
Setelah senjatanya siap, Hendra terdiam dan memejamkan matanya. Di telinganya dia bisa mendengar langkah kaki pasukan di luar yang ternyata langsung berhenti.
Ternyata para pasukan yang datang hanya diperintahkan untuk berjaga saja, dan yang bertugas untuk menghabis Hendra adalah kedua orang yang baru saja menyerang Hendra secara mendadak.
Hendra pun kembali fokus ke dalam pendengarannya, dia merasakan langkah ke empat kaki kedua orang itu. Hanya dengan mendengar langkah kaki mereka, Hendra dapat menentukan posisi kedua orang itu.
Hendra pun segera berbalik dan, dua tembakan beruntunnya berhasil melumpuhkan dua orang yang baru saja di deteksi berjarak lima meter dari pilar tempat persembunyian Hendra.
Hendra juga mendapat luka baru di perutnya, sebuah peluru yang terlontar dari senapan musuhnya berhasil merobek perut bagian kirinya.
Tapi wajah Hendra masih saja datar meski kemeja putih yang ia kenakan kini sudah berubah merah. Sepucuk pisau lipat dikeluarkan Hendra dari saku celana jinsnya.
Lelaki itu mendekati tubuh dua orang yang sudah sekarat di depannya. Hendra adalah Penembak Jitu yang tak pernah meleset, dia yang dikenal sebagai Hantu Penembak itu bisa menembak musuhnya bahkan saat matanya terpejam.
Telinga Hendra memang sangat sensitif, dan itu dia gunakan untuk membunuh orang tanpa orang itu tau dia akan dibunuh. Kedua tubuh berbeda gender yang berbalut jas hitam keren itu segera ditengkurapkan oleh Hendra.
"Jadi benar, mereka meletakkannya di sini!" kata Hendra.
Kedua orang yang ditembak Hendra adalah angota Tim Alpa yang baru, Tim yang berisi manusia biasa tapi dimanipulasi oleh obat yang dibuat dengan DNA para Psychopath.
"Apa yang ingin mereka coba lakukan?" tanya Hendra pada angin yang bahkan tak lewat dihadapannya.
Hendra pun menyayat pungung kiri salah satu dari mereka dan, sebuah chipset selebar 10×10 cm yang lunak pun dia temukan. Hendra mencoba menganalisa apa itu, tapi dia segera menjepret chipset itu dengan kamera ponselnya. Hendra mengirim foto itu pada Raga.
Tapi pendengaran Hendra segera tertuju pada pasukan di depan vila itu yang mulai mendekat, dan dia juga mendengar suara helikopter akan mendarat di halaman belakang rumah yang luas itu.
Dengan cepat Hendra segera berjalan mencari pintu kearah halaman belakang. Ruangan-demi ruangan dia telusuri dengan secepat mungkin.
Benar saja Tuan Hendarto sudah akan naik helikopter itu. Tanpa menunggu apa pun, Hendra segera mengangkat senjata apinya di bahunya.
Dia tembakkan semua isi pelurunya ke arah rombongan Tuan Harsono yang berjarak sekitar 25 meter dari tempatnya berdiri.
Belum juga isi peluru di senjata api laras panjang Hendra habis, lelaki itu sudah ditembaki oleh Tim Khusus yang baru saja sampai.
Tubuh yang penuh dengan muncratan darah dari lubang peluru itu perlahan ambruk ke lantai, pria yang tak bisa mati di ratusan medan pertempuran itu akhirnya mati di tangan orang yang dia anggap sebagi pemimpin.
Mata Hendra masih terbelalak, dia juga ingin menyaksikan tubuh Jendral Harsono ikut runtuh dengannya.
Tapi pria tua itu malah melempar tubuh anak buahnya yang telah sekarat. Karena ia membuat tubuh anak buahnya itu sebagai tameng dari hujan peluru yang dilontarkan oleh senjata api Hendra.
__ADS_1
"Keparat!" teriak Tuan Harsono untuk Hendra.
Hampir separuh Tim Khusus yang baru saja dia bentuk sudah dihabisi oleh Hendra seorang diri. Bahkan dua manusia hasil uji cobanya juga mati karena ulah Hendra.
Ayah Detektif Morgan itu akhirnya terjatuh dan beberapa angota Tim Khusus segera berlari menuju arah Tuan Harsono berdiri.
Sebuah peluru berhasil bersarang di kaki kanan pria tua itu.
.
.
.
.
Hantu Monika matanya tampak berbinar, dia begitu sangat kagum dengan pemandangan yang dia lihat.
"Cepat ambil yang kamu mau, kita tak boleh lama-lama di sini!" kata hantu Ibu Mawar.
"Tante sering ke sini?" tanya Monika yang masih memilih-milih pakaian yang dia anggap cantik.
"Jika anda punya rumah semewah ini kenapa anda masih sering pergi ke luar?" tanya Monika.
"Gabut aja, cepat pilih!" Hantu Ibu Mawar, kembali membentak Monika.
Monika yang tak pernah menyentuh apa pun semenjak menjadi hantu itu pun tampak kaget dengan apa yang dia sentuh saat ini.
"Boleh aku minta gaun ini?" tanya Monika, dia mengambil sebuah gaun pernikahan putih.
Hantu Ibu Mawar yang awalnya santai pun segera berdiri dan merebut gaun itu dari tangan Monika.
"Jangan yang ini!" kata Hantu Ibu Mawar dengan nada kasar. Wanita paruh baya itu segera mengembalikan gaun itu ke lemari, bukan di gantungan lagi.
Monika hanya agak heran tapi dia merasa juga keterlaluan meminta gaun pernikahan pada hantu lain.
"Ini yaaaaa!" kata Monika, tangannya kembali menenteng sebuah gaun berwarna putih satin yang cantik.
"Pakailah, itu cocok untukmu!" kata Hantu Ibu Mawar.
__ADS_1
Monika yang tanpa sopan santun malah membuka pakaiannya di depan Hantu Ibu Mawar.
"Oyyyyyyy ni anak sembarangan banget!" gerutu Ibu Mawar.
"Akhhhhh maaf!" kata Monika, gadis yang sudah telanjang bulat itu malah hanya berbalik di depan Hantu Ibu Mawar.
"Kenapa punggungmu sobek?" tanya Hantu Ibu Mawar.
"Masa punggungku sobek?" tanya Monika dengan nada kaget, sudah 10 tahun jadi hantu dia tak tau jika punggungnya sobek.
Hantu Ibu Mawar yang tampak tau sesuatu itu segera mendekati tubuh Monika yang pucat. Jemari lentik itu meraba bekas luka Monika yang sudah lama itu.
Hantu Ibu Mawar tampak menghela nafas panjang, dan segera berbalik. Matanya sedikit berair dan emosi seperti sudah menguncang jiwanya.
Ada apa dengan luka mengganga di tubuh Monika, apa Hantu Ibu Mawar tau sesuatu tentang Monika.
"Jangan lupa pake cangcut, ambil di rak paling bawah!" suruh Hantu Ibu Mawar, dengan nada menahan sedih.
"Ok,!" kata Monika, dia masih sibuk dengan gaun putih berbahan satin barunya.
"Aku tinggal sebentar, jika ada yang masuk jangan bergerak kalau bisa jangan bernafas juga!" kata Hantu Ibu Mawar.
"Tante mau kemana?" tanya Monika.
"Jalan-jalan sebentar!" Hantu Ibu Mawar pun segera menembus dinding dan pergi dari kamar mewah itu.
Sementara Monika masih asik mencari cangcut yang cocok dengan gaun satinnya.
Jeggrekkkk
Monika terdiam, wajahnya yang pucat kini semakin pucat. Dia mendengar suara pintu kamar itu di buka perlahan.
Monika yang sudah dipesani oleh Hantu Ibu Mawar agar tak bergerak jika ada yang datang pun mulai mematung di tempatnya.
Sepasang heels berwarna abu-abu itu bedentum bergantian mengikuti langkah sang pemilik. Wanita berbaju kantoran serba biru itu pun duduk di kursi yang tadi digunakan oleh Hantu Ibu Mawar untuk duduk.
Wanita itu tampak sedih saat menatap bingkai yang tergeletak tengkurap.
"Apa kau sebenci itu padaku Nada?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Aku tak tau harus berbuat apa lagi, Nad. Aku butuh kamu saat ini, kakak iparmu berulah lagi!"