Ghost Of Death

Ghost Of Death
Orang Ketiga


__ADS_3

Detektif Senki memacu mobilnya dengan kecepatan yang tak main-main. Apakah benar Raga adalah putra Imanuel, itu yang Detektif Senki pikirkan saat ini.


Saat khasus pembunuhan Mbah Sodik terungkap kenapa Raga baik-baik saja???


Kenapa Bulan Biru tak membunuh Raga juga. Padahal saat itu Raga bilang dia ikut masuk ke ruang bawah tanah Imanuel. Raga juga ikut melihat foto yang dicuri Mbah Sodik, kenapa pria muda itu masih baik-baik saja sekarang.


Bukankah Bulan Biru pembunuh yang sangat agresif dan komprehensif, dia tak akan melepaskan Raga yang sudah mengusiknya.


Tapi apakah mungkin Raga si pria muda penuh kasih itu adalah pembunuh berantai Bulan Biru. Lihat betapa bucinnya dia pada Aura, bukankah psychopath tak bisa mencintai orang lain. Psychopath hanya akan mencintai dirinya sendiri, memuja dirinya dan tak pernah peduli dengan orang lain.


Tapi untuk saat ini bagi Detektif Senki, semua mahluk yang bernafas di bumi ini patut dicurigai. Meski mencurigai Raga hanya karena nama belakangnya Alessio juga keterlaluan.


Detektif Senki punya rencana untuk Raga, bagaimana pun Detektif Senki harus memastikan apakah Raga adalah pembunuh berantai Bulan Biru atau bukan.


.


Setelah memarkir mobilnya di parkiran, Detektif Senki segera masuk dan mencari keberadaan Raga di dalam rumah sakit itu. Dengan mudah Detektif Senki bisa menemukan Raga yang tengah tertidur tengkurap. Sementara Aura duduk di kursi dan kepalanya bersandar di kasur. Gadis manis itu tampak sangat bahagia hanya dengan memandangi wajah Raga yang tertidur pulas.


Seketika hati Detektif Senki goyah, apa dia sudah gila mencurigai Raga yang begitu manis itu. Lelaki muda yang polos dan sifat yang lembut meski di masa SMU Raga begajulan.


Belum sempat Detektif Senki menyapa Aura, ponsel pria dewasa yang amat macho itu bergetar lama. Tanda seseorang menghubungi nomor ponselnya.


Dengan wajah yang masih dipenuhi rasa bersalah karena sempat curiga pada Raga, Detektif Senki mengambil ponselnya di saku jaket kulitnya.


Ternyata itu panggilan dari Morgan, Detektif Senki yang merasa pembicaraannya di telepon akan menggangu istirahat Raga pun keluar dari bangsal rumah sakit itu.


Tapi Aura yang baru sadar akan kedatangan Detektif Senki, sempat melihat kegundahan yang tergambar jelas di wajah Detektif Senki.


.


"Hallo," sapa Detektif Senki pada Detektif Morgan.


"Apa kau perlu bantuan?" tanya Detektif Morgan dengan penuh penekanan.


"Aku sudah bilang, aku yang akan menanganinya!" kata Detektif Senki.


"Pastikan senior benar-benar menanganinya!" ancam Detektif Morgan.


"Tapi apakah etis mencurigai seseorang hanya karena nama belakang mereka???" Detektif Senki mencoba membujuk Detektif Morgan.


"Jika senior ingin mundur, biar aku saja!" kata Detektif Morgan dengan tegas.


Rasa sakit di hati Detektif Morgan masih sangat membara, bagaimana bisa orang menghujani tembakan ke arah pria tua seperti ayahnya.


"Biar ku urus Raga, kau cari lebih banyak orang yang menggunakan nama Alessio di negara kita!" kata Detektif Senki, dia langsung memutuskan panggilan di ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa dengan Raga?" tanya Aura yang sudah berdiri tegak di dekat Detektif Senki.


Pria dewasa itu segera salah tingkah karena pandangan Aura, bukan karena jatuh cinta. Tapi karena bingung mau menjawab apa, pertanyaan Aura sangat menjurus. Dan kemungkinan besar Aura pasti mendengar semua pembicaraan Detektif Senki dan Detektif Morgan.


"Pihak kepolisian....emmmmm.


"Raga.... Ini hanya tentang kesaksian Raga di khasus pembunuhan ayahmu!


"Kami hanya memintanya melakukan pernyataan ulang, itu saja!" jelas Detektif Senki bohong.


"Ohhhh begitu, baik akan ku bagunkan dia!" kata Aura yang segera masuk ke dalam kamar bangsal lagi.


Akhirnya Detektif Senki bisa bernafas lega.


.


"Gaaaa....Ragaaa...Sayangggg!" panggil Aura.


Tapi di alam bawah sadar Raga, lelaki muda itu melihat sosok perempuan dewasa yang berlari dengan riang gembira dan dia sedang mengejarnya.


Perempuan dengan gaun merah bunga-bunga yang indah, bukan Aura, bukan juga Utari. Raga tak dapat mengenali wanita itu, tapi tiba-tiba wanita itu berhenti berlari dan berbalik ke arah Raga.


Wajah yang awalnya cantik itu berubah sangat mengerikan, hitam memucat dan banyak luka dengan darah yang mengering.


"Aku kan membunuhmu!" bisik wanita cantik yang menjadi hantu itu.


"Kenapa Gaaaa?" tanya Aura cemas.


Lelaki muda itu pun duduk dari berbaring tengkurapnya, dia segera menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Ekspresi ketakutan kini Raga pakai sebagai topeng, karena matanya menangkap sosok Detektif Senki yang berjalan ke arahnya.


Raga pun melanjutkan ektingnya dengan memeluk erat tubuh Aura di samping ranjangnya.


"Jangan pergi, jangan tinggalin gue!" kata Raga dengan nada sedih. Lengkaplah sudah akting yang dilakukan Raga.


Psychopath itu tak takut apa pun, apa lagi psychopath yang mempunyai gen Raja. Mimpi buruk diancam hantu, itu bukan-lah hal yang mengerikan apa lagi menakutkan bagi Raga. Dia hanya ingin agar Detektif Senki tak mencurigainya lagi.


Target pun tampak menunduk putus asa dan ingin rasanya dia kabur karena malu. Rasa curiganya pada Raga sama sekali tak berdasar dan tak masuk akal.


Apakah pria muda yang takut akan mimpi buruk bisa membunuh orang lain???


.


Seorang pria berpakaian jas lengkap melewati Detektif Senki dan mendekati Raga dengan cepat. Tanpa basa-basi Detektif Morgan memasangkan borgol di kedua tangan Raga.


"Apa yang kamu lakukan!!!" teriak Detektif Senki.

__ADS_1


"Ikut kami ke kantor polisi, kau harus menjalani introgasi lagi!" kata Detektif Morgan yang sedang emosi.


"Polisi punya aturan, kau tak boleh membawa warga sipil dengan borgol di tangannya. Jika dia tak bersalah!" bentak Detektif Senki.


Semua orang di sana sudah memandang ke arah ranjang Raga.


"Lepas borgolnya!" perintah Detektif Senki.


"Ada apa ini Pak?" tanya Aura yang sudah menitikan air mata.


"Lepaskan sekarang!!!" kini Detektif Senki berteriak dengan suara maskulinnya.


.


.


Sore itu Raga dibawa ke kantor polisi untuk diintrogasi ulang, sementara Aura ikut ke kantor polisi dan menunggu proses itu.


Tapi perut Aura tiba-tiba sakit lagi, dan kebetulan Leo melihat Aura yang menahan rasa sakit di ruang tunggu.


"Apa anda sakit?" tanya Leo pada Aura, pria dengan pakaian rapi itu masih pura-pura tak mengenali Aura.


"Hanya kram biasa, akan reda jika aku rileks!" jawab Aura, dia masih memegangi perutnya.


"Akan kubuatkan teh, jangan kemana-mana yaaa!" kata Leo yang entah kenapa menjadi sangat gugup ketika melihat Aura kesakitan.


Gadis itu pun mengangguk pelan tanda bahwa dia setuju untuk tetap di ruangan itu, menanti kedatangan Leo lagi.


Tak lama Leo sudah datang lagi dengan secangkir teh dan beberapa cemilan untuk Aura.


"Kau pasti kaget, pacarmu dibawa paksa," ujar Leo, tapi Aura hanya menjawab dengan senyuman biasa.


"Minumlah, dan makanlah cemilannya. Apa kau lapar?" tanya Leo.


"Padahal dulu saya jarang ngasih makanan ke Om, tapi Om....!" perkataan Aura terputus, dia baru sadar yang dihadapannya bukan Hantu Tampan lagi tapi Leo.


"Apa kita pernah kenal?" tanya Leo, dia sebenarnya ingin Aura bercerita tentang dirinya saat menjadi Hantu. Dia ingin tau bagaimana perasaan Aura padanya.


"Tidak....Kepalaku hanya pusing dan bingung!" kilah Aura.


"Apa kita kerumah sakit saja?" tanya Leo.


"Tidak usah, aku baik-baik saja!" kata Aura.


____________BERSAMBUNG__________

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Komen dan Like teman-teman ❤❤❤


__ADS_2