Ghost Of Death

Ghost Of Death
Ingin Kembali


__ADS_3

"Jadi apa rencana kakak?" tanya Utari, gadis itu berdiri tegak di depan bangunan gudang.


Gudang TKP penyiksaan yang dia gunakan untuk memyiksa Arjuna.


"Kamu tau-kan aku bukan orang yang bisa mengampuni orang lain?!" ungkap Raga.


"Lalu?" Utari masih bingung dengan apa yang pikirkan oleh kembarannya itu.


"Kita habisi mereka semua!" ujar Raga dengan senyuman yang menyeringai, di ikuti senyuman yang mirip dari bibir Utari yang berdiri di belakang lelaki iblis itu.


.


.


.


.


Langit pernah cerah, cuaca pernah baik, kehangatan pernah ada, dan rasa cinta palsu itu pernah dianggap nyata.


Hantu Ibu Mawar menengadahkan wajahnya di bawah bayangan dedaunan sebuah pohon yang kering. Sinar matahari memancar menyilaukan matanya. Di dekatnya Hantu Monika yang merasa aneh dengan tingkah Hantu Ibu Mawar pun, hanya bisa menirukan kegiatan absrut itu.


"Apa yang tante lihat?" tanya Hantu Monika pada Hantu Ibu Mawar.


"Kehancuran!" ucap Hantu Ibu Mawar tanpa ragu.


"Bukankah semua bisa diperbaiki? Ayo kita perbaiki yang hancur itu?!" celoteh Hantu Monika.


"Kau masih bodoh seperti dulu, apa yang bisa di perbaiki saat semua sudah seperti ini?" ujar Hantu Ibu Mawar dengan nada bicara yang sangat nyolot.


"Memang apa yang hancur?" Hantu Monika masih bertanya terus pada Hantu Ibu Mawar yang tak mau menaggapi Hantu Monika yang somplak itu.


"Semua, semuanya sudah hancur Monik, kamu hancur, aku hancur dan Aura juga akan hancur!" ujaran itu keluar dari mulut Hantu Ibu Mawar yang sedang berjalan menghindari kejaran Hantu Monika yang telmi itu.


Rasa cinta dan benci adalah sebuah emosi yang hanya bisa dirasakan oleh manusia. Tapi jika seseorang manusia tak punya rasa cinta pada orang lain, apakah dia bukan manusia???


Dia tetap manusia...


Tapi dia bisa saja adalah seorang Monster.


Monster yang kejam.


Tapi Monster juga bisa punya perasaan, jika dia sering bergaul dengan manusia..


Dan manusia juga bisa hilang perasaan jika selalu dekat dengan monster...


.


.


.

__ADS_1


.


Raga tersentak dari dalam tidurnya, dia mengalami mimpi yang serupa. Mimpi buruknya ketika dia di rumah sakit kemarin muncul lagi.


Raga yang tidur terlentang itu menghela nafasnya untuk menata kembali laju oksigen di paru-parunya. Di atas salah satu bahunya yang tak terluka ada wajah Aura yang tertidur seperti bayi.


Seolah wajah itu adalah obat, Raga pun hanya bisa tersenyum manis saat melihat wajah imut itu.


Apa aku harus berhenti untukmu???


Apa aku bisa berhenti???


Apa aku masih bisa berhenti???


Bagaimana caranya berhenti???


Apa aku benar-benar ingin berhenti???


Bagaimana jika aku berhenti, padahal aku sudah memulai lebih dulu???


Aku tak punya jalan keluar lagi!!!


Akan ku selesaikan dengan cepat!


Aku janji!!!


Setelah selesai aku akan hidup denganmu dalam kedamaian...


Raga kembali memeluk tubuh kekasih hatinya yang dalam kondisi telanjang di bawah selimut itu. Rasanya dia ingin menghentikan waktu saat ini, dia ingin di kondisi ini selama mungkin. Dia ingin di kondisi dia menjadi manusia normal.


"Aura gue cinta banget sama elu, jangan tinggalin gue yaaaa! Apa pun yang terjadi kita harus selalu bersama!" kata Raga tanpa kepura-puraan.


Kata-katanya kali ini benar-benar tulus dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Lelaki muda yang sekarang tampak seperti manusia biasa tanpa dosa itu, mencoba bangun dari tidurnya dan tak membangunkan kekasihnya yang masih mengarungi alam mimpi indahnya.


Senyuman manis terus menerus merekah indah dari bibir tipis Raga. Lelaki itu berencana menyiapkan sarapan sebelum Aura bangun dari tidurnya. Raga ingin mencurahkan semua rasa sayangnya pada Aura sebelum terlambat.


Raga sadar apa saja bisa menimpanya saat ini, dia sudah menabuh genderang perang untuk menantang Mentri Pertahanan. Mentri yang busuk, duri dalam daging bagi Tim Alpa.


Pagi ini Raga menyiapkan nasi goreng dengan telor ceplok di atasnya. Tak lupa dia membuatkan segelas susu untuk Aura. Raga sangat tau Aura sangat suka susu coklat yang hangat.


Pandangan Raga kembali melihat ke arah ranjang Aura, senyumnya kembali mengembang indah. Aura memang sangat mengemaskan ketika tertidur.


Karena hari sudah semakin siang, Raga harus membangunkan Aura sebelum kekasihnya itu terlambat le kampus.


"Aura sayang, bangun yank!" kata Raga.


"Bapakkkk, Pakkkkk jangan pergi Pakkk," gumam Aura lirih.


Raga terdiam mendengar Aura yang bicara dalam tidurnya.

__ADS_1


Hatinya kini dipenuhi rasa bersalah, dia masih ingat betul bagaimana dia membunuh Mbah Sodik. Raga juga masih mengurung arwah Mbah Sodik di suatu tempat.


Dia tak mau jika arwah Mbah Sodik menemui Aura dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini Raga belum bisa meninggalkan Aura. Dia masih ingin bersama dengan wanita yang dia cintai itu.


"Aura bangun sayang!" Raga sedikit meninggikan nada panggilannya.


Akhirnya mata Aura mengerjab pelan dan terbuka, bibirnya yang masih masam segera tersenyum menyambut ciuman Raga di keningnya.


.


.


.


.


Bangunan dengan desain moderen yang tampak seperti mangkok terbalik. Karena atap bangunan itu melengkung, bangunan yang dulunya dihuni oleh para Sychopath Tim Alpa itu tampaknya sudah berubah fungsi.


Gedung besar yang sangat megah dengan kecangihan di setiap sudutnya itu, kini menjadi markas Tim Alpa yang baru.


Jika dulu tempat itu dipenuhi dengan manusia yang rajin berlatih. Entah latihan fisik atau sikis, semua orang dulu tampak sibuk di bangunan itu.


Tapi hari ini tempat itu sudah seperti sarang ulat bulu. Karena semua manusia yang ada di tempat itu hanya melayang diam di dalam tabung air yang besar. Tubuh telanjang manusia-manusia itu juga banyak dipasangi selang berbagai ukuran.


Selang-selang sebagai alat bantu hidup mereka, hidup mereka yang mungkin bukan lagi milik mereka lagi.


"Mereka harus disiapkan secepat mungkin!" kata Tuan Harsono yang masih duduk di kursi rodanya.


Seorang pengawal yang tegap membantunya mendorong kursi roda itu. Karena saat ini mereka sedang berkeliling untuk melihat bagaimana mahluk yang mereka ciptakan berkembang.


"Mereka belum siap Tuan Harsono!" kata seorang pria tua.


Seorang pria tua yang dari tadi mengiringi putaran roda kursi Tuan Harsono.


"Aku tidak mau tau, mereka harus siap! Karena aku harus membunuh Bulan Biru secepatnya!" kata Tuan Harsono.


Dia berfikir dua orang dari Tim empat di Tim Alpa itu bukanlah sebuah halangan yang berati. Ternyata dua orang dari Tim empat saja sudah membuatnya kalang kabut, bagaimana jika Tim satu yang Tuan Harsono hadapi.


"Kondisi mereka belum setabil Tuan, mereka bisa membahayakan orang awam!" jelas pria tua berjas Dokter itu. "Tapi jika anda benar-benar tak sabar. Anda bisa membawa Dokter Abraham menyempurnakan mereka!"


Tuan Harsono ternyata bersikap tenang karena dia sedang menahan emosi di hatinya. Pria yang tergolong tua itu berdiri dari kursi rodanya tanpa bantuan siapa pun.


Langkah kaki yang tampak baik-baik saja, melangkah pelan ke arah Dokter yang sama tuanya dengan Tuan Harsono.


Pandangan mata aneh dari Tuan Harsono membuat sang Dokter ketakutan. Dokter itu berjalan mundur karena terhimpit langkah Tuan Harsono yang terus mendekat ke arah Dokter tua.


Langkah mundur Dokter tua terhenti karena terhalang oleh sebuah mesin tabung yang berisi seorang lelaki muda yang telanjang dada.


"Aku bilang sekarang, ya sekarang. Lepaskan mereka dari kandangnya sekarang juga!" Tuan Harsono membisikkan perintahnya itu tepat di depan wajah Dokter tua yang sudah ketakutan itu.


"Baik Tuan, saya akan segera melepas mereka!" kata Dokter itu.

__ADS_1


_________BERSAMBUNG________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2