Ghost Of Death

Ghost Of Death
Hantu Ibu Mawar


__ADS_3

Mobil Raga masih melaju kencang, meski penyok sudah menghiasi setiap sisi mobil keluaran Eropa yang di bandrol dengan harga sembilan enol di belakang angka enam. Yaaa enam milyar rupiah. Sekitar segitu--lah.


Dengan penuh n.afsu membunuh yang tinggi Raga terus mengejar dua mobil rombongan Tuan Harsono.


Bruakkkkkkkk


Raga kembali menabrak mobil sedan Tuan Harsono. Raga sama sekali tak peduli lagi dengan nyawanya, dia merasa lebih baik mati saja. Jika dia hidup, Raga hanya akan membahayakan nyawa Aura.


Jadi Raga ingin menyelesaikan semua disini, tanpa perhitungan dan dia hanya mengincar nyawa pamannya. Hanya dia dan pamannya mati, maka hidup Aura baru bisa tenang. Itu yang dipikirkan Raga saat ini, dia harus membunuh pamannya dan dirinya sendiri.


Hanya itu, yang bisa dia lakukan untuk pujaan hatinya.


Tanpa ampun dan tanpa rasa takut akan cedera, Raga terus menabrakkan mobilnya ke arah sedang Tuan Harsono. Hingga mobil mini bus mendorong mobil Raga dengan sangat kuat.


Tapi Raga yang tak kehabisan akal segera menghindar, membuat mobil mini bus itu kehilangan keseimbangan dan malah menabrak keras sisi samping sedan Tuan Harsono. Hingga kedua mobil yang ingin dihentikan oleh Raga itu berguling ke sisi yang berlawanan.


Tapi mobil Raga juga rinsek, dan dia hampir tak selamat karena dia juga menabrak beton pembatas jalan.


Raga berusaha keluar dari dalam mobilnya, tak lupa dia juga membawa senjata api di tangannya.


Raga yang hanya luka di bagian keningnya karena pecahan kaca itu segera berjalan tanpa waspada ke arah sedan Tuan Harsono.


Dia membuka pintu dan melihat Morgan serta sopir  sedan itu dalam kondisi bersimbah darah, sementara Tuan Harsono tak terlihat di sana.


Raga bisa menebak Tuan Harsono pasti keluar dan pergi ke arah hutan di tepi jalan tol itu. Langkah kaki Raga segera mengikuti dan mencari jejak pria tua bangka keparat itu.


Raga dapat melihat tetesan darah di rerumputan, dan dia mendapatkan jejak pria tua gila itu. Dengan senyum penuh kemenangan Raga mengejar dan menyusuri jejak darah itu.


Tak lama dia bisa melihat tubuh pria tua itu berjalan tertatih dengan kaki yang pincang. Mungkin luka tembakan dari Hendra kembali terbuka karena benturan kecelakaan.


Raga yang sudah di mode beringas sebagai Monster Predator pun langsung melancarkan penyiksaan pada Tuan Harsono.


DUARRRRRRR


Peluru bersarang tepat di betis kaki Tuan Harsono yang pincang. Tubuh tua tapi masih segar itu pun tersungkur ambruk ke tanah.


Pria tua itu meringis kesakitan, dia tau ajalnya tak akan lama lagi. Tapi paling tidak dia akan mati bersama Morgan putranya yang saat ini sedang sekarat.


"Apa ini balasanmu untuk pamanmu?" tanya Tuan Harsono pada Raga.


Raga tak bergeming dia malah memeriksa peluru di dalam pistolnya, apakah akan cukup untuk menyiksa pria tua itu atau tidak.


Dia masih punya tiga peluru lagi di dalam pistolnya, dan Raga merasa cukup untuk membuat pria tua itu merasakan kematian yang menyakitkan. Tapi dia harus menyisakan satu untuk memecahkan tengkorak di kepalanya sendiri.


"Apa kau sudah ingin mati Paman?! Berdiri--lah, jika kau berdiri dan terus berjalan aku tak akan meluakaimu!" ujar Raga.

__ADS_1


Lelaki iblis itu ingin menikmati adrenalin kepuasan batinnya untuk terakhir kalinya. Dia ingin pemandangan terakhir hidupnya adalah wajah memelas pamannya yang meregang nyawa di depannya.


Tuan Harsono ternyata terprovokasi dengan tawaran ambigu dari Raga. Dengan susah payah dan penuh perjuangan Tuan Harsono berusaha berdiri dan berjalan terus ke dalam hutan itu.


Raga semakin bernaf.su saat melihat Tuan Harsono berjalan dengan sekuat tenaganya, terus mengerakkan tubuh tua rentanya yang sudah bersimbah darah.


"Lanjutkan, sampai mana kau akan kuat berjalan di kondisi itu!" ucap Raga.


Tuan Harsono yang mendengar itu segera berbalik dan melihat ke arah Raga, itu artinya tua bangka keparat itu berhenti berjalan dan...


DUARRRRRRR


Sebuah peluru bersarang di bahu kiru Tuan Harsono. Dia tersungkur karena terjangan timah panas itu. Lelaki tua yang sangat berkuasa  itu mengerang kesakitan tanpa di pedulikan oleh siapa pun.


"Berdiri--lah masih ada dua peluru lagi di pistolku!" kata Raga.


"Kau harus hidup untuk membalas dendam padaku kan, kau harus punya sesuatu untuk membunuhku kan???" tantang Raga.


"Keparat!" pekik Tuan Harsono.


Penampilannya yang selalu amat bersih dan tertata  itu, kini tak ubahnya seperti pengemis jalanan yang pincang dan cacat. Dengan bantuan pepohonan di hutan itu Tuan Harsono masih kekeh untuk berusaha berdiri. Dia tak mau menyerah, selama nyawanya masih menempel di ubun-ubunnya.


Rasa sakit di sekujur tubuhnya sama sekali tak ia rasakan, dia adalah manusia setengah Monster. Monster yang lebih licik dan juga serakah.


Langkah kaki terseret itu semakin pelan dan membuat Raga semakin suka melihat jerih payah pria tua itu.


"Aku harus hidup sampai ayahmu dieksekusi, aku baru bisa tenang sampai lelaki biadap itu mati!" kata Tuan Harsono.


Raga hanya tersenyum medengar pernyataan konyol pamannya, Raga menaggapi itu bak guyonan.


"Dia telah menghancurkan hidupku dan adikku!" kata Tuan Harsono.


"Berhentilah ngoceh Paman, aku tau semuanya.


"Jangan jadi pecundang di akhir hidupmu!" nasehat Raga untuk pamannya.


"Ibuku, sangat mencintai ayah. Dan kau memcoba membunuhnya padahal dia sedang hamil tua!" ujar Raga.


"Apa kau punya bukti?" tanya Raga.


"Ibuku bicara sendiri tentang hal itu!" kata Raga, dia tak bohong.


Itu adalah rahasia, pertemuan Raga dengan Aura saat masih menjadi pelajar SMU.


FLASHBACK

__ADS_1


Raga dan Aura yang masih mengenakan seragam SMU masing-masing tengah duduk di tepi sungai.


Mereka saling mengobati luka-luka hasil duel mereka. Raga tampak babak belur dengan wajah yang hampir rusak sementara Aura hanya lecet di dengkul dan siku tangannya.


"Harusnya kamu ngebales seranganku!" kata Aura.


"Kamu pikir aku cowok apaan, meski aku suka tawuran dan berkelahi serta membuat masalah.


"Aku nggak akan mukul wanita!" kata Raga.


Aura tampak terdiam dan tersentuh dengan ucapan Raga itu.


"Sini kubantu buat ngolesin salep ke wajahmu!" kata Aura.


Raga pun diam saja, dia juga pasrah. Karena jantungnya berdetak sangat cepat saat ini. Berada dekat dengan Aura membuatnya jadi agak gila.


"Apa kamu tau, ada hantu ibu-ibu yang sering muncul di dekatmu?" tanya Aura.


"Jangan nakutin ahhh!" Raga bergidik dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu.


"Kenapa kau mengikuti Raga?" tanya Aura pada hantu wanita bertopi merah dengan tirai kain tutu lembut di sekitar topi lebar itu.


"Itu bukan urusanmu!" kata Hantu Ibu Mawar.


"Dia bahkan selalu berpenampilan aneh!" ujar Aura.


"Jangan nakutin, emang ada beneran?" tanya Raga.


"Ngapain aku bohong ke kamu!" Aura kemabli sibuk mengoles luka di wajah Raga.


"Raga mirip sekali dengan putraku!" kata Hantu Ibu Mawar.


"Apa kau bisa berhenti mengikutinya???" tanya Aura.


"Aku mati karena kakakku ingin membunuh bayi di dalam kandunganku!!!


"Dia bilang anak yang kukandung adalah anak Monster!" kata Hantu Ibu Mawar.


"Bagaimana kakak anda bisa bilang anak manusia sebagai anak Monster???


"Kakak anda tuhhh yang bukan manusia!" celoteh Aura.


Saat itu--lah Raga faham, jika hantu ibunya selalu berada si sekitarnya.


___________BERSAMBUNG__________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2