
Langit malam yang bertabur bintang menjadi pemandangan indah malam ini, suasana damai tanpa konflik sedang dinikmati oleh dua sejoli yang belum lama kenal. Tapi terlihat dari gestur dan perbincangan mereka, keakraban sudah mulai terjalin di antara keduanya.
Mereka duduk berdua di tanah lapang yang tampak senyap. Leo dan Utari duduk di atas kab depan mobil Leo bagian depan.
"Kelihatannya Pak Presiden sangat marah, dengan apa yang kita lakukan tadi pagi!" kata Leo.
"Wajar jika dia marah! Kita merusak gedung Aeroks," ujar Utari.
Gadis yang tadi pagi berkarakter wanita badas kini menjadi wanita angun dan juga lembut.
"Apa kau belajar akting juga?" tanya Leo.
"Tidak, ini karekter asliku! Yang tadi pagi baru akting!" ujar Utari dengan senyum manisnya.
"Jadi begitu?!" Leo tentu saja tau Utari sedang melucu.
"Pasti berat?!" tanya Leo.
"Tidak, aku suka pekerjaanku. Aku suka membunuh orang!" ungkap Utari.
"Berapa orang yang kau bunuh?" tanya Leo.
"Aku tak pernah menghitungnya, yang pasti lebih banyak dari Kak Raga!" ujar Utari.
"Kau sudah bergabung di Tim Alpa sejak berusia 13 tahun-kan?" tanya Leo.
"Itu kamu tau, dan kakak ku baru sekitar dua tahun yang lalu!
"Tentu saja orang yang kubunuh lebih banyak dari kakak!" kata Utari tanpa beban.
"Apa kau pernah membunuh sebelum bergabung dengan Tim Alpa?".
"Apa kau sedang mengintrogasiku?" tanya Utari dengan nada galak.
"Enggak, aku hanya merasa penasaran saja!".
Semua hal yang ditanyakan oleh Leo barusan membuat Utari sedikit curiga. Apa Leo mendekati dia dan Raga hanya untuk mendapatkan informasi.
"Lalu kenapa kamu bergabung di BIN?" tanya Utari pada Leo.
"Kematian kedua orang tuaku. Aku yakin ada dalang dibalik pembunuhan Dokter Abraham pada orang tuaku!" ujar Leo
"Kau yakin sekali?! Monster seperti kami membunuh ketika ingin membunuh!" pancing Utari.
"Aku sudah menyelidiki semua tentang Dokter Abraham, dia pembunuh Bintang Perak yang amat kejam. Tapi dia tak membunuh orang-orang di sekitarnya.
"Ayahku berteman dengan Dokter Abraham sejak mereka masih di SMU. Mereka sangat akrab!
"Aku masih ingat Dokter Abraham sering berkunjung ke rumah kami semenjak aku masih kecil," jelas Leo.
"Aku akan menggatakan sesuatu karena ini imbalan karena sudah membantu kakakku," ucap Utari.
Memberi imbalan pada orang yang sudah membantu kita, adalah salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh para angota Tim Alpa.
"Pada malam itu, setelah ayah dan ibumu pamit untuk kembali ke Jakarta. Ayahku tiba-tiba mendapat sebuah panggilan di ponselnya!
__ADS_1
"Dan setelah itu dia mengajakku untuk membuntuti mobil orang tuamu. Dan terjadilah pembantaian itu,!" kata Utari.
Leo yang mendengar penjelasan dari Utari terlihat sangat bersemangat. Dia tau apa yang dipikirkannya selama ini pasti tidak salah. Ayah dan ibunya meninggal karena Negara.
"Pada saat itu Tim Alpa dipimpin oleh tiga tokoh yang amat sangat terhormat.
"Pertama adalah Jendral Husein, kedua adalah Ilmuwan Rei dan ketiga adalah Jendral Harsono.
"Jendral Husein adalah otak utama dibentuknya Tim Alpa, tapi kurasa bukan dia yang memerintahkan ayahku untuk membunuh kedua orang tuamu!" Utari memandang mata Leo sejenak.
Utari mencoba memahami apa yang dirasakan oleh Leo saat ini. Kenapa dia berkorban sempai seperti ini hanya untuk orang yang sudah mati.
"Jadi antara Ilmuwan Rai atau Tuan Harsono," ujar Leo.
Penjelasan singkat dari Utari tampaknya sudah bisa membuat Leo menebak alur kebiadapan kelompok itu.
"Apa bagimu itu penting?" tanya Utari.
Gadis itu masih saja binggung dengan Leo. Mesin pembunuh yang tak tau perasaan cinta seperti Utari pasti sangat bingung.
"Sangat penting!" ujar Leo.
Kedua pasang mata mereka saling berpandangan, menorehkan secerca perasaan di hati keduanya.
"Aku tak akan faham, karena aku berbeda denganmu!" kata Utari yang masih memandang tajam ke arah Leo.
Sementara Leo sudah salah tingkah karena terlalu dalam pandangan yang Utari pancarkan padanya.
"Ayahku hanya menerima perintah dari Ilmuwan Rai, tapi saat ini Ilmuwan Rai sudah mati.
"Apa kau tau apa salah kedua orang tuaku, sampai mereka harus dibunuh?" tanya Leo, dia masih saja penasaran.
"Aku merasa baru saja menyelamatkan kucing yang tengelam!" keluh Utari.
"Maaf, tapi jika kau tau...,"
"Ini yang aku dengar!
"Saat itu ada dua ilmuwan yang ingin menyerahkan dokumen penelitian mereka langsung ke Presiden yang berkuasa di masa itu.
"Mereka tak mau menyerahkan hasil penelitiannya pada Ilmuwan Rai.
"Kurasa dua ilmuwan yang dimaksud adalah kedua orang tuamu," jelas Utari sekali lagi.
Leo tampak tertunduk lemas, dia tak habis pikir. Hanya karena hal sepele itu, kedua orang tuanya harus meregang nyawa secara sadis.
"Kenapa kau memikirkan otang yang sudah mati?!
"Kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk urusan sepele semacam itu?
"Aku tak faham dengan jalan pikiran manusia, mereka sangat rumit!" celoteh Utari.
Leo sama sekali tak menjawab, karena saat ini dia merasakan dendam lagi. Dia merasakan rasa terbakar di hatinya.
"Monster sepertimu mana bisa mengerti, mungkin ayah dan ibuku sudah mati!
__ADS_1
"Tapi mereka masih hidup di hatiku!!!"
Tiba-tiba amarah Leo memuncak dan secara tidak sengaja dia malah menyerang Utari. Leo mencekik leher Utari dengan kedua tangannya.
Tapi Utari tak menghindar, wanita iblis itu juga tak melawan.
.
.
Aura duduk di ranjang yang amat rapi di kamar Raga. Sementara Raga membantu melepas tatanan rambut Aura yang rumit.
Baru saja Aura dan Raga menjalani upacara ijab kabul yang suci, mengikrarkan janji sehidup semati. Meski pernikahan mereka tak di daftarkan ke pemerintah. Tapi secara Agama Islam Aura dan Raga sudah sah menjadi suami-istri.
"Apa menurut elu, ini ngaruh?" tanya Aura pada Raga.
"Ngaruh nggak ngaruh?!
"Bikin seneng emak elu juga sebuah kewajiban buat Gue!" ujar Raga.
Aura tertawa terkekeh karena ucapan Raga itu.
"Banyak banget kewajiban elu, enggak sekalian ngelindungi Negara kita yang amat kita cintai ini!" ujar Aura dengan nada meledek.
Padahal Raga memang punya kewajiban itu saat masih di Tim Alpa. Saat ini pun Raga juga punya tanggung jawab itu. Tapi bagi Raga melindungi otang-orang yang dia kasihi adalah yang paling penting saat ini.
Pernikahan sirinya dengan Aura, juga sebagai bentuk perlindungan Raga pada Aura. Raga berharap dia bisa hidup sebagai Ragata Alessio sepenuhnya setelah semua ini selesai.
Dia ingin membentuk keluarga bersama Aura, dia ingin melihat senyuman Aura di sepanjang sisa hidupnya.
"Ga...Jangan bilang-bilang ke temen kampus kita ya, kalau kita udah nikah!" kata Aura.
"Kenapa?" tanya Raga.
Lelaki yang kini tampak sangat gagah, karena tubuh atletisnya di bungkus rapi dengan setelan jas.
"Malu tau," ucap Aura.
"Elu malu karena nikah ama gue?" ledek Raga.
"Bukan itu, gue malu karena kita-kan belum lulus!" desah Aura.
"Tenang aja, gue pinter jaga rahasia kok!" kata Raga.
Kelihatannya Raga sudah selesai melepas semua hiasan di kepala Aura. Ibu Aura memaksa anak gadisnya untuk berdandan menor seperti pengantin Jawa pada umumnya, meski Aura sempat menolak. Tapi apalah daya Aura, dia tak bisa menolak permintaan ibunya itu.
"Tapi gue riskan sama Utari, gimana kalau dia sampai keceplosan!" kata Aura dengan nada ketakutan.
"Emang elu udah kasih tau dia?" tanya Raga.
"Gue baru cerita, kalau kita harus nikah. Gue belom sempet bilang kalau kita udah ijab kabul!" jelas Aura.
__________BERSAMBUNG_________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1