Ghost Of Death

Ghost Of Death
Konsep yang mirip


__ADS_3

Tanpa menjawab celotehan ocehan Karis Paseha, Raga kembali berbalik dan keluar dari ruangan yang sudah di bungkus dengan plastik bak tempat pemotongan daging di mol-mol terkenal itu.


"Dasar bajingan tengik, beraninya anak kecil seperti dia menculikku!" Karis Paseha masih terus mengumpati Raga meski Raga tak ada di sana.


Karis tak tinggal diam, meski yang menculiknya hanyalah pemuda yang terlihat lemah. Dia tetap mencoba untuk membuka ikatan tali yang mengikatnya di kursi kayu itu.


"Kenapa ikatannya erat sekali!" pekik Karis.


Karis terus mengoyang-goyangkan tubuhnya berusaha agar tali itu melongar. Tapi seberapa keras dia mengerakkan badan atletisnya, tali itu sama sekali tak mau lepas darinya.


Raga kembali masuk ketempat Karis berada, lelaki muda itu mendorong sebuah meja yang penuh dengan alat-alat penyiksaan.


"Lepaskan aku bodoh!!!


"Kau manusia paling bodoh yang pernah kulihat!


"Kau salah orang dengan menculikku, aku ini bisa membunuhmu!" ancam Karis.


"Lakukan jika kau bisa, bukankah kau sudah membunuh 7 wanita?


"Bagaimana rasanya bisa membunuh para wanita cantik itu?" tanya Raga.


Karis terdiam sejenak, dia memikirkan bagaimana bocah ingusan di depannya bisa tau dengan korban-korban yang dia bunuh. Jika memang tau bukankah harusnya dia melaporkannya ke polisi kenapa malah membawanya ketempat aneh seperti ini.


Dipikiran Karis saat ini 'mungkin anak ini mau memerasku'.


"Kau mau berapa banyak?" tanya Karis.


"Apa?"


"Kau mau uang kan!!! Berapa banyak!" bentak Karis.


"Santai aja brooooo.....Nggak usah tegang begitu! Nyawamu masih akan bertahan sampai besok malam kok!" kata Raga.


"Kau suka syuting kan? Gimana kalau kita pake kamera, biar kamu lebih tenang." usul Raga.


"Kamu benar-benar gila!" teriak Karis lagi.


"Aku memang gila." desah Raga dengan senyuman yang menyeringai.


Raga keluar lagi dari ruangan Karis. Di situ Karis mulai memperhatikan alat-alat yang baru saja dibawa masuk oleh Raga. Kenapa semua alat itu terlihat seperti miliknya.


Semua alat di atas meja itu memang milik Karis, alat-alat yang biasa digunakan oleh Karis untuk menyiksa para gadis-gadis di vilanya.


"Bagaimana bajingan itu mendapatkannya?" gumam Karis merinding.


Vila itu di jaga oleh banyak bodyguard terlatih dan sistem keamanan rumah itu sangat cangih. Lalu kenapa semua alat itu bisa ada di sini.


Raga masuk kedalam ruangan itu lagi dengan membawa tas yang lumayan besar. Isi tas itu adalah kamera lengkap dengan penyangga dan lainnya.


Dengan santai Raga memasang kamera itu tepat di depan Karis.

__ADS_1


Aktor tampan itu tak habis pikir dengan apa yang sedang Raga lakukan, pembunuh macam apa yang merekam aksinya sendiri.


"Bukankah, kamu harus telanjang?" tanya Raga.


"Kamu benar-benar orang gila!" kata Karis.


"Mari kita buat kamu telanjang dulu!" kata Raga.


Raga segera mengambil gunting biasa di dalam tas ransel, dengan senyuman yang jijik Raga mendekati Karis.


"Aku tak pernah menyiksa orang, saat orang itu telanjang.


"Apa asiknya menyiksa orang yang telanjang." desah Raga.


"Lepaskan aku."


"Jangan memohon lagi, aku akan lebih kasar jika korban merengek-rengek.


"Mungkin kau juga setipe denganku!" kata Raga.


"Pembunuh berantai Bulan Biru sudah mati di penjara, kamu jangan main-main denganku!" kata Karis.


Raga masih terus menguntingi pakaian yang dikenakan oleh Karis sambil ngobrol santai dengan Aktor tampan itu.


"Kau tau berapa mahal jas yang kukenakan ini?" tanya Karis, dia masih saja mengunakan nada bentakkan.


"Mau bagaimana lagi, aku harus mengikuti konsepmu!" kata Raga.


"Konsep?"


"Ada dua yang masih memakai baju lengkap. Asistenmu dan gadis SMU yang kau bunuh tiga hari yang lalu!" kata Raga, dan itu adalah sebuah kebenaran.


"Kenapa kau tak laopr ke polisi, jika tau aku membunuh orang?!" teriak Karis, dia sudah mulai ketakutan karena Raga terus mengunting pakaian yang dia kenakan.


"Aku akan membunuhmu, kenapa harus lapor polisi?"


Kini tubuh indah Karis sudah tak ditutupi oleh apa pun lagi, selain tali yang masih mengikat erat tubuh macho atletis yang kini sudah telanjang itu.


"Mari kita mulai!" kata Raga.


Lelaki muda itu kembali memakai masker dan topi hitamnya, tak lupa Raga juga menyumpal mulut Karis dengan kain setelah itu dia melakban mulut Aktror terkenal itu.


Raga mulai menyalakan kamera dan melihat apakah tata letaknya sudah sesuai dengan yang dia harapkan. Setelah dia puas memandangi Karis yang masih terikat di layar kamera DSLRnya, Raga segera mengambil salah satu alat di atas meja dorongnya.


Raga mengambil sebuah gunting taman yang berukuran sedang tapi kuat. Dengan santainya Raga mengerak-gerakkan gunting itu di depan wajah Karis.


"Biasanya kau mengunakan ini untuk memotong apa?


"Jari, tidakkkk bukan jari-jari para perempuan itu.


"Tapi gunting ini kau buat untuk mengunting bibir bawah mereka kan?!" kata Raga.

__ADS_1


Mata keduanya saling menatap tajam, Karis hanya bisa mengeluarkan erangan lirih karena mulutnya tersumpal oleh kain dan lakban.


Raga dengan ekspresi jijik jongkok dan menunduk di depan tempat terduduknya Karis. Dia sedang memilih salah satu benda keramat milik Karis untuk ia potong.


Zucchini yang memanjang atau telur kembar yang mengemaskan itu.


Keringat dingin sudah membanjiri tubuh Karis yang telanjang bulat di atas kursi siksa milik Raga.


Akhirnya Raga memilih memotong telur kembar Karis, hanya butuh sekali potong dengan gunting dahang tanaman yang begitu tajam.


Tubuh Karis mengejang hebat, nafasnya memburu seperti kuda sehabis perang. Dan darah segar mulai mengalir deras membasahi kursi dan lantai yang sudah dilapisi plastik oleh Raga.


Raga segera kembali ke arah kamera. Dia melihat dari sana. Menikmati bagaimana tubuh Aktor tampan yang terkenal itu mengejang menahan rasa sakit yang pasti sudah menjalar ke seluruh saraf di tubuh kekar itu.


Raga mematikan kamera itu dan segera menghampiri Karis yang masih mengeliat menahan sakit. Mulutnya yang tersumpal masih mendesis parau.


Raga membuka topi dan maskernya lalu melepas lakban yang menutup mulut Karis.


"Aggggghhhhhhh!" desis Karis keras.


"Keeeee paaaa rattttt!" kata Karis.


"Aku akan mengungah vidio tadi di internet, kamu akan lebih terkenal nantinya!" kata Raga.


"Bangsat!" teriak Karis di sela desisan rasa sakitnya.


Raga yang sudah puas pun hanya tersenyum menyeringai ke arah Karis yang sudah menuju sekarat.


.


.


.


.


"Jadi Karis Paseha itu Aktor terkenal?" tanya Detektif Senki.


Detektif Senki dan Leo kini sedang di dalam ruangan keamanan hotel untuk melihat rekaman CCTV saat Karis diculik. Kedua pria itu masih melihat bagaimana penculik Karis beraksi di salah satu monitor yang berada di ruangan keamanan gedung hotel itu.


"Kupikir dia orang yang terlatih!" kata Leo.


"Kau benar, melepas dua ban mobil butuh waktu yang cukup lama. Tapi orang itu hanya butuh waktu sekitar dua menit saja.


"Peluru panah ini, aku juga baru sekali ini melihatnya!" kata Detektif Senki, dia memandang ke arah peluru panah yang sangat asing di telapak tangannya.


Ponsel Detektif Senki pun bergetar saat itu, ternyata dia mendapat panggilan dari Detektif Morgan.


"Bagaimana?" tanya Detektif Senki pada orang di seberang panggilan.


"Mobil penculik itu berhenti di sebuah motel, akan ku kirim lokasinya padamu!" kata Detektif Morgan.

__ADS_1


"Kita harus cepat!" kata Detektif Senki.


Tanpa basa-basi pada pemilik ruangan kedua petugas kepolisian itu segera berlari menyusuri lorong dan masuk kedalam lift.


__ADS_2