Ghost Of Death

Ghost Of Death
Lagi-lagi Rahasia


__ADS_3

"Vidio itu diunggah dengan alamat email Hotel dimana penculik itu menculik Karis Paseha!" kata Hecker itu.


Detektif Senki hanya bisa terdiam, penculik itu seolah-olah ingin bermain dengannya. Kenapa penculik itu malah mengunakan email Hotel TKP penculikan untuk mengunggah vidio. Kenapa dia terkesan ingin membuat tim Kepolisian berputar-putar, tanpa mendapat apa pun.


Tapi penculik itu pasti meninggalkan sesuatu, secerdas apa pun penculik itu dia tetap terlahir sebagai manusia yang pasti bisa melakukan hal yang ceroboh.


Detektif Senki tak yakin bisa menangkap penculik itu, tapi dia harus yakin. Karena Detektif berwajah tegas itu yakin jika penculik Karis Paseha adalah pembunuh berantai Bulan Biru.


"Kapan vidio itu diunggah?" tanya Detektif Senki.


"Sekitar 1 jam yang lalu." jawab hecker itu, tapi sebuah vidio baru muncul di akun itu. "Dia mengunggah vidio baru!" kata Hecker itu.


"Lacak dimana orang itu mengunggah vidio itu!" perintah Detektif Senki.


Detektif Senki mengambil ponsel dari saku celananya, dia membuka aplikasi dimana si pencuri itu mengunggah vidio.


Wajah maskulin itu mengeras saat mendengar perkataan yang dilontarkan oleh kedua insan di dalam vidio penyiksaan itu.


.


.


"Kenapa kau bohong?" pria penyiksa bertanya pada Karis Paseha dengan suara yang diubah.


"Bohong apa?" tanya Karis Paseha.


"Tentang dimana mayat korban pertamamu!" kata Raga.


Meski pria muda itu tak tau dimana tepatnya Karis Mengubur Farida Adelia, tapi dia tau Karis tak akan dengan ceroboh mengubur korbannya di tempat umum seperti tanah kosong di sebelah apartemen miliknya dulu. Tanah itu memang sudah berdiri mol mewah, Karis pasti tak ingin siapa pun menemukan mayat korbannya.


Raga kembali menyalakan kameranya, dan mengambil sebuah besi dengan kabel panjang.


"Apa ini?" tanya Raga pada Karis, mahasiswa Seni itu tampak sedikit bingung untuk menebak fungsi alat itu.


"Harus dihubungkan dulu ke aliran listrik yaaa?" tanya Raga.


"Jangan lakukan itu! Saya mohon Tuannnnn!!!" rengek Karis.


Tentu saja rengekan itu sama sekali tak dihiraukan oleh Raga. Pria muda itu malah menjadi lebih semangat untuk menyiksa tubuh atletis Karis.


"Mari kita coba." kata Raga dengan senyum yang menyeringai ke arah wajah Karis.


Karis yang tau apa fungsi alat itu pun segera berbicara jujur.


"Aku menguburnya di halaman belakang rumah orang tuaku, vila Paseha!" kata Karis.

__ADS_1


"Jadi kau mengubur semuanya di sana?" tanya Raga.


"Iyaaaa, aku mengubur ke 7 wanita korbanku di area halaman belakang vila itu!" akhirnya Karis mengakuinya.


"Apakah ada petugas yang berwenang yang mau membuktikan perkataanmu?" tanya Raga.


Karis hanya terdiam, dia tak mau menjawab dan akan membuat Raga emosi sehingga pembunuh muda itu akan menyiksanya dengan lebih keji.


Rekaman vidio di ponsel itu berhenti disitu. Hanya wajah Karis yang menyedihkan yang disorot oleh mata kamera Raga, dengan suaranya yang sudah dia ubah.


.


.


Detektif Senki adalah seorang Detektif yang sudah 15 tahun mengabdikan dirinya di kepolisian. Dan dia adalah Detektif dengan pengetahuan yang sangat luas apa lagi tentang Psychopath.


"Karis bericara jujur." gumam Detektif Senki.


"Kita harus mencari mayat-mayat itu untuk membuktikan!" kata Detektif Morgan.


"Tapi kita juga harus menyelamatkan Karis, jika tak cepat mendapat pertolongan lelaki itu akan segera mati!" kata Detektif Senki.


Tim forensik dan Detektif Morgan sudah tiba di vila Paseha, mereka menerobos masuk. Puluhan bodyguard yang bertugas menjaga tempat itu pun tak bisa berkutik saat surat perintah penggeledahan ditunjukkan oleh Detektif Morgan.


.


.


.


.


Raga menonton vidio yang dia unggah di depan kelasnya, dia tampak tersenyum menyeringai saat membaca komentar-komentar hujatan untuk Karis Paseha.


Raga sepertinya puas sekali, tapi ponselnya yang lain bergetar di dalam saku celananya.


Segera Raga berjalan ke tempat yang aman yaitu toilet, dia masuk ke dalam salah satu ruangan kecil itu.


Raga memeriksa ponsel lain itu, ada pesan dari O2 itu adalah kode untuk Utari. Pesan itu berisi persetujuan Utari tentang perintah Raga padanya.


Raga memerintahkan adik kembarnya itu untuk menjaga Karis nanti malam, Raga tak mau Karis meninggal sebelum besok malam. Karena jika Karis meninggal sebelum itu maka rencana yang dia buat pasti akan gagal.


Ponsel Raga yang satunya kini yang berdering. Raga sebenarnya malas membawa dua ponsel kemana-mana tapi demi Aura Raga harus menggunakan cara itu. Kini Aura sudah menjadi pacar Raga, dan bisa dipastikan gadis tomboy itu akan memeriksa ponsel Raga sesekali. Jadi untuk jaga-jaga, Raga menggunakan dua ponsel.


"Hallo!" sapa Aura di sebrang panggilan.

__ADS_1


"Iya Sayang!" jawab Raga dengan nada yang manja.


Ekspresi dan gelagat lelaki muda ini begitu cepat berubah.


"Elu dimana?" tanya Aura.


"Di toilet." jawab Raga.


"Astaga, lalu kenapa di angkat?" Aura bergidik jijik.


"Nanti elu marah, kalau nggak gue angkat!" dalih Raga.


"Emang gue pernah begitu?"


"Enggak sihhhh, tapi gue takut elu marah!"


"Sejak kapan?"


"Ada orang BAB kok diajak ngobrol!" Raga tersenyum, karena saat ini dia memang duduk di atas toilet, tapi dia sama sekali tak buang hajat apa pun.


"Ya udah, gue tunggu di depan kampus gue ya!" kata Aura.


"Ok!"


Kedua insan yang kini tengah dimabuk asmara itu saling tersenyum saat menutup panggilan mereka. Akankah taman yang sedang berbunga itu akan bertahan harum selamanya. Karena begitu banyak rahasia yang disembunyikan Raga dari Aura, mungkinkah jika Aura tau semuanya dia akan tetap menerima Raga.


Cinta terkadang memang buta, tapi apakah orang buta tak bisa merasakan kesedihan. Jika fakta bahwa Raga yang sudah membunuh Mbah Sodik itu terungkap apakah kebutaan cinta Aura pada Raga akan tetap Buta.


Sedalam-dalamnya samudra bisa diarungi, setinggi-tingginya gunung memang bisa didaki. Tapi siapa tau hati dan otak manusia. Tak ada yang bisa menebak.


Aura dan Raga pulang bersama, karena mereka tadi juga berangkat bersama.


.


.


Hari sudah mulai gelap, para pengumandang Adzan sudah bersiap di depan mimbar untuk mengumandangkan lantunan panggilan ibadah untuk umat Islam. Para penganut yang beraktifitas segera beristirahat untuk memenuhi panggilan suci itu.


Utari sudah sampai di sebuah penginapan kecil di pinggir kota, penginapan tanpa keamanan dan CCTV satu pun itu menjadi pilihan Utari untuk mengganti busananya.


Gadis sunda yang lemah lembut dan cenderung feminim itu sudah merubah penampilannya. Celana jins hitam panjang dan crop top hitam membuat Utari seperti berubah menjadi Aura. Tak lupa Utari juga mengenakan jaket kulit hitam serta topi untuk menutupi wajah cantiknya.


Dengan sepeda motor Utari pergi ke tempat dimana Karis disiksa, laju kuda besi berwarna hitam legam itu mengarah ke pusat kota lagi.


Sebuah rumah di kompleks perumahan yang sepi, ini adalah kompleks perumahan tempat Sinta dan Laura pernah tinggal. Utari bahkan masuk ke dalam rumah yang kumuh milik Sinta. Motor sports hitam milik Utari pun juga ikut masuk kedalam bangunan berukuran 9x6 itu.

__ADS_1


__ADS_2