Ghost Of Death

Ghost Of Death
Misi Peretasan


__ADS_3

Pakaian serba hitam, masker dan topi sudah dikenakan oleh Raga. Lelaki iblis itu sedang duduk di belakang kursi kemudi sebuah mobil sport Lamborgini Aventador kuning.


Leo berjalan dengan gerak-gerik mengawasi di sebuah gang, lelaki itu harus mencari jaringan Wifi untuk mengkoneksikan Labtopnya pada data peretasannya. Leo yang memakai hoodie hitam, dengan topi hitam di kepalanya itu akhirnya berdiri tepat di depan sebuah kafe. Kafe di dalam gang yang dipilih oleh Raga untuk melancarkan aksi peretasan Leo.


"Jangan lengah!" ujar Raga, pada orang di seberang earpiece yang dia pakai.


"Apa kau meremehkanku, karena kita sudah lama tak ke medan perang?!" jawab Utari yang sudah siap.


Gadis itu sedang merakit senjata laras panjang di sebuah ruangan, yang sudah berantakan. Yapppp gadis iblis itu baru saja membunuh tiga pegawai yang menghuni kantor penyalur tenaga kerja ke luar Negri.


Raga bertugas mengamankan sisi depan, sedangkan Utari di sisi belakang gedung Aeroks milik Kementrian Pertahanan. Ketiga orang ini menjalankan sebuah misi peretasan yang di rencanakan Raga secara dadakan. Karena Raga merasa bahwa waktu pembalasan Tuan Harsono tak akan lama lagi.


Raga harus cepat mendapat informasi tentang perkembangan prajurit buatan yang diciptakan dengan Gen Psychopath dan juga Gen hewan pemburu itu.


Leo sudah membuka Labtopnya, dia segera membuka server yang bisa menghubungkan ke keamanan data di Kementrian Pertahannan. Tak butuh waktu lama, Leo sudah menyambungkan semua server, dia berhasil masuk ke dalam sistem dengan aman.


Tapi saat Leo mencoba mencari data CCTV tempat itu, Leo mengalami sedikit kesulitan tentang keamanan yang baru diciptakankan oleh Kementrian Pertahanan. Badan milik negara itu pasti menciptakan kode keamanan baru setelah pencurian dan perusakan data yang dilakukan oleh Raga beberapa hari yang lalu.


Leo adalah heaker handal sejak dia masih SMP, dia mempelajari hal itu karena suka. Tapi lelaki tampan berotak encer itu, memilih berada di Tim Lapangan bukan di IT. Karena saat kita di lapangan kita akan tau apa yang terjadi. Itulah alasan Leo berada di tempat yang bahaya ini.


Lelaki tampan itu mulai bersiap untuk perang dengan jemarinya. Dia memijat tengkuknya dan merengangkan seluruh sendi-sendi di bagian leher dan bahunya terlebih dahulu.


"Mari kita mulai," gumam Leo lirih tapi penuh semangat.


10 jarinya menarai cepat di atas kayboard Labtopnya. Dia mengetik apa pun yang terlintas di kepalanya, dan setelah lima menit. Leo berhasil masuk ke dalam sistem keamanan baru itu.


Dia mengcopy semua data yang berada di server itu, termasuk data CCTV yang di ingin oleh Raga. Data perkembangan mahluk-mahluk itu, data tentang Tim Alpa yang belum rusak dan misi-misi ilegal yang pernah Tim Alpa jalanai, serta masih bayak lagi data-data lain mengenai Tim Alpa.


"Sudah selesai belum?" tanya Raga pada Leo dari earpiece yang juga dikenakan oleh Leo.


"Sedikit lagi!" kata Leo.


Leo menadapat perlawanan dari Tim Heaker dari Kementrian Pertahanan.


"Aku mendapat perlawanan!" kata Leo pada Raga.

__ADS_1


"Kau tenang saja. Kau masih ingat kan, tentang jalur kabur yang kubilang!" ujar Raga.


"Aku ingat," ungkap Leo. "Mereka melacak lokasiku!" kata Leo lagi.


Raga masih diam di dalam mobilnya, dengan santai dan tenang.


"Aku akan mengulur waktu sebanyak mungkin, jika kau sudah selesai cepat lari. Dan amankan data itu!" perintah Raga.


"Baik, Ketua!


"Kenapa aku mau disuruh manggil bocil, Ketua?!" desah Leo kesal pada dirinya sendiri.


Leo mencoba menghalangi pelacakan mereka tapi, tampaknya Leo tak bisa melakukan hal mustahil itu. Sementara kolom backup masih menunjukkan angka 65%.


Raga bisa melihat banyak prajurit dengan pakaian dan senjata lengkap sudah mulai keluar dari dalam gedung cekung yang besar itu.


Sesuai prediksi Raga para penembak jitu sudah dikerahkan untuk mengamati lokasi belakang Gedung. Karena di sana tempat Leo melancarkan aksi peretasannya.


"Aku sudah melihat mereka!" kata Utari.


"Ok!" kata Utari dengan nada yang santai.


Tapi tangan dan matanya sudah siap di posinya untuk memuntahkan seluruh peluru yang ia miliki.


Satu persatu penembak jitu yang bersiap di dalam gedung kementrian pertahanan itu pun segera terkapar, karena begitu tepatnya tembakan-tembakan yang dibidikkan oleh Utari.


Sementara Raga menurunkan cendelanya, dia memacu mobil anti peluru pemberian dari Emely-nya ke arah pasukan yang berlari dari dalam gedung ke arah tempat Leo.


Tanpa keraguan Raga sudah menabrak beberapa pasukan. Sambil mengarahkan setirnya ke arah  barisan pasukan khusus Kementrian Pertahaan itu. Raga menarik pelatuk senjata laras pendeknya dengan satu tangannya, beberapa kali ke arah beberapa pasukan.


Alhasil suara tembak menembak langsung berkumandang mengiringi suara azdan ashar sore itu.


"Aku sudah selesai!" kata Leo akhirnya.


"Cepat pergi!" kata Raga.

__ADS_1


Mobil Raga mulai di kejar oleh mobil anti peluru milik pasukan tempur. Komando penangkapan pasti sudah di perintahkan oleh Tuan Harsono selaku petinggi paling tinggi di pasukan pembela Negara itu


Beberapa mobil besar itu keluar dari dalam gedung dan langsung menargetkan mobil Raga sebagai bulan-bulanan. Karena tak mungkin bertahan di tempat itu Raga segera memutar setirnya untuk kabur.


Dengan diiringi suara sirine polisi yang bikin pusing, Raga mencoba memacu mobil sportnya sekencang mungkin. Mobil-mobil anti peluru yang amat gagah perkasa itu tak munhkin bisa menandingi kecepatan mobil sport yang dikemudikan Raga.


Sementara Utari yang sudah membunuh semua penembak jitu di gedung Aeroks milik Kementrian Pertahanan itu, segera bersiap untuk kabur. Dia keluar dari dalam ruangan itu dengan santainya, sambil melepas satu-persatu pakaian hitam-hitamnya.


Semua orang didalam gedung itu pada berlarian untuk keluar, karena ketakutan. Utari yang sudah mengenakan gaun merah pendek dengan heels merah yang tinggi segera mengikuti berapa warga penghuni gedung yang berlari kebawah dengan raut wajah ketakutan.


Dan Leo berjalan tenang, di sebuah lorong sempit. Leo dan Raga baru saja melihat denah pelarian Leo.


"Aku harus memanjat dinding ini!" kata Leo.


Karena dinding menjulang setinggi 3 meter sudah berdiri tegak di hadapannya.


"Apa boleh buat!" ujar Leo lemas.


Lelaki tampan itu mengambil ancang-ancang yang cukup jauh. Leo harus bisa meraih ujung bagian atas tembok tinggi itu.


Leo mencoba sekali tapi dia tak dapat meraihnya, dua kali masih tak bisa. Sampai suara derap langkah sepatu yang amat banyak sudah berhasil mengikuti Leo.


Puluhan senjata laras panjang itu menodong ke arah Leo. Seketika wajah pria agen BIN itu pucat pasi, dia segera mengangkat kedua tangannya ke udara tanda dia sudah menyerah.


Utari yang melihat sekitar jalur pelarian Leo sudah di kepung. Membuat gadis cantik itu mengeluarkan dua pistol dari tas merahnya.


Dia menaggalkan heelsnya begitu saja di jalan trotoal itu. Dia segera mendekat ke arah pasukan yang mengepung jalur kabur Leo.


"Ada apa yaaa Pak?" tanya Utari.


Gadis itu berada cukup dekat dengan salah satu pasukan dan....Dorrrrrrrrr


__________BERSAMBUNG____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2