Ghost Of Death

Ghost Of Death
Santai Dulu


__ADS_3

"Lalu apa lagi?!" Tuan Harsono tampak kesal karena ulah istrinya itu, saat ini dia sedang berada di dalam kondisi genting tapi kenapa istrinya malah mengganggunya.


"Apa kau mencari ini?" tanya Nyonya Harsono.


Sebuah dokumen sudah dipegang oleh Nyonya Harsono, dengan kasar wanita itu melempar tumpukan kertas setebal lima centimeter itu ke arah tubuh tegap suaminya.


"Apa ini, kau membubarkan satunya!!! Tapi kau membuat yang baru?!


"Kau ingin keluarga kita dikata apa oleh semua orang???" Nyonya Harsono sudah tampak sangat geram pada keputusan suaminya itu.


"Angota Tim Alpa baru, tak ada yang Psychopat. Mereka manusia biasa dengan latihan yang ketat.


"Kau tak perlu setakut itu!


"Ini juga demi keluarga kita, aku menyiapkan Tim Alpa baru untuk berjaga-jaga jika angota Tim Alpa yang lama ada yang selamat dan menyerang kita!" jelas Tuan Harsono.


"Lalu uji coba DNA apa yang ada di dalam dokumen itu!" teriak Nyonya Harsono.


"Uji coba itu selalu gagal!" kata Tuan Harsono.


"Jika sampai ada sesuatu, jangan pernah libatkan aku dan putraku!" akhirnya wanita paruh baya itu terduduk lemas di sofa dekat tempatnya berdiri.


Sepertinya Ayah Morgan tau kegundahan apa yang sedang dialami oleh istri tercintanya itu. Lelaki tua yang pasti amat sibuk itu menyempatkan diri untuk duduk di dekat istrinya sejenak.


"Kita akan baik-baik saja, Sayang!" ujarnya dengan suara yang penuh kasih sayang.


Nyonya Harsono segera merasa lega karena perkataan suaminya itu.


"Berhati-hatilah!" kata Nyonya Harsono.


"Kau juga!" suami-istri itu akhirnya saling melepaskan.


.


.


.


.


"Hendra mencoba bernegosiasi dengan Mentri Pertahanan!


"Kemarin aku juga dapat memanipulasi data tentang kita berdua di kantor Kementrian," kata Raga.


Kedua kembaran itu kini tengah mengobrol di atap gedung, dengan sebatang rokok yang menyelip di sela jemari telunjuk dan tengah tangan kanan mereka masing-masing.


Mereka berdiri di tepian pagar pembatas di salah satu sisi gedung. Wajah mereka memandang ke arah kota yang luas, meski di belakang mereka juga ada mahasiswa lain. Pembicaraan mereka masih mereka lanjutkan.


"Bagaimana jika tidak berhasil?" tanya Utari.

__ADS_1


"Hendra menyuruh kita untuk sembunyi," Raga memicingkan matanya yang sudah sipit ke arah matahari yang mulai naik ke garis katulistiwa.


"Aku tak bisa sembunyi, kau tau aku bagaimana-kan?!" kata Utari dengan wajah tegas.


"Aku mohon!" kata Raga, lelaki manis itu memandang penuh harapan pada adiknya itu.


"Entahlah, aku sudah nyaman di Tim Alpa!" kata Utari, setelah melihat pandangan kakaknya dia luluh juga.


"Kenapa semua bisa mati secara bersamaan, mereka semua begitu sangat hebat secara individu maupun kelompok." gumam Utari.


"Pesawat Kemiliteran yang mereka tumpangi meledak di udara," Raga menjawab pertanyaan Utari dan dia segera berbalik karena rokok di tangannya sudah habis terbakar.


"Ingat! kendalikan dirimu," kata Raga.


Lelaki itu menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya kasar, dia lalu pergi dari tempat itu.


"Brooooo, apa bener elu pacaran sama Aura?" tanya seorang lelaki, dia adalah teman sekelas Aura yaitu Sandi.


"Iya, kenapa?" tanya Raga.


"Apa elu larang dia, supaya nggak kumpul-kumpul lagi sama kita?" tanya Sandi dengan nada bicara yang lumayan sopan.


"Enggak tuh, mungkin dia masih kurang nyaman kalau pergi buat seneng-seneng. Kalian pan tau bapaknya belom lama meninggal!" jelas Raga.


"Kami juga pengen ngehibur dia, mana ngekosnya sering pindah-pindah!" gerutu Sandi.


"Sekarang dia ngekos dekat kosan gue, tenang aja broooo! Gue bisa jagain dia kok!" kata Raga.


"Elu sih, kurang gercep!" ejek teman Sandi.


"Gue pikir Aura itu cewek baik-baik, ternyata seleranya Raga! Si cowok brengsek itu!" kata Sandi kepedean.


"Raga itu nggak brengsek. Gue emang pernah lihat Raga main ke klub sama cewek, tapi cuma sekali itu doang. Gue nggak pernah lihat dia lagi." jelas salah satu orang di kelompok itu.


"Kira-kira siapa si cewek itu?" tanya Sandi.


"Nggak ngeh gue, di club-kan gelap!" jawab orang yang bicara tadi.


Utari yang mulai jengah dengan celotehan mereka pun memutuskan untuk turun saja. Dia merasa pembicaraan para cowok itu sama sekali tak bermutu.


"Utari!" panggil si cowok yang ngaku ketemu Raga di club.


"Apa?" Utari segera berbalik ke arah lelaki itu.


Matanya berbinar tajam, garis wajahnya yang cantik itu berubah menjadi serius.


"Nanti malam elu ada acara?" tanya lelaki tadi.


"Tidak," jawab Utari sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Keluar sama gue yukkkk!" kata lelaki itu.


"Boleh!" jawab Utari. "Sini ponselmu, gue kasih nomor gue!" kata Utari.


Tanpa banyak bacot lagi, si lelaki berambut agak gondrong itu segera menyodorkan ponselnya pada Utari.


"Hubungi gue!" kata Utari dengan nada memaksa tapi manja.


Setelah berbalik untuk pergi Utari mengeluarkan senyum menyeringainya. "Mati kau," desah Utari pelan.


.


"Kayaknya nanti malam bakalan seru!" Sandi mulai mengoda teman gondrongnya itu.


"Mau gue kasih tunjuk pake siaran live?" tanya si cowok gondrong dengan senyuman yang penuh gairah.


"Gila lu!" semua teman-temannya yang berada di situ segera menghantamkan satu kaplokan ke kepala si cowok gondrong itu.


.


.


"Jadi bener Pak Imanuel mati?! Kok bisa??? Jelasin ke saya sekarang!!! Pantes aku tak melihatnya sudah lama sekali! Kau tau Aura hidupku amat sangat hampa tanpa Pak Imanuel!" terocos hantu Monika penunggu perpustakaan kampus di samping telinga Aura.


"Bisa diem nggak sih loe, gue mau belajar!" bentak Aura tertahan, dia tak boleh berisisk di area ini.


"Lalu kenapa arwahnya tak menemuiku!" tanya Monika.


"Mungkin dia langsung naik ke surga, karena tak ada lagi yang dia khawatirkan didunia ini!" jawab Aura.


"Tapi tetap saja, aku kan cinta sama dia." kata Monika dengan wajah yang amat sedih. Bahkan butiran air matanya menetes dari pelupuk mata transparannya.


"Elu nangisin Pak Imanuel?" tanya Aura.


"Entah kenapa hatiku terasa sangat sakit sekali, aku seperti tak rela dia pergi!" kata Monika.


"Yang pergi biarlah pergi, tapi yang afa harus kita pelihara!" kata sebuah suara yang mengkagetkan mereka berdua.


Apakah ada orang yang mendengar perbincangan mereka.


Sepasang heels hitam berdentum karena mengikuti kaki sang pemakai yang sudah mulai melangkah. Pemakai heels itu berjalan menuju Aura dan hantu Monika yang masih terperangah dengan pemandangan di depannya.


"Perkataanku betul-kan?" tanya wanita yang ternyata hantu Ibu Mawar.


.


.


Di gedung Badan Intelijen Negara sedang di adakan rapat mendadak. Terkait dengan pembunuhan Karis Paseha oleh pembunuh berantai Bulan Biru. Serta terjatuhnya pesawat Angkatan Udara yang membawa pasukan elit, menuju medan perang untuk membantu negara yang sedang berkonflik.

__ADS_1


Semua petinggi Badan Intelijen Negara sudah berkumpul, termasuk Leo yang menjadi angota BIN yang dipilih untuk menangani kahsus Bulan Biru.


__ADS_2