Ghost Of Death

Ghost Of Death
Ragu


__ADS_3

"Gimana kabarmu?" tanya Detektif Senki pada Aura.


"Aku baik-baik saja kok Pak!" jawab Aura.


Gadis itu sedang membuatkan teh untuk tamunya di dapur mungil yang terletak di pojok rumah itu. Karena Aura sangat penasaran dengan Leo, gadis itu mencuri-curi pandang ke arah anak buah Detektif Senki itu.


Kelakuan Aura itu pun tak luput dari perhatian Detektif Senki yang amat jeli. Tapi pria dewasa itu tak mau menebak apa yang dipikirkan oleh Aura. Karena Detektif Senki tau betul perasaan apa yang dimiliki Aura untuk Raga. Jadi perasaan gadis tomboy itu terhadap Leo bukanlah perasaan mesra semacam itu.


Mata cekungnya masih saja menelisik ekspresi Aura yang kini telah duduk di depannya, apa lagi terlihat dengan jelas kalau Aura masih saja memperhatikan Leo secara terang-terangan.


"Apa ada yang salah?" tanya Leo pada Aura, dia ternyata sangat tak nyaman dengan apa yang Aura lakukan padanya.


"Anda cocok dengan pakaian santai seperti itu!" kata Aura, tanpa dia sadari perkataan itu ditangkap aneh oleh kedua pria yang duduk di depannya.


"Benarkah?" tanya Leo bingung. Karena setau dia ini adalah pertemuan pertamanya dengan Aura. Lalu bagaimana gadis ini bisa membandingkan penampilannya.


"Kau bilang kau mau menemui Imanuel sebelum hari eksekusinya?" tanya Detektif Senki.


"Iya, Pak. Kumohon, pertemukan aku dengan orang itu sekali saja." mohon Aura.


"Itu hanya akan menambah luka di hatimu!" kata Leo.


"Tapi aku ingin mendengar sendiri, kenapa dia membunuh ayahku. Apa alasannya." kata Aura dengan nada datar, karena dia mengingat wajah ayahnya lagi saat membicarakan hal ini.


"Sebaiknya tidak perlu!" ujar Detektif Senki.


"Saya mohon Pak!" mohon Aura dengan wajah sedihnya. "Saya merasa Pak Imanuel bukan pembunuh berantai Bulan Biru!" kata Aura tanpa ragu.


"Apa yang kau maksut?" tanya Leo.


"Aku merasa Pak Imanuel adalah orang yang menyerang Raga di apartemen Mutia!" kata Aura.


"Kenapa kau yakin sekali? lalu apa yang membuatmu ragu kalau Imanuel bukan pembunuh berantai Bulan Biru?" tanya Detektif Senki.


"Saat itu aku mencium bau Bayangan Hitam yang selalu mengikuti Pak Imanuel!" kata Aura.


"Bayangan Hitam?" tanya Leo, ternyata pria itu benar-benar tak ingat apa pun saat dia menjadi hantu.

__ADS_1


"Aku memanggil ayahku ke sini untuk membantu Pak Imanuel menyingkirkan Bayangan Hitam yang mengganggunya.


"Tapi Bayangan Hitam itu musnah sebelum ayahku pergi ke rumah Pak Imanuel.


"Bisa jadi Bayangan Hitam itu dihancurkan hantu yang aku kenal!" jelas Aura.


"Kenapa kau tampak tak yakin Aura?" tanya Detektif Senki.


"Karena hantu yang aku kenal itu tak mau jujur padaku, jadi aku harus memastikan sendiri.


"Apa benar ayahku sudah diincar Pak Imanuel sejak awal atau bagaimana.


"Kenapa hatiku ini tak mau percaya kalau Dosen itu yang membunuh ayahku!" kata Aura.


"Sebaiknya kita memberikan gadis ini kesempatan Pak, siapa tau dia bisa membuat Imanuel mau bicara!" usul Leo.


Detektif Senki hanya terdiam, matanya masih menelisik ke arah bola mata Aura. Dia tampak berfikir keras, bagaimana pun Aura sudah seperti adiknya sendiri. Senki tak mau melihat Aura sakit hati setelah mendengar pernyataan Imanuel.


Bagaimana pun Imanuel tak mau bicara sepatah kata pun tentang pembunuhan itu. Saat kebanyakan orang akan menyangkal tuduhan meski tuduhan itu adalah kebenaran, Imanuel hanya diam membisu seakan dia ingin meledek semua polisi yang mengintrogasinya.


"Baiklah kalau begitu, besok pagi kita akan ke penjara sama-sama!" kata Pak Senki.


"Trimakasih Pak!" ucap Aura, untuk pertama kalinya dalam waktu sebulan ini akhirnya dia tersenyum kembali.


"Gue nggak menyangka orang seperti elu bisa melakukan kesalahan juga!" kata Utari.


Gadis itu baru saja duduk di depan Raga yang sedang makan di kantin kampus. Mata tajam yang tampak galak itu sudah membidik tajam ke arah Utari yang sangat santai.


"Pergi!" bentak Raga.


"Kita harus ada interaksi, biar pembaca nggak bingung!" Utari tertawa menyeringai ke arah lain.


Kelihatannya dia juga belum mau diekspos sebagai penjahat utama di novel ini.


"Mbah Sodik bukan target, kenapa elu malah membunuhnya tanpa sepengetahuan Imanuel atau pun gue?" kata Utari.


Saat ini kantin cukup ramai, tapi tak akan ada yang menyangka jika Raga dan Utari tengah membicarakan hal mengerikan semacam itu.

__ADS_1


"Bukankah elu udah nebak kalau itu kesalahan!" kata Raga.


"Kakak, apa kakak masih ingat? Kakak paling benci saat seseorang melakukan kesalahan. Gue yakin itu bukan kesalahan kakak!" kata Utari.


Gadis cantik itu tersenyum manis lalu berdiri dari kursinya dia meninggalkan Raga yang masih terdiam kesal.


Lelaki tampan itu sama sekali tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Karena kecerobohan Imanuel dia harus membunuh calon ayah mertuanya sendiri dan membuat Aura wanita yang sangat ia cintainya pun menjadi bersedih.


"Bangsat kau, Imanuel!" desah Raga pelan.


Hari saat Mbah Sodik dibunuh.


"Ada apa Mbah?" tanya Raga.


"Ini tangan yang menggenggam baju mayat ini, kok tatonya mirip tato di jempol tangan kamu!" kata Mbah Sodik, dia terdiam di anak tangga menuju lantai dua saat memperhatikan foto yang baru saja dia ambil dari ruang bawah tanah rumah Imanuel.


"Tato kan, bisa sama Mbah!" kata Raga, tapi dia sudah bisa membaca raut wajah Mbah Sodik yang terlihat mencurigainya.


"Bener juga!" kata Mbah Sodik. "Aku mau tidur siang di kamar Aura dulu, kamu nggak ke kampus?" tanya Mbah Sodik pada Raga.


"Ini mau ke kampus Mbah, kalau Mbah lapar pesan aja lewat aplikasi!" Raga masih berdiri di tangga saat Mbah Sodik berjalan ke arah kamar Aura.


Saat pandangan Raga tak lagi bisa menatap lelaki tua itu, Raga segera memasang wajah seriusnya. Dia segera berjalan menaiki tangga untuk memastikan Mbah Sodik telah masuk ke dalam kamar Aura.


Raga pun berjalan pelan menuju kamarnya, karena kamarnya berada di sebelah kamar Aura. Dia harus hati-hati dengan pergerakannya agar Mbah Sodik tak menyadari pergerakan yang dia lakukan.


Dengan sigap dan sangat cekatan, Raga mengambil labtobnya di salah satu nakas di almari tvnya dan menyalakan benda berlayar terang itu. Dia telah menangkap pergerakan yang aneh dari Mbah Sodik.


Dari kamera pengawas yang diam-diam dipasang oleh Raga di salah satu sudut rak buku di kamar Aura itu, gambar Mbah Sodik yang cemas dan gusar pun terputar jelas.


"Dia tau, aku pembunuh berantai Bulan Biru!" gumam Raga, dia masih santai dan menikmati pergerakan Mbah Sodik yang kebingungan.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Raga, pada layar labtobnya yang sedang memutar vidio Mbah Sodik di dalam kamar Aura.


Tak lama Mbah Sodik malah mengemas semua baju dan benda-benda miliknya kedalam tas besar.


"Apa dia mau pulang ke kampung, kenapa dia tak lapor polisi saja?" kata Raga bingung.

__ADS_1


__ADS_2