
Mbah Sodik pergi ke setasiun menggunakan jasa ojek online.
Kegusaran dan rasa takut telah terpampang nyata di setiap tarikan nafas Mbah Sodik. Dia sama sekali tak menyangka, pembunuh berantai Bulan Biru yang dicari oleh semua orang adalah seseorang yang dia kenal. Mbah Sodik bahkan menganggap pembunuh itu adalah lelaki yang paling baik di dunia, sehingga lelaki tua itu tanpa sadar telah menjodohkan moster itu dengan putri semata wayangnya.
Dipikiran Mbah Sodik, lelaki tua itu tak mungkin mengatakan hal yang dia ketahui sekarang pada Aura. Bagaimana jika Raga membunuh Aura jika anaknya itu tau rahasia ini.
Mbah Sodik hanya berfikir untuk pergi saja, jika pun nanti Raga menyadari bahwa Mbah Sodik tau akan kebenaran ini. Raga tak akan menyakiti keluarganya, dia harus pergi menjauh dari keluarganya untuk sementara.
Bagaimana pun Mbah Sodik juga tak pernah ketinggalan menyaksikan perkembangan khasus pembunuhan berantai Bulan Biru di TV. Dia tau betul bagaimana kejamnya orang yang dijuluki pembunuh berantai Bulan Biru itu, dan Mbah Sodik tak mau jika pembunuh itu sampai menyakiti Aura.
Setelah dari loket untuk membeli tiket pulang, Mbah Sodik berjalan dengan langkah gemetar menuju peron yang tertulis di tiketnya. Dengan rasa takut dan penuh curiga lelaki tua itu terus saja mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tempat itu. Dia harus memastikan bahwa Raga tak mengikutinya.
Tapi harapan Mbah Sodik pun pupus tak kala, seseorang telah duduk di sampingnya dan merangkulkan tangan kekarnya ke pundak tuanya.
Mbah Sodik langsung terdiam tanpa melihat wajah orang yang merangkulnya itu, karena dia sudah tau siapa yang melakukan hal ini.
"Mbah mau kemana?" tanya Raga dengan santainya, pemuda itu sama sekali tak merubah posisinya yang tengah merangkul pria tua yang sangat ketakutan itu.
Mbah Sodik tak menjawab dia masih saja terdiam di atas tempat duduknya.
"Mbah mau pulang?" lagi-lagi pertanyaan Raga hanya membuat pria tua itu membeku terdiam.
"Bagaimana jika gue yang mengantar, Mbah" Raga mulai memasang wajah seriusnya.
Pemuda itu segera bangkit dari tempat duduknya, termyata dia di sana untuk mengamati CCTV yang merekam di setiap ruangan di setasiun itu.
"Jangan kabur dari gue, karena gue akan selalu bisa menemukan Mbah!" kata Raga dengan senyum menyeringai yang mengerikan.
"Jangan sakiti Aura!" kata Mbah Sodik, akhirnya pria tua itu pun mengeluarkan kata-kata.
Tapi siapa yang menyangka jika kata-kata yang baru saja dia ucapkan itu membangkitkan jiwa predator di diri Raga.
__ADS_1
"Nggak akan, asal Mbah nurut sama gue!" kata Raga tanpa emosi yang terlukis di wajah tampannya.
Mbah Sodik pun mengangguk setuju.
Tanpa pengaruh hipnotis lelaki tua itu mengikuti Raga ke dalam sebuah ruangan dekat toilet. Ruangan itu tampak sangat kumuh dan lama tak digunakan untuk aktifitas manusia. Ruangan itu adalah toilet lama yang sudah tak dipakai lagi.
Mbah Sodik sama sekali tak menggeser arah pandangannya pada Raga yang kini berada di depannya. Lelaki muda itu sedang sibuk mengenakan sarung tangan lateks di kedua tangannya.
Karena tau apa yang akan dilakukan oleh Raga dengan tangan tertutup rapat seperti itu. Mbah Sodik segera mundur perlahan, dia segera menuju pintu keluar dari toilet terbengkalai itu. Tapi tentu saja usahanya gagal, karena pintu itu sudah dikunci oleh seseorang dari luar ruangan kumuh itu.
Tubuh tambun nan tua itu sudah mulai basah dengan keringat dingin. Rasa takut sudah menguasai setiap syaraf di tubuh pria Mbah Sodik, tapi dia juga tak punya kekuatan untuk menghindari Raga yang sudah kesetanan itu.
Kondisi fisik yang lebih muda dan kuat membuat Raga tak punya kendala untuk melumpuhkan dukun tua yang sakti mandraguna itu. Hanya butuh beberapa pukulan di kepala Mbah Sodik agar pria tua itu terkapar tak berdaya.
Wajah yang tampan tapi mengerikan milik Raga kini menatap tubuh Mbah Sodik yang tak berdaya itu dengan tatapan tanpa emosi. Dia tau apa pun yang akan dia lakukan pada Mbah Sodik pasti hanya akan membuat Aura sedih.
Tapi dia harus menyingkirkan dukun tua itu, dia tak mau semua orang tau siapa dirinya yang sebenarnya. Dia belum siap mati karena Raga masih punya tujuan.
.
.
Kini kedua pria bertudung jas hujan hitam itu sedang menatap ke arah Mbah Sodik yang sudah diikat di sebuah kursi kayu.
"Maaf!" kata Imanuel.
Pria bule itu mungkin adalah Dosen di kampus, tapi pria berkebangsaan Roma itu hanyalah orang yang ditunjuk untuk membantu Raga dan Utari meneyelesaiakan misinya. Dan misi yang harus diemban oleh Raga dan Utari adalah membunuh para penjahat yang tak bisa disentuh oleh hukum.
"Kenapa elu mengumpulkan benda-benda itu? Buat apa coba?!" tanya Raga pada Imanuel.
"Aku hanya....!" Imanuel tampak tak bisa menjawabnya. Dia tak bermaksut apa pun, karena dia sangat mendukung dengan ide pemerintah untuk membuat pasukan Psychopath yang akan membunuh para penjahat.
__ADS_1
"Apa karena gangguan goib itu?" tanya Raga.
"Entahlah" Imanuel juga terlihat bingung dengan dirinya yang sering diganggu oleh Bayangan Hitam.
"Gur rasa Bayangan Hitam itu sudah pergi dari elu!" kata Raga.
"Benarkah!" tanya Imanuel, dia terlihat senang.
"Kubur ini!" perintah Raga.
Raga memberikan sebuah tas hitam kecil yang biasa dikenakan oleh Mbah Sodik. Tas itu berisi jimat-jimat dan kantung kontrak dua genderuwo dan kuntilanak milik leluhur Mbah Sodik.
"Baik!" Imanuel segera menerima tas kecil itu dari tangan Raga.
Imanuel segera pergi dari pabrik terbengkalai itu, dia bahkan menunjukkan wajahnya di kamera CCTV di pintu masuk area terbengkalai itu.
Karena tugas berikutnya untuk dia adalah masuk ke dalam penjara dan membebaskan Dokter Abraham, ini adalah kesempatan emas untuknya agar pria bule itu bisa berada di satu sel dengan Dokter Abraham.
Raga masih berada di depan tubuh pingsan Mbah Sodik, dia mengambil sebuah buntelan putih kecil dari dalam saku celananya.
Raga mengingat lagi asal muasal jimat itu, jimat itu adalah pemberian Mbah Sodik setelah dia dinyatakan tak bersalah saat pembunuhan Nawang Ratih tiga tahun yang lalu.
Jimat ini berfungsi agar Raga dijauhi hantu-hantu yang bergentayangan, dan jimat itu pula yang melindungi Raga dari gangguan mahluk halus selama ini.
Utari juga punya jimat seperti itu, karena dibuatkan oleh Mbah Sodik saat dia berkunjung ke kampung Aura sebagai sahabat Aura tentunya.
Ternyata orang yang melindungi Raga dan Utari dari mata Aura adalah Mbah Sodik.
"Gue nggak akan bisa membunuh dukun ini jika dia pingsan." desah Raga.
Raga melepas ikatan Mbah Sodik, dan dia membuat Mbah Sodik sadar dengan cipratan air hujan yang dia cipratkan ke wajah Mbah Sodik.
__ADS_1