
Si hantu tampan tampak merasakan sesak nafas, sekujur wajahnya memerah. Pertanda aliran darah sudah tak mengaliri bagian kepala hantu tampan. Dadanya semakin sesak dan sakit yang amat sangat sudah menyiksanya, rasanya seperti kematian telah menghampirinya.
Hantu bayangan hitam masih tak mau melepas kuncian lengannya yang semakin erat dia tautkan di leher si hantu tampan. Seperti menyimpan sebuah dendam yang mendalam, hantu bayangan hitam itu sangat berambisi membunuh hantu tampan yang raganya terbaring koma di rumah sakit.
Tapi senyum menyeringai tersungging di bibir hantu tampan, matanya yang semula terbelalak ketakutan kini memicing licik. Lengannya yang semula lemah, kini tampak cukup kuat untuk menarik paksa lengan hantu bayangan hitam yang mencekiknya.
"Kau pikir, aku akan mati semudah itu?" tanya Leo si hantu tampan.
Hantu bayangan hitam itu berhasil hantu Leo angkat, dan sebuah kekuatan yang entah hadir dari mana. Leo berhasil melempar tubuh hantu bayangan hitam hingga menghantam dinding di ujung ruangan yang cukup jauh jaraknya.
Bayangan hitam itu tampak melebur di udara dan menghilang dari hadapan Leo.
Senyum menyeringai di wajah hantu Leo memudar dan berganti dengan senyuman bahagia tapi bingung.
"Dari mana aku mendapat kekuatan tadi?" tanya hantu Leo bingung tapi dia sangat bahagia.
"Bayangan hitam yang merepotkan, Bukankah aku sudah menghabisinya ketika di apartemen!? Kenapa dia muncul lagi di sini?" hantu Leo mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ohhhhh, koper itu!" kata hantu Leo, dia datang ke sini hanya untuk benda yang dicuri Imanuel dari brangkas di kamar Mutia.
"Sebelum bayangan hitam itu datang lagi, aku harus pergi dari sini." desah hantu Leo yang melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan bawah tanah milik Imanuel yang kosong.
Pandangan hantu Leo segera terpatri dengan koper hitam kecil di atas meja. Saat akan mengangkatnya, ternyata koper itu telah terbuka.
Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi hantu Leo segera membuka koper itu, manik matanya tiba-tiba membesar. Dia mengangkat tumpukan tebal kertas dokumen itu mendekat ke arah wajahnya. Dia ingin memastikan bahwa apa yang dia lihat saat ini bukanlah sebuah kesalahan.
Meski dia sekarang adalah hantu matanya masih mempunyai fungsi yang bagus, dia mengucel matanya dengan tangannya untuk memastikan tak ada penghalang yang menghalangi pandangannya kini. Data di dalam dokumen tebal itu tak berubah, tulisannya masih sama.
Dengan lemas dan frustasi Leo menjatuhkan susunan kertas dokumen yang tebal itu kembali ke dalam koper hitam kecil itu.
Matanya segera berputar untuk mengalihkan perhatiannya, tapi pemandangan yang lebih membuatnya terguncang sudah terpampang di depannya.
foto-foto mayat, yang dianiyaya dengan brutal itu telah menarik perhatian hantu Leo, wajahnya kini hanya ada raut kesedihan dan kecewa.
Manik matanya kini tertuju pada seketsa perencanaan pembunuhan yang dibuat Imanuel dengan foto dirinya di tengah-tengah seketsa itu.
__ADS_1
Dia terdiam sebentar di depan papan transparan itu, dia melihat foto dirinya yang mengenakan seragam polisi.
"Siapa aku sebenarnya?" tanya hantu Leo.
.
.
.
.
"Bapak udah hampir sampai?" tanya Aura dipanggilan teleponnya.
"Ok, aku akan langsung ke setasiun sekarang!" kata Aura lagi, setelah sejenak mendengar jawaban bapaknya.
Aura menurunkan ponselnya dari telinganya karena panggilan yang dia lakukan melalui ponselnya telah diputusnya.
"Mbah Sodik mau kesini?" tanya Raga.
"Iya,!" jawab Aura.
Sekilas Aura mengamati wajah rupawan milik Raga, dan hal itu membuat dada Aura berdetak lebih cepat. Gadis tomboy itu tau bahwa dirinya sedang tak beres.
"Nggak usah, lagian elu belum sembuh bener!" tolak Aura.
Selain alasan itu, Aura juga merasa sama sekali tak nyaman jika terus berada didekat Raga karena jantungnya selalu berdetak keras ketika dirinya terlalu dekat dengan tubuh Raga.
"Lukamu belum pulih sempurna, kau harus istirahat! Biar aku yang menemani Aura menjemput bapaknya!" kata Pak Senki.
"Nggak boleh!" kata Raga dengan nada yang lebih tinggi.
"Kenapa?!" tanya Pak Senki.
"Yaaaa, nggak boleh aja!" desah Raga salah tingkah, kenapa dia malah mengatakan hal itu di saat seperti ini.
__ADS_1
"Aku sudah mengabari keluargamu tentang penyerangan yang terjadi padamu, tapi mereka tak bisa datang!" kata Pak Senki dengan nada sedikit dia turunkan.
"Gue udah dewasa pak! Gue bisa ngurus diri sendiri kok!" kata Raga.
"Dan aku udah siapkan tempat untuk kamu tinggal sementara, Aura!" kata Pak Senki.
"Makasih pak!" ucap Aura.
Raga akhirnya pulang diantar oleh detektif Marvel dan Aura dengan Pak Senki berkendara dengan mobil Pak Senki menuju setasiun.
"Kenapa ayahmu datang kesini?" tanya Pak Senki.
"Mereka hanya ingin mengunjungiku saja!" kata Aura, gadis itu tak mau mengatakan apa tujuan sebenarnya yang membawa ayahnya keluar dari kandang perdukunannya.
Awalnya Aura memberikan alamat keluarganya tinggal agar Pak Imanuel datang sendiri ke tempat praktik dukun Sodik, tapi Pak Imanuel kekeh memaksa Aura agar mendatangkan ayahnya ke kota ini. Pekerjaan dan kesibukannya sebagai dosen di kampus bergengsi menjadi alasan Pak Imanuel untuk meyakinkan Aura saat itu.
Pak Senki juga tampak sama sekali tak curiga dengan pernyataan yang dikatakan oleh Aura padanya.
Saat Aura dan Pak Senki sudah memasuki area setasiun, ternyata ayah Aura sudah menunggu kedatangan mereka di depan pintu keluar masuk setasiun.
"Kalian langsung kuantar ke tempat yang sudah kusiapkan saja ya!" kata Pak Senki yang masih duduk manis di kursi kemudinya.
"Iya pak!" kata Aura.
"Lhooo ini kan Pak Senki, kepala detektif yang menagani khasus Ratih kan Aura?!" tanya ayah Aura.
Aura hanya mengangguk pelan, dia masih sibuk dengan ponselnya. Aura terlihat sedang mengetik pesan teks di dalam layar ponselnya.
"Iya mbah! Gimana kabar embah sehat?" tanya Pak Senki, dia tau Aura dan ayahnya sudah tak terlalu akur dari dulu.
Pak Senki cukup lama menangani khasus Ratih, dan detektif itu adalah orang yang sangat teliti dia mengumpulkan banyak informasi semua yang berkaitan dengan Nawang Ratih. Keluarga Aura dan Raga yang notabenenya adalah sahabat Ratih pun juga ikut dikorek habis-habisan oleh Pak Senki.
Jadi Pak Senki bisa dibilang sangat tau bagaimana seluk beluk keluarga Aura dan Raga, hubungan apa saja yang mereka punya. Pak Senki tahu semua.
"Sehat Pak Senki!!! Sudah lama sekali ya kita tak jumpa?!" ayah Aura menyahut pertanyaan Pak Senki dengan nada bahagia yang mengebu.
__ADS_1
Entah karena dukun itu suka karena bertemu lagi dengan detektif bengis itu lagi, atau bayangan rupiah yang akan dia terima dari Pak Imanuel sudah berputar di otaknya. Tak ada yang bisa membaca fikiran dukun sakti itu.
"Gimana pak?! Perkerjaan lancar?" tanya ayah Aura pada Pak Senki.