Ghost Of Death

Ghost Of Death
Predator


__ADS_3

Imanuel diputuskan bersalah di persidangan pertamanya.


Dia masih tetap diam, tak mengakui atau pun mengelak semua tuduhan yang dilayangkan padanya di pengadilan.


Proses persidangan yang ditayangkan di seluruh setasiun tv nasional itu menjadi sebuah tontonan hangat bagi seluruh rakyat Indonesia. Akhirnya pembunuh yang telah mengemparkan negara kita yang damai ini dapat ditangkap oleh pihak kepolisian.


Sumpah serapah, dan kutukan tak henti-hentinya disebutkan oleh seluruh mulut yang menyaksikan persidangan itu. Tak terkecuali Aura dan Ibunya yang kini tengah berada di kosan Aura, hari ini Utari juga mengunjungi mereka untuk mengucapkan bela sungkawa tapi telat. Karena ini sudah 1 bulan sejak kejadian pembunuhan almarhum Mbah Sodik.


"Maaf ya Ra. Gue nggak bisa ikut elu ke kampung buat memakamkan mendiang bapak elu!" kata Utari.


"Nggak papa, Ut." Aura, masih berada di pelukan sahabatnya itu.


"Harusnya gue datang ke pemakaman almarhum Mbah Sodik, tapi gue malah jatuh sakit!" ujar Utari dengan nada kesal pada dirinya sendiri.


"Bajingan itu harus dihukum mati!" kata Utari yang kini kembali fokus ke dalam layar televisi.


Aura dan ibunya yang duduk agak berjauhan meneteskan air mata duka mereka secara bersamaan. Melihat wajah Imanuel di dalam televisi membuat Aura dan ibunya kembali mengingat sosok bapaknya.


"Jika saja hari itu aku tak menanggapi Bayangan Hitam di ruangan Pak Imanuel..." desah Aura.


"Kenapa Bayangan Hitam itu menghilang begitu saja?


"Kantung Pelindung juga hilang entah kemana!" kata Aura.


Pikirannya kini kembali ke hari-hari di mana dia sama sekali tak bisa menemukan barang-barang bapaknya yang sangat berharga. Karena hal itu Aura merasa bahwa orang yang telah membunuh bapaknya bukanlah pembunuh berantai Bulan Biru, tapi musuh keluarganya.


Tapi kalung yang ditemukan di TKP pembunuhan bapaknya adalah kalung yang sama persis dengan yang dikenakan oleh pembunuh Bulan Biru.


Satu-satunya orang yang bisa menjawab kegundahan hati Aura kini hanya Pak Imanuel yang sekarang duduk manis di kursi tersangka. Aura sudah bertekat untuk bertemu dengan Pak Imanuel di penjara nanti, dia harus bisa menghadapi orang itu nanti.


"Nggak usah dipikirkan lagi, Aura!" nada suara lirih itu memecah lamunan Aura yang panjang. "Fokus saja sama kuliah kamu!" nasehat ibu Aura.


"Bapak kamu pasti udah tenang di sana, pembunuhnya sudah diadili sekarang." Ibu Dewi mencoba menenangkan hati putrinya yang pasti lebih berantakan darinya, karena kematian Mbah Sodik yang tiba-tiba itu.


Aura yang tak mau ibunya sedih lagi pun hanya mengangguk pelan, dia melepaskan pelukan Utari dan mencoba duduk tegak di sofa. Dia tak mau larut dalam kesedihan tapi hatinya yang rapuh itu semakin hancur saat seseorang mencoba menguatkannya seperti saat ini.

__ADS_1


Keputusan sementara pengadilan untuk Imanuel sang pembunuh berantai Bulan Biru adalah hukuman penjara seumur hidup. Tapi semua orang di negara ini ingin Imanuel dihukum mati pastinya.


.


.


Detektif Senki menonton persidangan itu di rumah Petugas Leo yang sudah mulai pulih.


Leo tinggal sendirian karena semua keluarganya meninggal dalam pembantaian pembunuh Bintang Perak Dokter Abraham 3 tahun yang lalu. Kedua orang tuanya meninggal di tempat, pembantaian itu terjadi tak lama setelah dia dan keluarganya menyelamatkan Nawang Ratih yang menghentikan mobil keluarga mereka dalam keadaan sekarat.


Kejadian kelam itu membuat Leo mempunyai alasan untuk menjadi petugas kepolisian, dia ingin menangkap pembunuh kejam yang telah membunuh kedua orang tuanya dan juga Ratih. Tapi satu-satunya yang ia ingat dari kejadian naas itu adalah suara Imanuel.


"Apakah kau yakin? Hari itu hanya Imanuel yang mengejarmu?" tanya Detektif Senki pada Leo yang duduk di sofa depannya.


"Dilihat dari postur tubuh dan suaranya aku yakin sekali, Imanuel yang mengejarku saat itu!" kata Leo tanpa keraguan.


"Kenapa aku masih merasa aneh." Detektif Senki mengelus dagunya dengan telapak tangan kanannya.


"Maksud anda?"


"Aku merasa Imanuel punya kaki tangan, dia tak mungkin membunuh sendiri." Detektif Senki masih saja menari ria dengan persepsinya yang dianggap aneh oleh semua orang di timnya.


"Kebanyakan korban yang dibunuh oleh pembunuh Bulan Biru adalah kriminal.


"Pihak yang paling diuntungkan tentu saja adalah. Pemerintah!" sahut Leo.


"Jika Kepolisan tak faham dengan lingkaran setan ini, lembaga mana yang mungkin faham?" Detektif Senki mulai mendesak Petugas Leo yang merupakan lulusan universitas hukum dan tata negara itu.


"Pertahanan Negara, Gedung Putih." kata Petugas Leo.


Kini apa yang dipikirkan oleh dua otak itu mulai singkron.


"Presiden?" tanya Detektif Senki.


"Presiden kita baru saja terpilih, dia tak akan melakukan hal ceroboh begini!" pendapat Leo ada benarnya juga.

__ADS_1


"Apa ini bukan ulah negara?" wajah Detektif Senki mulai kesal karena tak bisa menemukan apa pun.


"Kita harus menyusup ke kementrian pertahanan, untuk mencari tau!" usul Leo.


"Kau gila?!" Detektif Senki tak menyangka bahwa Leo yang dikenalnya adalah orang yang lurus ternyata dia memiliki keberanian seperti itu.


"Aku merasa gila!" kata Leo, dia merasa ada yang dia lupakan. Tapi dia tak tau apa yang dia lupakan.


Karena hal yang dia lupakan adalah, hari-harinya saat dia menjadi Hantu Tampan.


"Bagaimana jika Imanuel bukan kaki tangan pembunuh berantai Bulan Biru, tapi dia kaki tangan Dokter Abraham?" kata Leo.


Detektif Senki memicingkan matanya ke arah Leo, kenapa juniornya ini punya pemikiran yang sangat aneh itu.


"Apa anda masih ingat, bahwa ada remaja lelaki yang berhasil selamat dalam pembunuhan Dokter Abraham 3 tahun yang lalu?" tanya Leo.


"Iya, dia pindah ke Amerika untuk tinggal bersama keluarga ibunya!"


"Saya di sini Detektif, saya tak pergi kemana pun. Tapi saya mengunakan identitas palsu untuk menyelidiki orang yang menjadi kaki tangan Dokter Abraham!" kata Leo.


"Kau?!" Detektif Senki sudah memasang wajah marahnya. "Bagaimana bisa aku ditipu, olehmu?" tanyanya tak percaya.


"Kau benar-benar, menipuku?!"


"Maafkan aku Detektif, hanya dengan begini aku bisa mengejar Imanuel tanpa diketahui olehnya!" kata Leo jujur. Dia sebenarnya sangat lama ingin mengaku tapi dia urungkan, karena dia pasti akan dipenjara karena sudah membohongi lembaga negara.


"Kau sudah mengejar Imanuel sejak lama?" tanya Detektif Senki.


"Iya, tapi aku belum menemukan petunjuk apa pun sampai di hari kecelakaanku!" kata Leo lemah.


"Awalnya aku berfikir jika pembunuh Bulan Biru adalah Imanuel, tapi Imanuel tak pernah membunuh siapa pun. Dia buka Predator!" ujar Leo dengan tegas.


"Predator?"


"Orang yang bisa membunuh manusia lain dengan sekeji itu. Orang itu bukan hanya memiliki gen Psychopath tapi juga gen Predator!

__ADS_1


"Gen manusia Psychpath Jenius yang sudah bermutasi!


"Mereka tak punya emosi, dan hanya peduli akan dirinya sendiri. Mereka tak punya belas kasih pada siapa pun, dan merasa apa pun yang mereka lakukan adalah sebuah kebenaran!"


__ADS_2