
Mobil merah buatan Jepang milik Arjuna si mahasiswa gondrong malam ini melaju begitu cepat ke arah sebuah bar di pusat kota.
Tak ada yang lebih bahagia dari Arjuna malam ini, pria yang sedang duduk bersanding dengan maut itu tak akan sadar. Maut tak selalu datang dengan kobaran api dan asap mengepul hitam. Tapi Maut juga bisa datang dari senyuman nakal dan bau wangi yang mengoda.
Kedua otak manusia yang saling melempar pandangan panas itu sama-sama memikirkan n.a.f.s.u. Yang lelaki memikirkan n.a.f.s.u birahi, dan yang perempuan memikirkan n.a.f.s.u membunuh.
"Jun bola mata loe indah banget sih!" kata Utari, dengan senyum di wajahnya wanita cantik itu dari tadi melihat ke arah Arjuna yang berusaha fokus menyetir.
"Masa sih?" tanya Arjuna dia langsung salah tingkah.
Karena dia mulai menyibakkan rambut gondrongnya ke belakang.
"Gue suka mata elu, indah!" kata Utari dengan lirikan mautnya.
"Jangan gitu Ut, gue jadi salting nihhhh!" ujar Arjuna yang sudah berada di puncak rasa ingin dipuaskan.
"Gue jujur Jun, gue suka mata elu yang agak kecoklatan," lanjut Utari.
"Ambil dehhh kalau elu emang suka!" kata Arjuna.
Utari pun kembali tersenyum manis ke arah Arjuna.
"Jangankan mata gue, hati gue pun gue kasih kalau elu mau!" kata Arjuna.
"Bener, aku boleh ngambil hati elu juga?" tanya Utari
"Ambil apa aja yang elu mau dari gue, gue ikhlas!" ujar Arjuna.
"Tentu saja!" kata Utari dengan nada bahagia.
"Asal kalo gue pengen, elu harus puasin gue!" kata Arjuna.
Senyum di wajah Utari sama sekali tak memudar meski perkataan Arjuna cukup tabu dan menghinanya sebagai seorang wanita. Tapi Arjuna tak tau jika kepuasan n.a.f.s.u lelakinya yang dia inginkan, akan dia bayar dengan rasa sakit sampai pada kematiannya.
"Gue akan puasin elu, sepuas-puasnya!" kata Utari yakin.
Rem mobil dipijak setelah sang kusir sudah menapaki area parkir tempat laknat yang bernama Hoony Bar.
"Kita pemanasan di sini dulu yaaaa!" kata Arjuna.
Sebenarnya Arjuna sudah ingin pergi ke tempat yang sepi entah tepat apa pun yang penting sepi, untuk menikmati tubuh indah Utari. Tapi dia sudah memesan tempat dengan beberapa teman sekelasnya untuk menunjukaan bahwa dia dapat memikat si Utari bidadari jurusan Seni.
__ADS_1
"Ok!" kata Utari.
Utari adalah pembunuh yang lebih kejam dari Raga, dia membunuh orang karena suka. Dan gadis cantik itu bukan tipe pembunuh yang terburu-buru. Dia akan menyiksa korbanya sampai korbannya mati karena rasa sakit.
Bagi Utari teriakan kesakitan dari para korbannya adalah sebuah musik romantis, dan tubuh korbannya yang bergetar hebat karena rasa sakit seperti tarian para Idol. Dia suka melihat pemandangan mengerikan itu, dan dia menikmati setiap detiknya.
.
.
Raga berdiri di depan jendela kamarnya, dia terdiam di sana. Wajah tampannya hanya memandang ke depan dengan serius. Di otaknya kini dia sedang berpikir, apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Lelaki bertubuh kurus tapi kuat itu tau jika Hendra telah mati, karena di habisi oleh Tuan Harsono. Dia yang berada di Tim empat pasti juga akan kualahan untuk menghadapi pasukan Tim Alpa yang baru.
Tapi jiwa pembunuh di diri Raga tak bisa diam. Dia ingin sekali membunuh Tuan Harsono, karena orang itu telah menjadi penghianat di Tim Alpa yang lama. Kriteria yang tak bisa diabaikan oleh Raga.
Cara apakah yang paling tepat untuk membunuh Mentri itu, apa yang harus dia lakukan.
Tok...Tok...Tok...Tok
Lamunan Raga segera buyar saat suara ketukan itu menggema di seluruh ruangan kamarnya.
Sebenarnya saat ini Raga hanya ingin sendiri, tapi dia juga tak bisa mengabaikan Aura yang suaranya terdengar butuh sesuatu dari Raga.
Pintu kamar Raga segera terbuka untuk bidadarinya, gadis tomboy itu segera masuk ke kamar Raga tanpa meminta ijin. Raga sebenarnya sudah bersiap jika Aura masuk kekamarnya, lelaki muda itu dengan teliti telah menyembunyikan para outfit dan barang-barang yang dia gunakan untuk kepentingan membunuhnya, di suatu tempat yang aman di kamarnya. Tapi dia masih saja gugup, karena ini pertama kalinya gadis manis itu masuk ke dalam kamar Raga.
Aura membawa baju yang dikenakan Raga di malam panas mereka. Gadis itu pasti mencari alasan untuk menemui kekasihnya yang tak kunjung datang ke tempatnya.
"Ini!" kata Aura.
"Bisa sekalian elu kasih di lemari kamar gue!" kata Raga, dia tau kedatangan Aura ke sini pasti untuk berduaan dengannya.
"Mau minum kopi?" tanya Raga ke Aura.
"Boleh!" kata Aura. Gadis itu pun melangkahkan kaki panjangnya kearah kamar Raga, sementara Raga ke dapur untuk menyeduh kopi untuk mereka.
Kamar Raga begitu sangat rapi sekali, bahkan lebih rapi dari kamar milik Aura. Gadis itu pun seketika malu sendiri, ternyata Raga yang dikenal nakal dan berandalan ada sisi baiknya juga.
Kamar kosan Raga lebih besar dari kamar kosan Aura, kamar yang ditempati oleh Raga ini mirip dengan rumah kecil dengan satu kamar.
Aura bertambah kaget saat membuka almari Raga yang jauh dari kata mawut. Semua tertata secara rapi sekali, bahkan Raga juga menata pakaiannya berdasarkan warna.
__ADS_1
"Gue rasa Raga bukan orang yang mengidap OCD, kenapa semua barangnya rapi banget!" ujar Aura.
Gadis itu meletakkan pakaian Raga yang sudah dia lipat di salah satu tumpukan pakaian Raga, dia tak mau mengacaukan kerja keras pacarnya itu.
Dia pun keluar dari kamar, dan Raga sudah siap dengan dua cangkir kopi di ruang tamu yang dilengkapi dengan TV dan seset sofa abu-abu yang mewah.
"Duduk sini!" perintah Raga dengan nada yang lembut.
Seperti anjing peliharaan, Aura hanya menuruti perintah Raga tanpa berkilah. Raga sedang menonton siaran berita di televisi nasional tentu dengan bahasa Ingris.
"Ternyata elu suka lihat berita!" kata Aura.
"Enggak juga, gue lebih suka nonton film aksi!" kata Raga.
"Kalau horor?" tanya Aura.
"Ogah, takut gue!" kata Raga, dia pasti bohong.
"Bagaimana kalau kita nonton film horor aja?" tanya Aura.
"Balik sana lu, gue nggak bisa nonton film horor!" kata Raga dengan anda agak tinggi.
"Jadi cowok cemen banget sih lu!" ejek Aura.
"Bodo, cemen-cemen gini gue bisa ngehamilin elu!" ujar Raga tak mau kalah.
"Kemarin elu keluarin di luar semua kan?!" bentak Aura.
"Iya...!" kata Raga. "Tapi sebagian di dalam," ujarnya kembali tapi dengan suara yang lirih.
Meski lirih Aura yang pendengarannya belum terganggu itu pasti dengar.
"Gimana kalau gue hamil, gue belom mau hamil! Goblok!" ujar Aura, tapi kedua tangannya sudah menyerang dengan tinjunya ke arah Raga.
"Ya mau gimana kalau udah hamil, nggak mungkin digugurin!" kata Raga.
"Akan gue gugurin!" kata Aura.
"Mau mati lu?" tanya Raga dengan nada serius, seperti saat dia berhadapan dengan korbannya.
Psychopath itu tak bisa jatuh cinta, dia hanya mencintai dirinya sendiri. Jika dia tertarik pada lawan jenis, dia tak akan mencintainya sebagai kekasih. Psychopath hanya menganggap pasangannya sebagai sarana untuk berkembang biak. Memperbanyak manusia dengan gen yang sama dengan mereka.
__ADS_1