Ghost Of Death

Ghost Of Death
Tertangkap


__ADS_3

Raga duduk di samping ranjang rawat Aura, pria muda yang macho itu segera membawa gadis pujaan hatinya ke Rumah sakit sesaat setelah Aura tak sadarkan diri. Meski kata Dokter di Rumah Sakit, saat ini Aura hanya pingsan. Raga tak mau mengambil resiko, dia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Aura.


Jiwa gadisnya pasti sedang terguncang saat ini, berita kematian Mbah Sodik yang mendadak pasti sangat membuat Aura syok. Apa lagi Mbah Sodik meninggal karena dibunuh oleh pembunuh berantai Bulan Biru. Aura pasti sangat terpukul karena itu.


Meski belum dipastikan, tapi mengetahui bahwa dua orang tercintanya telah dibunuh oleh orang yang sama. Siapa yang tak terganggu, semua manusia biasa pasti akan merasa guncangan hebat di dalam jiwanya.


Saking khawatirnya pada Aura, kedua jemari tangan Raga kini tengah meremas telapak tangan kanan Aura. Tubuh gadis tomboy itu masih terkulai tak berdaya di atas ranjang rawatnya.


Butiran air mata tak hentinya berlinangan membasahi kedua pipi mulusnya. Ragata merasa sangat bersalah dengan kematian Mbah Sodik, dia tak bisa berhenti mencaci-maki dirinya sendiri di dalam hatinya.


Jika saja Raga tak meninggalkan Mbah Sodik sendiri di pintu masuk setasiun, jika saja ia mengawasi Mbah Sodik sampai naik ke kereta. Mungkin calon mertuanya itu belom meninggal saat ini.


Wajah tampannya kini telah basah oleh air mata penyesalan yang tak akan bisa dia perbaiki. Karena apa pun yang akan dia lakukan tak akan bisa menghidupkan lagi jasat Mbah Sodik.


Seseorang memukul pelan pundak Raga, dan orang itu adalah Detektif Senki.


"Kamu harus bersaksi!" kata Detektif Senki.


Raga hanya menunduk pelan, dia segera bangkit meninggalkan Aura yang sekarang sudah didampingi oleh ibunya yang datang bersama Detektif Senki.


Ibu Dewi segera memeluk tubuh putrinya yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rawat itu. Isak tangis mulai berkumandang dari bibir Bu Dewi, jeritan lirih tertahan dia keluarkan di sela tangisannya.


"Aura.....bapakmu Nakkkkkk!" katanya dengan nada rendah yang tertahan, Ibu Dewi pasti tak ingin membangunkan Aura tentunya.


Raga yang mendengar eluan pilu itu berbalik, dia ingin sekali memeluk Ibu Dewi dan menenangkannya. Tapi lengannya segera ditarik oleh Detektif Senki.


.


.


.


.


"Gue dan Mbah Sodik melihat dengan jelas!" kata Raga. Dia sekarang sudah berada di dalam ruang introgasi kepolisian.


Ragata menceritakan semua yang dia lihat dan alami di rumah Imanuel, dia juga menceritakan secara detail tentang Mbah Sodik yang ingin segera pergi setelah melihat foto yang diambil oleh Mbah Sodik dari rumah Imanuel.

__ADS_1


"Jadi Mbah Sodik langsung ingin pulang?" tanya Detektif Senki sekali lagi.


"Iya, saat gue tanya karena apa? Mbah Sodik bilang 'seseorang sedang dalam bahaya'.


"Gue juga sempat meminta foto itu, Gue ingin melihatnya! Tapi Mbah Sodik tak mau memberikannya padaku." Jelas Raga dengan wajah sedih yang sangat sedih.


"Imanuel!" kata Detektif Senki.


"Apa Dosen kami itu yang telah membunuh Mbah Sodik?" tanya Raga.


"Kesaksianmu memang belum cukup untuk membawanya kemari, tapi aku akan mencari bukti lain agar aku bisa menagkap psychopat itu!!!" kata Detektif Senki.


.


.


.


.


Apa Detektif Senki berhasil mencari bukti lain, selain kesaksian dari Raga???


Semua petugas kepolisian khusus itu tengah sibuk mencari bukti di dalam rumah besar yang megah itu. Mereka tak melewatkan satu senti pun area di dalam rumah itu. Tim yang di isi oleh pasukan terlatih untuk mencari bukti kejahatan itu pun mengerahkan semua kemampuan yang mereka miliki.


Mereka harus mendapatkan bukti dari dalam rumah ini. Apa pun caranya.


Setelah berjam-jam seluruh pasukan tak menemukan apa pun, padahal rumah bak istana itu pun sudah berubah menjadi rumah tikus yang acak-acakan dan rusak.


Detektif Senki tampak berada di dalam ruangan yang dikatakan oleh Raga. Mereka berdiri diam di sana, tentu saja keadaan ruangan itu sudah jauh berbeda.


Dinding-dinding yang awalnya di tempeli oleh berbagai macam foto jasat yang mengerikan itu sudah tampak polos bersih. Letak papan kaca pun juga berubah, gambar-gambar di sana pun juga sudah berubah.


Detektif Senki maju ke depan dan mendekati dinding putih polos itu, seperti anjing pelacak dia mengendus bau dari dinding itu. Sepertinya dia menemukan sebuah petunjuk, jemari tangan kanannya segera ia gesekkan ke tembok itu.


Terdapat noda cat di ujung-ujung jari Detektif Senki.


Tanpa berkata-kata lagi, pria gagah itu memerikasa setiap senti ruangan bawah tanah milik Imanuel. Dan dia mendapatkan sesuatu di dalam sana.

__ADS_1


.


.


.


.


"Jadi jam 11 siang kemarin anda melihat langsung kalau Mbah Sodik dan Raga keluar dari rumah anda?" tanya Detektif Morgan.


Karena surat penangkapan dan penggeledahan sudah diterbitkan oleh lembaga kepolisian. Imanuel sudah menjadi tersangka pembunuhan Mbah Sodik atas kesaksian Raga.


Imanuel hanya diam saja tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan yang dicecarkan oleh Detektif Morgan padanya.


Karena Imanuel memutuskan untuk diam tanpa kata, Detektif Morgan juga tak bisa melakukan apa pun. Meski setatus Imanuel adalah seorang tersangka tapi setatus itu bisa berubah kapan saja sebelum hakim mengetukkan palu.


Menganiyaya tersangka bukanlah sebuah jalan keluar masalah ini, dia harus tetap tenang dan berusaha agar pria berdarah Roma itu mau bicara padanya.


"Apa Anda tau Mbah Sodik adalah ayah dari salah satu mahasiswa di kampus tempat anda mengajar?" tanya Detektif Morgan, pria muda ini tampak sudah dapat menetralisir emosi yang baru saja menguasainya.


Tapi wajah datar yang diperlihatkan oleh Imanuel membuat Detektif Morgan kembali naik darah.


"Kenapa anda membunuh Mbah Sodik?!!!" bentak Detektif Morgan, dia juga manusia biasa yang bisa terpancing emosi.


Wajah melankolis yang amat sangat tampan Imanuel masih tak bergeming. Dosen Seni ini memang mempunyai perangi yang dingin di kesehariannya, tapi wajah datarnya kali ini benar-benar terasa berbeda seperti biasanya.


Gubrakkkkkkkkk


Pintu ruangan introgasi itu dibuka paksa oleh Detektif Senki. Morgan segera berdiri saat melihat atasannya masuk kedalam ruangan introgasi itu. Tanpa pikir panjang Detektif Senki pun duduk di depan Imanuel.


"Kita lihat apa anda akan tetap diam, saat anda melihat ini!" kata Detektif Senki santai.


Imanuel sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun, Dosen itu tetap pada pandangan kosong yang tak berekspresi. Meski di hatinya dia merasa penasaran dengan apa yang akan diperlihatkan oleh Detektif Senki padanya.


Detektif Senki menarik labtob yang berada di sisi kirinya menuju ke hadapannya. Dengan wajah serius dan manik mata yang memandang lurus ke arah bola mata Imanuel tanpa menghentikan kegiatannya membuka labtop.


Setelah labtop itu terbuka Detektif Senki mengeluarkan sebuah flasedisk dari dalam saku celananya.

__ADS_1


__ADS_2