
Cinta adalah perasaan yang amat sangat unik, perasaan yang mungkin bisa membunuhmu. Tapi perasaan cinta juga bisa membuatmu bertahan untuk tetap hidup.
Tapi apakah cinta yang dimiliki oleh seorang Monster bisa bertahan seperti cinta manusia pada umumnya???
Ketika seorang Monster seperti kita jatuh cinta pada satu mahluk, maka kita akan mencintainya selama-lamanya. Karena Monster seperti kita hanya bisa merasakan emosi pada orang-orang tertentu. Jatuh cinta adalah suatu hal yang sulit untuk kita, tapi bukan tidak mungkin. Monster seperti kita masih bisa merasakan cinta, Cinta yang amat dalam dan tanpa dasar. Emely
Tubuh Leo bisa merasakan hentakan peluru itu. Lelaki itu langsung sadar jika Utari menghalangi peluru yang diarahkan padanya.
"Utari!" teriak Leo.
Wajah bahagianya sudah berubah sedih dan marah, seluruh kulit kuning cerah di wajah Leo memerah, dan air mata mulai mengalir di pipinya.
"Utari, tolong bangun Utari!" teriak Leo.
Utari masih sadar, matanya berkedip memandang wajah pria yang baru saja mengisi hatinya itu. Pria yang hanya ada satu di dunai ini, satu-satunya pria yang sanggup membuat dirinya yang tak punya hati itu jatuh cinta.
"Trimakasih, sudah muncul di dalam hidupku!" kata Utari.
"Jangan bicara apa pun, bertahanlah!" ujar Leo, dia harus tetap tenang untuk dan memikirkan cara untuk menyelamatkan Utari.
"Tolong, siapa saja. Hubungi ambulance!" pinta Leo dengan nada bergetar.
Beberapa orang yang berkumpul mengerombol di area itu pun segera menyentuh ponsel mereka untuk menghubungi ambulance.
Darah Utari sudah membasahi celana Leo yang menopang tubuh Utari, tangan Utari masih meremas keras lengan jas Leo. Tapi tubuh Utari adalah tubuh manusia biasa, dia yang terkena tembakan di punggungnya pasti akan mengalami pendarahan yang hebat.
Benar saja, Utari terbatuk dan darah segar keluar dari mulutnya. Kondisinya sudah tak bisa dibilang baik-baik saja saat ini. Jika bantuan medis tak cepat datang maka gadis iblis itu akan mati di penyebrangan jalan itu.
Cengkeraman tangan Utari di lengan Leo semakin melemah, dia tak bisa bertahan selama itu. Rasa sakit dan darah yang keluar dari luka tembakannya membuat Utari melemas. Akhirnya tangan itu lunglai melemas menghentak ke aspal.
"Utariiiiiii, jangan tinggalkan akuuuuu!
"Utariiii kau mohonnnnnn.
"Sadarlahhhhhhh!" rintih Leo.
.
.
"Ayah ada tempat yang ingin kukunjungi!" kata Utari pada Dokter Abraham.
Saat itu usai Utari masih 13 tahun dia sudah masuk ke dalam akademi pelatihan di Tim Alpa.
"Katakan tempat apa yang ingin kau kunjungi!" kata Dokter Abraham yang saat itu juga masih terlihat masih muda.
__ADS_1
"Pantai, ayo kita ke pantai bersama Kak Raga juga!" kata Utari dengan berjingkrak bahagia.
"Ok, asal nilai evaluasi mu bagus! Kita akan ke pantai dengan Raga juga!" senyum indah tak pernah luntur dari pria bengis itu pada putrinya.
Dokter Abraham adalah ayah yang sangat luar biasa bagi Utari. Dia bisa sampai di titik ini juga karena dukungan ayahnya yang tak pernah berhenti.
13 tahun Utari hidup hanya dengan kasih sayang neneknya. Yang ternyata adalah salah satu pelayan setia Ibunya Nada Harsono. Mendapatkan kasih sayang dari Dokter Abraham dan kakaknya Raga seperti mendapatkan anugrah yang paling indah di dunia ini.
Akhir pekan di tahun itu Utari dan Dokter Abraham serta Raga benar-benar pergi ke sebuah pantai. Di kota yang sama dengan kota yang ditempati oleh Aura.
Hari itu matahari sangat terik dan cuaca sangat bagus. Kedua kakak beradik kembar itu bermain di bibir pantai. Dan Dokter Abraham melihat dari jauh, pria tanpa perasaan itu tersenyum sangat lepas. Karena bisa menyaksikan anak-anaknya bermain dan tumbuh besar.
"Dokter Abraham!" seru Ayah Leo.
Mereka memang sudah berjanji temu di pantai itu. Ayah Leo tak datang sendiri, dia datang bersama istri dan putranya Leo
Ketiga Dokter itu sedang mengobrol di pingir pantai, mereka berteduh di bawah payung sambil melihati anak-anak mereka yang bermain di pinggir pantai.
"Siapa namamu?" tanya Utari pada Leo.
"Leo!" kata Leo yang belum dewasa.
Lelaki yang sudah tampan dari lahir itu mengulurkan tangannya ke arah Utari.
Mata gadis kecil itu berbinar dengan indah, hanya karena sapaan dari Leo yang juga masih sangat muda itu.
Tapi sebelum Utari mengambil uluran tangan Leo, Raga sudah mendahului Utari menjabat tangan Leo.
"Namaku Raga!" kata Raga mantap.
"Kakak!" rengek Utari, dia tau kakaknya tak suka jika dia menyentuh lelaki.
Hari di tahun 2008 itu adalah hari yang paling membahagiakan di hidup Raga dan Utari. Meski keduanya jarang sekali bertemu, mereka tetap bisa menyatu tanpa tembok jabatan.
Akankah hari indah seperti 13 tahun yang lalu bisa kembali lagi?
Akankah sebuah kedamaian bisa tercipta pada akhirnya, apakah harus ada nyawa yang berkorban untuk era yang damai. Seperti di hari kelahiran Utari dan Raga, ibu mereka harus meregang nyawanya untuk mempertahankan hidup anak-anaknya.
.
.
.
.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang menggangu elu?" tanya Raga pada Aura.
Wajah bulat Aura menjadi makin bulat dan bengkak karena dia menagis cukup lama.
"Nggak kok, gue hanya pengen nangis aja. Nggak ada yang ngeggangu gue!" ujar Aura.
Dia bohong, dia takut, dan dia merasa masih tak percaya. Aura masih menyangkal jika Raga bukanlah pembunuh berantai Bulan Biru.
Dia ingin membuang rasa curiganya dengan bertanya langsung pada Raga. Tapi dia takut jika Raga benar-benar pembunuh berantai Bulan Biru.
Raga yang masih di dalam kelas Aura mengambil kursi milik Utari dan dia duduk berhadapan dengan Aura sekarang.
Dia mengelus wajah manis Aura, dan mencium puncak kepala istrinya itu. Dada Raga seolah mau meledak, dia juga merasakan rasa takut yang luar biasa sekarang.
Dia belum sanggup berpisah dari Aura.
"Kalau ada apa-apa, elu nggak perlu takut buat tanya ke gue atau marah ke gue!
"Elu sekarang istri gue Aura. Elu punya hak buat ngatur hidup gue.
"Elu punya hak buat minta apa pun sama gue!
"Dan gue juga punya kewajiban buat nurutin semua apa kata elu!" jelas Raga.
Raga membenamkan wajah Aura yang masih sembab ke dalam pelukannya. Merasakan setiap getaran di dalam sanubarinya, mengikuti gelombang aliran kasihnya.
"Raga, jangan bohong sama gue yaaaa!
"Kamu harus jujur!
"Apa pun itu, seburuk apa pun.
"Kau harus mengatakan semuanya padaku!" ujar Aura yang masih terbenam dalam pelukan suaminya itu.
Raga terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Dia harus jujur, jujur jika dia yang membunuh Mbah Sodik. Apa itu mungkin, apa Aura masih bisa menerima Raga jika tau kebenaran itu.
Raga sama sekali tak yakin, karena perasaan manusia itu sangat rumit. Manusia juga sangat kejam, mereka bisa membuang apa saja yang pernah mereka anggap penting.
Sementara Raga, dia adalah Monster yang sudah jatuh cinta. Jatuh cinta sampai dia rela memberikan nyawanya untuk Aura.
"Gaaaa...Janji sama gue! Bisa-kan elu jujur sama gue???" Aura mendongak dan kini kedua pasang mata itu saling melempar pandangan yang amat susah di artikan.
__________BERSAMBUNG_________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1