
Gaun merah yang panjangnya di atas lutut dan tanpa lengan sudah dikenakan oleh Utari, dia melihat pesona kecantikannya di dalam cermin.
"Sempurna!" kata Utari dengan senyuman yang manis.
Gadis itu berjalan pelan dari meja riasnya ke arah ranjangnya. Karena kosan Utari hanya terdiri dari satu kamar yang cukup luas gadis itu tak perlu pintu untuk menyekat ruangan. Dengan sekali angkat Utari mengangkat kasur tidurnya, dia membuka lagi papan tipis yang memisahkan dipan dan kasur itu.
Ternyata dipan tidurnya adalah tempat Utari menyimpan senjata-senjatanya. Tentu saja senjata untuk menyiksa, seperti pisau dengan berbagai macam ukuran. Palu, gergaji kayu, kapak, lingis dan lain sebagainya.
Semua alat itu tampak tertata rapi, pemilik semua benda itu sepertinya menganggap bahwa alat-alat itu sangatlah berharga. Dari cara menata dan menyimpan senjata-senjata itu.
Utari mengambil sebuah pisau yang berukuran seperti pisau buah kecil, dia juga mengambil sebuah palu.
"Mari bersenang-senang!" senandung Utari dengan suara yang sangat bahagia.
Tapi rasa bahagia itu terhenti saat ponsel Utari yang berada di atas meja riasnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul dilayarnya, tapi senyum Utari yang sempat hilang itu akhirnya muncul kembali.
"Kau sudah tidak sabar ya sayang?" tanya Utari.
Wanita iblis itu segera bergerak cepat untuk menyahut ponselnya.
"Hallo," sapa Utari.
"Gimana udah siap?" tanya Si mahasiswa gondrong yang sudah menunggu Utari di dalam mobilnya.
Pria gondrong itu saat ini sudah merapatkan mobilnya di depan gerbang kosan Utari, dia sudah siap untuk bersenang-senang dengan Utari malam ini.
Senyum penuh gairah mudanya tak pernah surut dari wajah pria gondrong itu. Mungkin di otaknya saat ini dia sedang membayangkan malamnya bersama Utari akan sangat indah dan mengesankan.
Utari menyamarkan lekuk tubuhnya dengan blezer hitam, tapi tetap saja kecantikannya tak bisa dia tutupi dengan apa pun.
Utari pun keluar dari dalam kosannya dan disambut dengan senyuman indah dari si pria gondrong.
__ADS_1
"Cantik banget loe Utari!" puji pria itu.
"Benarkah?" Utari tampak tersipu dan senyuman manisnya segera menghipnotis pria gondrong itu.
Pria yang akrab disapa Arjuna itu segera membukakan pintu mobilnya agar Utari bisa masuk ke dalamnya.
.
.
.
.
"Jadi apa yang kau minta!" kata Tuan Harsono.
Pria tua itu sedang berdiri tegak menghadap sebuah danau, dia dekatnya sudah berdiri pria yang bernama Hendra. Mantan angota Tim Alpa, yang kenal dengan Raga.
"Lepaskan kedua angota Tim Alpa yang saat ini sedang dalam misi Memberantas Tikus Negara!" kata Hendra.
Kedua pria beda usia itu saling menautkan pandangannya. Hendra yang mempunyai wajah yang dingin dan kaku itu mencoba menelisik ekspresi Tuan Harsono yang terlihat bersahabat.
"Trimakasih Tuan, aku pastikan mereka berdua tak akan membuat keributan!" kata Hendra.
Pria bernama Hendra itu adalah mantan angota Tim Satu di Tim Alpa, pria berdarah Belanda, Jepang, Bugis ini adalah salah satu andalan di Tim Satu.
Karena itu pria yang tinggi badannya 182 cm itu tau jika apa yang baru saja dijanjikan oleh Tuan Harsono adalah kebohongan. Dia juga punya rencana jika Tuan Harsono tak mau membebaskan Raga dan Utari, pria itu adalah wakil pemimpin Tim Satu dulunya. Strategi perang, dan konflik adalah hal yang mudah bagi pria berkulit putih kemerahan itu.
Setelah Hendra pergi dari tempat itu, seperti yang ditebak oleh Hendra. Tuan Harsono memerintahkan anak buahnya untuk mengejar pria tinggi tersebut.
Hendra yang sudah tau akan dikejar segera masuk ke dalam mobilnya saat sudah sampai di parkiran tempat pribadi tersebut.
__ADS_1
Senjata laras panjang yang biasa digunakan oleh Penembak Jitu untuk membidik target jarak jauhnya sudah berada di genggaman kedua tangan Hendra.
Dia yakin akan mati di tempat ini, karena Hendra tau Tuan Harsono yang menyandang bintang empat di pundaknya itu pasti sudah mengerahkan kekuatan penuhnya untuk pertemuan mendadak ini.
Pria ambisius seperti Tuan Harsono pasti sangat jeli dalam mengantisipasi hal semacam ini, dia yang mendapat jabatan karena kecurangan akan selalu curang selamanya.
Benar saja para Penembak Jitu yang dikerahkan oleh Tuan Harsono sudah mulai menembaki mobil Hendra. Tapi mantan penyusun setrategi perang dan berpangkat Mayor Jendral itu bukanlah pria yang bodoh.
Dengan sigap dan akurat, peluru di dalam senjata laras panjangnya juga segera dia lontarkan ke arah para Penembak Jitu yang sedang menembaki mobil sedannya. Para Penembak Jitu suruhan Tuan Harsono tampak kaget, kenapa Hendra bisa memberi serangan balasan. Pasukan khusus itu pasti tak tau jika Hendra membawa senjata juga.
Satu demi satu pasukan berseragam hitam-hitam itu sudah mulai bergelimpangan di tanah, tapi pasukan lain segera muncul dari arah gerbang.
"Sial!" gumam Hendra yang tak punya jalan keluar.
Pria berbadan tegap dengan kemeja putih tipis itu harus berfikir secara logis saat ini. Karena senjata yang dia bawa tak akan bisa bertahan selamanya.
Hendra pun menghujankan tembakan ke arah bangunan di samping mobilnya terparkir. Dia berusaha membunuh orang sebanyak mungkin di area itu. Agar dia bisa keluar dari mobilnya dan menghampiri keberadaan Tuan Harsono.
Jika dia harus mati hari ini, dia tak keberatan. Tapi dia harus melukai Tuan Harsono juga. tekatnya.
Halaman vila yang hijau indah nan asri itu sekarang sudah berubah menjadi lautan manusia yang sekarat. Langkah kaki bersepatu pantofel berwarna hitam mengkilap itu segera bergerak maju memasuki bangunan yang beberapa menit lalu dia tapaki dengan santai.
Hendra mengalungkan senjata laras panjangnya ke bahunya, kini di genggamannya sudah tergenggam pistol kaliber disetiap tangannya. Pria itu segera masuk ke dalam bangunan yang sepi itu, karena semua pengawal Tuan Harsono keluar untuk menembakinya tadi.
Tapi tanpa diduga oleh Hendra seorang gadis dengan perawakan ramping menyerang pria itu. Sebuah tendangan dari wanita kurus itu berhasil membuat Hendra tersungkur di lantai. Hingga salah satu pistol di tangannya terlembar menjauh darinya.
Tapi dengan sigap Hendra segera bagun dan mengarahkan bidikan senjata apinya ke arah wanita tersebut. Dengan lincahnya wanita itu berhasil sembunyi di sebuah pilar yang besar.
Duarrrrrrrrrrrrrrrrr
Dari lantai dua bagunan bergaya Eropa klasik itu seseorang menembaki Hendra dengan membabi-buta.
__ADS_1
Seberapa lincahnya Hendra jika dihujani tembakan semacam itu, dia pasti terkena. Satu peluru sudah bersarang di bahu Hendra kini. Lelaki bertubuh kekar itu berlindung di pilar yang lain, darah sudah mengucur dari bahunya.
Kemeja putihnya pun sudah berubah merah sebagian. Tapi Hendra seperti tak merasakan sedikit pun rasa sakit di lukanya. Pria itu memaksakan diri untuk mempersiapkan senjata api laras panjangnya untuk membidik orang yang baru saja menghujaninya dengan tembakan dan berhasil melukai bahunya.