa bisa melayang kapan saja. Derai air mata dari keluarga tak dapat menghentikan suara yang mirip detik-detik mundur menuju kematian itu. Usaha keringat para tim medis pun juga tak punya cukup banyak harapan agar salah satu nyawa itu dapat tertolong.
Berkali-kali alat kejut jantung itu menekan dada bidang tubuh Leo yang sekarat, tapi belum ada tanda-tanda tubuh pasien bereaksi dengan semua tindakan medis tersebut.
Petugas Leo mendapat luka di kepalanya yang cukup serius saat kecelakaan, sebagian sarafnya telah dinyatakan mati oleh dokter bedah syaraf. Angka harapan hidup yang diprediksi oleh dokter di Rumah Sakit untuk Leo juga tak memuaskan.
Semua orang sedang menunggu kematiannya saat ini, semua dokter dan beberapa keluarga Leo yang sekarang ada di balik pintu ruangan. Wajah-wajah sedih itu sama sekali tak tersirat harapan, karena prediksi dan kondisi Leo yang sangat parah hingga lelaki muda itu tak mungkin bisa bangun dari kondisi komanya.
Dokter dan para Perawat menghela nafas mereka karena kelelahan dan fustasi, meski tindakan medis seperti ini tampak tak menguras tenaga mereka. Tapi emosi serta adrenalin yang mereka alami pasti lebih membuat lelah, dari sekedar berolahraga lari.
Suara detak jantung di monitor sudah tidak ada lagi, hanya bunyi mendengung yang panjang yang memilukan. Waktu untuk mereka semua menyerah.
"Kurasa, dia tak bisa bertahan lagi!" kata Dokter. "Lepas semua alat bantu..."
Tit
Tit
Tit.
"Dok denyut nadi pasien kembali!" kata seorang perawat di sana.
Perlahan-lahan mata Leo terbuka, dia bisa melihat pemandangan rusuh di depannya. Para petugas medis yang tampak frustasi itu kembali memiliki harapan di dalam hatinya. Pasien yang diangap akan mati bisa mereka selamatkan.
.
.
Di ruangan perawatan Aura, mata gadis itu juga perlahan terbuka. Manik netranya memandang langit-langit ruangan itu dengan teliti, dan dia baru ingat kalau dia pingsan karena sebuah kabar yang mengatakan bahwa ayahnya telah dibunuh.
Tubuh ramping itu segera duduk dan dia masih merasakan rasa pusing di kepalanya. Aura mencoba menahan rasa sakit yang entah kenapa menyerang sekujur tubuhnya.
Aura melepas jarum infus di punggung tangannya dengan paksa. Yang Aura pikitkan kini adalah dia harus segera pergi keTKP tempat pembunuhan ayahnya, dia harus menyelidiki siapa yang telah membunuh ayahnya.
Tubuh ramping Aura masih terlalu lemah untuk sekedar berjalan, jadi pergerakannya belum terlalu lincah.
"Aura!" Raga baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Aura. "Mau kemana Lu?" tanya Raga.
__ADS_1
"Gue harus keTKP pembunuhan ayah gue, Ga!" kata Aura.
"Elu masih lemes, Ra!" kata Raga. Dia berjalan cepat ke arah Aura yang berdiri sempoyongan.
"Tapi gue harus..." kata Aura terputus karena isakan yang entah kenapa tiba-tiba muncul.
"Ok, gue akan anter elu. Tapi elu makan dulu ya!" kata Raga. "Biar elu kuat!" paksa Raga.
"Gue nggak ***** makan, Ga." suara Aura sangat lemah.
"Kalau begitu, elu nggak boleh kemana-mana." Raga mencoba bernegosiasi dengan Aura.
"Tapi, Ga!"
Wajah manis yang pucat itu hanya menurut saat Raga menyuruhnya membuka mulutnya.
"Raga kamu nggak perlu serepot ini, biar ibu aja yang menyuapi Aura!" kata Ibu Aura, yang sudah duduk di dekat Aura.
"Nggak papa, Buk. Saya sama sekali nggak merasa repot!" kata Raga, yang tiba-tiba sangat sopan.
Ibu Aura hanya tersenyum senang, wajah ayu yang teduh itu sepertinya bisa melupakan duka sejenak. Kehadiran Raga di tengah-tengah mereka ternyata mempunyai fungsi yang sangat nyata.
"Elu makan dulu! Nanti Detektif Senki akan ke sini, dia akan ngehelasin semua sama kita!" kata Raga.
Seperti dihipnotis, Aura sangat menurut pada perkataan Raga.
Gadis yang pembangkang seperti Aura ternyata juga bisa melemah di depan pawangnya.
.
.
Imanuel masih terdiam di ruang introgasi dia tampak sedang memikirkan banyak hal di dalam otaknya. Terlihat jelas kegusaran sudah menutupi ketampanan wajah melankolis yang rupawan miliknya.
Apa pun yang dia fikirkan, apa pun yang dia rencanakan apakah bisa membuatnya bebas akan tuduhan.
Pembunuh berantai Bulan Biru, sudah membunuh 9 manusia dengan cara yang brutal dan sadis. Hukuman apa pun sepertinya tak akan bisa membuat pembunuh itu bisa menebus seluruh kesalahannya. Tapi Imanuel seperti sudah siap untuk menerima dan menanggung semua hukuman itu.
__ADS_1
Apa benar Imanuel yang telah membunuh semua korban itu, ataukan seperti dugaan Detektif Senki bahwa Imanuel dibantu oleh seseorang. Tapi bisa saja ada sebuah kemungkinan bahwa Imanule tak melakukan apa pun, dia hanya dijebak.
Tapi semua bukti sudah terpatri untuk menempatkannya di posisi ambigu ini.
Imanuel terlibat atau tidak.
Imanuel pembunuhnya atau bukan.
Jika Imanuel tidak terlibat dalam pembunuhan ini, lalu siapa pembunuh berantai Bulan Biru ini.
.
.
Pengumuman:
Dikarenakan penulis lagi sakit, maka up molor kayak kolor ijo yang longar.
Tapi ku usahakan akan Up terus mulai hari ini, doa in kondisi gue makin hari makin waras yaaaa...
Tetep baca novel ini, gue akan nyelesaiin ni novel kok. Meski agak lambatπππ
Maaf jika cara nulis gue awut-awutan nggak kayak penulis lain yang berurutan.
Gue pake alur maju mundur dan lompat pandangan di setiap eps....intinya biar gue nulis nggak bosen...π€£π€£π€£
Sesenak jidat gue bener....
Nggak terasa udah 38 eps yaaaa....tapi misteri kematian Nawang Ratih belom terpecahkan πππ
Terus horornya kemana, horornya kok nggak ada lagi...novel horor kok hantunya lucu semua πππ
Maaf autor sangat takut hantu....π€«π€«π€«
Bikin novel kek gini aja udah berapa kali gue mimpi dikejar-kejar pembunuh...πππ
Buat prmbaca jangan malu-malu buat komen...β€β€β€
__ADS_1
dahhhh yaaa pala gue mulai puyeng lagi....πππ