
Senin 23 Agustus 2021
Seorang pria berbaju kumal dengan penampilan yang tampak seperti gelandangan tengah berjalan sempoyongan memasuki sebuah bangunan lusuh. Gedung terbengkalai itu adalah bekas bangunan Pabrik Kopi yang bangkrut 20 tahun silam, tak ada yang tau siapa pemilik bangunan yang terlihat angker itu.
Pria paruh baya dengan penampilan gelandangannya masih berjalan sempoyongan menyusuri lorong demi lorong lantai satu bangunan itu.
Tak banyak yang bisa dilihat di lantai satu bangunan itu, hanya ada ruangan-ruangan kosong dengan jendela kaca yang pecah serta kusen-kusen pintu dan jendela yang berlumut, lapuk, menghitam.
Desiran angin sepoy-sepoy pagi itu seperti tak akan mampu menyegarkan udara pengap yang berbau menyengat di dalam setiap ruangan bangunan itu. Lorong-lorong panjang di sana seakan berbicara dengan nada mengerikan, tapi tak dihiraukan oleh Lelaki gelandangan itu. Langkah lemah terhuyungnya masih dia tapakkan di setiap anak tangga menuju lantai dua bangunan kumuh itu.
Tangga sempit yang diapit oleh dinding-dinding berlumut yang lembab, tangan kotor pria itu menjamah dinding berair itu tanpa rasa jijik.
Bagai Anjing yang terpanggang ekornya, Lelaki gelandangan itu seperti tak punya semangat untuk hidup lagi. Wajah kusam datar dengan pandangan kosong yang hanya memandang lurus ke depan itu hanya bergerak sesuai langkah kakinya.
Tapi kedataran wajah itu segera hilang takkala pupil mata coklat gelandangan itu memfokuskan penglihatannya pada sesuatu yang tergeletak di lantai.
Mulutnya mulai menjerit keras, tampaknya gelandangan itu tau benda apa yang tergeletak berantakan di salah satu ruangan kosong di lantai dua bangunan terbengkalai itu.
Langkah yang tadinya sempoyongan kini berganti dengan langkah berlari yang gemetaran, wajah datarnya kini hanya terlukis rasa takut yang menusuk di ulu hatinya. Nafas tersengal dan tak beraturan mendengus kasar, keringat dingin mulai membasahi kening kotor pria gelandangan itu.
Tubuh pria itu sempat terjungkal berguling di anak tangga, lantai kusam berlumut yang licin adalah penyebabnya. Kegugupan, ketakutan, dan kengerian membuat pria paruh baya itu tak peduli lagi dengan keseimbangan ketika berlari. Rasa sakit yang dia dapat karena terguling di tangga pun tak dia rasakan, gelandangan itu hanya berlari dan berteriak sekeras yang dia bisa.
.
.
Mayat seorang lelaki telah ditemukan di sebuah bangunan bekas Pabrik Kopi di pingiran kota.
Polisi belum dapat mengidentifikasi mayat tersebut.
Diduga mayat pria ini adalah korban dari khasus pembunuhan berantai Bulan Biru.
Mayat ditemukan dalam kondisi tubuh yang hampir hancur dengan dipenuhi luka bakar ringan, serta liontim Bulan Biru juga ditemukan di TKP pembunuhan.
Belum ada kepastian resmi yang dirilis oleh pihak kepolisan, tapi pihak kepolisian sudah menetapkan khasus ini adalah khasus pembunuhan.
.
.
Garis polisi sudah di pasang mengitari area bangunan terbengkalai itu.
__ADS_1
Senki dan Morgan beserta tim mereka sudah tiba di sana, kedua detektif itu saling menatap mata satu-sama lain saat melihat liontin Bulan Biru yang mengelayut mesra di leher pria yang dipenuhi noda darah.
"Bulan Biru!" kata Morgan.
Senki hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia sangat frustasi.
Pria paruh baya berbadan tegap itu segera berdiri dan dia meraih ponsel di saku jas hitamnya.
"Hallo," Senki melakukan panggilan pada seseorang.
"Aku butuh bantuanmu!" kata Senki dengan nada yang putus asa.
Hanya itu yang dibicarakan Senki dengan orang yang dia hubungi melalui panggilan telefon.
"Siapa?" tanya Morgan, meski Morgan adalah bawahan Senki dan memiliki umur di bawah Senki tapi Morgan selalu bersikap non formal pada Senki.
"Semoga dia bisa membantu kita lagi." kata Senki.
.
.
Orang yang dihubungi oleh Senki telah datang, dan orang itu adalah Aura. Gadis itu sedang berbicara sendiri di pojokan ruangan, tepatnya di salah satu ruangan yang ada di bangunan kumuh itu.
"Pria ini, berada di sini sejak 3 hari yang lalu!" kata Aura. "Dia disiksa oleh seseorang, orang itu datang di waktu yang tak tentu." lanjut Aura.
"Siapa orang itu?" tanya Morgan.
"Para hantu di sini bahkan takut untuk mendekat saat orang itu kemari." kata Aura.
"Kenapa?! Bukankah Dokter Abraham masih diikuti oleh hantu?" tanya Senki pada Aura.
"Orang itu pasti punya jimat, atau orang itu juga bisa melihat hantu seperti ku." kata Aura.
"Kau yakin?!" Senki sama sekali tak habis pikir, sebenarnya mahluk apa yang tengah dia hadapi saat ini.
"Aku tidak tau! Tapi manusia yang dijauhi hantu di tempat angker seperti ini, hanyalah manusia yang punya dua hal itu!" jawab Aura.
"Gelandangan itu kemari setia hari, dia tidur di tempat ini setiap siang!!! Tapi dia tak melihat pria ini disiksa?! Bukankah ini lucu!" kata Senki kini nada bicaranya penuh dengan penekanan dan emosi.
"Gelandangan itu tuli!" kata Morgan, dia baru saja menerima laporan introgasi dari kantor.
__ADS_1
"Pembunuh itu pernah kemari sebelum membawa pria itu ke sini?!" kata Senki dengan tatapan kosong ke arah luar jendela.
"Dan dia tau siapa yang tinggal di sini. Dia tau dimana dia akan menyiksa korbannya, dia merencanakan juga dimana dia akan menaruh mayat korbannya jika dia sudah puas menyiksanya!!!
"Bedebah itu...
"Merencanakan semua saat dia memastikan siapa korbannya berikutnya!
"Keparat!!!" Senki tak bisa menahan emosinya lagi.
Pembunuh berantai Bulan Biru baru muncul satu tahun belakangan dan sudah memakan korban sebanyak 8 orang, dan semua korban itu mati dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
"Manusia seperti apa yang sanggup melakukan kekerasan sebrutal ini?!" tanya Morgan. "...psychopath itu meremukkan seluruh sandi para korbannya dulu, lalu tulang-tulang mereka! Setelah sekarat mereka akan diberi kesempatan kabur....
"Tapi tak akan ada yang sanggup kabur dalam keadaan separah itu!" kata Morgan, dia tau akan fakta itu karena dia membaca semua hasil tes forensik pada semua korban pembunuhan Bulan Biru.
"Maaf jika saya tak banyak membantu!" kata Aura.
"Tak apa! Kau sudah cukup membantu kami Aura." kata Senki.
.
.
.
.
Di kampus Aura hanya terdiam tak peduli dengan dosen yang menjelaskan di depan kelas, di otaknya kini dia hanya membayangkan apa yang dia lihat di TKP pembunuhan.
Dia kembali membayangkan boneka yang diikat kontrak dengan sukma Ratih 3 tahun yang lalu.
Noda merah keluar pertama kali di bagian bawah kaki boneka itu, perlahan-lahan naik ke atas. Tapi tak ada luka yang berarti di kepala, keadaan mayat di TKP tadi pagi mengingatkan Aura pada Ratih.
Kenapa pembunuh itu tak melukai wajah para korbannya...
Kenapa hanya Ratih yang dibakar sampai hampir menjadi abu?
Kenapa aku tak pernah percaya kalau Ratih sudah mati...
Apa benar Ratih masih hidup seperti dugaan ku selama ini?
__ADS_1
Aura memejamkan matanya, dia jadi mengingat kembali sebuah fakta. Ratih disayangi oleh salah satu Kunti Kembar yang berdiam di Sendang desanya, dan saat Ratih menghilang salah satu Kunti Kembar itu juga menghilang. Sampai sekarang Kunti itu tak pernah dilihat lagi oleh Aura.