Ghost Of Death

Ghost Of Death
Menebak


__ADS_3

Plihak Kepolisian memutuskan untuk memenuhi permintaaan Karis Paseha, mengadakan siaran langsung untuk menajawab 'atas dasar apa Bulan Biru membunuh korbannya'


Detektif Senki Kimoka, nama yang disebutkan oleh pencilik di dalam vidio akan memimpin jalannya siaran langsung, belau akan didampingi presenter ternama Nadia Salia di acara tersebut.


"Kelihatannya kau punya nasib yang baik Karis!" kata Raga.


Lelaki muda itu duduk di dekat ranjang Karis, keadaan Karis sudah mulai bertenaga. Wajahnya yang tampan juga sudah tak pucat lagi. Tapi tali belenggu masih mengikat erat tubuh Karis, Karis diikat dalam ke adaan terlentang saat ini.


Tubuh lemah Karis juga sudah memakai pakaian lengkap.


"Kenapa kau tak membunuhku sekarang saja?" tanya Karis, meski lelaki itu sudah dalam ke adaan lebih baik tapi kelihatannya mentalnya sedang terganggu.


Raga meneliti raut wajah Karis, lelaki itu tampak memiliki lingkaran kebiruan di sekitar mata tegasnya.


"Kau tak bisa tidur, apa hantu gadis-gadis yang sudah kau bunuh datang ke sini?" tanya Raga.


"Mereka di sini!" kata Karis.


"Kau juga bisa menghantuiku jika nanti kau sudah mati!" kata Raga.


"Aku tak akan menghantuimu. Apa yang kau lakukan padaku tak seberapa, dengan apa yang kulakukan pada mereka." ujar Karis.


"Seharusnya kau berhenti sebelum bertemu denganku!


"Berdoa-lah agar Senki Kimoka dapat menjawab pertanyaan dariku." kata Raga.


Semua terlanjur menjadi begini tanpa perencanaan, kabar darurat yang diterima Raga dari mantan angota Tim Alpa itu membuat lelaki muda itu memutuskan untuk melakukan cara ini.


Dia juga tak tau akan berhasil atau tidak, tapi hanya ini satu-satunya cara supaya jika kabar darurat itu benar adanya. Tak akan banyak orang yang terluka karena dia, termasuk Aura.


Raga kembali membungkam mulut Karis Paseha, tapi pria itu sama sekali tak melawan. Dia begitu pasrah dengan apa pun yang dilakukan Raga terhadapnya.


Raga mengambil kamera di dalam tasnya yang tergeletak di lantai kamar yang masih di alasi dengan plastik itu. Setelah kamera menyala Raga membidikkan itu ke arah tubuh Karis yang terlentang nyaman di atas ranjang.


"Kuberi waktu sampai besok malam jam 20:00, jika kau! Senki Kimoka tak dapat menjawabnya, aku akan membunuhnya!" kata Raga.


Kamera pun dia matikan, dan wajahnya seketika tersenyum menyeringai.


"Bukankah ini makin menarik?" tanya Raga pada Karis yang mulutnya masih tersumpal.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus membunuh seseorang dulu sebelum kamu!" kata Raga yang sudah membelakangi tubuh Karis Paseha.


.


.


Ruangan besar itu sudah di desain sedemikian rupa, para kru TV sedang menyiapkan segala ssesuatu di ruangan itu.


Seorang reporter datang dan semua orang memberi salam pada wanita berambut pendek itu.


Pandangan mata elangnya mengitari seluruh sudut ruangan yang akan dijadikan untuk siaran langsung menebak teka-teki Bulan Biru.


Detektif Senki, Morgan dan Leo serta Aura yang sedang bergelut dengan semua bukti pembunuhan Bulan Biru di meja pinggir ruangan itu pun tak luput dari perhatian Nadia.


"Maaf apa kalian sudah tau jawabannya? Acara akan ditayangkan malam ini-kan?" tanya Nadia.


Hari ini sudah jam 17:50 sore, sedangkan tengat waktu yang diberikan oleh penculik hanyalah sampai jam 20:00 malam.


"Jika kami sudah tau, apa menurutmu kami akan sebingung ini?" ujar Detektif Senki.


Nadia cukup terperangah dengan jawaban yang diberikan oleh Detektif Senki. Selain itu jawaban yang aneh, nada yang digunakan perwira Negara itu sama sekali tak bisa dibilang sopan.


"Maaf sebelumnya, tapi bolehkah saya ikut bergabung? Siapa tau saya bisa membantu!" kata Nadia.


"Silahkan jika kamu tak repot!" lagi-lagi Detektif Senki hanya mengunakan kalimat nonformal pada wanita yang baru saja dia temui itu.


"Korban pertama, agak aneh!" kata Aura.


Setelah membaca hasil infestigasi polisi tentang khasus itu.


"Saat kita mengunjungi TKP dan rumah korban pertama, aku selalu bertemu seorang hantu lelaki bertubuh besar.


"Lelaki itu bilang dia ditipu oleh korban pertama sampai keluarganya hancur dan dia sendiri memutuskan untuk bunuh diri.


"Hantu lelaki besar itu juga selalu mengumpat 'dasar kancil keparat' pada Korban pertama!" jelas Aura pada semua orang di sana.


"Kancil?" tanya Leo.


"Bukankah kancil adalah hewan dalam dongeng?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Benar, tapi di Negara kita ini. Seseorang dengan badan yang kecil dan aktif akan dijuluki seperti itu!" ujar Morgan.


"Kau benar!" timpal Detektif Senki. "Coba kita lihat korban ke dua!".


"Sadewa, pemilik Pandawa Grup. Dia membunuh adiknya yang adalah ahli waris keluarganya!" kata Leo, setelah membaca hasil infestigasi khasus kedua.


"Ke tiga?" Detektif Senki berdiri dan melihat foto mayat-mayat yang sudah dia susun di atas papan tepat di belakang meja tempat mereka diskusi.


"Maria Ovalia, dia membunuh saudara tirinya dan menikah dengan calon suami adiknya!" ujar Aura.


Semua orang tampak sangat serius di dalam ruangan itu, memecahkan teka-teki yang dibuat oleh pembunuh berantai yang jenius. Apakah mereka bisa menebak apa yang ingin Raga katakan dalam pembunuhan yang dia lakukan.


"Ke empat, Darel Sansan. Menikahi ibu tirinya setelah membunuh ayahnya!" kata Detektif Senki.


"Ke lima Tara Sumriwa, dia adalah salah satu Pangeran Kerajaan keturunan Keraton di Jawa Tengah. Tapi dia memilih melepas gelarnya untuk hidup seperti rakyat biasa.


"Tapi dia melakukan itu hanya untuk menutupi kejahatan yang dia lakukan!" kata Aura.


"Ke enam, Dea Alesia wanita simpanan beberapa angota dewan. Dia memaksa para pacarnya itu untuk banyak korupsi. Alesia memanfaatkan para pacarnya hanya untuk kesenangan pribadinya, wanita ini menghancurkan orang dengan pesonanya!" kata Leo.


"Mario Santana yang yang ke tujuh, dia membunuh semua angota keluarganya karena gila! Dia bebas dari hukuman tapi, pembunuh Bulan Biru membunuh orang yang pura-pura gila itu dan mayatnya kita temukan di area pabrik terbengkalai." Morgan juga ikut menyebutkan.


"Ke delapan, bukankah Mbah Sodik dukun santet. Dia pasti membunuh banyak orang!" ujar Nadia.


Semua orang terdiam dan semua pasang mata yang ada di sana segera membidik ke arah Nadia Salia.


"Dukun Santet di Negara ini ratusan kenapa hanya Mbah Sodik yang dibunuh?" tanya Nadia.


"Mungkin karena Mbah Sodik adalah ayahku!" kata Aura.


Nadia pun terdiam, dia sedikit salah tingkah. Meski dia wanita yang pintar dan tegas dia pasti juga merasa sakit dan trauma jika ayahnya mati dengan sadis dan dibahas di berita.


"Kurasa Mbah Sodik hanya sebuah kesalahan!" kata Leo.


"Kenapa?" Aura pun segera menaggapi pernyataan dari Leo.


"Kebanyakan dari korban adalah penjahat yang melakukan kejahatan untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Sedangkan Mbah Sodik, melakukan kejahatan untuk kepentingan orang lain!" ujar Leo.

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote teman-teman ❤❤


Semangat buat aku sendiri💪💪💪🤣🤣🤣


__ADS_2